
Agus atau lebih tepatnya Aldrich Ainsley. Pria yang berusia dua puluh satu tahun.
Dia anak dari pengusaha yang berada di Amerika serikat. Ayahnya bernama Aaron Albern, yang berasal dari Amerika serikat. Sedangkan ibunya tidak diketahui. Karena Agus lahir dari hubungan gelap ayahnya dengan wanita malam yang melahirkan Agus.
Ayah Agus ( Aron Albern ) Memiliki istri, tapi istrinya itu tidak bisa memberikan nya keturunan karena mandul, maka dari itu Aron suka jajan diluar yang membuat Agus bisa hadir dunia, karena hubungan gelap ayahnya.
Karena kekurangan kasih sayang, membuat Agus melampiaskan emosi nya dengan cara mempermainkan setiap wanita yang dekat dengannya, karena ia belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
.
.
Keesokan harinya.
Di rumah utama.
Fadil yang sedang duduk di kasur nya, sambil menatap tangan yang ia pakai untuk menghajar Agus, karena hampir melecehkan Fina. Fadil tidak merasa bersalah, Karena Fadil tahu kalau yang ia lakukan itu benar, dia melakukan itu untuk menolong Fina dari pria brengsek itu.
" Astaghfirullah, Aku sampai lupa, kalau hari ini aku harus kerumah Abang, untuk memberikannya selamat, karena usianya sudah bertambah dan sebentar lagi Abang akan menjadi seorang ayah." Gumam yang baru ingat kalau hari ini dia akan kerumah Fazar untuk memberikannya selamat atas kabar baik yang semalam ia dengar. Hanya saja Fadil belum sempat kerumah Fazar, karena semalam habis pulang dari mengantarkan Fina kerumahnya. Fadil langsung pulang ke rumah utama dan tidak singgah kerumah Fazar, Karena Fadil ingin menenangkan perasaan nya yang sedang memanas, karena emosi.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu, membuat menyadarkan Fadil dari lamunannya. Fadil berdiri dari duduknya, melangkah untuk membuka pintu.
" Abang." Ucap Fadil terkejut saat melihat Fazar sudah berada didepan kamar nya." Abang ngapain pagi-pagi, sudah ada didepan kamarku." Tanya Fadil menatap Fazar, Sedangkan Fazar menatapnya dengan tatapan dingin. Fadil bingung kenapa Abang nya bisa berada di rumah utama. Padahal semalam Fadil tidak melihat atau mendengar tanda-tanda kedatangannya Fazar.
" Apa yang semalam kamu lakukan." Bukannya menjawab, Fazar malah balik bertanya. Membuat Fadil mengerutkan keningnya bingung, tidak mengerti dengan pertanyaan Fazar.
" Maksud Abang apa, aku ngga ngerti." Jawab Fadil yang masih belum mengerti.
__ADS_1
Mendengar jawaban adiknya, yang seperti tidak tahu apa-apa. Membuat Fazar langsung menarik tangan Fadil untuk membawanya ke lantai bawah. Karena Fadil belum sadar dengan kesalahan yang telah ia buat.
" Bang, kenapa tangan ku di tarik-tarik, aku bisa jalan sendiri." Ucap Fadil disela-sela langkahnya. Sedangkan Fazar tidak menggubris apa yang Fadil ucapakan.
Sesampainya di ruangan keluarga, Fadil bisa melihat kalau disana terdapat keluarga dan juga kakak ipar nya yang sedang menatap kearah nya dengan tatapan penuh dengan tanda tanya.
Fadil kira Fazar akan berhenti menarik nya saat sudah berada di ruangan keluarga. Tapi dugaannya salah karena Fazar masih menariknya keluar sampai di ruang tamu, barulah Fazar melepaskan tangan nya.
Ruangan tamu, Fadil bisa melihat kalau terdapat beberapa pria yang memakai baju berwarna abu kecoklatan terang dan coklat kehitaman untuk pakaian bawahnya. Sedangkan pria satunya, dia adalah pria paruh baya. Mungkin usianya sekitar lima puluh tahun, tapi masih terlihat muda. Pria paru baya itu memakai setelan jas berwarna cokelat, membuat penampilan semakin terlihat masih muda.
Melihat beberapa pria itu, membuat Fadil mengerti kalau ternyata yang bertamu kerumahnya pagi-pagi seperti ini, seorang polisi dan juga ayahnya Agus yaitu Aron.
Pria paruh baya itu menatap Fadil dengan tatapan tajam, tatapan yang siap membunuh mangsanya.
" Apa yang kamu lakukan, terhadap putra saya." Tanya tuan Aron menatap Fadil dengan tatapan penuh kemarahan." Kenapa kamu memukul putra saya sampai membuatnya kritis di rumah sakit." Tanya Aron mendekati Fadil lalu menarik kerah baju Fadil. Kalau saja tidak ada polisi yang melarai tuan Aron , Mungkin Fadil sudah mendapatkan pukulan dari ayahnya Agus.
" Saya hanya ingin memberikan pelajaran untuknya, karena dia hampir saja me****kosa seorang gadis." Jawab Fadil tidak merasa bersalah sama sekali." Dia pantas mendapatkan nya tuan Aron, agar dia mengingat rasa sakit yang saya berikan sebelum dia berpikir untuk melakukan kesalahan yang sama. Saya hanya ingin memberikan nya pelajaran, agar anak anda tidak berpikir menjadi anda tuan Aron. Pria pecinta wanita, yang sampai kekasih orang juga anda rebut." Ucap Fadil kembali dengan begitu sangat beraninya, menatap tuan Aron dengan tatapan berani tanpa memperhatikan rasa takut sama sekali
Sedangkan Fazar hanya menatap Fadil dengan tatapan terkejut, karena Fadil dengan bernai mengatai tuan Aron seperti tadi.
Tuan Aron yang mendengar ucapan Fadil langsung mengepalkan tangannya. Pria muda dihadapannya itu begitu sangat berani menjawab pertanyaan, bahkan dengan berani mengatai dirinya.
" Berani sekali kamu." Saat tuan Aron ingin memukul Fadil. Beberapa polisi itu langsung menghadang nya." Menyingkir kalian, biar saya memberikan pelajaran untuk pria sialan itu, beraninya dia menghina saya." Ucap tuan Aron berusaha untuk melepaskan dirinya, agar dia bisa memukul Fadil.
" Tenang tuan, biarkan kami mengerjakan tugas kami. Jangan melakukan kekerasan, jika tidak anda juga kami tangkap." Ucap pria itu membuat tuan Aron langsung diam.
" Kerjakan tugas kalian untuk menangkap pria itu, berikan dia hukuman yang setimpal." Perintah tuan Aron.
" Baik tuan, kami tahu tugas kami."
" Silahkan bawah saya tuan." Fadil menyerahkan dirinya, agar para polisi itu membawanya nya." Anggap dengan aku di bawah oleh para polisi ini, aku bisa tahu kesalahan yang aku buat dan tidak mengunakan kekuasaan ku untuk lari dari hukum." Ucap Fadil kembali sambil menatap kearah tuan Aron, yang marah mendengar ucapannya, karena Fadil sudah berani menyindir tuan Aron.
" Berani sekali anak muda ini, menyindir ku." Batin tuan Aron kesal.
__ADS_1
Fadil menatap kearah Fazar." Bang, beritahu bunda. Kalau bunda ngga usah khawatir, Karena aku baik-baik saja." Ucap Fadil.
" Iya, nanti Abang kasih tau bunda." Jawab Fazar.
Setelah mengatakan itu, para polisi langsung membawanya. Sedangkan Fadil dengan santainya mengikuti langkah para polisi, tanpa rasa takut sama sekali.
Setelah kepergian para polisi yang membawa Fadil. Tuan Aron menatap kearah Fazar.
" Aku akan memberikan adik mu hukuman yang begitu sangat berat, agar dia tahu kesalahan yang dia buat. Aku juga akan menghilangkan semua bukti yang ada agar adikmu tidak bisa lepas dari penjara." Ucap tuan Aron begitu sangat angkuh menatap Fazar.
Fazar tersenyum mendengar ucapan tuan Aron." Silahkan tuan Aron Albern, saya ataupun adik saya tidak takut. Walaupun anda menghilangkan semua bukti, adik saya tidak akan takut dengan ancaman anda. Dan kita tunggu, di waktu pengadilan nanti." Jawab Fazar tersenyum mengejek." Silahkan keluar dari rumah saya, karena rumah saya tidak suka dengan pria yang begitu sangat kotor seperti anda. Itu pintu nya." Fazar menunjuk kearah pintu.
Tuan Aron merasa kalau harga dirinya diinjak-injak mengepalkan tangannya." Walaupun kamu tidak menyuruhku untuk keluar, saya bisa sendiri." Jawab tuan Aron, lalu melangkah keluar dari rumah Fazar.
Fazar menatap kepergian tuan Aron." Anda pantas mendapatkan nya tuan Aron. Seperti anda dan kekasih anda, dulu mengusir saya." Gumam Fazar sambil menatap kearah pintu, yang sudah tidak memperhatikan keberadaan tuan Aron.
.
.
" Dimana Fadil, Zar." Tanya bunda Sisi saat melihat Fazar melangkah kearah mereka, tapi ia tidak melihat keberadaan Fadil.
" Fadil sudah di bawah oleh para polisi Bun."
" Astaghfirullah, Dil. Zar, Kenapa kamu tidak mencegahnya. Bagaimana kalau para polisi itu menyakiti Fadil" Ucap bunda Sisi khawatir.
" Bukannya aku tidak mau menolong Fadil, tapi aku ingin Fadil tahu kesalahan nya Bun, agar dia tidak melakukan kesalahan yang sama. Bunda juga tidak perlu khawatir, karena para polisi itu tidak akan menyakiti nya. Percaya sama Fazar Bun, kalau Fadil akan baik-baik saja."
" Bunda percaya, hanya saja bunda takut kalau Fadil..."
" Ngga usah di pikirkan Bun." Potong Fazar, langsung memeluk bundanya itu." Sebaiknya bunda istirahat dulu."
Dengan pasrah, bunda Sisi mengikuti permintaan Fazar. Untuk tidak kepikiran lagi, karena bunda Sisi tahu, kalau Fazar tidak akan diam kalau sudah menyangkut pautkan tentang adiknya.
__ADS_1
...------------------...
Maaf author baru sempet update, soalnya author lagi nggak enak badan.