
Suara kendaraan saling bersahut-sahutan, apalagi siang ini sedang macet membuat kendaraan harus sabar menunggu.
Sama halnya dengan Fina yang terjebak dalam kemacetan harus bersabar menunggu arus kendaraan lain, agar ia bisa melanjutkan motornya kembali.
" Kenapa harus macet sih." Gerutu Fina kesal menatap satu persatu kendaraan lain. Untungnya awan sedang mendung, jadinya tidak terlalu panas seperti siang biasanya, hanya saja Fina merasa gerah dan pusing jika macet seperti ini.
" Andai kak Fadil tidak menolongku mungkin saja dia tidak ada disana, tapi aku."
Sebenarnya Fina begitu sangat bersyukur, karena Fadil telah menyelamatkan nya kemarin, saat ia hampir saja di lecehkan. Tapi Fina juga merasa bersalah saat tahu, Fadil ditangkap polisi karena dirinya.
.
.
Di kantor polisi.
Fadil sedang duduk sambil memejamkan matanya. Mengakui kalau ia salah atas kesalahan yang kemarin ia perbuat, sampai membuat Aldrich kritis.
Sebenarnya Fadil tidak bermaksud memukul Aldrich sampai membuatnya kritis. Hanya saja emosi nya yang membuat ia kehilangan kendali, sampai membuat ia memukul Aldrich dan membuat Aldrich masuk kedalam rumah sakit.
Apalagi baru kali itu Fadil mengunakan kekerasan ke orang, karena biasanya Fadil akan menyelesaikan masalahnya dengan cara tenang tanpa mengunakan kekerasan apalagi memukul orang sampai masuk kedalam rumah sakit.
Saat Fadil sedang terdiam, seorang pria datang lalu duduk disebelahnya, karena kursi yang Fadil duduki lumayan panjang.
" Kadang rasa menyesal itu, datangnya terakhir saat Kita melihat orang itu sudah terbaring di rumah sakit."
Fadil membuka matanya lalu menoleh kearah sampingnya yang terdapat pria, mungkin seusia Abangnya. Yang sedang duduk sambil menatap lurus ke depan.
" Tapi ada rasa bangga, saat melihat orang itu terbaring karena kesalahannya. Andai dia tidak melakukan kesalahan itu, mungkin dia tidak akan disana." Sambung Fadil membuat pria itu tersenyum.
" Aku senang dengan pemikiran mu." Pria itu tersenyum, lalu menyerahkan satu botol air minum." Aku tahu kalau kamu merasa tidak tenang saat kamu berada di sini, tapi kamu tidak perlu takut karena Fazar sedang mencari bukti sebenarnya."
" Terimakasih." Fadil mengambil air yang di berikan pria itu." Aku tahu seperti apa abang ku, setiap dia menyelesaikan masalah nya pasti dengan tenang. Karena dia akan memikirkan apa rencana selanjutnya, sebelum dia memulai rencananya sekarang."
" Kami memang tidak besar bersama, tapi kami pernah saling mengenal. Maka aku tahu dia akan berpikir bijak tentang masalah ini, apalagi menyangkut pautkan tentang keluarganya."
" Kumu benar sekali Liando. Abang tidak bisa tenang kalau sudah menyangkut keluarga nya. Maka dia akan melakukan sesuatu agar masalah ini cepat selesai." Ucap Fadil tersenyum." Sangking khawatir nya, dia sampai menyuruh mu untuk mendampingiku selama aku berada disini."
Liando yang mendengar tebakan Fadil, hanya bisa tersenyum." Itulah Abangmu."
Liando, pria berusia dua puluh delapan tahun. Dia teman Fazar saat SMP dan Liando juga seorang polisi yang ikut serta menangkap Fadil tadi pagi.
Sebenarnya Liando tidak ada hubungannya dengan tugas penangkapan Fadil. Hanya saja dia di minta oleh Fazar untuk menemani Fadil selama Fadil berada di kantor polisi, makanya Liando berada disitu.
Karena kata Fazar, Fadil belum sepenuhnya pulih dan dia juga masih membutuhkan orang-orang kepercayaannya untuk mengawasi Fadil selama dia disana. Makanya Fazar menyuruh Liando untuk menemani Fadil sementara, sampai semuanya selesai.
__ADS_1
" Karena sekarang sudah waktunya makan siang, bagaimana kalau kita makan siang dulu."
" Kebetulan juga aku lapar." Jawab Fadil yang mengingat kalau dia belum makan apapun sejak tadi pagi, kalaupun perutnya terisi mungkin hanya dua roti dan segelas air putih.
Sebenarnya orang-orang disana sudah menawarkan Fadil untuk sarapan pagi, tapi Fadil menolak tawaran mereka.
Katanya sih, Fadil sudah kenyang karena interogasi dari para polisi. Padahal para polisi tidak melakukan apapun kepada Fadil.
" Tapi Liando, apakah aku bisa keluar untuk makan siang."
" Sebenarnya sih bisa. Tapi, karena kamu ada disini, maka Kita tidak akan keluar, melainkan kita akan makan disini."
" Aku kira kita akan keluar. Padahal aku ingin makan di luar."
" Tidak bisa, karena kita harus mematuhi setiap peraturan yang ada. Bersabarlah sampai satu minggu kedepannya."
" Ya Allah, lama sekali."
" Itu tidak akan lama kalau kamu berhaji tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Itu pesan dari Fazar."
" Satu Minggu, itu sebanyak tujuh hari, Liando. Tega benget sih Abang melakukan ini."
" Ngga apa-apa Fadil, namanya belajar untuk menjadi orang baik. Lebih baik kita makan siang dulu, keburu nanti kamu masuk kerumah sakit."
Walaupun jengkel dan kesal, karena Fadil akan berada di kantor polisi selama satu minggu. Sebelum waktu pengadilan nanti, tapi Fadil akan tetap menurut perintah Liando.
.
.
Pria tampan itu sudah tidak sabar menemui sang pujaan hati yang dia tinggal selama beberapa hari ini untuk melakukan pekerjaannya.
" Nona pasti senang dengan buket bunga yang anda berikan tuan apalagi bunga Lily kesukaannya."
Pria muda itu yang sedang melihat kearah jalan, menoleh melihat kearah sekertaris nya yang duduk di depan kemudi, di samping supir yang sedang menyetir.
" Kamu benar sekali Zain, Jia pasti senang dengan buket bunga kesukaannya." Jawab pria itu yang tidak lain adalah Fazar. Fazar yang baru kembali dari kota S, langsung pergi ke apartemen tunangannya Jia, walaupun ia baru saja sampai. Tapi rasa lelahnya akan hilang saat nanti dia sudah bertemu dengan kekasih hatinya itu.
Sebenarnya Fazar baru kembali lusa. Tapi karena rindu begitu sangat besar dengan kekasih hatinya yang sebentar lagi akan menyandang sebagai istrinya, membuat Fazar jadi tidak sabar untuk bertemu.
Tidak berselang lama, Fazar telah sampai didepan gedung sebuah apartemen.
Fazar turun dari mobilnya, sedangkan Zain sedang memarkirkan mobilnya di basement apartemen itu. Karena nanti Zain akan menyusulnya.
Fazar masuk kedalam lift, menekan tombol lantai paling atas, karena apartemen Jia berada di lantai paling atas dari gedung itu.
__ADS_1
Senyumannya terus mengembang di setiap langkah nya melewati satu persatu pintu
apartemen lain. Sampai Fazar berhenti di depan pintu apartemen yang dia tujuh.
" Apakah aku harus masuk, atau menekan bel ini." Gumam Fazar, bingung apakah ia harus masuk begitu saja atau ia harus menekan tombol di pintu." Masuk ajalah, kan sebentar lagi kami akan menikah. Jadi biarkan aku melihat wajah keterkejutnya saat melihatku sudah berada didalam." Gumam Fazar kembali sambil senyum-senyum sendiri, membayangkan seperti apa wajah cantik kekasih nya nanti saat melihat nya sudah berada di dalam.
Fazar yang memang sudah mengetahui kata sandi pintu langsung masuk begitu saja, tanpa menunggu sekertarisnya.
Terlihat kalau dari dalam ruangan itu tampak rapi dan bersih, harum yang begitu sangat menenangkan.
Fazar menyusuri setiap sudut ruangan, tapi dia tidak melihat keberadaan tunangannya itu.
" Mungkin dia ada didalam kamarnya."
Tampak banyak berpikir Fazar langsung naik kelantai atas, tepatnya di kamar kamar Jia. Karena Fazar berencana untuk mengagetkan Jia.
Saat Fazar baru mendekati pintu kamar Jia, Fazar mendengar seperti suara yang sangat aneh, membuat bulu kuduk nya merinding.
Karena penasaran suara apakah itu, Fazar semakin mendekat ke pintu kamar Jia Yun sedikit terbuka.
" Aku mencintaimu sayang."
Deg
Jantung Fazar langsung berdetak tak karuan saat mendengar suara pria yang keluar dari kamar itu.
" Aku juga mencintaimu Aron, i love you."
Suara yang sangat Fazar kenal dari dalam kamar itu, semakin membuat Fazar terpaku didepan pintu untuk mendengarkan obrolan keduanya.
Rasa sakit saat mendengar suara gadis yang dia cintai berada didalam bersama dengan pria lain, membuat Fazar ingin menangis, bukan saja menangis. Tapi Fazar ingin memukul pria yang sekarang berada didalam kamar bersama dengan tunangannya itu.
Tapi Fazar masih ingin mendengar obrolan keduanya membuat Fazar harus menahan rasa sakit nya.
" Aku tidak ingin menikah dengannya sayang karena aku tidak menyukainya, bahkan aku berpura-pura mencintainya, itu semua karena paksaan dari keluargaku yang sudah menjodohkan ku dengannya. Aku tidak menyukai pria yang terlahir dari kasta yang sangat rendah sepertinya. Dia kaya seperti sekarang, itu semua karena bantuan dari keluargaku."
Ucapan Jia, gadis yang dia sukai membuat hati Fazar seperti dilempar sebuah pisau tajam yang begitu sangat tajam, sampai membuat hatinya teriris seperti sekarang.
" Tapi yang aku tahu dia adalah sahabat masa kecil mu. Pasti kamu memiliki hati untuknya."
" Tidak sayang, aku tidak memiliki hati kepadanya, walaupun dia sahabat masa kecilku. Aku mendekati nya itu semua karena aku kasihan padanya. Yang hanya keluarga kecil. Aku bersahabat dengannya juga, karena ayah dan ibuku berteman dengan kedua orang tuanya, Makanya aku bisa berteman dengan pria miskin itu."
" Tapi sekarang keluarganya sudah kaya, bahkan sudah memiliki perusahaan sendiri lebih besar lagi."
" Karena itulah aku memanfaatkan nya, untuk merebut perusahaannya itu. Aku menerima perjodohan ini, hanya untuk merebut perusahaannya dan menjatuhkan mereka."
__ADS_1
...----------------...