
Kesabaranku membawa cinta
Fazar yang melihat Fadil hanya menangis tanpa menjawab pertanyaan dari bunda Sisi, semakin di buat penasaran. Karena penasaran membuat Fazar melihat kearah Rido yang hanya diam sambil menatap kearah Fadil. Fazar penasaran, sebenarnya apa yang telah terjadi, kenapa Fadil bisa seperti ini.
" Ceritakan apa yang telah terjadi Do, kenapa Fadil seperti ini." Tanya Fazar menatap Rido. Karena, hanya Rido yang tau, apa yang sudah terjadi kepada Fadil, sampai membuatnya seperti sekarang.
Rido menghembuskan nafasnya. Sebenarnya dia tidak ingin bercerita, karena ini adalah masalah pribadi Fadil, dan hanya Fadil yang boleh menceritakannya. Tapi melihat Fadil hanya diam tanpa membuka suara sama sekali, membuat Rido memutuskan untuk bercerita.
Rido mulai menceritakan dimana Fadil mengantar Fina pulang. Sampai dimana dia melihat Fadil yang sudah di pukul oleh kakaknya Fina, karena tidak menerima pernikahan merek. Fina dan Fadil, yang ternyata sudah menikah secara diam-diam kemarin malam, atau lebih tepatnya menikah karena tidak sengaja. Itu yang didengarkan oleh Rido tadi, dari keributan di rumah Fina.
Sedangkan Fazar, dan bunda Sisi begitu sangat terkejut mendengar cerita Rido. Kalau ternyata Fadil telah menikah secara diam-diam tanpa sepengetahuan mereka.
Sebenarnya Fazar curiga denga keduanya kemarin malam, yang tidak pulang kerumah sakit, dan beralasan kalau mereka singgah ke apartemen. Tapi bukan itu saja yang membuat Fazar Fazar curiga, tapi saat dia melihat tingkah keduanya terlihat aneh.
" Zri, apakah kamu tau pernikahan keduanya." Tanya Fazar menatap curiga adiknya itu. Fazar curiga kalau Fazri pasti tau pernikahan keduanya.
" Iya bang, aku mengetahuinya."
" Kenapa kamu tidak memberitahukan Abang, Zri."
" Aku tidak ingin ikut campur dalam masalah pribadi kak Fadil, makanya aku memilih untuk diam." Jawab Fazri jujur menatap abangnya itu.
Antara membenarkan ucapan adiknya itu atau menyalahkannya, karena tidak memberitahukan masalah Fadil, kepadanya. Kalau saja Fazri menceritakan masalah Fadil, pasti Fadil tidak akan seperti sekarang.
" Walaupun itu adalah masalah pribadi Fadil. Tapi Abang ingin, kalian menceritakan masalah kalian. Agar Abang bisa membantu memberikan solusi untuk kalian. Jangan hanya diam, kalau ujung-ujungnya akan seperti ini." Ucap Fazar mengingatkan adiknya itu.
Karena Fazar tau. Kalau kedua saudaranya itu ada masalah, pasti ujung-ujungnya mereka akan memilih diam tanpa bercerita kepadanya, untuk mencari solusi bersama.
.
.
Fadil duduk di sofa bersebelahan dengan bunda Sisi, yang sedang mengobati luka lebam di bibirnya.
" Rido tolong kapasnya."
" Ini bunda." Ucap Rido menyerahkan kapas yang diminta oleh bunda Sisi." Bunda butuh apa lagi."
__ADS_1
" Ngga ada lagi Do, kamu bisa duduk." Rido hanya menuruti suruhan bunda Sisi untuk kembali duduk di tepatnya.
Setelah selesai mengobati luka lebam Fadil. Kini bunda Sisi menatap wajah putranya itu." Kamu sudah janji kepada bunda kemarin. Kalau kamu ada masalah, pasti kamu akan bercerita Dil. Tapi kenapa kamu mengingkari janji mu ke bunda, tanpa menceritakan masalah yang kamu hadapi hari." Tanya bunda Sisi. Terlihat dari tatapan bunda Sisi, yang terlihat kecewa dengan putranya itu, karena setiap ada masalah, pasti akan di tutupi." Apa Fadil ngga percaya sama bunda, makanya kamu menyembunyikan masalah mu ke bunda, sayang."
Fadil mengakat kepalanya, menatap bundanya itu." Maaf Bun, Fadil tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja Fadil ingin menyelesaikan masalah Fadil sendiri, tanpa harus menyusahkan kalian."
" Apa bunda terlihat tersusahkan dengan masalah kalian Dil."
" Tidak bunda."
" Jika kamu tau seperti itu, kenapa kamu masih berpikir seperti tadi Dil. Bagaimanapun masalah yang kamu hadapi, cerita lah kepada bunda, jika kamu tidak mempercayai orang lain."
" Maaf bunda, lain kali aku tidak akan seperti itu."
" Jangan cuman ngomong kak, tapi dipraktekkan." Sambung Fazri.
" Apa sih Zri." Ucap Fadil ketus, karena adiknya itu pakai acara menyambung saja.
" Sudah-sudah ngga usah ribut." Lerai bunda Sisi saat melihat kedua putranya akan kembali ribut." Sekarang kamu jelaskan ke bunda. Apakah kamu benar-benar sudah menikah dengan Fina, dan bagaimana bisa kalian menikah."
Fadil lama terdiam, sampai dia menatap bundanya itu, lalu mengangguk mengiyakan. Fadil mulai menceritakan, bagaimana mereka bisa menikah kemarin. Fadil juga menceritakan, bagaimana keluarga Fina yang tidak menerima pernikahannya karena Fina sudah memiliki calon lain dan bagaimana Yusuf kakaknya Fina memukulnya dan memaksa nya untuk melepaskan Fina.
Pertanyaan Rido tadi sekaan terjawab setelah mendengar cerita dari Fadil, kenapa mereka bisa menikah." Syukurlah kalau dugaan gue benar Dil, kalau Lo ngga melakukan itu dan pernikahan kalian memang lah hanya kesalahpahaman." Batin Rido yang begitu sangat bersyukur, karena tadi dia tidak berpikiran buruk terhadap sahabatnya. Kalau saja dia berpikir yang tidak-tidak tadi, mungkin Rido sudah suuzon kepada sahabatnya itu.
" Seharusnya itu keluarga kak Fina mendengarkan penjelasan kak Fadil, dan tidak seharusnya mereka menyalakan kak Fadil, karena kak Fina juga bersalah." Geram Fazri geram setelah mendengar cerita kakaknya itu.
" Zri, jangan berkata seperti itu Zri, apalagi Ini masalah orang dewasa yang kamu belum mengerti disaat usiamu sekarang" Tegur Fazar, yang tidak suka saat adiknya itu ikut campur dengan masalah orang dewasa, sedangkan usianya yang masih terbilang belia. Walaupun Fazri sudah berusia enam belas tahun.
Mendengar teguran Abang nya itu, membuat Fazri menundukkan kepalanya." Maaf kak." Cicit Fazri merasa bersalah.
" Jangan lakukan lagi."
" Iya bang."
Kita lanjutkan lagi.
" Bukan bermaksud bunda untuk membelah keluarga Fina Dil. Tapi menurut bunda, keluarga Fina pasti syok saat mendengar putri mereka tiba-tiba saja menikah tanpa sepengetahuan mereka, apalagi yang menikah dengan putrinya itu adalah pria asing yang mereka belum kenal. Pasti mereka akan berpikir yang tidak-tidak tentang kalian, walaupun jelas-jelas kalian tidak melakukan itu."
__ADS_1
Bukan maksud bunda Sisi untuk membela keluarga Fina, tapi ia mencoba untuk menjelaskan kepada putra nya itu, agar tidak salah paham dengan keluarga Fina. Bagaimanapun keluarganya Fina, pasti cemas setelah mendengar pengakuan Fadil. Apalagi Fina sudah memiliki calon suam.
" Tapi bun, seharusnya mereka mendengarkan dulu penjelasanku. Barulah mereka bertindak."
" Apakah kamu tau Dil, setiap orang yang di kendalikan oleh amarah, pasti tidak akan mau mendengar penjelasan orang lain. Karena menurut mereka semuanya salah. Apalagi yang dilakukan oleh Yusuf. Itu bentuk kasih sayang sebagai seorang kakak yang ingin melindungi adiknya, takut kalau kamu telah menyakitinya." Jelas bunda Sisi kembali.
Mendengar ucapan dari bundanya itu, membuat Fadil terlihat terlihat berpikir. Sampai dia membenarkan ucapan bundanya itu, kalau apa yang dilakukan oleh keluarga Fina itu, sebagai bentuk melindunginya Fina. Apalagi dia datang, tanpa mengatakan apapun, langsung mengakui kalau Fina sudah menikah dengannya. Seharusnya itu dia bercerita dulu kepada keluarganya untuk meminta saran, bagaimana cara membicarakan masalah ini kepada keluarganya.
" Seharusnya dari awal kamu membicarakan masalah ini kepada kami Dil, agar bunda dan Abang sama-sama mencari solusi untukmu. Jika saja kamu bercerita, mungkin kejadiannya tidak seperti ini." Ucap bunda Sisi kembali sambil menghembuskan nafasnya nya dengan berat. Karena lagi-lagi putranya itu memendam masalahnya, daripada bercerita kepadanya, seperti dia menyembunyikan penyakit kankernya waktu itu." Dil, apakah kamu tidak mempercayai bunda dan Abang mu ini yang akan selalu membantu masalahmu."
" Tidak bun, bukan maksud Fadil seperti itu, hanya saja aku berpikir. Kalau aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri."
" Mungkin kamu berpikir kalau kamu sudah dewasa, makanya berpikir seperti itu."
" Maaf Bun." Fadil hanya bisa meminta maaf tanpa mengucapkan perkataan yang lain, karena dia sadar kalau disini dia bersalah.
" Kak."
Suasana yang tadi tegang, seketika berubah. Saat mereka mendengar suara lembut seseorang yang sedang memanggil Fazar, Orang itu kini sedang turun menuruni anak tangga dengan hati-hati.
" Sayang." Fazar bergegas berdiri dari duduknya, melangkah mendekati istrinya itu untuk membantunya turun kebawah." Kenapa ngga panggil kakak aja, kalau sayang udah bangun." Tanya Fazar lembut, sambil memegang tangan istrinya itu, menuruni anak tangga.
Terlihat lebay mungkin, tapi Fazar melakukan itu sebagai bentuk melindungi istrinya dan juga anaknya. Apalagi kandungan Wiyah semakin terlihat, yang memungkinkan Wiyah tidak akan bisa berjalan seperti biasanya lagi.
" Tadi aku harus kak, mau panggil kakak takut kalau kakak sedang repot, makanya aku turun sendiri."
" Kan kakak sudah pernah bilang, kalau untuk sayang, kakak ngga pernah kerepotan. Jadi jangan perna berpikir seperti itu ya."
" Iya kak, maaf."
" Jangan di ulangi lagi." Lagi-lagi Wiyah hanya mengangguk.
Sedangkan orang-orang yang berada di ruangan keluarga ikut tersenyum saat melihat kemesraan keduanya. Bagaimana perlakuan Fazar dulu, kini terlihat sangat romantis dengan istrinya itu.
Hati Fadil ikut menghangat saat melihat perlakuan Fazar pada istrinya itu. Bagaimanapun Fadil begitu sangat bahagia melihat kebahagiaan Wiyah dan Fazar.
Mungkin Fadil sudah melupakan perasaannya dan sudah jatuh cinta kepada gadis lain. Tapi yang harus kalian tau, kalau Fadil akan tetap mengagumi sosok Wiyah, yang pernah menjadi cinta pertamanya.
__ADS_1
Bukan sebagai pria yang masih mencintai Wiyah, tapi Fadil mengagumi Wiyah sebagai wanita yang berhasil mengubah sosok Fazar seperti dulu lagi.
...----------------...