
Kesabaranku membawa cinta
" Apa maksud mu kak Fazar." Tanya Jidan tidak percaya mendengar ucapan Fazar barusan, yang menyatakan kalau ayahnya telah meninggal." Ini tidak benar kan kak. Tadi ayah baik-baik saja." Jidan tidak terima kalau Fazar menyatakan ayahnya telah meninggal. Padahal tadi ayahnya masih baik-baik saja dan mereka masih sholat subuh berjamaah bersama.
" Ini benar Jidan, ayah sudah meninggal. Kakak merasakan kalau denut nadi nya sudah tidak ada."
" Ini tidak benar kak, ayah baik-baik saja." Ucap Jidan tidak menerima dengan pernyataan Fazar." Aaayyyaaahhhh bangunlah. Bukannya kemauan ayah sudah terpenuhi untuk bertemu dengan adik-adik kembali, tapi kenapa Ayah pergi meninggalkan kami setelah kami berkumpul. Ayah hiks... Hiks." Jidan menangis dengan keras, dia memanggil ayah dengan kuat, mencoba membangunkan nya tapi tubuh kaku itu tentu tidak merespon sama sekali." Ayah kenapa ayah, harus pergi secepat ini hiks..."
Haidar di samping Fazar tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa menangis melihat paman nya sudah meninggal." Ya Allah, kenapa secepat ini paman. Padahal baru saja tadi malam kita berbahagia." Batin Haidar yang ikut menangis.
Fazar hanya bisa menenangkan keduanya. Walaupun sebenarnya dia ingin menangis melihat ayah mertuanya sudah berpulang. Hanya saja dia tidak bisa, karena kalau dia ikut menangis siapa yang akan menguatkan keluarga ini. Apalagi kalau sampai istrinya mengetahui nya pasti dia jauh lebih syok lagi.
" Ada apa Jidan, kenapa kamu berteriak-teriak." Tanya Widya bingung saat tadi dia mendengar suara Jidan yang berteriak memanggil Ayahnya. Keluarga yang tadi sudah keluar ikut masuk kembali untuk melihat apa yang terjadi didalam mushola. Tapi sesampai didalam mereka bisa melihat Jambri yang sedang terbaring di atas lantai." Kenapa kamu menangis Jidan, dan kenapa ayahmu berbaring disana." Tanya Widya menatap mantan suaminya dengan tatapan kebingungan. Tapi Widya belum berpikir kalau mantan suaminya itu sudah meninggal dunia.
" Kak Fazar apa yang terjadi." Tanya Jaiz dan Jami secara bersamaan, karena mereka juga tadi mendengar Jidan yang berteriak-teriak memanggil ayah mereka.
Fazar menarik nafasnya dengan berat, lalu menatap keluarganya itu dengan tatapan sedih. Sebenarnya dia bingung ingin menyampaikan kematian ayah mertuanya nya itu.
" Bang, kenapa ayah baring disitu." Tanya Azra yang baru masuk bersama dengan Airin lalu mendekati Jidan." Apa ayah sakit bang, sampai ayah baring seperti itu."
" Bang Jidan, kenapa ayah ngga ada bangun. Apakah ayah baik-baik saja." Sambung Airin. Sedangkan Jidan tidak menjawab sama sekali.
Sedangkan orang-orang yang berada di situ sudah menebak kalau hal yang buruk baru saja terjadi, apalagi melihat Jambri yang terbaring lemah. Termasuk Windi yang ikut menahan tangisnya saat melihat suaminya itu menangis, kerena dia tau apa yang sedang terjadi, mengingat cerita suaminya kemarin.
" Jidan, Haidar, Fazar. Kenapa kalian diam. Sebenarnya apa yang telah terjadi, kenapa kalian bertiga hanya diam tidak menjawab pertanyaan ibu." Kini Widya mulai menyadari sesuatu saat melihat mantan suaminya itu tidak bergerak apalagi melihat kedua orang itu hanya menangis sedangkan menantunya hanya diam saja. Widya mulai menyadari sesuatu yang tiba-tiba saja hadir di kepalanya." Ini tidak mungkin kan. Mas, baik-baik saja kan." Sampai akhirnya Widya ikut terduduk dan menangis.
Keempat anak itu ikut menyadari sesuatu saat melihat ibu mereka menangisi. Walaupun Widya tidak mengatakan apa-apa tapi melihat dia menangis membuat mereka mengerti kalau sesuatu yang buruk telah terjadi.
" Ayah tidak mungkin meninggal kan kak, tadi malam ayah baik-baik saja. Ini tidak mungkin ayah pergi. Ayah tidak mungkin meninggal secepat ini, hiks.... hiks" Pada akhirnya keempatnya menangis seperti Jidan Abang dan ibu mereka saat mereka berhasil menyadari sesuatu. Sepertinya subuh ini adalah subuh ini penuh dengan tangisan menyediakan, karena orang yang mereka telah berpulang.
" Innalillahiwainnailaihirojiun." Kata itu keluar di mulut orang-orang yang berada disana. Mereka tidak menyangka acara bahagia tadi malam, akan membawa kabar menyedihkan di pagi harinya karena kematian Jambri.
" Ayah tidak mungkin meninggal kan." Cicit Wiyah yang hanya berdiri ditempat, sambil menatap orang-orang itu.
Orang yang tadi melihat kearah tubuh kaku Jambri menoleh kearah Wiyah. Sepertinya gadis itu ikut terguncang atas kabar mengejutkan ini.
" Ini tidak benar kan kak, apakah kalian hanya bercanda saja, ini tidak benar kan." Wiyah mencoba tersenyum, karena dia berpikir kalau keluarganya pasti sedang mengerjai nya." Ini tidak mungkin kan kak. Kalian semua sedang bohong." Tapi hati kecil itu tetap mengatakan hal yang lain. Apalagi melihat keluarganya menangis.
__ADS_1
" Sayang." Fazar berdiri mendekati istrinya itu, lalu memeluk tubuh istrinya dengan erat, mencoba memberikan kesabaran." Ini benar sayang, ayah telah berpulang."
Deg.
Bagi tersambar petir mendengar ucapan suaminya, kalau ayahnya ternyata sudah meninggal. Padahal tadi malam ayahnya baik-baik saja, dan barusan mereka baru saja melakukan sholat subuh secara berjamaah, dan tentu ayahnya baik-baik saja, tapi kenapa dia malah mendengar kabar buruk ini.
" Ini tidak mungkin kak, ini tidak mungkin. Ayah tadi baik-baik saja. Kakak pasti ikut berbohong." Wiyah berusaha untuk melepaskan pelukan Fazar yang memeluknya dengan erat." Kalian pasti bohong... hiksss... kalian pasti bohong... hiksss." Fazar ikut terisak melihat tangisan istrinya itu.
" Tenang sayang. Jangan seperti ini."
" Ini tidak mungkin. Lepaskan kak, aku akan membangunkan ayah, aku tau ayah hanya tidur saja."
" Tenang sayang, jangan seperti ini." Fazar mencoba menenangkan tubuh memberontak istrinya itu. Sampai dia merasakan kalau Wiyah sudah tidak memberontak seperti tadi." Astaghfirullah sayang." Tentu Fazar terkejut saat dia menyadari kalau istrinya ternyata jatuh pingsan.
" Zar, cepat bawah istrimu didalam kamar, sepertinya dia pingsan." Ucap bunda Sisi khawatir saat melihat menantunya pingsan.
" Paman akan menelepon dokter." Sambung tuan Aslan yang sama-sama khawatir.
Belum juga jauh Fazar melangkah membawa istrinya. Kini mereka kembali terkejut saat melihat tubuh Azra yang ikut pingsan. Sepertinya bukan hanya Wiyah yang syok melainkan gadis kecil itu juga.
Abidzar yang pergi membawa tubuh Azra pergi. Sedangkan beberapa pria disana, akan membantu membawa tubuh Jambri.
" Ya Allah mas, disaat meninggal saja kamu masih tersenyum seperti ini." Lirih Widya saat melihat wajah mantan suaminya itu tersenyum." Aku sungguh menyesal telah menyakitimu mas. Sungguh menyesal. Aku kira kamu telah memaafkan ku, tapi ternyata tidak, karena kamu telah menghukum ku seperti ini. Jika mas masih marah seharusnya mas tidak menghukum ku seperti ini, tapi dengan cara lain."
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Setelah Wiyah di periksa oleh dokter. Kini Fazar sedang menunggu istrinya sadar dari pingsannya. Fazar terus mengusap kepala istrinya sambil berjikir agar anak dalam kandungan istrinya itu tidak terjadi sesuatu, karena kabar mengejutkan ini.
Sampai Fazar merasakan kalau istrinya mulai sadar dari pingsannya." Air." Dengan sigap Fazar mengambilkan air untuk istrinya. Fazar juga membantu istrinya untuk bangun, lalu membantu nya untuk minum.
" Sudah kak." Tolak Wiyah saat merasakan kalau tenggorokan nya yang tadi kiring kini sudah basah.
" Sayang butuh sesuatu." Wiyah hanya menggeleng tidak menjawab. Fazar juga bisa melihat istrinya itu hanya diam dengan pandangan kosong.
" Kak, apakah kakak mengetahui sesuatu sebelum ayah meninggal." Tanya Wiyah menoleh menatap suaminya itu." Aku tau kalau sebenarnya kakak tau apa yang telah ayah sembunyikan. Tapi kakak sengaja menyembunyikannya dariku."
" Sayang, buk__"
__ADS_1
" Kak, aku ingin mendengar jawaban kakak bukan hal yang lain." Ucap Wiyah dengan datar." Aku ingin kejujuran kak, karena kakak sudah berjanji kepada ku."
Fazar membuang nafasnya dengan berat. Dia tau kalau istrinya itu keras kepala jika dia menjelaskan hal yang lain. Tapi dia juga tidak mau menceritakan kebenarannya, karena takut kalau istrinya akan marah kepada dirinya.
" Kak, kenapa kakak malah diam. Apakah kakak tidak mau menjawabnya." Tanya Wiyah tapi tidak mendapatkan jawaban sama sekali." Baiklah, aku akan tanya ke bang Jabir, seperti nya bang Jabir juga mengetahui nya."
" Stop sayang." Cegah Fazar saat melihat istrinya akan turun dari kasur." Baiklah kakak menjelaskannya, tapi sayang janji jangan marah atupun kembali terguncang dengan kebenaran ini." Wiyah hanya dia tanpa menjawab ucapan suaminya itu.
Melihat istrinya itu hanya diam, membuat Fazar semakin bingung. Ingin bercerita atau tidak. Tapi kalau dia tidak bercerita, pasti istrinya itu akan nekat keluar kamar, sedangkan keadaan nya belum pulih, karena masih terguncang.
" Sebenarnya ayah terkena penyakit kanker otak empat tahun yang lalu. Dan kanker otak itu semakin parah dan tidak bisa di obati. Kaka juga sudah berusaha untuk menyembuhkan ayah, tapi Kata Dokter waktu kalau ayah tidak bisa lagi di obati, dan hidup ayah tidak lama lagi."
Deg
Bagi tersambar petir untuk yang kesekian kalinya, mendengar kebenaran ini. Kalau ternyata ayahnya telah menyembunyikan penyakit berbahaya itu darinya. Pantas saja ayah itu memiliki banyak perubahan selama dia bertemu, ternyata ayahnya sedang sakit.
" Jika ayah sakit, kenapa ayah menyembunyikan penyakit nya dariku kak, dan kenapa kakak ikut-ikutan menyembunyikan kebenaran ini."
" Karena ayah yang memintaku sayang, ayah tidak ingin melihat my sedih, makanya ayah menyuruhku untuk diam."
" Tapi kan kakak bisa memberitahukan ku tanpa sepengetahuan ayah, agar aku bisa menemani ayah disisa umurnya. Tapi apa yang kakak lakukan, kakak ikut menyembunyikan kebenaran ini dariku. Kakak benar-benar jahat, kakak benar-benar pembohong... hiksss. Sampai akhir kehidupan ayah, aku belum benar-benar menjadi anak yang berbakti." Sungguh Fazar merasa menyesal karena tidak bercerita kepada istrinya, saat melihat dia menangis seperti ini.
" Sayang..... Maaf, bukan maksud kakak seperti itu." Fazar begitu sangat terkejut saat tangan ditepis dengan lembut oleh istrinya, saat tadi dia ingin menggenggamnya.
" Kak keluarlah, biarkan aku sendiri."
" Tapi sayang."
" Aku mohon kak, keluar lah. Jangan membuat aku menjadi istri durhaka, kerena sudah berani membentak suaminya." Ucap Wiyah sambil menagis menatap suaminya.
Mendengar ucapan istrinya, dengan berat hati Fazar berdiri dari kasur, lalu pergi meninggalkan istrinya itu yang sedang menangis didalam kamar.
" Maafkan aku sayang, karena kembali menyakiti mu." Lirih Fazar sambil menyandarkan tubuhnya di pintu.
" Maafkan aku kak, tapi aku hanya ingin sendiri sekarang." Lirih Wiyah menyandarkan tubuhnya di sandaran kasur." Ayah, kenapa ayah menyembunyikan ini dariku." Lirih Wiyah yang terus menangis." Ayah, maafkan aku yang belum bisa membahagiakan ayah di akhir hidup ayah."
...----------------...
__ADS_1