
Kesabaranku membawa cinta.
" Ketika dua orang yang saling mencintai, dipisahkan oleh kematian, bukan perceraian. Maka mereka adalah pemenang sebenarnya." Fina Febby Falisha.
Muhammad Fadil Al Fazar." Sejatinya cinta adalah misteri. Tapi jika kita dipersatukan dalam ikatan yang halal dan dipisahkan oleh kematian, apakah itu adalah cinta sejati."
.
.
Bunda Sisi, Fazar dan Wiyah mendekati Brankar. Tempat sekarang Fadil berbaring dengan kondisi yang sangat tidak baik. Sedangkan pemuda dan polisi, hanya mengikuti langkah ketiganya dari arah belakang.
" Bu_nda." Lirih Fadil, tapi masih bisa didengar oleh bunda Sisi yang sudah berada disamping Brankar Fadil." Ja_ng_an me_na-ngis!" Lirih Fadil dengan terbata-bata, yang langsung mendapatkan anggukan kecil dari bunda Sisi.
Sedangkan bunda Sisi menatap putranya itu dengan tatapan sedih. Bagaimana tidak, hampir seluruh wajahnya. Terdapat beberapa luka goresan disana. Bahkan wajah tampan itu terlihat pucat sekarang.
" Bunda tidak akan menangis Dil. Karena bunda tau kalau kamu akan baik-baik saja." Fadil hanya tersenyum menanggapi ucapan bundanya itu. Bahkan tangan lemah itu terangkat, lalu memegang tangan bunda Sisi dengan lembut.
" Bu_nda, Teri_mak_asih, kar_ena tel_ah mel_ahirkan ku kedu_nia ini dan mera_watku pe_nuh den_gan kasih say_ang. Tapi maafkan aku bun_da, karena aku bel_um bisa mem_baha_giakan bu_nda. Maa_fkan aku bun_da, kar_ena aku ak_an pe_rgi dul_uan." Lirih Fadil dengan air matanya yang ikut menetes.
" Jangan berkata seperti itu Dil! Bunda yakin, kalau kamu akan baik-baik saja, Fadil tidak akan pergi!" Tegur bunda Sisi yang sudah tidak bisa menahan tangisannya. Kini bunda Sisi kembali menangis saat mendengar ucapan putranya itu. Bukan saja bunda Sisi yang menangis karena ucapan Fadil barusan. Tapi Fazar dan Wiyah ikut menangis disamping Brankar. Apalagi mendengar suara lemah itu, yang sedang berusaha untuk mengatakan sesuatu.
" Bu_nda, maaf_kan aku." Bunda Sisi menggelengkan kepalanya saat Fadil mengatakan maaf kembali. Walaupun Fadil adalah pria yang usil, tapi Fadil tidak pernah membuat bunda Sisi marah besar karena kelakuannya.
" Jangan minta maaf sayang. Karena Fadil tidak pernah melakukan kesalahan, yang membuat bunda marah besar. Bahkan Fadil adalah putra bunda yang paling hebat dan kuat." Ucap bunda Sisi menghapus air matanya." Sekarang Fadil istirahat, jangan banyak bicara dulu. Bunda Abang, dan iparmu serta anakmu akan menemanimu disini." Fadil hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan bundanya itu. Tangan lemah itu mengegam lembut tangan bunda Sisi.
Lalu Fadil beralih kearah Wiyah yang sama-sama menangis sambil menggendong bayi ditangannya. Fadil yang melihat itu tersenyum. Apalagi melihat anaknya yang terlihat sangat anteng didalam gendongan wanita itu." Wiy_ah, ka_mu ada_lah wa_nita heb_at dan ju_ga seor_ang ibu ya_ng ku_at, bahkan kamu mau menj_aga anak lain pada_hal kamu sedang kere_potan dengan anakmu sen_diri. Aku begitu sangat be_rsy_ukur Wiyah, karena kamu adalah penganti kami seba_gai orang tua anak kami. Aku tau Wiyah, kalau kamu dan Aba_ng bisa menjaga Beby Fali_sha dengan baik dan men_did_iknya menjadi anak yang Sho_leha seperti keingi_nan kami." Ucap Fadil dengan terbata-bata menatap Wiyah bergantian kearah Fazar sambil tersenyum.
Fadil juga sudah mengetahui kalau istrinya meninggal. Karena sebelum dibawah kerumah sakit, Fadil sudah merasakan kalau istrinya itu sudah lemah dan kehilangan kesadaran. Dan Fadil yakin, kalau istrinya sudah tidak terselamatkan. Bagaimana Fadil tidak berpikir seperti itu, kalau ruangan disebelahnya tidak terdengar suara alat-alat rumah sakit, dan aktivitas dokter.
" Jangan mengatakan itu Dil! Kamu pasti akan baik-baik saja. Kamu akan tetap menjaga anakmu dan mendidiknya sampai dewasa nanti!" Ucap Fazar yang tidak suka dengan perkataan adiknya itu. Sedangkan Fadil hanya tersenyum mendengar ucapan Fazar.
" Kak Fadil. Jangan ngomong kayak gitu. Kak Fadil pasti baik-baik saja, dan akan menjaga Beby Falisha sampai besar nanti. Kak Fadil tidak akan kenapa-napa. Kak Fadil juga akan sehat dan bisa berkumpul dengan kami dan juga Beby Falisha." Lirih Wiyah sambil menangis menatap Beby Falisha di dalam gendongannya." Kak Fadil harus tetap bertahan untuk Beby Falisha. Karena Beby Falisha masih membutuhkan kakak."
__ADS_1
" Ak_u tid_ak ak_an men_gkha_wati_rkan Beby Fali_sha lagi Wiyah. Kare_na aku tau kal_au kal_ian bisa menja_gan_ya dan meny_ayang_inya sep_erti ana_kmu se_ndiri. Maka aku bisa men_ingga_lkan nya den_gan ten_ang."
" Tidak Fadil, jangan mengatakan itu. Kamu yang akan menjaga dan melindungi Beby Falisha bukan Abang." Lirih Fazar menggelengkan kepalanya, tidak setuju dengan ucapan adiknya itu.
" Ta_pi ak_u tid_ak ak_an bis_a men_jag_anya sel_a_ma itu." Jawab Fadil yang semakin lemah." Aku per_ca_ya pad_amu ba_ng, Wi_yah." Lirih Fadil dengan suara yang semakin terputus-putus karena Fadil seperti sulit untuk mengatakan perkataan selanjutnya." Pa_k po_lisi." Kini Fadil beralih menatap kearah polisi dan juga pemuda itu, yang sekarang sedang berdiri disamping kiri Brankar nya." Jan_gan tan_gk_ap pem_uda ini, kar_ena di_a tid_ak bers_alah. Jan_gan penj_ara_kan pem_uda in_i, kar_ena mo_bil sa_ya ya_ng mem_ang rem_nya blo_ng da_ri aw_al." Lirih Fadil menatap pemuda itu bergantian kearah polisi. Walaupun sudah kesulitan berbicara tapi Fadil terus berusaha mengatakan sebenarnya. Karena Fadil tidak ingin melihat pemuda seusia adiknya, harus rusak masa depannya, karena kecelakaan dan kematiannya. Karena pemuda itu tidak bersalah.
Sedangkan polisi itu hanya mengangguk mengiyakan permintaan Fadil." Baik tuan."
Saat mendengar jawaban polisi itu, tiba-tiba saja tubuh Fadil kejang-kejang. Bahkan tangan itu mengegam tangan bunda Sisi dengan erat. Mata Fadil terus menatap kearah atas.
" Astaghfirullahaladzim, Fadil!!" Panik bunda Sisi, Fazar dan Wiyah.
" Dek, dek!!" Panggil Fazar ikut mengegam tangan Fadil. Saat Fadil menarik tangannya. Padahal kondisinya sudah memburuk, tapi Fadil masih memiliki kesadaran untuk mengegam tangan Abangnya itu.
" Dokter cepat!!" Dua dokter itu dengan cepat melakukan tugas mereka dengan melakukan berapa pemeriksaan, untuk menyelamatkan Fadil yang sekarang sedang kejang-kejang. Tapi disaat kondisi Fadil benar-benar buruk. Fadil sempat membisikan sesuatu dikuping Fazar. Lalu.
Titttttt......
" Apa yang terjadi dokter!!"
" Maaf pak, sebaiknya bapak dan ibu keluar dulu biar dokter mengecek kondisi pasien." Jawab suster yang berada di ruangan itu.
" Apa maksud anda sus!!"
" Abi." Dengan lembut Wiyah mengengam tangan Fazar." Kita keluar, biarkan dokter berkeja." Mendengar ucapan istrinya, Fazar hanya menurut. Lalu membantu memapah bunda Sisi, yang kini semakin terisak saat melihat putranya seperti itu.
" Fadil.... bunda tau kalau kamu baik-baik saja karena kamu kuat... hiksss." Ucap bunda Sisi diselah-selah tangisannya.
.
.
Tidak membutuhkan beberapa lama, kini dokter keluar. Lalu menatap keluarga yang sudah menunggu diluar ruangan IGD.
__ADS_1
Fazar, bahkan yang lain langsung berdiri dari duduknya saat melihat kehadiran dokter disana." Bagaimana dengan kondisi nya dokter."
" Maaf tuan. Kami tidak bisa menyelamatkan pasien. Karena luka pada tubuhnya yang begitu sangat parah, membuat pasien tidak bisa diselamatkan."
Deg
Deg.
" Ini tidak benarkan dokter!!" Fazar menarik kerah kemeja dokter itu dengan kasar." Adik saya baik-baik saja dokter!! Saya yakin kalau adik saya baik-baik saja, dia adalah pria yang kuat!!" Ucap Fazar, yang terus membentak dokter itu, bahkan Fazar tidak bisa mengendalikan dirinya sekarang.
" Bang, apa yang kamu lakukan hentikan!!" Bentak Rido, walaupun disini Rido sama terpukul nya seperti Fazar dan keluarganya yang lain. Tapi Rido berusaha untuk kuat, karena kelurga sahabatnya membutuhkan nya sekarang. Jika dia sama-sama lemah, siapa yang akan menguatkan mereka nanti.
Saat Fazar melepaskan kera kemeja dokter itu, lalu terduduk di lantai rumah sakit. Tanpa malu Fazar langsung menangis meraung-raung. Membuat orang-orang melihat kearah Fazar sekarang dengan tatapan kasian.
Mereka tidak menyangka, seorang pengusaha yang sukses bisa terluka dan menangis dengan kencang. Sedangkan Wiyah hanya menatap suaminya itu dengan iba. Dia hanya bisa memeluk tubuh bunda Sisi yang sama-sama menangis didalam pelukannya.
Wiyah masih tidak percaya dengan semua ini. Kalau sahabat dan juga iparnya berpulang dengan waktu cepat, bahkan di hari yang sama. Serasa mimpi, tapi ini dunia nyata. Jika saja Wiyah sedang bermimpi, Wiyah ingin bangun. Tapi tidak akan bisa karena ini benar-benar nyata.
Bagaimana dengan pemuda tadi, dia hanya menatap kelurga itu dengan tatapan bersalah. Walaupun dia yakin kalau dirinya memang bersalah. Tapi pria tadi tidak ingin dia dipenjarakan. Bahkan sebelum pria tadi meninggal, pria tadi masih membelahnya, mengatakan kalau dirinya tidak bersalah.
Bahkan rada bersalah pemuda itu jauh lebih besar, saat mengingat. Kalau suami istri tadi ternyata memiliki seorang anak bahkan anak mereka masih kecil dan sekarang berada di gendongan perempuan, yang sepertinya adalah Tante nya." Ya Rabb, aku telah membuat seorang bayi kecil menjadi yatim piatu. Bahkan aku yang membuat dia kehilangan kasih sayang ibu dan ayahnya. Ya Rabb, aku adalah seorang penjahat yang tidak ditangkap." Lirih pemuda itu terus menatap kelurga itu dengan tatapan bersalahnya." Apakah dosa yang aku buat masih bisa mendapatkan ampunan." Lirihnya kembali.
.
.
Kedua kelurga itu menatap kedua Brankar yang berisi tubuh suami istri tanpa nyawa, yang didorong oleh para perawat laki-laki keruangan mayat. Mereka hanya bisa menatap kedua Brankar itu dengan tatapan kosong dan tidak percaya. Padahal baru saja tadi siang mereka berkumpul dan bercanda, tapi kini mereka melihat kedua tubuh itu tidak bernyawa.
Bahkan suami istrinya itu pergi meninggalkan buah cinta mereka yang masih berusia satu bulan. Bayi kecil yang masih menginginkan cinta mama dan papanya. Menginginkan kasih sayang kedua orang tuanya.
Tapi kecelakaan maut, berhasil merenggut kasih sayang itu dari bayi kecil yang tidak tau apa-apa. Bahkan bayi kecil itu hanya tidur, dan tidak terusik dengan tangisan disekitarnya. Karena dia belum mengerti, kalau kedua orang tuanya, yang sering memeluknya, mengendongnya kini telah pergi untuk selama. Meninggalkannya sendiri dunia ini tanpa melanjutkan kasih sayangnya kembali.
...----------------...
__ADS_1