
Kesabaranku membawa cinta.
" Apakah kalian berdua sudah lupa, kalau aku berada di meja yang sama dengan kalian. Tapi kalian malah mengabaikanku." Fina, maupun Fadil sama-sama menoleh kearah Fazri, saat mendengar ucapan Fazri barusan." Kalau kalian ingin dinner berdua, kenapa harus mengajakku, kalau kalian hanya membuatku menjadi obat nyamuk di meja ini."
Fina jadi malu sendiri mendengar ucapan Fazri, padahal Fina tidak bermaksud untuk mengabaikan Fazri, Hanya saja Fina terlalu asyik mengobrol dengan Fadil, sampai melupakan kalau ada Fazri di meja yang sama dengan mereka. Fina merasa tidak enak dengan pemuda yang hampir seusia dengan adiknya itu.
Sedangkan Fadil menatap adiknya itu, dengan tatapan kesal, Karena sudah menggangu obrolannya." Makanya Zri, kamu cepat cari pasangan, biar bisa dinner kayak kami, jangan sendiri terus." Ucap Fadil sambil menyidir adiknya itu." Biasanya remaja kayak kamu tuh, sudah masa-masa nya pacaran bukan sendiri terus seperti sekarang."
Fazri berdecak kesal mendengar sindiran kakaknya itu." Bukan urusan kak Fadil, mau aku jomblo atu ngga, yang penting itu aku happy. Daripada kak Fadil, suka sama perempuan tapi ngga berani ngomong. Giliran mau ngomong, nanti dulu soalnya belum dapat waktu yang tepat. Nanti kalau perempuannya di ambil orang baru bingung sendiri." Sindir Fazri tak kalah pedasnya, sedangkan matanya terus tertuju kearah Fina yang dari tadi hanya diam mendengarkan.
" Berani kamu Zri." Geram Fadil menatap adiknya itu dengan tatapan tajam. Lalu Fadil mengambil sendok di atas meja, melemparkannya kearah Fazri. Untung saja Fazri tidak terkena lemparan Fadil, karena dia berhasil menghindar.
Tapi sedok yang Fadil lempar harus jatuh kelantai, membuat suara yang membuat orang-orang menatap kearah mereka.
" Sungguh Fazri mengesalkan." Gerutu Fadil dalam hati kerena kelakuan adiknya itu. Sedangkan Fazri dia hanya bersikap acuh, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sungguh Fadil begitu sangat geram dengan kelakuan adiknya itu.
Bagaimana dengan Fina yang menyaksikan perdebatan keduanya, hanya bisa menghela nafasnya." Sungguh dua adik kakak ini susah sekali di tebak, sama seperti kak Fazar." Batin Fina menatap kedua adik kakak itu bergantian.
" Maaf, kak Fadil, Fazri. Apakah saya bisa keluar, soalnya ini sudah malam." Tanya Fina, yang menghentikan perdebatan keduanya.
" Tapi makanan nya belum datang Fin, jangan pergi dulu, kita belum makan malam." Cegah Fadil merasa tidak enak dengan Fina, padahal rencananya mereka mau makan malam berdua, Tapi harus kacau karena ulah adiknya itu yang merusak momen saja." Maaf kami membuat kamu tidak nyaman."
" Bukan begitu kak Fadil, hanya saja ini sudah malam. Pasti Wiyah akan mencariku kalau aku tidak pulang cepat, Soalnya tadi aku ijin sebentar aja." Jelas Fina, memberikan alasan agar Fadil tidak merasa tidak enak dengan dirinya.
" Tapi Fin, bagaimana dengan makanannya. Pasti mubazir kalau tidak di makan."
" Emm, bagaimana kalau makanannya kita bungkus aja kak, nanti sampai di rumah sakit kita makan bareng-bareng, bagaimana." Saran Fina, membuat Fadil tampak berpikir.
" Baiklah, aku setuju dengan saran mu Fin." Fina tersenyum mendengar jawaban Fadil kalau dia setuju dengan sarannya.
Walaupun kecewa karena tidak bisa makan berdua dengan Fina, karena ulah dari adiknya itu, Tapi Fadil tetap senang, karena mereka tadi banyak menghabiskan waktu mengobrol sampai Fazri lah yang mengusik mereka.
__ADS_1
" Kenapa juga aku mengajak anak itu tadi, kalau aku tau akan gagal makan malam seperti ini." Gerutu Fadil kesal sambil menatap Fazri yang hanya diam, seolah-olah dia tidak tau apa-apa. Sungguh adiknya itu sangat mengesalkan.
.
.
Setelah memberitahukan kalau pesanan nya di bungkus aja, kini Fadil maupun Fina akan kembali kerumah sakit.
" Ngapain kamu ikut." Tanya Fadil saat melihat adiknya itu akan membuka pintu
" Mau pulang kak, mana mungkin aku mau tidur." Jawab Fazri kesal.
" Kamu pulang bareng Zain aja."
" Lah, kenapa gitu kak. Jadi kalian berdua gitu."
" Karena kamu hanya akan menjadi obat nyamuk saja kalau kamu satu mobil sama kami."
" Biarkan Aja, pokoknya aku mau pulang sama kalian." Fazri tetap ingin membuka pintu mobil. Tapi di tahan oleh Fadil.
" Okay, fine, big brother can go home. Nanti aku bisa pulang bareng kak Zain. Kalian bisa pulang berdua sana." Potong Fazri yang memilih mengalah daripada rahasianya di bongkar oleh Fadil.
Fadil tersenyum penuh kemenangan, saat mendengar jawaban dari adiknya itu, kalau dia mau pulang bersama dengan Zain. Yang artinya dia bisa pulang beruda bersama dengan Fina.
Fadil tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, karena baru kali ini ia akan duduk berdua bersama dengan Fina, tanpa adanya lain.
" Terimakasih Fazri. Kamu sangat penurut." Setelah mengatakan itu, Fadil melangkah memutari mobil nya lalu masuk kedalam mobil. Fina tidak mendengar obrolan keduanya. Karena didalam mobil kedap suara.
Sedangkan Fazri hanya menatap kesal mobil Fadil yang kini sudah jalan meninggalkan parkiran.
" Sungguh kak Fadil, menyebalkan." Gerutu Fazri sambil menendang angin.
__ADS_1
Sedangkan didalam mobil.
" Kenapa Fazri tidak ikut bersama dengan kita kak Fadil." Tanya Fina sambil menoleh kearah Fadil. Karena kebetulan keduanya duduk bersebelahan.
" Dia ingin pulang bersama dengan Zain, katanya ada urusan sebentar." Fina hanya bergumam tanda kalau dia mengerti.
🍂🍂🍂🍂🍂
Wiyah menyuapi Harum yang sekarang sedang makan malam. Keadaan nya juga lebih baik sekarang, Hanya saja trauma nya belum sembuh.
" Sudah kak, Harum kenyang." Tolak Harum sambil menggelengkan kepalanya, saat sendok itu akan kembali mengarah ke bibirnya.
" Satu sendok lagi, setelah itu sudah, setelah makan Harum minum obat biar cepat sembuh." Wiyah mencoba untuk membujuk Harum.
" Baiklah, satu sendok lagi setelah itu sudah ya kak Wiyah." Wiyah hanya mengangguk mengiyakan. Membuat Harum mau memakan makanan itu kembali.
" Alhamdulillah, Harum sudah makan sekarang Harum minum dulu." Wiyah mengambil satu gelas air, lalu membantu meminumkannya ke Harum." Tunggu berapa saat setelah itu Harum minum obat."
Harum begitu sangat terharu, karena wanita didepannya itu begitu sangat telaten merawatnya beberapa hari ini. Dengan pelan membujuknya untuk makan saat ia tidak mau makan. Bahkan saat ia ketakutan, wanita itu selalu ada untuk menenangkannya.
" Terimakasih kak Wiyah." Wiyah langsung menatap kearah Harum saat mendengar kata terimakasih yang keluar dari bibir gadis kecil itu." Terimakasih kak Wiyah, karena sudah mau merawat ku. Maaf aku menyusahkan kak Wiyah." Ucap Harum sambil menatap Wiyah dengan dalam.
" Untuk apa Harum berterimakasih ke kak Wiyah. Kak Wiyah melakukan ini, karen kak Wiyah begitu sangat menyayangi Harum seperti adik kak Wiyah sendiri, mungkin lebih dari kata adik untuk kak Wiyah. Jangan meminta maaf Harum, karena Harum tidak menyusahkan Kak Wiyah saat merawat Harum."
" Kak Wiyah merawat Harum, karena kak Wiyah begitu senang bisa bertemu dengan Harum kembali, yang sudah kakak anggap seperti adiknya sendiri." Jelas Wiyah sambil membalas tatapan dari Harum. Membalas menatap bola mata ember itu, yang terlihat sangat cantik dan indah.
Sedangkan Harum merasa terharu mendengar ucapan Wiyah, yang ternyata sangat menyayanginya.
" Mama apakah perempuan didepan ku adalah orang yang akan menyayangiku seperti yang mama katakan sebelum aku kembali sadar." Batin Harum.
" kenapa nangis Harum, apakah kak Wiyah salah mengatakan sesuatu."
__ADS_1
" Kakak tidak salah mengatakan sesuatu, hanya saja aku merasa terharu, karena ada yang menyayangi Harum selain mama." Jawab Harum sambil menetaskan air matanya.
...----------------...