
Fazar terus melihat kearah luar, Sedangkan pikiran nya tertuju kepada satu nama yaitu Amira Jia Berend Lian. Wanita yang pernah hadir di masa lalunya.
Wanita yang berhasil membuat dirinya berubah menjadi dingin dan arogan. Wanita yang berhasil membuat dirinya menyalakan bunda nya selama tiga tahun terakhir hanya karena telah menjodohkan nya dengan Wanita yang bernama Amira Jia Berend Lian.
Wanita yang dia anggap begitu sangat sempurna untuk hidupnya, Tapi malah mengkhianati dirinya. Fazar masih mengingat, Gadis yang tertutup dengan hijabnya harus melakukan hal yang memalukan dan hal itu membuat Fazar merasa jijik, Karena hal itu membuat Fazar begitu sangat tidak suka dengan gadis yang memakai hijab, karena Fazar berpikir kalau semua gadis sama saja. Memakai jilbab hanya untuk menutupi kelakuan mereka.
" Aku sudah berusaha menghapus namamu, Tapi kenapa kamu selalu saja hadir dalam ingatan ku, membayangi ku walaupun hanya nama saja." Batin Fazar." Apakah kamu tidak puas sudah menyakiti ku secara langsung Jia. Apa kamu tidak puas menyakitiku lewat penghianatan mu tiga tahun yang lalu.
Aku sudah berusaha menghapus bayang bayang mu Jia. Tapi di saat aku berusaha untuk menghapus ingatan ku tentang dirimu aku malah Terjebak didalam masa lalu ku sendiri, padahal aku yang sudah berusaha untuk membuang kenangan kita jauh jauh." Batin Fazar yang begitu sangat sedih jika mengingat masa lalu nya. Fazar masih mengingat wanita yang paling dia cintai, wanita yang membuat hidupnya berwarna dan wanita yang membuatnya kuat di saat Dia sedang terpuruk dan hampir jatuh karena meninggalnya Ayahnya.
Fazar menghembuskan nafasnya mencoba menghapus bayang bayang masa lalu nya yang kembali hadir, karena nama seseorang yaitu Amira Jia Berend Lian.
Kenapa selalu nama itu yang selalu menghantuinya, Kenapa Fazar tidak bisa menghapus bayang bayang masa lalunya.
Karena dulu dia pernah merasakan yang namanya cinta, Walaupun Untuk pertama kalinya buat Fazar.
Zain yang melihat kalau Tuan nya itu seperti sedang memikirkan sesuatu mencoba untuk membuka suara." Tuan." Panggil Zain memecahkan keheningan di dalam mobil itu.
Fazar yang di panggil tersadar dari lamunannya. Fazar melirik ke arah Zain yang sedang menatap kearahnya lewat kaca spion sesekali pandangan nya lurus ke depan karena Zain sedang berkendara.
" Ada apa Zain." Tanya Fazar.
" Apakah Tuan Fadil sudah sampai di kota J." Tanya Zain berusaha basa basi agar tuanya itu tidak terlalu tengelam dalam lamunannya.
" Sepertinya sudah Zain, karena Sekarang sudah jam dua belas malam, pasti mereka sudah sampai dari beberapa jam yang lalu. hanya saja Bunda sama Rido belum memberikan aku kabar kalau mereka sudah sampai di kota J." Jelas Fazar.
" Semoga Tuan Fadil bisa cepat sembuh sesampainya di sana dan mendapatkan pendonor sumsum tulang yang cocok untuknya." Ucap Zain.
" Aminn, Semoga begitu Zain. Aku menantikan kesembuhan Fadil agar...." Ucap Fazar terhenti." Aku bisa melepaskan wanita itu." Batin Fazar.
Mendengar ucapan dari tuan nya yang terhenti membuat Zain sedikit penasaran." Maaf tuan, agar apa." Tanya Zain menatap Fazar sekilas lalu kembali melihat ke depan.
" Agar kami bisa berkumpul seperti dulu lagi Zain." Jawab Fazar beralasan karena Fazar tidak mungkin memberitahukan Ke Zain apa maksud kenapa dirinya menikahi Wiyah.
Sedangkan Zain Hanya mengangguk mengerti mendengar jawaban dari tuannya itu.
Tidak lama Mobil mereka telah sampai di depan gang tempat di mana Fazar akan menuju ke rumah istrinya atau lebih tepatnya calon mantan istrinya.
" Tuan kita sudah sampai." Ucap Zain kembali melirik tuanya lewat kaca spion.
Fazar melihat ke arah gang itu lalu menghembuskan nafas kasar." Aku harus menelusuri setiap jalan kecil ini kembali hanya karena keluarga wanita itu." Batin Fazar menatap ke arah geng kecil yang hanya bisa di lewati oleh motor saja tapi tidak untuk mobil.
__ADS_1
Fazar kembali melihat ke arah Zain" Baiklah Zain, Terimakasih. Kamu bisa pergi sekarang." suruh Fazar.
Zain menatap tuan nya lewat kaca spion." Apa tuan butuh saya temani." Tanya Zain sopan menatap Tuan nya itu lewat kaca spion.
" Tidak usah Zain, aku bisa sendiri. Aku akan memanggil mu besok." Tolak Fazar.
Zain yang mendengar itu hanya mengangguk." Baiklah tuan, Tapi jika anda membutuhkan saya anda bisa langsung menghubungi saya." Ucap Zain kembali.
Fazar turun dari mobilnya." Besok Jam tujuh kamu sudah ada di sini." Perintah Fazar.
" Baik Tuan." Jawab Zain.
Fazar melangkah meninggalkan Zain yang masih berada di dalam mobil Sambil menatap tuanya itu yang memasuki gang kecil itu." Sepertinya aku harus memberikan saran kepada tuan Fazar agar mau membelikan rumah yang dekat dengan jalan bukan di dalam gang kecil seperti ini." Gumam Zain yang melihat kalau tuan nya itu sudah menghilang di balik gang kecil itu bersama dengan beberapa bodyguard yang setia saat menjaga tuan nya itu.
Walaupun mereka bodyguard tapi tuan mereka menyuruh kalau para bodyguard seperti mereka harus bersikap seperti layaknya masyarakat biasa, agar orang orang tidak terlalu curiga pada nya sampai membuat Tuanya itu dalam bahaya, apalagi musuh akan menyerang Fazar jika mereka lengah sedikit.
Sedangkan Fazar yang menyusuri gang kecil yang dia lewati sekarang, buat Fazar sedikit risih. Walaupun dulu Fazar pernah ketempat yang jauh lebih mengerikan dari gang kecil itu, tapi itu dulu dan bukan sekarang." Kenapa Sih wanita itu memiliki rumah di dalam gang kecil seperti ini. Apakah ini taktik untuknya agar bisa menarik hati para pria yang kasihan padanya termasuk Fadil." Kesal Fazar Pikiran buruknya Juga sudah mulai Kambu di kepalanya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Di sisi lain.
Seorang gadis yang baru saja selesai dengan tugas kuliahnya, meluruskan otot-otot nya yang terasa kaku karena terlalu banyak mengetik dalam posisi duduk.
" Alhamdulillah, selesai juga." Ucap Gadis itu yang tidak lain adalah Wiyah.
Ya. Wiyah belum tidur karena harus menyelesaikan tugas kuliahnya yang baru saja di kirimkan oleh temannya Yaya karena hari ini Wiyah tidak kuliah membuat Wiyah harus mengerjakan tugasnya di rumah.
Wiyah mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding yang menunjukkan jam dua belas malam." Kayaknya malam ini aku bergadang lagi." Ucap Wiyah yang melihat kearah jam. Wiyah kembali melihat ke arah meja belajarnya yang sedikit berantakan karena terdapat banyak kertas di sana.
Wiyah mulai mengatur satu persatu tugas kuliahnya yang tadi Wiyah kerjakan, lalu menyimpan nya di dalam tas nya karena Wiyah tidak mau sampai ada yang ketinggalan. Apalagi Wiyah mengerjakan tugasnya sampai membuatnya harus bergadang.
Setelah selesai mengatur semua tugas nya di dalam tasnya Wiyah melangkah ke arah kasur nya lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur yang begitu sangat empuk.
Wiyah mengangkat tangan nya ke langit langit kamarnya, Wiyah bisa melihat cincin yang berbeda di tangan nya, Cincin yang terpasang manis di jarinya.
" Aku terikat dalam satu hubungan yang hanya nama saja, karena orang yang mengingatku tidak menginginkan hubungan ini." Gumam Wiyah menatap kearah cincin di jari manisnya.
Malam yang di katakan oleh orang adalah malam pertama untuk pengantin baru. Malam yang membuat kedekatan suami istri semakin dekat. Tapi tidak untuk Wiyah, Malam ini dia seperti malam biasanya karena malam pertama hanya untuk pernikahan yang adanya cinta tapi tidak untuk pernikahan yang di paksakan seperti dirinya.
" Ya Allah kuatkan aku untuk menjalani rumah tangga ini, rumah tangga yang baru saja aku jalani tapi sudah rapuh seperti kaca yang bisa saja pecah setiap saatnya. Kuatkan aku untuk bisa merebut hati dari suamiku yang mungkin akan keras seperti batu." Gumam Wiyah kembali.
__ADS_1
Tanpa Wiyah sadari air matanya tiba tiba saja mengalir, karena sekarang Wiyah semakin rapuh. Baru saja menikah tapi serasa seperti belum menikah karena suaminya saja tidak menginginkan kehadirannya.
Rasanya Wiyah ingin berteriak ' Hubungan apakah ini, kenapa sangat menyakitkan. kenapa aku harus menikah dengan pria yang benar-benar tidak menginginkan kehadiran ku.' Ya Wiyah ingin berteriak melampiaskan emosinya yang selama ini Wiyah tahan. Tapi itu tidak mungkin, Karena Wiyah masih sadar untuk melakukan hal itu.
Wiyah bangun dari tidurnya karena sekarang Wiyah kembali tertekan. Kedua masalah itu seperti hadir dalam sekejap, Wiyah yang belum bisa menerima kebenaran dari orang tuanya. Kembali harus di hadapkan dengan pernikahan yang dia sendiri pun tidak menginginkan pernikahan itu.
Wiyah mengambil buku diary yang Fadil berikan tadi. Buku diary yang tersimpan di kasur nya. Wiyah mulai membuka halaman yang kosong untuk mencurahkan perasaan yang kembali kacau seperti tiga tahu yang lalu.
Wiyah hanya takut kalau dirinya akan mengalami depresi seperti dulu lagi di saat orang tuanya berpisah, maka dari itu Wiyah sering menuliskan apa yang sekarang Wiyah rasakan.
Wiyah mulai menulis setiap kalimat yang langsung keluar dari hati dan perasaan nya karena Wiyah kembali terluka.
Buku diary ku, Apakah kamu tahu.
Kini kesabaran ku telah diuji kembali setelah aku tahu tentang rahasia kenapa kedua orang tuaku berpisah. Kini aku harus dihadapkan dengan pernikahan yang tidak aku inginkan berkesan pemaksaan.
Pernikahan yang didasari perjodohan karena sahabat yang baru aku kenal dua bulan terakhir. Menikahkan aku dengan pria yang selalu menatap ku dengan tatapan kebencian, tanpa aku tahu apa sebabnya.
Apa karena masa lalu nya yang pernah di khianati oleh wanita, makanya setiap wanita pasti akan ditatap dengan kebencian termaksud diriku.
Sanggupkah aku bertahan atau aku harus berpisah seperti kedua orang tuaku yang tidak bisa mempertahankan rumah tangga nya.
Apakah aku bisa menghapus masa lalunya dengan kesabaran ku ini yang pada akhirnya akan membawa Cinta untuknya
Wiyah menutup buku diary nya setelah mencurahkan perasaan nya kepada buku kesayangan itu, yang sudah menemani nya selama tiga tahun terakhir, Tapi harus hilang selama tiga bulan, Untung saja bukunya itu masih bisa Wiyah temukan.
" Lebih baik aku tidur karena besok aku harus kuliah dan bekerja, Karena tadi aku ngga kerja ataupun kuliah karena menikah." Gumam Wiyah.
Wiyah menyimpan buku diary nya lalu merebahkan tubuhnya, mencoba untuk tertidur.
Tapi baru saja Wiyah memejamkan matanya. Suara ponsel membuat nya harus membuka matanya.
" Siapa sih yang nelpon malam malam kayaknya kini." Gumam Wiyah menatap ponselnya yang terdapat nomor baru di sana." Di angkat ngga ya, tapi inikan nomor baru. Lebih baik ngga usah takut nya orang jahat." Wiyah mematikan panggilan dari nomor yang tidak di kenal nya lalu mengecilkan suara ponsel nya yang membuat ponsel itu tidak bersuara dan hanya getaran saja yang terdengar.
Tapi saat Wiyah ingin kembali tertidur suara ketukan pintu membuat Wiyah kembali terbangun." Siapa sih." Gerutu Wiyah kesal yang membuatnya harus Bagun kembali.
Bersambung.
Banyak typo yang bertebaran
harap bijak dalam membaca.
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan vote nya.