Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
ekstra part 19


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta.


Papapa, Nanana.


Celoteh Faeyza didalam gendongan Widya, sang nenek. Karena kebetulan Widya bersama dengan ketiga anaknya sedang berkunjung kerumahnya Wiyah.


Kenapa bertiga? Karena Azra tidak ingin datang berkunjung kerumah saudara nya. Makanya hanya ada, Jami Jaiz dan juga Airin di rumah itu. Airin yang sedang bermain dengan Beby Fazran dan juga Beby Fauzan. Sedangkan Jami dan Jaiz sedang membantu Harum melukis. Walaupun keduanya hanya melihat saja, Tapi kedua pemuda itu berperan penting dalam lukisan Harum.


Tatatata


Mamamama....papapa


Celoteh kedua bayi itu, membuat Airin yang memang berada disamping kedua anak keponakannya, merasa gemas sendiri. Sangking gemasnya, tangan kecil itu sampai mencubit kedua pipi Beby Fazran dan Beby Fauzan secara bergantian.


"Kenapa kalian sangat menggemaskan sih." Ucap Airin menatap kedua Beby gembul itu, yang kini sudah memasang wajah sedihnya. Tidak membutuhkan beberapa lama, tangis kedua bayi itu langsung pecah.


"Airin, diapain Adeknya dek." Tegur Widya lembut saat mendengar suara tangis cucunya itu. Widya, yakin. Kalau kedua cucunya itu menangis pasti ulah putrinya, karena Widya tau kalau Airin tidak bisa berdekatan dengan bayi. Setiap bayi yang berdekatan dengan Airin pasti akan di cubit sampai menangis, seperti sekarang.


"Hihihi, maaf Bu. Airin gemas sama mereka. Makanya Airin cubit." Jawab Airin, tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Benar-benar kamu, dek." Jaiz dan Jami, yang hanya diam sambil membantu Harum mengabar ikut bersuara, karena ulah adik bungsunya itu. Padahal kalau dibilang sih, Jaiz dan Jami jarang bersuara jika tidak dibutuhkan. Jaiz dan Jami, melangkah mendekati anak keponakannya itu, yang kini sedang menangis. Jaiz mengendong Beby Fazran, sedangkan Beby Fauzan bersama dengan Jami.


"Cup-cup, jangan nangis ya anak tampan. Memang aunty tuh, mucil suka cubit-cubit. Nanti kalau sudah besar terus punya gigi. Gigit aja tuh aunty nya biar ngga mucil lagi." Ucap Jaiz menimang-nimang anak keponakannya itu agar tidak menangis lagi.


"Iya Fauzan. Kalau udah besar, pukul aja tuh aunty nya. Nanti om kasih palu, biar seru." Sambung Jami. Sepertinya kedua om kembar itu, sedang mengajari anak keponakan kecil mereka, tentang hal-hal nakal.


"Jaiz, Jami. Jangan ngajarin anak-anak keponakan kalian hal, yang nggak baik. Entar kalau besar terikut bisa bahaya." Tegur Widya sambil menggelengkan kepalanya kecil, karena bingung dengan anak kembarnya itu. Sudah jarang bersuara, tapi sekali bersuara ada-ada saja perkataannya.


"Hehe, maaf Bu." Jawab keduanya sambil tersenyum memperlihatkan dataran gigi nya.


"Kak Jaiz, kak Jami. Ini susu untuk adek, biar adek Fau dan Adek Faz ngga nangis lagi." Ucap Harum yang baru datang dari dapur sambil membawa dua dodot ditangannya, yang sudah terisi oleh susu. Karena saat kedua adiknya menangis. Harum, langsung mengehentikan kegiatannya yang sedang menggambar, untuk mengambil asi di freezer.


Sedangkan Widya, Jaiz dan juga Jami langsung menatap gadis berusia sepuluh tahun itu. Karena begitu sangat cepat, mengambil susu itu tanpa mereka sadari. Padahal tadi Harum sedang duduk sambil menggambar, tau-tau saja datang sambil membawa dua botol susu.


"Terimakasih Harum." Ucap kedua pemuda kembar itu, sambil mengambil kedua botol susu, dengan perasaan bingung."Bahkan susunya terasah hangat? Bagaimana Harum bisa melakukannya secepat itu?" Gumam Jaiz saat merasakan botol susu yang dia pegang terasa hangat.


"Kak Jaiz, dedek Fazran sudah ngga sabar tuh kak." Tegur Harum saat melihat Jaiz hanya diam sambil menatapnya.

__ADS_1


"Maaf." Dengan gelagapan Jaiz memberikan susu itu pada Beby Fazran, sedangkan matanya masih menatap kearah Harum, yang kini sedang mengajak kedua adik-adiknya berbicara dengan suara lembutnya, yang membuat suasana ruangan keluarga terasa menghangat."Gadis kecil, yang pintar dan juga dewasa." Senyuman kecil berhasil tersungging di bibir Jaiz.


Masih di rumah yang sama, hanya saja ruangan yang berbeda.


Wiyah yang baru saja membersihkan tubuhnya, setelah satu hari penuh menghabiskan waktu bersama dengan ke empat anak-anaknya, dan akhirnya malam ini dia bisa beristirahat. Karena ketiga bayi kembarnya sudah ada yang jaga, sedangkan Beby Falisha. Bayi kecil itu, sedang dibawah oleh nenek dari pihak ibunya. Yaitu mama Afifah, kerumahnya. Kebetulan juga Beby Falisha sedang anteng, makanya mama Afifah berani membawa bayi kecil itu.


Saat Wiyah sedang mengeringkan rambutnya, pandangannya tertuju kearah ponselnya. Wiyah melepaskan kegiatannya, lalu menaruh handuk yang dia pegang di kursi meja riasnya, untuk mengambil ponselnya.


Wiyah menatap ponselnya, tapi tidak ada satupun panggilan masuk. Padahal ini sudah sangat malam, tapi suaminya tidak ada mengabari nya sama sekali. Wiyah begitu sangat khawatir dengan kabar suaminya, saat melihat tidak ada panggilan sama sekali dari suaminya.


Tiba-tiba saja pikiran buruknya hadir di kepalanya. Wiyah tidak berpikir kalau suaminya sedang bersama dengan wanita lain, karena Wiyah tau sifat dan kesetiaan suaminya. Hanya saja Wiyah khawatir dengan kondisi Fazar. Apakah suaminya itu baik-baik saja atau tidak, mengingat sekarang ada musuh yang sedang mengincar kebahagiaan keluarga mereka.


"Astaghfirullah, apa yang kamu pikirkan Wiyah! Abi pasti baik-baik saja. Mungkin dia sedang ada urusan mendesak." Ucap Wiyah pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan hatinya yang sedang gelisah."Ya Allah lindungilah suami hamba dari marah bahaya, dan lindungilah suami hamba dari orang-orang jahat yang ingin menghancurkan kebahagiaan keluarga kami." Doa Wiyah menatap foto suaminya. Ada rasa takut, kalau sampai terjadi sesuatu dengan Fazar. Mengingat sekarang nyawa suaminya sedang di incar oleh orang-orang jahat.


Wiyah mengambil ponselnya, untuk menelfon ponsel Fazar. Karena tadi siang dan tadi sore, Wiyah sudah menelfon suaminya. Hanya saja Fazar tidak mengangkat panggilannya. Makanya Wiyah berpikir kalau suaminya sedang sibuk dengan perkejaannya.


Lama berdering. Akhirnya terdengar kalau sang pemilik ponsel mengangkat panggilannya. Wiyah begitu sangat bahagia, saat mendengar panggilannya di angkat juga setelah beberapa lama. Tapi ada sesuatu yang membuatnya bingung. Yaitu, saat tidak ada suara sama sekali dari seberang sana


"Halo. Assalamualaikum Abi." Ucap Wiyah membuka suaranya, karena tidak mendengar suara suaminya sama sekali."Abi, apakah Abi ada disana? Kenapa Abi tidak menjawab ku?" Tanya Wiyah tidak mendengar suara suaminya sama sekali.


"Halo, assalamualaikum, kak." Lama terdiam akhirnya suara yang Wiyah tunggu muncul. Tapi itu bukan suara yang Wiyah nantikan, karena suara itu berbeda dengan suara suaminya.


"Kak Wiyah, ini Fazri." Ucap Fazri diseberang sana dengan suara yang terdengar lirih.


"Fazri? Apakah kamu bersama dengan bang Fazar?" Tanya Wiyah saat mengetahui kalau yang mengangkat panggilan telepon nya ternyata adik iparnya.


"Iya kak, bang Fazar sedang bersama dengan kami."


"Lalu kalian ada dimana sekarang?"


"Kami berada di rumah sakit, kak." Jawab Fazri menahan air matanya diseberang sana, karena jujur Fazri tidak tega untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Siapa yang sakit Zri?" Wiyah masih berpikir positif. Menganggap kalau suaminya, bersama dengan adiknya sedang menguji kerabat atau teman mereka di rumah sakit.


"Abang... Abang Fazar masuk kerumah sakit, kak."


Deg

__ADS_1


Debaran jantung Wiyah langsung berdetak sangat kencang saat mendengar kabar ini. Wiyah terkejut sekaligus tidak percaya, kalau suaminya masuk rumah sakit ."Bang Fazar?" Lirih Wiyah menetaskan air matanya. Tapi Wiyah kembali menghapusnya, karena Wiyah yakin kalau suaminya pasti baik-baik saja"Zri, kakak ngga suka sama candaan mu dek!" Tegas Wiyah, yang mengira kalau semua ini hanya candaan biasa. Wiyah tidak percaya kalau suaminya masuk kerumah sakit. Orang Fazar baik-baik saja tadi pagi, saat berangkat kerja.


"Ini benar kak. Bang Fazar benar-benar masuk rumah sakit tadi sore. Dan sekarang, Abang Fazar berada di rumah sakit C."


Bagaikan tersambar petir, saat mendengar kebenaran ini. Saking tidak percaya nya Wiyah sampai menjatuhkan ponselnya. Lalu ikut terduduk sambil menangis.


"Hiks.... Hiks. Abi, aku tau kalau Abi pasti baik-baik saja... hiksss." Wiyah menghapus air matanya, lalu berdiri untuk mengambil jilbabnya. Setelah memakainya, Wiyah melangkah keluar, untuk pergi kerumah sakit yang Fazri beritahukan tadi.


Dengan langkah terburu-buru, Wiyah sampai lupa mengambil ponselnya yang masih berada di lantai. Wiyah hanya mengambil tas nya saja yang memang berada disana.


Di rumah sakit.


"Bagaimana?" Tanya Abidzar menatap Fazri, yang masih menatap layar ponsel Abangnya itu.


"Kakak sepertinya sangat terpukul, sampai-sampai kak Wiyah tidak mematikan ponselnya." Jawab Fazri dengan wajah sedihnya."Kak Wiyah akan berangkat kesini." Lirih Fazri kembali, sambil menatap layar ponsel itu yang belum dimatikan sama sekali. Bahkan panggilannya saja masih terhubung.


Di kediaman Fazar.


Wiyah menuruni anak tangga dengan langkah terburu-buru, bahkan air matanya terus saja menetes tidak ada hentinya.


"Wiyah, mau kemana kamu nak? Kenapa kamu menangis?" Tanya bunda Sisi, menatap heran kearah Wiyah, yang baru saja turun dari lantai atas sambil menangis.


"Bu... Bu" Karena begitu sangat terpukul, Wiyah sampai tidak bisa mengatakan. Sebenarnya apa yang telah terjadi.


"Coba tenang nak, baru ngomong."


"Bu.....Kak Fazar masuk kedalam rumah sakit.. hiksss." Jelas Wiyah sambil menangis." Sekarang kak Fazar sedang berada di rumah sakit...." Walaupun kurang jelas, karena Wiyah berbicara sambil menangis. Tapi orang-orang yang berada di ruangan tamu, begitu sangat kaget dengan jawaban Wiyah barusan.


"Innalillah..." Ucap Widya, Jami dan Jaiz secara bersamaan. Karena mereka juga tidak kalah terkejutnya."Di rumah sakit mana nak."


"Rumah sakit C, Bu. Makanya sekarang Wiyah mau pergi kesana buat lihat kondisi kak Fazar... Hiks..." Jawab Wiyah."Bu, Wiyah pergi ya. Wiyah titip anak-anak." Setelah mengatakan itu, Wiyah langsung melangkah keluar dari rumahnya, bahkan ibu muda itu sampai melupakan kalau dia tidak mengunakan sendal.


"Bu, Jaiz nyusul kak Wiyah. Takut terjadi sesuatu sama kak Wiyah, soalnya dia pergi sambil nangis." Setelah menaruh anak keponakannya di atas karpet berbulu halus. Jaiz langsung menyusul kakaknya yang sedang keluar.


"Pak kerumah sakit C!" Ucap Wiyah pada supir pribadi rumahnya, karena Fazar sudah menyiapkan supir pribadi untuk keluarga jika mereka ingin berpergian kemana-mana dan Fazar sendiri sedang berada diluar kota, jadi mereka bisa di antar oleh supir pribadi mereka.


"Baik nyonya." Jawab supir itu, sambil melangkah kearah mobilnya, tanpa banyak bertanya, walaupun merasa bingung saat melihat istrinya dari tuannya sedang menangis.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2