
" Bunda." Panggil Fazar dengan suara pelannya sambil melangkah mendekat kearah bunda Sisi. Fazar begitu sangat sedih dan begitu terluka saat melihat orang yang dia sayangi harus berjuang hidup untuk sembuh melawan penyakitnya.
Sedangkan Wiyah mengikuti langkah dari suaminya itu. Wiyah tahu kalau Fazar sekarang sedang sedih melihat keadaan saudaranya. Tapi kesedihannya sengaja Fazar sembunyikan yang membuat dia terlihat kuat, padahal dalam kenyataannya disini Fazar paling terluka.
" Anda begitu sangat kuat tuan, sampai bisa menyembunyikan kesedihanmu." Batin Wiyah menatap kearah punggung Fazar.
Bunda Sisi yang mendengar suara panggilan dari seseorang yang begitu sangat bunda Sisi kenal suaranya membalikkan tubuhnya melihat kebelakang. Sama hal seperti Rido yang sedang duduk di kursi dekat dengan bunda Sisi menoleh kebelakang untuk melihat siapakah yang datang keruangan rawat Fadil.
" Fazar." Ucap bunda Sisi dan juga Rido bersamaan saat melihat kedatangan Fazar yang kini sudah berada didalam ruangan itu. Karena keduanya belum mengetahui kalau Fazar akan ke Jakarta untuk menemui mereka.
Itu karena Fazar sengaja menyembunyikan kedatangannya bersama dengan Wiyah, agar Fazar bisa melihat seperti apa wajah sedih dari ibunya itu yang tidak tertutup topeng tegar selama ini.
Bunda Sisi berdiri dari duduknya melangkah mendekati Fazar. Bunda Sisi belum menyadari kehadiran Wiyah karena tertutup oleh tubuh Fazar, dan sekarang Wiyah berada di belakangnya.
Sama halnya dengan Rido yang sama-sama berdiri dari duduknya mendekati kearah Fazar.
Bunda Sisi yang melihat putranya itu memejamkan matanya, karena ia berusaha untuk menahan kesedihannya, tapi semakin bunda Sisi menahan kesedihannya, semakin ingin keluar air matanya. Karena tidak bisa menahan kesedihannya lagi, bunda Sisi langsung memeluk tubuh Fazar, melupakan kerinduan dan juga kesedihannya selama sebulanan lebih bunda Sisi sembunyikan dari Fazar agar putranya itu tidak terlalu kepikiran karena dirinya yang membuat Fazar tidak fokus akan pekerjaannya.
Sekarang bunda Sisi sudah mengakui kalau dirinya begitu sangat rapuh dan tidak bisa menyembunyikan lagi kesedihannya.
" Akhirnya kamu datang Zar." Ucap bunda Sisi dengan suara lirihnya yang sekarang berada didalam pelukan Fazar, air mata yang tadi bunda Sisi tahan begitu saja akhirnya mengalir begitu sangat derasnya membesh
__ADS_1
Fazar mengusap punggung bundanya itu, memberikan bunda Sisi ketenangan. Fazar tahu bagaimana sedihnya bunda Sisi sekarang.
" Tenanglah bunda percaya kalau semuanya akan baik-baik saja. Percaya ke Fazar, kalau Fazar akan mengurus semuanya." Ucap Fazar berusaha untuk menenangkan bundanya itu karena Fazar tahu seperti apa terlukanya bunda Sisi sekarang, apalagi bunda Sisi selalu menutupi kesedihannya dari Fazar karena tidak ingin terlihat lemah di mata semua orang termasuk putra pertamanya itu.
Apakah seperti ini sifat seorang ibu yang terlihat kuat agar orang lain tidak khawatir karenanya, tapi dalam hatinya dia begitu sangat sedih dan hancur saat melihat anaknya terluka. Pikir Fazar.
Bunda Sisi yang mendengar ucapan Fazar tidak perlu bertanya lagi, apakah Fazar sudah mengetahui semuanya atau belum. Karena Fazar pasti sudah mendapatkan informasi tentang pendonor itu dari orang suruhannya yang selama ini mengawasi mereka.
" Bunda percaya padamu Zar" Jawab bunda Sisi. Bunda Sisi melepaskan pelukannya. Fazar membantu mengusap pipi bunda Sisi yang basah akibat air matanya tadi.
Wanita paruh baya itu belum sepenuhnya sadar akan kehadiran Wiyah, karena tadi bunda Sisi terlalu larut dalam kesedihannya.
" Kamu datang kesini tapi tidak mengabari bunda, lalu dimana istri mu, kenapa kamu tidak mengajaknya. Kenapa kamu malah meninggalkan nya sendiri di sana." Tanya bunda Sisi yang belum menyadari akan kehadiran Wiyah.
" Aku tidak mengabari bunda karena aku ingin melihat bunda yang lemah karena selalu membuat dirinya kuat, padahal kenyataannya bunda begitu sangat sedih saat melihat keadaan Fadil sekarang. Dan aku kesini tidak sendiri, melaikan ada Zain bersamaku, dan juga istriku." Jelas Fazar menggeser posisi berdiri nya sedikit menyamping agar bunda Sisi bisa melihat Wiyah yang ternyata berada di belakang Fazar." Aku sengaja membawanya karena aku tahu kalau bunda pasti akan menanyakan keberadaan menantu kesayangan bunda." Ucap Fazar kembali.
Saat Fazar menggeser posisi berdiri nya sedikit menyamping membuat Bunda Sisi bisa melihat kalau menantu nya yang selama satu bulan tidak bertemu berada di ruangan ini.
Wiyah tersenyum menatap mertua itu, lalu melangkah mendekati bunda Sisi.
" Assalamualaikum bunda." Salam Wiyah sambil meraih tangan bunda Sisi lalu mencium punggung tangan itu.
__ADS_1
Bunda Sisi yang menyaksikan apa yang Wiyah lakukan tadi hanya tersenyum. Bunda Sisi berpikir kalau ia tidak salah memilih menantu seperti Wiyah.
Karena begitu sangat merindukan menantunya itu, bunda Sisi langsung memeluk tubuh Wiyah. Sedangkan Wiyah yang mendapatkan pelukan dadakan dari bunda Sisi hanya bisa membalas pelukan hangat itu.
" Maafkan bunda yang tidak menyadari kalau kamu ada disini." Ucap bunda Sisi yang merasa bersalah karena ia tidak melihat kehadiran menantunya itu, padahal tadi dia berada tepat dibelakang Fazar.
Wiyah tersenyum mendengar ucapan dari bunda Sisi." Ngga apa-apa bun, aku ngerti apa yang sekarang bunda rasakan." Jawab Wiyah.
Bunda Sisi melepaskan pelukannya lalu menatap menantunya itu." Kamu memang memantau bunda yang begitu sangat mengerti bagaimana perasaan bunda sekarang." Ucap bunda sisi dengan senyumannya, kesediaannya tadi serasa menghilang saat melihat keluarga berada disini.
.
.
Fazar menatap Fadil yang sedang terbaring, karena dokter sudah menyatakan kalau Fadil kembali kritis.
Wajah tampan Fadil seakan hilang di balik wajah pucatnya yang bagikan mayat. Rambut hitamnya hilang tergantikan dengan kepalanya yang bersih tanpa rambut. Sedangkan tubuh yang kemarin begitu sangat sempurna kini bagikan kerangka yang hanya di lapisi oleh kulit saja.
Tubuh kurus itu, kini terpasang alat-alat yang membantu kehidupannya. Fazar yang melihat keadaan adiknya itu hanya bisa menatapnya miris, karena hidup adiknya seperti terbantu oleh alat-alat.
Andai Fazar mengetahui penyakit Fadil dari dulu, mungkin Fadil tidak akan seperti sekarang.
__ADS_1
...----------------...