Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 146


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Wiyah menatap sate yang baru saja di bakar oleh suaminya. Sate yang terlihat seperti bukan sate, karena warna yang sedikit hitam.


" Sayang, lebih baik satenya jangan dimakan, melihat bentuknya yang tidak memungkinkan untuk dimakan." Ucap Fazar, menatap sate yang baru saja ia buat dengan susah payah, karena ia tidak bisa membuat sate." Aku akan menyuruh ibu penjaga villa untuk membuatkan nya untukmu, takutnya sate ini rasanya ngga enak, lebih baik kita buang saja."


Wiyah menatap suaminya itu lalu menggeleng." Jangan kak, seperti sate nya enak. Kakak juga membuat nya dengan susah payah untukku." Jawab Wiyah, lalu mengambil salah satu sate dari piring itu.


" Rasanya enak kak." Ucap Wiyah saat merasakan kalau sate yang suaminya itu masak, rasanya enak pas di lidah nya, yang tidak kalah dengan sate yang dia pernah beli." Aku tidak menyangka nak, kalau abi mu ternyata pintar membuat sate seenak ini." Bisik Wiyah pada janin di rahimnya yang belum di ketahui keberadaannya, ada atau tidak.


Mendengar ucapan sang istri membuat Fazar mengerutkan keningnya tidak percaya, kalau sate yang dia buat memiliki rasa yang enak." Masa sih sayang." Ucap Fazar tidak percaya, karena ia belum merasakan sate buatan nya.


Karena penasaran membuat Fazar mengambil satu tusuk sate, untuk merasakan kalau sate yang ia buat rasanya enak atau tidak.


" Bagaimana kak, rasanya enakkan." Wiyah menatap suaminya itu.


Huek


Fazar memuntahkan sate itu saat merasakan kalau rasanya begitu sangat tidak enak. Apalagi rasa sate itu seperti makanan yang gosong, rasanya begitu sangat tidak enak seperti ada pahit- pahit gitu.


" Sayang, simpan jangan di teruskan memakan sate itu, rasanya begitu sangat tidak enak. Takutnya nanti akan membuat kamu sakit perut." Fazar menarik pering sate dari hadapan Wiyah, saat merasakan kalau sate yang ia buat begitu sangat tidak enak.


" Kak balikin, jangan di buang sate nya. Itu punyaku dan rasanya enak koh." Jawab Wiyah kembali merebut piring yang berisi sate itu.


" Sayang, jangan diteruskan makannya, kita ganti yang baru saja ya. Yang lebih enak dari yang ini." Wiyah menggeleng mendengar ucapan Fazar.


" Ngga kak, aku ngga mau di ganti sama yang lain, Sate ini rasanya enak koh, kakak aja yang ngga bisa merasakannya."


" Tapi sayang...."


" Kalau kakak ngga suka kalau aku lagi makan, ya ngga usah di lihat." Potong Wiyah kesal, membuat Fazar langsung diam.


Wiyah berdiri dari duduknya, melangkah kearah meja lain untuk menikmati makanannya tanpa gangguan Fazar. Sedangkan Fazar hanya bisa menatap kepergian istrinya itu.


" Kenapa istriku tiba-tiba saja terlihat menyeramkan saat sedang kesal ya seperti tadi." Batin Fazar.


.


.


Wiyah mengelus lembut perutnya yang masih rata, saat ia sudah kenyang, menghabiskan satu piring sate yang tadi suaminya buat untuknya.


" Sudah kenyang sayang." Fazar memberikan satu gelas air putih, saat melihat kalau Wiyah sudah makan.


" Alhamdulillah sudah kak." Jawab Wiyah melihat kearah suaminya." Makasih buat sate nya, dan air putihnya. Maaf tadi aku memotong ucapan kakak." Ucap Wiyah merasa bersalah, saat mengingat kalau ia memotong ucapan suaminya.

__ADS_1


" Iya sama-sama sayang. Sayang ngga salah tapi kakak yang salah tadi." Jawab Fazar tersenyum, lalu mengusap lembut kepala Wiyah yang tertutup oleh hijab." Kakak senang kalau sayang mau makan, seperti tadi, walaupun sate nya rasanya sangat tidak enak." Batin Fazar.


Walaupun khawatir saat merasakan kalau sate yang ia buat tidak enak, tapi melihat istrinya mau makan, karena Hal itu yang membuat Fazar ikut senang.


Apalagi tadi pagi, Wiyah menolak untuk sarapan pagi, karena Wiyah merasa mual saat melihat makanan didepannya.


" Sebentar sore kita langsung pulang, sayang."


" Terserah kakak saja, yang mana yang baik menurut kakak, aku ikut-ikut saja" Jawab Wisyah.


" Setelah kondisi sayang lebih baik, nanti kita bisa kesini lagi."


" Iya kak." Jawab Wiyah." Tapi sebelum kita kembali ke kota, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar, bolehkan kak." Tanya Wiyah.


" Boleh sayang. hari ini kita, jalan-jalan sebentar, baru itu kita kembali lagi ke kota." Jawab Fazar, sambil membantu istrinya untuk berdiri dari duduknya.


.


.


Sedangkan disisi lain.


Fadil yang sedang duduk sambil melamun, menatap kearah Abizard dan Fazri yang sedang sibuk bermain ps, di ruangan keluarga.


Kedua pria berbeda usia itu begitu sangat asyik dengan kegiatan mereka, sampai mengabaikan nya di sofa.


" Tapi kamu baru sekali Zri, mengalahkan ku." Sahut Abizard sombong.


" Walaupun baru sekali kak, tapi itu pertanda kalau ada peningkatan dariku."


" Oke, besok kita main lagi, untuk menentukan apa kamu memiliki peningkatan atau tidak."


" Boleh." Fazri menyimpan stik ps dari tangan nya.


Selama tiga hari berada di rumah utama, Abizard dan Fazri semakin dekat. Bahkan Fazri benyak belajar dari Abizard, Bukan saja belajar, tapi Abizard juga menghabiskan waktu untuk bermain bersama dengannya.


Abizard mencoba untuk dekat dengan sepupunya Fazri dan Fadil,


Walaupun Fadil banyak diam dua hari ini tidak banyak mengajaknya untuk berdebat.


" Kak aku kekamar mandi dulu." Ijin Fazri berdiri dari duduknya.


" Iya, cepat sana, nanti kita lanjut main lagi." Jawab Abizard yang ikut berdiri dari duduknya, melangkah kearah sofa yang di duduki oleh Fadil. Yang sekarang sedang diam sambil melamun.


" Jangan benyak melamun, entar kesambet lo."

__ADS_1


Fadil terkejut, saat Abizard menepuk pundaknya, yang membuatnya langsung tersadar dari lamunannya. Fadil menoleh kearah Abizard yang sedang duduk dengan santainya disebelahnya, menatapnya Abizard dengan kesal.


" Jangan ikut campur lo, kalau ngga tau apa-apa." Ketus Fadil yang ingin berdiri dari duduknya.


" Apa lo menyukai seorang gadis lagi, sampai membuat lo galau seperti saat ini." Tanya Abizard yang membuat Fadil menoleh kearahnya.


" Jangan sok tahu lo."


" Gue bukan sok tahu Dil, tapi gue tahu dari mata lo, kalau lo sedang galau dengan perasaan lo sekarang. Lo galau, karena masih bimbang dengan perasaan lo. Apakah hati yang baru saja menghapus nama seseorang, apa bisa terisi kembali dengan nama yang baru." Jelas Abizard." Kadang cinta itu datang secara tidak sengaja Dil. Walaupun lo baru baru melupakan seseorang, tapi kalau hati lo berkata lain, maka lo akan kembali mencitai seseorang yang berbeda tapi memiliki sifat yang sama."


Fadil yang mendengar ucapan Abizard membenarkan. Walaupun dulu ia pernah mencintai Wiyah, tapi ia sudah ikhlas untuk melepaskan dan sudah melupakannya.


Bisa saja kan kalau hati nya yang sedang kosong, bisa terisi nama seseorang berkat kebaikan dan kelembutannya sebagai seorang wanita. Mungkin orang yang berbeda tapi memiliki sifat yang sama.


" Coba untuk menerimanya kalau lo, menyukainya, jangan terlalu berlarut-larut dengan kesedihan karena tidak bisa bersama dengan cinta pertama lo. Dekati dia dengan baik-baik, tapi jangan tunjukkan perasaan lo ke dia, karena dia akan takut dengan perasaan lo." Ucap Abizard kembali. Abizard berdiri dari duduknya lalu menepuk pundak Fadil." Semangat untuk mengejar cinta lo, untuk yang kedua kalinya." Setelah mengatakan itu Abizard melangkah meninggalkan Fadil yang masih berdiri ditempatnya, untuk masuk kedalam kamarnya.


" Yang Abizard katakan memang benar, aku tidak boleh berlarut-larut dengan kesedihan karena tidak bisa bersama dengan Wiyah, apalagi sekarang perasaanku tertuju kepada Fina." Gumam Fadil.


Ya selama dua hari ini, Fadil sedang bingung dengan perasaannya. Karena setelah kejadian dimana ia mengakui kalau Fina adalah calon istrinya. Didepan pria muda yang menyukai Fina.


Dari situ perasaan bersalahnya muncul, karena ia bingung apakah ia mulai menyukai Fina sampai mengatakan hal seperti itu, atau ia hanya ingin melindungi Fina dari orang seperti pria kemarin.


Karena rasa bersalah nya itu membuat Fadil tidak keluar dari kamar, bahkan membuat ia galau seperti sekarang.


" Aku harus meminta maaf kepada Fina, karena perkataanku kemarin." Ucap Fadil kembali sambil melangkahkan kearah kembarnya.


.


.


Fina yang sedang duduk di sebuah taman, mengingat perkataan Fadil kemarin.


Entah kenapa, setiap mengingat perkataan Fadil pasti membuat jantung berdebar tidak karuan seperti sekarang.


" Jangan menyukainya Fin, karena Fadil tidak pantas untukmu." Gumam Fina mencoba membuang perasaannya itu." Tapi aku tidak salah menyukainya, karena aku juga wanita normal ya menyukai seorang pria." Ucap Fina kembali, sambil menghebuskan nafasnya agar pikirannya itu menghilang


Tapi itu tidak akan mungkin, karena ia sudah menyukai Fadil, Bukan baru sekarang. Tapi sudah begitu sangat lama menyukai Fadil, dimana dulu Wiyah mengenalkan Fadil pada dirinya beberapa bulan yang lalu.


Entah kenapa, ia malah terjebak dalam pesona Fadil saat itu, yang membuat ia menyukai Fadil, dan sampai sekarang perasaan itu masih sama.


Andai ia berani bercerita ke Wiyah, mungkin ia sudah memberitahukan perasaan nya sejak dulu, tapi ia tidak berani mengatakan hal itu ke Wiyah.


Saat sedang duduk terdiam di taman, seseorang datang lalu duduk di sampingnya.


" Lagi mikirin apa sih, sampai diam sendirian disini dan mengabaikan ku." Ucap orang itu, yang membuat Fina menoleh kearah sampingnya.

__ADS_1


" Yaya, kenapa kamu bisa berada disini."


...----------------...


__ADS_2