Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Ekstra part 11


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta.


Pagi yang cerah, seharusnya pagi yang membahagiakan untuk orang-orang. Karena mereka akan kembali melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda kemarin. Tapi tidak dengan keluarga besar Fazar.


Karena pagi ini mereka sedang berduka atas kepergian Fina dan Fadil. Padahal belum cukup setahun mereka menikah, tapi takdir telah membawa keduanya pergi. Bahkan mereka meninggalkan seorang bayi kecil yang masih membutuhkan kasih sayang mereka.


Serasa mimpi, karena baru kemarin pagi rumah itu ( rumah Fadil ) Terdengar suara Fadil yang sedang bermain bersama putri dan istrinya. Bahkan suara mereka seperti, masih ada dan terdengar memutari seisi rumah itu.


Tapi kini suara tawa itu seakan berubah dengan tangisan parah keluarga. Bahkan bayi kecil itu seperti mengerti akan kehilangan, sehingga dari semalam dan pagi ini bayi kecil itu masih saja menangis. Tapi untungnya, Wiyah dengan sabar mendiamkan bayi kecil itu. Karena Beby Falisha tidak mau dengan orang lain selain Wiyah.


.


.


Tepat jam delapan pagi. Parah keluarga menatap kedua tubuh yang sudah ditutup oleh tanah. Mereka melepas kepergian Fina dan Fadil dengan ikhlas. Karena bagaimanapun setiap manusia akan berpulang bukan.


" Yang tenang disana Dil, Fina. Abang akan menjaga anak kalian dengan baik disini. Abang akan menjaganya seperti yang kamu amankan Dil." Lirih Fazar menatap dua gundukan tanah, yang masih basah dengan bunga yang diatasnya. Apalagi dari tadi parah kelurga bahkan parah pebisnis yang mengenal Fazar maupun Fadil terus berdatangan untuk menyampaikan duka mereka atas kepergian Fadil. Bukan saja itu, parah pebisnis juga, banyak yang mengirimkan karangan bunga, tanda mereka ikut berduka.


Muhammad Fadil Al Fazar dan Fina Febby Falisha. Kini nama mereka akan dikenang sebagai cinta sejati. Karena keduanya dipisahkan oleh kematian. Mungkin kisah cinta mereka sangat singkat, tapi kisah mereka tidak akan pernah terlupakan.


.


" Wiyah." Seorang gadis terus memeluk sahabatnya itu, yang dari tadi menangis tidak ada hentinya." Aku turut berduka atas meninggalnya sahabat kita." Lirih gadis itu sambil memeluk Wiyah, pandangannya terus menatap kuburan sahabatnya. Walaupun mereka jarang bertemu, tapi persahabatan mereka begitu sangat erat. Mereka akan selalu berkomunikasi lewat telepon, dan menanyakan kabar satu sama lainnya. Tapi gadis itu tidak menyangka, kalau sahabat yang sudah lama tidak dia temui ternyata sudah pergi untuk selamanya. Bahkan sekarang tidak ada lagi canda tawa seperti dulu.


" Sebenarnya aku tidak ikhlas, Sal. Tapi aku tau kalau ini sudah kehendak yang diatas. Kita sebagai manusia tidak bisa menentang takdir." Lirih Wiyah sambil menghapus air matanya. Wiyah berusaha untuk kuat walaupun ini terasa sangat menyakitkan.


Apalagi Wiyah dua kali kehilangan ditahun ini. Dari ayahnya hingga sahabatnya. Wiyah sampai berpikir, apakah orang yang dia sayangi, tidak bisa merasakan kebahagiaannya hingga mereka harus pergi secepat ini.

__ADS_1


Sedangkan gadis yang tidak lain adalah Salsa, hanya bisa memeluk sahabatnya itu dengan erat. Karena disini dia sama-sama merasakan kesedihan yang begitu sangat dalam seperti Wiyah.


Dan tanpa keduanya sadari, kalau dari tadi mereka mendapatkan tatapan dari orang-orang yang berada disana. Apalagi keluarga Fina maupun Wiyah, tentu tau siapa keduanya. Mereka sangat mengetahui siapa Wiyah, Salsa dan juga alm Fina.


" Yang tenang disana kak Fadil, Fina. Kami berjanji akan menjaga Falisha dengan baik." Lirih Wiyah dan Salsa.


.


.


Tak...tak...tak


Tak...tak...tak


Suara langkah sepatu yang begitu sangat cepat memasuki kediaman Fadil. Langkah itu seperti tidak sabaran memasuki rumah mewah itu.


" Zri, apa yang kamu lakukan. Kenapa kamu berteriak-teriak?" Ya, pemuda yang tadi berteriak-teriak adalah Fazri. Sedangkan pria yang baru masuk itu adalah Abidzar. Terlihat dari wajah pria itu, kalau dia baru saja menangis. Apalagi wajahnya yang begitu sangat kusut sekarang.


" Aku ingin menyuruh kak Fadil, untuk menghentikan permainannya ini kak. Karena aku tidak suka semua ini. Ini semua tidak benar. Aku yakin, kalau kak Fadil pasti baik-baik saja." Jawab Fazri mengabaikan Abidzar yang menatapnya dengan tatapan miris." Kak Fadil keluarlah!!"


" Fazri, hentikan!! Fadil dan juga Fina benar-benar sudah pergi!!" Bentak Abidzar, sambil membalikkan tubuh Fazri agar menatapnya." Fadil, tidak sedang bermain-main Zri!! Dia benar-benar pergi meninggalkalkan kita untuk selamanya!! Dia sudah pergi, dan tidak akan kembali lagi!!" Lirih Abidzar berusaha menyadarkan Fazri, yang sekarang sedang tidak percaya akan kematian kakaknya. Karena Fazri begitu sangat syok hingga membuat dia tidak percaya dengan kabar meninggalkannya kakak dan kakak iparnya." Kamu harus menerima kebenaran ini Muhammad Fazri Al Fazar, kalau Fadil sudah benar-benar pergi!!" Bentak Abidzar kembali, sambil menatap mata Fazri yang kini sudah berembun.


Hiksss... hiksss...


Tangis yang dari kemarin pemuda itu tahan akhirnya pecah juga, saat mendengar ucapan Abidzar. Kalau kakak dan kakak iparnya benar-benar telah pergi. Karena pemuda itu sekaan tidak percaya dengan kabar ini. Karena sebelum Fina dan Fadil kecelakaan, mereka sempat video call sebentar.


Abidzar yang melihat Fazri menangis. Langsung memeluk tubuh tegap itu, yang kini terlihat sangat rapuh." Menangis lah jika ini yang membuat kita bisa melupakan kesedihan kita." Lirih Abidzar yang sama-sama menangis. Keduanya menangis dengan posisi masih berpelukan, untuk menyalurkan kesedihan mereka yang begitu sangat besar.

__ADS_1


Tidak akan ada luka yang paling menyakitkan selain luka kehilangan orang yang kita sayangi.


Tangisan kedua pria itu, membuat orang-orang yang berada di sana ikut menangis. Apalagi melihat Fazri yang begitu sangat rapuh saat mengetahui kalau kakaknya meninggal. Sedangkan Abidzar, pria itu pura-pura kuat, padahal dia sama sedihnya sama seperti Fazri.


Ya, bunda Sisi, Fazar, Wiyah. Serta yang lain memang berada disana. Karena mereka baru saja pulang dari makam. Mereka sengaja berdiam di ruangan keluarga, untuk menenangkan hati mereka yang masih menangis. Tapi mereka dibuat terkejut saat mendengar teriakan Fazri barusan, dan sekarang mereka bisa melihat pemandangan yang membuat hati mereka semakin menangis, saat melihat tangisan Fazri dan Abidzar


Bukan saja orang-orang yang berada didalam rumah, yang merasakan kesedihan ini. Melainkan pria paruh baya yang dari tadi berada diluar, dan mendengar perdebatan anak dan keponakannya. Hanya bisa menangis, dengan ditemani sang istri. Pria paruh baya itu hanya bisa menangis, dengan diam. Karena dia sendiri tidak percaya dengan semua ini.


" Ya Rabb, kuatkan lah keluarga hambamu ini, untuk melewati semuanya. Hamba tau, dibalik semua cobaan ini, dan hikma yang kami ambil." Batin tuan Aslan.


sedangkan Widya, yang berada disamping suaminya, hanya bisa menenangkannya dengan lembut. Apalagi bahu kecilnya, sudah menjadi sandaran teraman untuk tuan Aslan, yang sedang melupakan kesedihannya.


.


.


Sedangkan disisi lain. Seorang pria sedang memutar-mutar gelasnya yang berisi minuman. Gelas kaca itu memperlihatkan air didalamnya yang dari tadi tidak berhenti berputar-putar.


" Kita berhasil, membunuhnya paman." Ucap pemuda itu yang sedang duduk di kursi roda, dengan senyuman bahagia diwajahnya.


" Bukannya itu yang kamu inginkan, Aldr."


" Ini memang keinginanku, melihat mereka mati." Ucap pemuda itu sambil tertawa jahat." Dan saat mereka sedang dalam masa terpuruk, paman bisa merebut harta mereka."


" Walaupun kamu tidak memberitahukannya, aku tetap merebut perusahaan itu dengan paksa. Apalagi sudah dari lama ingin merebut perusahaan mereka." Jawab pria itu." Dan aku tidak sabar menerima, kabar kalau perusahaan Al grup menjadi milikku." Ucapannya sambil tersenyum sinis." Amira, perusahaan itu akan tetap menjadi milik kita. Karena aku tau kalau kamu begitu sangat kesulitan membangunkan perusahaan itu, bersama dengan pria brengsek itu dulu."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2