
Kesabaranku membawa cinta
" Jangan, jangan lakukan itu, kumohon." Teriak Fina ketakutan, saat bayang-bayang menakutkan itu hadir di ingatannya.
Sedangkan Fadil yang belum sadar akan ketakutan Fina, hanya tertawa karena gemas dengan tingkah gadis disampingnya itu." Hahaha, kamu terlihat menggemaskan Fin saat ketakutan seperti ini." Ucap Fadil sambil tertawa puas, karena berhasil mengerjai Fina. Tapi Fadil belum sadar, kalau Fina benar-benar sedang ketakutan sekarang." Tenanglah Fin, aku tidak akan melakukan itu, karena aku bukanlah pria bejad seperti Aldrich, Aku akan bersabar menunggu mu sampai hari itu tiba Fin." Ucap Fadil yang masih saja tertawa, karena dia belum sadar dengan kondisi Fina sekarang.
Fadil kembali menoleh kearah Fina, dan melihat kalau Fina masih saja ketakutan seperti tadi." Fin, jangan takut, tadi itu hanya bercanda saja." Fadil mencoba untuk mendekati Fina, tapi tiba-tiba saja Fina kembali berteriak histeris dan memundurkan tubuhnya.
" Menjauh, menjauh dariku, jangan lakukan itu." Teriak Fina ketakutan, sambil memundurkan tubuhnya. Walaupun tubuh itu sudah terhalang oleh pintu mobil, tapi Fina berusaha untuk mundur kembali.
Degg
Jantung Fadil berdebar tidak karuan, saat ia menyadari, kalau sekarang Fina sedang ketakutan, karena ulahnya tadi. Fadil baru ingat, kalau Fina memiliki trauma akan tindak pemerkosaan waktu itu. Jadi hal berbau seperti tadi, akan membuat ketakutan Fina kembali lagi.
Tapi tadi, ia malah dengan jahil, menjahili Fina, padahal ia tau kalau Fina tidak boleh dijahili seperti tadi, karena Fina memiliki trauma.
" Astaghfirullah, apa yang kamu lakukan Dil, kamu membuat trauma Fina kambu kembali." Gumam Fadil merasa bersalah, dan juga panik saat melihat Fina ketakutan, hingga berteriak histeris seperti tadi. Fadil mencoba mendekati Fina, tapi Fina semakin ketakutan dan memundurkan tubuhnya." Fin, tenanglah, semua baik-baik saja, Tadi aku hanya bercanda." Bujuk Fadil dengan perasaan yang sedang kacau sekarang, karena ia bingung ingin melakukan apa.
Apalagi kepanikan Fadil semakin menjadi saat mendengar klakson mobil yang berada dibelakang mobilnya, yang sedang membunyikan klakson mobil mereka, agar mobilnya segera bergeser, karena mobil Fadil telah menganggu aktivitas pengendara lainnya.
Sedangkan Fadil baru sadar kalau sekarang ia berada di tengah jalan yang sangat ramai, dan lampu yang tadi merah kini sudah berubah menjadi hijau. Pertanda kalau kendaraan lain bisa kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Sebelum menenangkan Fina, Fadil memutuskan untuk mencari tempat untuk mobilnya terlebih dahulu, ketempat yang tidak terlalu ramai seperti sekarang, barulah nanti ia memenangkan Fina yang sedang ketakutan.
__ADS_1
Fadil kembali menjalankan mobilnya, meninggalkan jalan yang ramai, untuk pergi ketempat yang sedikit sepi, agar ia bisa menenangkan Fina, yang sedang ketakutan. Soalnya kalau ditempat itu, dia bisa di amuk masa, kalau sampai orang-orang mendengar teriakkan Fina, dan orang-orang akan berpikir kalau ia adalah pelaku kejahatan yang ingin melecehkan seorang wanita.
Sungguh Fadil tidak ingin orang beranggapan buruk terhadapnya nanti.
Sampai Fadil menemukan jalan yang terlihat sapi, mungkin jalan itu hanya di lewati satu atau dua kendaraan saja. Fadil yang melihat tempat itu, membuat Fadil memutuskan untuk mengehentikan mobilnya disana. Fadil tidak akan berniat jahat terhadap Fina, karena niatnya kali ini, hanya ingin menenangkan Fina yang sedang ketakutan dan tidak akan lebih dari itu.
Fadil menoleh kearah Fina yang sedang berusaha untuk membuka pintu mobilnya, Tapi pintu itu tidak terbuka, karena Fadil sudah mengunci pintu mobilnya lewat tombol lain, jadi Fina tidak akan bisa keluar dari mobilnya.
Fadil melepaskan seat belt, agar ia bisa mendekati tubuh itu, untuk menenangkannya." Menjauh, menjauh lah, jangan dekati aku." Teriak Fina ketakutan, saat melihat Fadil semakin mendekatinya. Fina sudah mencoba untuk membuka pintu mobil itu, tapi sayang mobil itu tidak terbuka sama sekali.
" Tenanglah Fin, aku tidak akan melakukan hal sebejad itu padamu." Ucap Fadil sambil menatap mata Fina, karena Fadil sedang mencoba untuk nyakinkan gadis itu dengan cara menatapnya seperti itu, agar Fina prcaya padanya.
Sampai Fadil mendapatkan celah untuk memeluk tubuh itu. Sebenarnya Fadil tidak bermaksud untuk memeluk Fina, hanya saja ini cara satu-satunya untuk menenangkan gadis itu.
" Tenanglah Fin, aku tidak akan melakukan itu padamu, Percayalah." Bisik Fadil, sambil menahan tubuh Fina agar tidak memberontak seperti tadi." Tenanglah, aku ada disini, bersamamu." Ucapan Fadil barusan barhasil membuat Fina berhenti memberontak, bahkan tubuh itu sudah lebih tenang dari sebelumnya." Pejamkan matamu Fin, lalu tarik yang dalam dan buang, jangan ingat dengan kejadian itu Fin, sekarang kamu banyakan kalau kamu sedang berada disebuah taman yang indah." Ucap Fadil kembali sambil terus menenangkan gadis itu.
Untung saja waktu itu, Fadil sempat belajar, tata cara menenangkan ketakutan Fina, saat nanti traumanya tiba-tiba saja kambuh seperti sekarang. Fadil mempelajari itu semua dari psikolog yang pernah menjadi dokter untuk Fina waktu itu.
Sedangkan Fina hanya menuruti ucapan Fadil, walaupun ketakutannya lebih besar. Tapi berkat ucapan lembut Fadil, berhasil membuat Fina sedikit lebih tenang, dari tadi.
Fina memejamkan matanya, seperti yang Fadil suruh, lalu membayangkan kalau ia sedang berada di sebuah taman yang sangat indah. Tapi ia tidak sendiri, melainkan bersama dengan pria yang sedang memeluknya sekarang." Rasanya begitu sangat nyaman." Lirih Fina, tanpa ia sadari.
Fadil tidak melepaskan pelukannya, padahal ia sudah hampir sepuluh menit memeluk tubuh Fina, tapi Fadil tidak berniat untuk melepaskan pelukannya. Sepertinya Fina maupun Fadil, tidak menyadari kalau mereka sama-sama merasakan kenyamanan itu.
__ADS_1
Sampai ketukan dari kedua jendela mobil itu, membuat Fina maupun Fadil sama-sama sadar, kalau apa yang mereka lakukan ini salah.
" Astaghfirullah Fin, maaf aku tidak bermaksud untuk memeluk mu, hanya saja aku sedang mencoba untuk menenangkan mu tadi, tapi aku malah kelepasan." Ucap Fadil cepat-cepat menjauhkan tubuhnya.
" Jangan meminta maafkak, karena disini aku juga bersalah, seharusnya aku tidak seperti tadi." Jawab Fina yang tidak ingin melihat Fadil menyalakan dirinya sendiri, karena disini juga dia bersalah.
" Tidak Fin, seharusnya itu aku___" Belum juga Fadil menjawab ucapan Fina, ketukan jendela mobilnya semakin kencang berbunyi, membuat Fadil mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perkataannya." Sepertinya nanti saja kita bahas itu Fin, karena kita harus melihat, siapa orang yang tidak sopan santun mengetuk pintu mobilku dengan keras seperti tidak ini." Ucap Fadil, yang mendapatkan anggukan dari Fina.
Fadil mulai menurunkan kaca mbilnya dengan lebar, sampai membuat ia bisa melihat siapa sih yang mengetuk jendela mobilnya itu, dan saat jendela mobil sudah sepenuhnya terbuka, Fadil bisa melihat siapa orang yang sudah mengetuk jendela mobil itu dengan keras.
" Maaf pak, ada perlu apa, sampai mengetuk jendela mobil saya seperti tadi." Tanya Fadil dengan sopan, sambil menatap kearah pria baru baya dan juga beberapa pria lainnya, yang mungkin berusia sekitar tiga puluh tahunan. Walaupun tadi Fadil sempat kesal, tapi setelah melihat siapakah yang mengetuk jendela mobil nya, membuat kekesalannya itu hilang berganti menjadi tegang, saat melihat beberapa pria itu.
" Hay anak muda, kamu masih bertanya kenapa kami mengetuk jendela mobil mu seperti tadi, Seharusnya itu, kami yang bertanya seperti itu kepada kalian berdua, kenapa kalian memarkirkan mobil kalian ditempat sepi seperti ini, jika kalian tidak melakukan hal-hal kotor disini." Jawab pria itu sambil menatap garang kearah Fadil.
Fadil semakin di buat bingung dengan perkataan bapak itu." Apa maksudnya ini pak, saya memarkirkan mobil saya disini, karena sahabat saya sedang tidak enak badan, dan saya membiarkan sahabat saya untuk beristirahat sebentar, disini." Jelas Fadil, yang tidak ingin kalah para pria itu sampai salah paham kepadanya.
" Bohong itu pak, masa laki-laki dan perempuan satu mobil, hanya duduk beristirahat tanpa melakukan apapun didalam mobil, apalagi ditempat sepi seperti ini. Pasti bohong itu pak, pasti mereka berdua sedang berbuat macam-macam didalam." Ucap pria satunya yang sepertinya sedang mengompori para pria lainnya.
" Betul itu pak, tidak ada laki-laki ataupun perempuan satu mobil ditempat sepi seperti ini, tanpa melakukan apapun." Sambung pria satunya.
Sedangkan Fina yang berada didalam mobil itu menjadi ketakutan, mendengar tuduhan dari beberapa orang-orang itu." Ya Allah, ada apa ini." Batin Fina, ketakutan." Maaf pak, apa yang dikatakan oleh sahabat saya benar, kalau kami hanya beristirahat tanpa melakukan apa-apa." Jelas Fina ikut menjelaskan, karena ia berpikir dengan dia ikut menjelaskan, maka orang-orang itu akan mengerti.
" Bohong itu, sebaliknya kita bawa mereka ke rumah pak RT, untuk menyidang keduanya." Ucap pria yang pertama berbicara tadi.
__ADS_1