Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 119


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Wiyah menatap suaminya itu. Wiyah merasa ragu untuk menceritakan apa mimpinya, tentang gadis kecil yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri yang hadir dalam mimpinya tadi.


" Kak, tadi aku bermimpi kalau orang yang begitu sangat aku sayangi sedang dalam bahaya. Dia menangis di ruangan gelap sambil memangil namaku." Jawab Wiyah menatap manik suaminya itu.


Wiyah masih mengingat dimana, dia melihat harum yang sedang meringkus kesakitan sambil menangis, gadis itu juga terlihat begitu sangat menyedihkan dan terus memanggil namanya. Sampai Wiyah melihat kalau gadis itu akan dibunuh oleh seorang wanita dewasa, karena itu dia terbangun sambil memangil nama harum.


" Aku melihat, kalau dia akan dibunuh." Jelas Wiyah kembali dengan mata yang kembali berkaca-kaca karena takut dengan mimpinya. Wiyah takut kalau mimpinya akan menjadi kenyataan, mengingat sampai sekarang harum belum ditemukan.


Fazar yang melihat mata istrinya ingin menangis segera memeluk tubuh istrinya itu, Fazar mencoba untuk menenangkannya. Walaupun Fazar merasa penasaran, siapa orang yang istrinya itu mimpikan.


" Tenang saya, itu hanya mimpi. Mimpi itu hanya kembang tidur saja, saya ngga perlu takut. Karena mimpi itu tidak akan terjadi di dunia nyata." Ucap Fazar menenangkan istrinya itu dengan cara memeluknya.


" Tapi mimpi itu terlihat sangat nyata kak." Lirih Wiyah kembali.


" Sss, itu hanya ketakutan mu saja sayang, percaya sama kakak." Ucap Fazar menenangkan istrinya itu." Apa sayang mengerti." Tanya Fazar membuat Wiyah mengangguk.


Fazar membiarkan Wiyah bersandar di dada bidangnya, membiarkan istrinya itu lebih tenang barulah dia akan menayangkan siapakah orang yang istrinya itu sebut.


" Sayang." Panggil Fazar yang mendapatkan jawaban dari Wiyah dengan gumaman, karena dia begitu sangat menikmati pelukan suaminya itu.


" Apa kakak boleh tanya." Tanya Fazar, membuat Wiyah mengangguk kembali.


" Siapa orang yang sayang mimpikan itu." Tanya Fazar membuat Wiyah menggakat kepalanya untuk menatap kearah suaminya.


" Orang yang aku mimpikan itu harum kak, gadis kecil yang sudah aku anggap seperti adikku sendiri." Jawab Wiyah.


" Harum, dia adik angkat mu." Tanya Fazar membuat Wiyah mengangguk.


Wiyah menceritakan siapa harum sebenarnya, dari pertemuan pertama mereka sampai harum hilang entah kemana. Wiyah juga menceritakan kalau harum mengenal Fadil.


Tidak ada cerita yang Wiyah sembunyikan dari Fazar, Agar suaminya itu mengerti.


" Jadi gadis kecil itu mengenal Fadil." Tanya Fazar bingung, membuat Wiyah mengangguk.


" Iya kak, bahkan kak Fadil begitu sangat mengenal harum." Jawab Wiyah.


" Tapi kenapa, Fadil tidak membantu gadis itu, jika dia tahu kalau gadis itu memiliki kondisi yang sulit." Tanya Fazar yang bingung dengan pemikiran adiknya.


Bukannya Fadil tahu, kalau harum itu gadis begitu sangat sulit dalam kehidupan ekonominya, tapi kenapa adiknya itu tidak membantu gadis kecil itu. Pikir Fazar bingung.

__ADS_1


" Karena harum, tidak ingin di bantu oleh siapapun kak. Jika kami menolongnya atau membantunya, pasti harum akan mengancam kami, kalau dia tidak akan mau bertemu atau berteman dengan kami lagi. Makanya itu kami tidak pernah membantunya. Walaupun kami membantunya tapi itu secara diam-diam, itupun tidak banyak. Karena kami takut kalau harum akan curiga dengan kami, yang membantunya secara diam-diam." Jelas Wiyah membuat Fazar mengangguk mengerti.


" Lalu kenapa dia bisa menghilang." Tanya Fazar yang penasaran, kenapa gadis kecil itu bisa menghilang.


" Aku ngga tahu juga kak, harum menghilang secara tiba-tiba bersama dengan mama dan tantenya, karena mereka sudah di usir dari kontrakannya. Dari situ aku tidak pernah menemukan lagi. Aku sudah berusaha untuk mencarinya, Tapi aku tidak pernah menemukannya." Jelas Wiyah kembali.


Wiyah menuduhkan kepalanya, karena dia begitu sangat merindukan gadis kecil itu. Sedangkan Fazar yang melihat istrinya itu bersedih, membuatnya merasa kasian.


" Segitu sayangnya kamu kepada gadis itu sayang, sampai membuat kamu bersedih seperti ini." Batin Fazar menatap istrinya itu lalu dengan lembut dia ucap punggung istrinya itu yang tertutup oleh rambut.


" Kakak akan membantu sayang untuk mencarinya, bagaimana." Wiyah langsung menggakat kepalanya, lalu menatap suaminya itu setelah mendengar ucapannya barusan.


" Benarkah kak." Tanya Wiyah dengan senyuman di wajahnya membuat Fazar mengangguk mengiyakan.


" Walaupun hanya membantumu dari hal kecil, tapi istriku sudah tersenyum kembali." Batin Fazar menatap istrinya yang kembali tersenyum setelah mendengar jawabannya.


" Iya sayang, kakak akan membantumu untuk mencarinya." Jawab Fazar." Tapi itu semua tidak geratis." Ucap Fazar tersenyum penuh arti.


" Emangnya, aku harus membayar mengunakan apa kak. Apakah uang tabunganku selama berkerja cukup." Tanya Wiyah dengan wajah polosnya, membuat Fazar semakin gemas jadinya.


" Membayar nya tidak mengunakan uang sayang." Jawab Fazar seketika membuat Wiyah mengerutkan keningnya bingung, karena bingung dia akan membayar pakai apa, jika tidak mengunakan uang.


" Lalu pakai apa." Tanya Wiyah dengan polosnya.


Wiyah hanya menikmati apa yang suaminya itu lakukan, karena Wiyah sudah terbiasa jika Fazar melakukannya, karena setiap malam pasti mereka akan melakukan itu juga 😁, tapi berbeda dengan malam ini, mereka tidak melakukannya karena Fazar membantu istrinya itu untuk mengerjakan tugas kuliah Wiyah. untungnya Fazar mewarisi kepintaran keduanya orang tuanya, jadi Fazar tidak akan sulit mengerjakan tugas dari dosen istrinya itu.


" Apa boleh sayang. Kakak kepingin." Tanya Fazar setelah melepaskan ciumannya itu, lalu menatap istrinya dengan memohon.


" Boleh kak, tapi setelah kakak menelfon orang suruhan kakak untuk mencari harum." Jawab Wiyah sambil memberikan sarat.


Fazar yang mendengar sarat dari istrinya itu, tentu setuju. Fazar langsung mengambil ponselnya yang berada di atas nakas di samping tempat tidurnya. Lalu menelfon orang suruhannya untuk mencari tahu keberadaan, Gadis yang bernama, Nayla Harum Sya dan keluarganya. Padahal sekarang sudah jam satu dini hari, tapi orang suruhannya itu hanya mengangguk mengerti mendengar perintah dari tuannya itu untuk mencari tahu keberadaan gadis yang bernama Nayla Harum Sya.


Setelah menelfon orang suruhannya, Fazar kembali menyimpan ponselnya, lalu tersenyum menatap istrinya itu.


" Bolehkah sayang." Tanya Fazar membuat Wiyah mengangguk mengiyakan orang ini sudah kewajibannya sebagai seorang istri untuk melayani suaminya, Jadi mana mungkin Wiyah menolak.


Fazar yang mendengar jawaban dari istrinya itu, langsung saja menerkam tanpa habis pagi atau malam ini, karena baru saja jam satu dini hari.


🌺🌺🌺🌺🌺


Fazar yang sedang mengenakan kemejanya. Pria itu sedang bersiap-siap untuk pergi kekantor. Tapi sebelum itu dia pergi kerumah sakit untuk menjenguk adiknya, yang Alhamdulillah semakin membaik dari sebelumnya. Fadil juga sudah mulai sedikit berisi setelah dia dinyatakan sebuh.

__ADS_1


Bukan saja menjenguk Fadil, tapi Fazar juga harus menjenguk Abizard yang hari ini di perbolehkan pulang karena sudah pulih dari luka operasinya, walaupun belum sepenuhnya, tapi Abizard bisa di rawat di rumah.


" Sayang." Panggil Fazar dengan suara lembutnya.


Wiyah yang dipanggil keluar dari ruangan yang khusus untuk menyimpan pekaian mereka. Kini istrinya itu sudah rapi dan terlihat cantik dengan meka- up naturalnya.


" Iya kak, ada apa." Tanya Wiyah.


" Tolong bantu kakak untuk memasang dasi ini." Jawab Fazar sambil memperlihatkan dasi ditangan nya kepada Wiyah.


Wiyah yang mendengar jawaban suaminya itu hanya bisa menggeleng. Karena suaminya itu semakin manja kepadanya, apa yang dulu bisa dia kerjakan, seakan tidak bisa dan selalu meminta bantuannya. Tapi Wiyah tidak mengeluhkan akan hal itu, Wiyah begitu sangat bersyukur dengan perubahan yang Fazar perlihatkan kepadanya, setelah Fazar benar-benar mengakuinya sebagai istri.


Wiyah mendekati suaminya itu, lalu mengabil dasi dari tangan Fazar untuk memasangkan nya di leher Fazar.


Dulu Wiyah tidak tahu cara mengikatkan dasi di leher suaminya, tapi suaminya itu terus mengajari nya sampai ia bisa. Karena kata Fazar.


" Belajarlah untuk memasangkan kakak dasi ini, karena sayang akan terus melilitkan kain ini di leher kakak sampai seterusnya, sampai Allah sendirilah yang akan memisahkan kita.


Fazar menarik istrinya itu untuk lebih dekat lagi dengannya." Sayang makin cantik." Puji Fazar menatap istrinya itu.


Sedangkan Wiyah yang mendengar ucapan sang suami hanya tersenyum.


" Kakak juga makin tampan." Jawab Wiyah tidak mau kalah.


" Benarkah." Wiyah hanya mengangguk." Tapi kakak juga kuatkan saat berada di..."


" Kak, jangan aneh-aneh deh." Ucap Wiyah dengan pipi memerah, sedangkan Fazar hanya tertawa kecil.


" Tapi nyata sayang." Ucap Fazar terkekeh, lalu mencium pipi istrinya itu dengan gemas.


" Sudahlah kak, kita sudah kesiangan. Entar kak Abizard duluan pulang baru kita datang." Ucap Wiyah mencegah suami itu untuk menciumnya.


" Ngga apa-apa sayang, bunda dan paman tahu. Kalau kita sedang membuatkan mereka cucu." Ucap Fazar kembali sambil tertawa.


" Bang." Pekik Wiyah kesal tidak lupa dengan pipi yang sudah memerah seperti strawberry yang baru matang.


" Hihihi, Maaf sayang."


...----------------...


Kayaknya Fazar udah berubah nih.

__ADS_1


Mau lagi ngga.


__ADS_2