
Fazar, menuntun istrinya, mengarahkannya untuk duduk di sisi kasur, dengan perlahan-lahan. Sedangkan ia langsung duduk bersimpuh berhadapan dengan istrinya itu. Fazar memegang kedua tangan istrinya, lalu menciumnya secara bergantian." Terimakasih, Terimakasih sayang." Kata itu yang selalu Fazar ulang, tanpa rasa bosan sama sekali, karena hatinya begitu bahagia sangat setelah mendapatkan kabar bahagia ini.
Wiyah tersenyum, mendengar kata terimakasih yang Fazar ucapakan." Barakallah fii umrik suamiku, yang kedua puluh sembilan tahun. Semoga di usia kakak yang semakin bertambah dewasa ini, kakak semakin menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab untuk menjaga ku dan anak kita nanti. Menjadi kepala keluarga yang selalu membimbing keluarganya di jalan Allah." Ucap Wiyah sambil menengkup wajah Fazar dengan lembut." Aku tidak akan berhenti untuk selalu mencintai dan menyayangi kakak Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada keluarga kecil kita. Maaf aku tidak bisa memberikan hadiah untuk kakak selain kabar bahagia ini. Maaf karena aku mengucapkan nya terlalu cepat, padahal ulang tahun kakak besok." Ucap Wiyah menatap suaminya dengan lekat-lekat. Wajah suaminya juga terlihat sangat menggemaskan saat sedang menangis seperti tadi, bahkan mata masih saja berkaca-kaca.
" Terimakasih istriku, ini adalah hadiah yang sangat luar biasa dalam hidupku. Hadiah paling membahagiakan di usiaku ini," Sahut Fazar yang tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya seperti apa sekarang. Saking bahagianya sampai membuatnya tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya dengan kata-kata lagi, yang membuat mata Fazar kembali menangis.
Apakah dia terlalu cengeng, sampai menangis hanya karena kehamilan istrinya.
Wiyah yang melihat kedua mata Fazar yang kembali menangis, menangis bukan karena sedih melaikan menangis karena bahagia. Membuat Wiyah mendekatkan wajahnya untuk lebih dekat dengan wajah Fazar, lalu mencium kedua mata suaminya itu. Bukan hanya mata melainkan hidung, kening dan juga ***** nya secara bergantian.
" Terimakasih suamiku, karena sudah mencintaiku. love you suamiku." Ucap Wiyah menatap Fazar dengan dalam
" i love you too istriku." Fazar tersenyum lalu kembali mencium kedua tangan istrinya itu. Sampai pandangannya tertuju, pada perut sang istri yang masih datar.
" Apakah aku boleh menyentuh nya." Tanya Fazar yang mendapatkan anggukan dari Wiyah.
" Tentu kak, kakak boleh menyentuh nya." Jawab Wiyah tersenyum.
Fazar mendekatkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Wiyah, mendekatkan wajahnya di perut datar sang istri.
" Selamat datang sayang, semoga kamu tetap sehat di perut ummi sampai waktu kelahiranmu tiba, untuk bisa melihat indahnya dunia ini dan bertemu Ummi, abi paman, nenek dan kakek." Ucap Fazar yang seperti mengajak janin dalam rahim istrinya untuk berbicara." Abi begitu sangat bahagia dengan kehadiran mu disini, yang artinya abi harus lebih banyak meluangkan waktu untuk bersama kalian, agar abi bisa memberikan banyak kasih sayang lebih dan juga menjaga kalian. Sehat-sehat selalu nak, sampai waktunya kita untuk bertemu nanti." Fazar mencium perut istrinya dengan lembut sambil melantunkan beberapa doa.
Sedangkan Wiyah yang mendengar ucapan Fazar ikut merasa terharu. Begitu sangat menginginkan anak suaminya itu, sampai membuatnya sebahagia ini.
Fazar berdiri dari bersimpuh nya lalu duduk di sebelah Wiyah, sedangkan tangan kekarnya melingkar di pinggang Wiyah.
" Besok kita kerumah sakit untuk mengecek kandungan mu dan juga kesehatan mu sayang, yang beberapa hari ini sering sekali muntah-muntah disaat pagi hari. Apakah ini karena kehamilan mu atau ada hal yang lain." Ucap Fazar.
" Terserah kakak aja yang mana baiknya, kalau aku ikut saja " Jawab Wiyah.
" Apakah sayang sudah mengabari bunda soal kehamilan sayang." Tanya Fazar membuat Wiyah menggeleng.
" Belum kak. Soalnya aku berencana untuk memberitahukan ke kakak terlebih dulu, setelah itu bunda." Jawab Wiyah.
" Kalau gitu, kita kabari bunda sekarang. Pasti bunda senang benget saat mendengar kabar bahagia ini. Apalagi bunda yang begitu sangat menginginkan cucu untuk hadir di tengah-tengah keluarga kita." Ucap Fazar antusias.
" Iya kak, pasti bunda begitu sangat bahagia mendengar kabar bahagia ini. Apalagi bunda yang begitu sangat menantikan kabar bahagia ini.
.
.
Sedangkan di rumah utama.
__ADS_1
Fadil, Fazri, Abizard, bunda Sisi dan tuan Aslan sedang duduk di ruangan keluarga sambil mengobrol, tentang pengalaman mereka dulu. Sampai Indra pendengaran mereka, mendengar suara ponsel Fadil yang berdering.
Fadil yang mendengar ponselnya berdering, segera mengangkatnya saat melihat kalau yang menelponnya itu adalah Fazar.
" Halo assalamualaikum bang." Salam Fadil." Tumben Abang telfon sore-sore kayak gini, emangnya ada apa." Tanya Fadil.
" Waalaikumsalam Dil. Ada urusan makannya abang telfon." Jawab Fazar." Ada bunda di rumah, soalnya tadi abang telfon ponselnya ngga di angkat." Tanya Fazar.
" Ada bang, mungkin ponsel bunda ketinggalan di kamar. Soalnya kami lagi ngumpul di ruangan keluarga sama paman dan Abizard." Jawab. Fadil." Emangnya kenapa bang."
" Abang cuman mau kasih kabar buat bunda, Tolong kasih bunda, biar Abang bicara." Suruh Fazar.
" Emangnya kabar apa sih bang sampai ngomongnya harus sama bunda kenapa ngga sama aku aja, nanti biar aku sampaikan."
" Pokoknya ada, dan abang maunya ngomong sama bunda. Cepat kasih ke bunda." Suruh Fazar kembali.
" Oke bang." Jawab Fadil. Walaupun penasaran dengan apa yang ingin Fazar bicarakan dengan bundanya, tapi mendengar suara Fazar yang serak seperti orang yang baru saja selesai menangis, membuat pikiran Fadil langsung berpikir negatif." Apa ada sangkut pautnya dengan Harum." Batin Fadil, yang sudah tahu kalau Fazar mencari keberadaan Harum, karena permintaan istrinya. Sama halnya seperti dirinya yang mencari keberadaan Harum, Karena Fadil ingin menepati janjinya dulu kepada Wiyah, kalau dia akan mencari keberadaan Harum.
Kita lanjut lagi.
" Assalamualaikum Zar. ada apa. Apa Kalian baik-baik saja kan disana." Tanya bunda Sisi khawatir, saat mendengar kalau Fazar ingin berbicara dengannya, bunda Sisi hanya takut terjadi sesuatu kepada Wiyah dan juga putra nya itu.
" Waalaikumsalam bunda, Alhamdulillah semuanya baik-baik saja." Jawab Fazar." Tapi Fazar ingin memberikan kabar bahagia untuk bunda." Ucap Fazar kembali, membuat bunda Sisi mengerutkan keningnya bingung.
" Alhamdulillah bunda, istriku hamil." Jawab Fazar. Membuat bunda Sisi langsung membulatkan matanya tidak percaya dengan pendengarannya itu.
" Hamil." Tanya bunda Sisi. Membuat Fadil, tuan Aslan, Abizard dan Fazri melihat kearah bunda Sisi saat bunda Sisi tadi mengatakan hamil.
" Iya bun, istriku mengandung." Jawab Fazar.
" Alhamdulillah, akhirnya bunda mau menjadi seorang nenek. Karena menantu kesayangan bunda hamil." Pekik bunda Sisi senang." Bunda langsung kesana." Bunda Sisi langsung menutup panggilan telepon nya sebelum mendengar jawaban dari Fazar.
" Wiyah hamil bun." Tanya Fadil.
" Iya Dil Wiyah hamil." Jawab bunda Sisi sambil tersenyum.
" Alhamdulillah, akhirnya kami mau menjadi om." Ucap Fadil yang tidak kalah bahagianya.
" Alhamdulillah, akhirnya permintaan ku telah di kabulkan." Sambung Fazri yang sama bahagianya, karena doa nya untuk memiliki adik bayi akhirnya terkabul.
Sedangkan Abizard dan tuan Aslan sama-sama bahagia mendengar kabar bahagia yang di sampaikan oleh Fazar. Kalau keluarga mereka akan bertambah.
" Alhamdulillah, Al. Kamu akan menjadi kakek, karena sebentar lagi anak pertama mu akan memiliki anak.". Batin tuan Aslan.
__ADS_1
" Kalau gitu, kita langsung kerumah abang bunda." Ucap Fazri yang begitu sangat antusias, Membuat bunda Sisi langsung mengangguk mengiyakan.
" Baiklah, ayo. Bunda sudah nggak sabar pengen ketemu sama menantu bunda." Jawab bunda Sisi.
Kini keluarga itu melangkah keluar untuk pergi kerumah Fazar.
Belum Fadil masuk kedalam mobil, Fadil melihat notifikasi dalam ponselnya.
" Maaf bun, kalian duluan aja nanti aku nyusul, soalnya aku ada urusan sebentar." Ucap Fadil.
" Mau kemana Dil." Tanya bunda Sisi.
" Ada urusan yang harus Fadil selesaikan bun, nanti kalau sudah selesai Fadil langsung kerumah Abang." Jelas Fadil.
" Baiklah, hati-hati Dil. nanti kalau sudah selesai urusannya langsung kerumah Fazar." Ucap bunda Sisi yang tidak mau bertanya lagi, karena tahu pasti itu urusan pribadi sang putra.
" Siap bun, laksanakan." Jawab Fadil mengangkat tangannya seperti orang yang sedang hormat.
Setelah mendengar jawaban dari putranya, mobil yang dinaiki oleh keluarga bunda Sisi keluar dari rumah utama untuk pergi kerumah Fazar.
Setelah melihat kepergian bunda Sisi. Fadil melangkah mengabil mobilnya. Kali ini dia akan berkendara sendiri, tanpa bantuan Fiki. Karena Fiki sudah menunggunya di tempat dimana mendapatkan pesan dari Fiki barusan.
" Dasar, laki-laki brengsek. Tunggu pelajaran yang nanti kamu dapatkan." Batin Fadil menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa takut kalau itu jalan raya yang memiliki kendaraan lain selain mobilnya.
.
.
Sesampainya di depan rumah Fazar. Bunda Sisi dan yang lainnya segera turun dari mobil, sambil membawa paper Bang di tangan mereka. Karena bunda Sisi dan yang lain singgah di mall sebentar untuk membeli sesuatu.
Bunda Sisi membeli kue yang rasanya manis, tuan membeli buah. Abizard membeli camilan khusus untuk ibu hamil. Sedangkan Fazri membeli sayur-sayuran.
Entah kenapa keluarga itu begitu sangat kompak, malam ini Saat mengetahui kalau Wiyah sedang mengandung, yang membuat mereka menghabiskan waktu satu jam di mall hanya untuk membeli apa yang mereka cari.
Bunda bunda Sisi menekan tombol yang berada samping pintu. Tidak membutuhkan waktu lama pintu terbuka, yang menampilkan wanita baru baya.
" Assalamualaikum." Salam bunda Sisi sopan
Sambil tersenyum manis melihat wanita didepannya.
" Waalaikumsalam nyonya. Selamat datang." Ucap Bu Neneng sopan saat melihat kehadiran nyonya nya disitu.
" Mari masuk nyonya, tuan dan tuan muda." Ucap bu Neneng mempersilakan bunda Sisi dan yang lainnya untuk masuk kedalam
__ADS_1