
Tidak terasa seminggu sudah Fadil di operasi, dan kini kondisinya semakin stabil dari kemarin-kemarinnya, Sama halnya dengan Abizard, yang sudah lebih baik setelah mendapatkan pengobatan untuk menyembuhkan luka bekas operasinya.
Sedangkan hubungan Fazar dan Wiyah, Selama seminggu ini semakin terjalin lebih baik, karena Fazar semakin menyayangi Wiyah dengan kelembutan nya dan juga memberikan setiap perhatian untuk Wiyah. Fazar juga begitu sangat posesif kepada Wiyah, saat melihat istrinya itu di tatap oleh pria lain. Rasanya Fazar ingin mencolok kedua mata, pria yang sudah menatap istrinya itu, agar tidak menatap Wiyah dengan tatapan penuh dengan kekaguman.
Fazar bukan saja posesif kepada orang-orang yang menatap Wiyah, tapi Fazar juga begitu sangat posesif saat melihat adiknya Fadil menatap istrinya itu. Fazar tahu kalau Fadil masih memiliki hati kepada Wiyah, walaupun Wiyah sudah menikah dengan dirinya. Maka Fazar begitu sangat tidak suka saat Wiyah sedang berada dekat dengan Fadil walaupun itu dengan jarak yang lumayan jauh.
.
.
" Dikit lagi Dil, setelah itu kamu bisa istirahat." Ucap bunda Sisi sambil menyuapi Fadil, karena sekarang Fadil sudah bisa makan, walaupun hanya bubur dari rumah sakit karena Fadil masih belum di perbolehkan untuk makan makanan lain, sampai Fadil dinyatakan pulih.
" Sudah Bun, Aku tidak ingin makan lagi, karena rasa bubur itu pahit." Tolak Fadil menolak suapan yang bunda Sisi suapkan kepada nya.
" Tapi Dil, kamu baru saja makan empat sendok. Kamu harus makan lebih banyak, agar kamu cepat pulih." Ucap bunda Sisi mencoba untuk membujuk putranya itu.
" Tapi bun..."
" Dil, demi kesehatan mu, setelah kamu pulih. Kamu bisa makan makanan kesukaan mu. Bunda akan menanyakan ke dokter Satya, kalau kamu bisa makan apa saja, setelah ini." Potong bunda Sisi mencoba untuk membujuk Fadil.
" Baiklah bun, Fadil akan makan lagi." Jawab Fadil pasrah membiarkan bubur hambar itu masuk kedalam mulutnya.
Mendengar jawaban Fadil yang pasrah membuat bunda Sisi tersenyum, bunda Sisi menyuapkan bubur itu kembali kedalam mulut Fadil.
" Bunda begitu sangat bersyukur Dil, karena kamu bisa pulih kembali. Bunda tidak tahu, akan seperti apa bunda jika kehilangan dirimu. Pasti bunda akan menyalakan diri bunda, karena tidak bisa menjagamu dan tidak peka dengan kondisi yang kamu rasakan selama berapa tahun ini." Batin bunda Sisi.
Bunda Sisi begitu sangat bersyukur dengan kesembuhan Fadil, walaupun belum sepenuhnya sembuh. Tapi kini putra itu sudah bisa berkumpul bersama dengan mereka kembali, setelah satu bulan lebih memejamkan matanya.
__ADS_1
Semoga dengan kesembuhan Fadil, keluarga mereka bisa berkumpul seperti dulu lagi. Walaupun keluarga itu tidak lengkap, karena tidak ada sosok ayah di antara mereka, tapi kehadiran Wiyah membuat keluarga itu seperti lengkap kembali.
" Assalamualaikum bun, kak Fadil." Suara seorang wanita membuat bunda Sisi berbalik menoleh melihat kearah pintu. Bunda Sisi bisa melihat kehadiran menantunya yang sedang tersenyum sambil melangkah kearahnya.
" Wiyah." Batin Fadil menatap kearah gadis yang masih terukir indah di dalam hatinya, walaupun gadis itu sudah menikah dengan kakaknya. Tapi rasa cinta Fadil masih ada.
Apalagi selama Fadil mengalami kritis, dia selalu mendengar dan membayangkan kehadiran Wiyah, di alam sadarnya. Seakan gadis itu selalu menyuruh nya untuk kembali.
Walaupun Fadil dalam keadaan tidak sadar, tapi Fadil selalu mengingat Wiyah didalam alam sadarnya.
" Astaghfirullah Dil, ingat sekarang Wiyah adalah kakak iparmu, kamu tidak boleh mencitai nya. Lupakan rasa cintamu kepadanya, karena sekarang Wiyah tidak akan bisa menjadi milikmu lagi, karena dia sudah menjadi istri dari abangmu." Batin Fadil mencoba untuk membuang perasaannya terhadap Wiyah, walaupun itu sangat sulit.
Karena rasa cinta Fadil tidak bisa terukirkan seperti apa.
Apalagi sekarang abangnya Fazar sudah mulai menerima Wiyah dan mulai mencitai Wiyah, membuat Fadil tidak akan berpikir untuk merusak hubungan mereka. Fadil senang dengan senyuman Fazar yang akhir-akhir ia lihat jika bersama dengan Wiyah. Membuat Fadil ikut senang, walaupun dalam hatinya merasa begitu sangat sakit.
Tapi bukankah hal yang seperti ini yang Fadil inginkan. Melihat abangnya bahagia dan bisa melupakan masalalunya berkata kehadiran Wiyah.
Jika ditanya Fadil menyesal telah menyerahkan Wiyah kepada Fazar. Jawaban nya adalah iya. Karena Fadil begitu sangat menyesal, setelah menyadari kalau ia masih mencintai Wiyah. Tapi dia tidak bisa berbuat apapun, karena ia melihat kalau Wiyah bahagia bersama dengan Fazar. Jika nanti Fazar menyakiti Wiyah, maka Fadil akan merebutnya kembali, walaupun Wiyah adalah istri dari abangnya.
" Dil, kenapa kamu diam." Tanya bunda Sisi sambil menepuk pelan tangan Fadil saat menyadari kalau putranya itu hanya diam karena melamun.
Fadil yang di panggil sadar dari lamunannya. Lalu menatap kearah bunda Sisi, bergantian kearah Wiyah yang sedang berdiri sambil membawa tupperware di tangannya.
" Ada apa bun." Tanya Fadil menatap kearah bunda Sisi.
" Kenapa kamu diam, apa kamu melamun." Tanya bunda Sisi menatap putranya itu membuat Fadil menggeleng.
__ADS_1
" Ngga bun, aku ngga melamun." Jawab Fadil.
" Kamu bawah apa Wiyah." Tanya Fadil mengalihkan pertanyaan bunda Sisi tadi.
" Aku bawah sarapan untuk bunda." Jawab Wiyah." Aku tahu, pasti bunda belum sarapan." Ucap Wiyah kembali membuat bunda Sisi tersenyum.
" Kamu tahu aja kalau bunda belum sarapan." Bunda Sisi sambil tersenyum.
" Dimana Fazar." Tanya bunda Sisi yang tidak melihat kehadiran putra sulungnya itu, padahal setiap Wiyah keruangan Fadil. Pasti Fazar akan mengikuti istrinya itu. Karena bunda Sisi tahu, kalau putranya itu pasti merasa cemburu.
" Tadi kak Fazar singgah keruangan rawat tuan Abizard bunda. Terus kak Fazar suruh aku duluan kesini." Jawab Wiyah." Kalau gitu bunda sarapan dulu ya, aku sudah bawain makanan kesukaan bunda." Ucap Wiyah kembali.
" Iya sayang, taruh di meja dulu, soalnya bunda lagi suapi Fadil." Jawab bunda Sisi.
" Baik bunda."
Wiyah melangkah mendekati meja lalu menyimpan taptupperware di atas meja. Sambil menunggu bunda Sisi selesai menyuapi Fadil, Wiyah mendudukkan tubuhnya di sofa.
" Alhamdulillah habis juga Dil." Ucap bunda senang saat melihat bubur yang tadi dimakan oleh Fadil telah habis. Bunda Sisi mengabil segelas air minum lalu memberikannya kepada Fadil.
" Iya bun, Alhamdulillah." Walaupun bubur yang tadi Fadil makan rasa begitu sangat tidak enak. Tapi saat melihat kedatangan Wiyah membuat Fadil begitu sangat semangat menikmati sarapannya, sampai melupakan rasa pahit di lidah nya karena bubur yang dia makan.
Setelah memastikan Fadil sudah makan. Bunda Sisi melangkah mendekati meja, untuk menikmati sarapan yang sering Wiyah bawakan untuknya, selama menantunya itu berada di kota Jakarta.
" Masakan mu, selalu enak sayang." Puji bunda Sisi sambil tersenyum menatap kearah menantunya itu.
" Terimakasih bun." Jawab Wiyah sambil tersenyum.
__ADS_1
Sedangkan Fadil yang masih menatap kearah Wiyah, melihat senyuman itu merasa aneh dalam dirinya." Senyuman mu masih sama seperti dulu." Batin Fadil menatap kakak iparnya itu." Astaghfirullah, apa yang aku lakukan." Batin Fadil segera menjauhkan pandangannya dari Wiyah, saat Fadil menyadari kalau ia menatap wanita yang bukan haknya lagi.
...----------------...