
Kesabaranku membawa cinta
Hmmm
" Sayang udah bangun." Wajah pria berusia dua puluh sembilan tahun itu langsung berbinar bahagia saat melihat istrinya sudah membuka matanya.
Sedangkan Wiyah meneliti ruangan dimana dia sedang berbaring. Ingatannya tertuju dimana ia jatuh di atas kasur yang membuatnya ia harus pendarahan. Dan membuat dirinya harus masuk kerumah sakit.
Wiyah memegang perutnya, takut terjadi sesuatu dengan ketiga janin dalam kandungannya." Mereka baik-baik saja sayang, mereka kuat disini." Ucap Fazar sambil memegang tangan Wiyah, yang berada di atas perutnya. Fazar tau kalau istrinya pasti menduga sesuatu yang beruk telah terjadi dengan kandungannya.
Mendengar jawaban dari suaminya membuat Wiyah bernafas lega. Untung saja keluarganya itu dengan sigap, langsung membawanya di rumah sakit, saat mengetahui kalau dirinya pendarahan. kalau tidak ia tidak tau apa yang akan terjadi pada kandungannya.
Wiyah menoleh kearah samping, tepatnya kearah suaminya." Maaf kak, karena aku ceroboh, aku hampir saja menghi__."
Fazar menaruh telunjuknya di bibir istrinya itu, karena Fazar tau apa yang akan Wiyah katakan. Istrinya itu pasti akan menyalakan dirinya sendiri, karena ceroboh, sampai membuat dirinya pendarahan dan hampir saja kehilangan janin dalam kandungannya.
" Sayang mau minum." Potong Fazar, dengan memberikan pertanyaan kepada istrinya itu. Sedangkan Wiyah langsung mengangguk mengiyakan, saat suaminya itu menawarkan air minum. Karena dirinya juga merasa sangat haus saat bangun dari tidurnya.
Fazar mengambil air putih, yang entah kapan berada di atas nakas samping Brankar istrinya berbaring. Tapi yang jelas air itu sudah berada disana.
Fazar mengambil sebotol air minum itu, lalu membantu istrinya untuk meminum mengunakan sedotan.
" Sudah." Dengan lembut pertanyaan itu kembali terlontar, membuat Wiyah lagi-lagi mengangguk mengiyakan.
Wiyah begitu sangat senang dengan suara lembut suaminya itu, sampai-sampai membuatnya perasaannya seakan tenang.
Fazar menatap manik hitam itu dengan dalam, lalu mencium kedua tangan itu secara bergantian." Apa masih ada yang sakit sayang."
" Ngga ada kak, aku hanya merasa pusing saja."
" Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu."
Wiyah menatap suaminya, ia ingin meminta maaf karena kecerobohannya. Tapi lagi-lagi perkataannya harus di potong oleh Fazar.
" Jangan pernah menyalahkan diri sayang atas apa yang terjadi tadi. Karena disini yang sepenuhnya bersalah adalah kakak, bukan sayang. Seandainya tadi kakak tidak mengabaikan sayang, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi, dan sayang tidak akan berada disini." Potong Fazar sambil menatap istrinya itu dengan tatapan bersalah." Maafkan kakak yang kembali menyakiti mu sayang, maafkan kakak yang kembali berlarut-larut dalam kesedihan karena masalalu ku. Maafkan kakak karena hampir membuat kalian bertiga hampir saja celaka."
Wiyah merasa sedih, saat mendengar pengakuan suaminya itu, kalau Fazar benar-benar mengabaikannya tadi, hanya karena Fazar kembali teringat akan masalalunya. Tapi Wiyah bisa melihat dari mata suaminya itu, kalau Fazar benar-benar mengakui kesalahannya, bahkan dari wajah itu, Wiyah bisa melihat kalau Fazar benar-benar merasa bersalah atas apa yang terjadi tadi.
Tapi disini Fazar tidak harus disalahkan, karena dirinya juga bersalah disini, karena terlalu berlarut-larut dalam pikiran buruknya, sampai ia tidak sengaja melakukan hal ceroboh, yang hampir saja membahayakan janin dalam kandungannya.
" Kak, disini kakak tidak sepenuhnya bersalah, tapi aku juga ikut serta didalamnya. Seandainya aku tidak ceroboh tadi, mungkin aku tidak akan berada disini. Jadi kakak jangan pernah menyalahkan diri kakak sendiri atas apa yang terjadi, karena kita sama-sama bersalah disini."
Fazar menatap istrinya itu. Ternyata istrinya itu selalu bertindak bijak dalam setiap permasalahanya, dan kali ini istrinya kembali bersikap bijak atas apa yang sudah terjadi.
" Aku tau kak, kalau kakak pasti merasa begitu sangat menyesal terhadap masalalu kakak, apalagi wanita itu pernah menjadi kekasih dan juga sahabat kakak."
" Apakah kakak tau kalau setiap orang pasti pernah mengingat masalalunya, apalagi dia adalah sahabat kakak sendiri. Mungkin kakak tidak memiliki rasa kepada orang, yang pernah hadir dalam masalalu kakak, karena perasaan kakak sudah sepenuhnya untuk kami disini. Tapi di lain hati Kakak masih menyimpan penyesalan yang besar, terhadap orang itu, tapi bukan sebagai seorang kekasih melainkan sahabat."
Fazar membenarkan apa yang istrinya itu katakan semuanya benar, kalau ia menyesal bukan karena perasaannya kepada Amira. melainkan rasa penyesalan itu, hadir karena rasa bersalahnya terhadap sahabatnya itu
" Terimakasih sayang karena sudah mengerti perasaanku beberapa hari." Ucap Fazar, lalu memeluk tubuh istrinya itu.
" Iya kak, Itu sudah tugas kami, sebagai seorang istri, untuk selalu mengerti perasaan suaminya. Karena setiap seorang istri pasti akan menjadi tempat curhatan untuk suaminya."
Fazar begitu sangat bersyukur memiliki istri seperti istrinya, yang begitu sangat mengerti akan dirinya.
Dari penyesalannya, Allah sudah menuliskan sebuah takdir yang indah untuknya. Dimana dia harus kehilangan sahabatnya, tapi Allah juga mengirimkan seorang gadis yang akan menjadi sahabat, insyaallah akan menjadi sahabat yang akan selalu menemaninya sumur hidup. Sahabat yang akan selalu mengerti dirinya, seperti Amira dulu.
" Amira, aku telah menemukan istri yang paling aku cintai, dia akan menjadi sahabat untukku selamanya. Terimakasih karena kamu sudah menemaniku dulu, sampai aku bisa sesukses ini. Semoga Allah memberikan mu tepat yang terindah disana, bersama dengan pangeran di surga." Batin Fazar.
.
__ADS_1
.
Setelah memindahkan Wiyah di ruangan VIP, kini keluarga Fazar sudah berkumpul di ruangan itu.
Bunda Sisi terus berada di samping menantunya itu, karena dari tadi bunda Sisi terus meminta maaf kepada menantunya itu.
" Bagaimana kondisi kak Wiyah, apakah masih ada yang sakit." Tanya Fazri penuh dengan perhatian menatap kakaknya itu.
Posisi Wiyah yang sedang berbaring, dengan posisi punggung yang disandarkan.
" Alhamdulillah kakak baik-baik saja Zri."
" Alhamdulillah, aku jadi senang dengarnya kak, Apalagi calon anak keponakanku baik-baik saja. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan kak Wiyah dan juga calon anak keponakanku, maka abang yang pertama aku pukul." Ucap Fazri sambil menatap kearah Fazar. Sedangkan Fazar yang mendapatkan tatapan dari adik bungsunya itu, hanya memutar matanya dengan malas.
" Kamu masih kecil dek, tapi udah sok-sokan berani sama Abang, coba kalau di jewer pasti nangis." Sambung Abidzar yang merasa jengah dengan ucapan adik sepupunya itu.
" Benar benget, Abidzar, ujung-ujungnya nangis." Cibir Fadil yang ikut-ikutan menyudutkan Fazri.
" Sudah-sudah, ngga usah berdebat. Perasaan dari tadi kalian berdebat terus, Seharusnya kalian itu senang melihat Wiyah dan juga kandungannya baik-baik saja. Bukannya mala berdebat di ruangannya." Tegur tuan Aslan merasa kesal dengan tiga pria muda didepannya itu." Kalian bertiga sudah pada dewasa, Tapi sikap kalian masih sama seperti anak kecil, selalu saja memperdebatkan hal yang kecil, Seharusnya kalian itu pada akur."
" Iya paman maaf." Ucap Fazri dan Fadil bersamaan.
" Iya dad maaf." Sambung Abidzar.
Sedangkan Wiyah dan bunda Sisi hanya menggelengkan kepalanya, saat melihat mereka yang kembali diam berkat tuan Aslan.
Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba saja ruangan mereka kedatangan tamu, karena pintu ruangan Wiyah terbuka.
" Assalamualaikum." Fazar dan keluarganya menoleh ke sumber suara, dan mereka bisa melihat, kalau Haidar bersama dengan keluarganya, serta tuan Jambri ikut serta untuk melihat kondisi Wiyah.
Haidar dan Windi yang mendapatkan kabar dari bunda Sisi langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Wiyah. Karena mereka begitu sangat khawatir. Apalagi tuan Jambri yang begitu sangat menghawatirkan kondisi putrinya itu.
" Waalaikumsalam, nak Haidar tuan Jambri, mari masuk." Tuan Aslan, Fazar, Abidzar, Fadil dan Fazri, menyambut kedatangan keluarga Wiyah dengan ramah. Bahkan mereka memberikan ruang kepada keluarga Wiyah untuk melihat kondisi Wiyah.
Setelah bersalaman dengan Fazar, serta adik-adiknya, kini tuan Jambri serta Haidar berjabat tangan dengan tuan Aslan.
" Hay dua R, Fanesya." Sapa Fazri kepada tiga bocah itu, yang ikut serta menengok Wiyah di rumah sakit.
" Hay juga kak Fazri, kak Abidzar dan kak Fadil." Jawab mereka sopan, ketiga bocah itu juga tidak lupa menyalami orang-orang yang berada di ruangan itu." Assalamualaikum om tampan." Ya panggilan itu khusus untuk Fazar.
" Waalaikumsalam, anak keponakan om yang pintar." Jawab Fazar sambil mengusap satu persatu kepala dari ketiga anak keponakannya itu.
.
.
" Kakak kaget, saat mendapatkan kabar dari bunda kalau kamu berada di rumah sakit dek." Ucap Windi khawatir menatap adik iparnya itu." Tapi sekarang bagaimana, apa masih ada yang sakit."
" Alhamdulillah semuanya baik-baik saja kak, tadi hanya pendarahan ringan tapi dokter berhasil menghentikannya."
" Tapi nak, mereka baik-baik saja disini."
" Iya yah, Alhamdulillah mereka baik-baik saja disini yah."
" Alhamdulillah, ayah senang dengarnya. Padahal tadi ayah sudah berpikir yang tidak-tidak saat mendengar kabar, tapi Alhamdulillah Allah masih menjaga mereka untuk kita."
" Iya yah, Alhamdulillah."
" Lain kali, dek, hati-hati, jangan sampai kelelahan mengingat sekarang ada tiga nyawa yang harus kamu jaga." Ucap Haidar mengingatkan, Haidar tau seperti apa adiknya itu, yang sering sekali ceroboh walaupun itu masalah kecil.
" Iya kak, Wiyah akan ingat pesan kakak." Sedangkan Haidar hanya tersenyum lalu mengusap kepala Wiyah yang terbungkus oleh hijabnya.
__ADS_1
Pandangan Wiyah tertuju pada tiga keponakannya itu, yang semakin hari semakin berubah saja, Karena mereka semakin hari, semakin terlihat tampan dan cantik.
" Apa Acil Wiyah sakit." Tanya Rafa menatap Wiyah.
" Iya sayang, Acil lagi sakit." Jawab Wiyah tersenyum.
" Yang mana, yang sakit cil, biar kami pijatin, biar sakitnya hilang." Sambung Rafi. Terlihat dari wajah anak laki-laki berusia sembilan tahun itu terlihat begitu sangat perhatian.
" Alhamdulillah sakitnya sudah hilang. Soalnya anak keponakannya Acil datang kesini untuk jenguk Acil."
" Benarkah itu cil." Wiyah hanya mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.
Sedangkan Fazar yang melihat senyuman istrinya itu, ikut merasa senang. Ternyata dengan mendatangkan keluarganya, istrinya itu sudah bahagia seperti ini.
Sampai pandangan Fazar tertuju pada sang mertua, yang semakin hari terlihat kurus." Sepertinya penyakit ayah mertua semakin parah." Batin Fazar menatap kasian kepada Ayah mertuanya itu.
Ya, Fazar sudah mengetahui penyakit yang diderita oleh Jambri, karena waktu itu Fazar langsung menyuruh orang suruhannya untuk mencari tau, Jambri berasal dari mana dan penyakit apa yang sekarang Jambri derita, karena Jambri merasa curiga saat melihat kondisi ayah mertuanya itu.
Fazar yang mengetahui penyakit apa, yang Jambri derita, begitu sangat terkejut. Kalau ternyata mertuanya itu memiliki penyakit yang sangat parah, dan sekarang umurnya tidak lama lagi.
Karena dari data yang Fazar dapatkan langsung dari dokter. Menyatakan kalau sisa umur Jambri tidak lama lagi, dan Jambri hanya bisa bertahan sampai awal tahun ini atau awal bulan, dimana istrinya berulang tahun.
Semoga saja Allah berkehendak lain, soal penyakit yang diderita oleh ayah mertuanya itu.
.
.
Saat mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba suara ponsel Fazar berdering. Membuat orang-orang langsung menghentikan perbincangan mereka.
" Bun, aku keluar sebentar, mau menerima telpon."
" Iya Zar, jangan lama-lama."
Fazar melangkah keluar setelah mendapatkan ijin dari bunda Sisi. Sedangkan Abidzar, Fadil dan Fazri yang memang merasa bosan didalam ikut menyusul abangnya itu keluar dari ruangan Wiyah, setelah meminta ijin kepada bunda Sisi.
.
.
" Assalamualaikum tuan, maaf tuan saya menganggu anda malam-malam seperti ini." Ucap pria di seberang sana.
" Waalaikumsalam, Katakan ada apa, apa kalian sudah menemukan titik terang tentang gadis kecil itu."
" Iya tuan, Saya dan juga pak Liando, sudah menemukan keberadaan nona Nadila bersama gadis kecil itu, walaupun kami sempat kehilangan jejaknya, karena nona Nadila melarikan diri. Tapi berkat orang-orang kepercayaan kami, kami berhasil melacaknya tuan, dan kami sudah menemukan nona Nadila berada di mana."
" Alhamdulillah."
" Tapi ada kendala tuan."
" Kendala apa itu."
" Kalau besok pagi, nona Nadila akan menjual gadis kecil itu kepada mafia Dark Black tuan. Kami tidak berani menyerang mereka, karena takut kalau mafia Itu akan menyakiti gadis kecil itu tuan."
" Astaghfirullah, begitu sangat kejam Nadila, sampai menjual gadis kecil itu kepada mafia sekejam seperti Jack." Ucap Fazar begitu sangat terkejut." Kerjakan tugas kalian, maaf aku tidak bisa kesan karena istriku berada di rumah sakit."
" Iya, tidak apa-apa tuan, kami akan mencari cara untuk menyelamatkan gadis kecil itu."
Setelah mengatakan itu, Fazar langsung mematikan sambungan telepon. Saat Fazar berbalik dia begitu terkejut saat melihat ketiga adiknya sudah berada disana.
" Apa yang dikatakan oleh kak Fiki bang, tentang Naila."
__ADS_1
...----------------...