Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 140


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Tidak terasa, malam yang tadinya gelap kini berganti pagi. Orang-orang yang tadi masih di tempat tidur, kini kembali lagi ke aktivitas mereka di pagi hari seperti biasanya.


Sama halnya dengan Fadil yang sudah rapi, dengan kemeja lengan panjang berwarna biru langit yang di gulung sampai di bawah siku dan celana panjang berwarna hitam. Tidak lupa topi hitam sudah terpasang di kepalanya.


Kini pria itu terlihat begitu sangat tampan dengan penampilan nya sekarang, walaupun tubuhnya belum sesempurna dulu. Tapi ketampanannya masih tetap terjaga dan tidak hilang.


.


.


Fadil yang ingin menikmati sarapan paginya, harus tidak jadi, karena dia merasa sepi jika sarapan hanya sendirian.


Karena biasanya kalau di rumah utama Fadil akan sarapan bersama dengan sang bunda dan juga adiknya Fazri.


" Bibi, aku akan sarapan luar, jadi bibi tidak usah buat sarapan pagi ini." Ucap Fadil yang sudah berada di ruangan makan, kebetulan juga tadi ia bertemu dengan pelayan di rumah nya.


" Baik tuan." Jawab pelayan itu, mengangguk mengerti.


Setelah memberitahukan kalau ia tidak akan sarapan pagi di rumah utama, Fadil melangkah keluar, untuk kerumah abangnya. Mungkin dia akan sarapan disana, karena di rumah Fazar, ia tidak akan sarapan sendirian, melaikan bersama dengan kedua saudaranya yang di tambah dengan kakak iparnya disana.


Walaupun nantinya dia akan Mendapatkan amukan dari Fazar, karena berani pergi tanpa mengabari nya. Mengingat kondisinya yang belum sepenuhnya pulih.


Tapi Fadil tidak akan mempermasalahkan itu, karena tahu kalau Fazar tidak akan marah terlalu lama kepadanya.


Sesampainya didepan, Fadil sudah di tunggu oleh Fiki yang dari tadi duduk didalam mobil sambil menunggu nya.


" Kita kerumahnya abang." Suruh Fadil saat ia sudah duduk di dalam mobil, tepatnya di samping Fiki.


" Baik tuan." Jawab Fiki sambil menghidupkan mobil nya, setelah itu iapun menjalankan ketempat yang Fadil sebutkan barusan.


.


.


Fadil sengaja lewat di jalan yang sama dimana ia dan Wiyah bertemu waktu itu. Fadil sengaja lewat disitu karena ia ingin mengenang pertemuan pertama mereka.


" Aku ngga nyangka Wiyah, kalau pertemuan kita waktu itu, telah mengubah mu menjadi kakak iparku. Walaupun kamu tidak bisa menjadi milikku tapi aku bersyukur karena kamu tetap menjadi milik abangku, bahkan kamu juga sudah merubahnya menjadi Fazar yang dulu. Terimakasih, karena kamu menjadi wanita pertama yang membuat aku jatuh cinta." Batin Fadil. Fadil sengaja menghentikan mobilnya, ditempat dimana ia dipertemukan oleh Wiyah.


Karena Fadil sudah sepenuhnya ikhlas, hanya saja ia belum bisa melupakan kenangan nya bersama dengan Wiyah.

__ADS_1


Mengingat pertemuan itu membuat Fadil tersenyum, karena pertemuan pertama mereka itu terlalu lucu untuk di ingat.


Setelah beberapa menit berdiam diri di tempat yang sama, Fadil menyuruh Fiki untuk melanjutkan kendaraannya untuk pergi di rumah Abang nya yang tidak terlalu jauh dari situ.


Saat Fadil sedang menikmati pemandangan diluar, pandangannya tertuju pada seseorang yang dia kenal disisi jalan.


" Fiki berhenti." Ucap Fadil, membuat Fiki langsung menghentikan mobilnya secara tiba-tiba, karena Fadil menyuruhnya berhenti secara dadakan. Untung saja pagi ini tidak terlalu ramai, jadi nya tidak ada mobil yang ikut terkejut kerena Fiki menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.


" Ada apa tuan." Tanya Fiki menoleh kearah Fadil.


" Pinggirkan dulu mobil mu, takutnya nanti ada orang yang marah, karena mobil mu berhati di tengah-tengah jalan" Ucap Fadil, membuat Fiki mengangguk mengerti.


Fiki menepikan mobilnya di samping jalan, lalu kembali menatap kearah Fadil.


" Aku mau keluar sebentar. Soalnya tadi aku lihat kalau ada orang yang aku kenal di ujung jalan sana." Jawab Fadil." Jadi kamu tunggu disini, nanti aku kembali lagi." Ucap Fadil kembali. Setelah itu ia turun, tanpa mendengar jawaban dari Fiki yang hanya diam sambil melihatnya yang sudah keluar dari mobil.


Sebenarnya Fiki ingin bertanya, Tapi melihat kepergian tuanya itu, membuatnya mengurungkan niatnya.


Fadil sedikit berjalan, untuk melihat kalau yang dia lihat tadi itu adalah gadis yang sama seperti semalam. Gadis yang sudah menolak permintaannya untuk pulang bersama dengannya. Siapa lagi kalau bukan Fina.


" Apakah Motor mu rusak." Tanya Fadil saat melihat kalau gadis itu ternyata benar-benar Fina yang kini sedang bingung dengan motor nya.


Mengingat jalan itu tidak terlalu ramai, jadi tidak ada orang yang akan menolongnya, sedangkan bengkel terlalu jauh dari tempat itu.


" Kak Fadil." Lirih Fina, saat melihat kalau orang yang bertanya itu adalah Fadil." Kak Fadil ngapain disini." Tanya Fina, karena tidak ada pertanyaan lain selain pertanyaan itu yang keluar dari kepalanya.


" Aku lewat sini tadi, karena mau kerumah abangku. Tapi aku ngga sengaja lihat orang yang sama seperti mu, makanya aku turun, Untuk memastikan kalau itu kamu atau bukan." Jelas Fadil membuat Fina mengangguk mengerti." Emangnya kenapa dengan motor mu." Tanya Fadil sambil melihat kearah motor Fina.


" Motorku mogok kak." Jawab Fina." Padahal aku buruh-buruh mau ke kampus kak, soalnya ada kegiatan pagi ini. Tapi motor nya ngga mendukung, baru itu bengkelnya masih jauh benget lagi. Sedangkan taksi juga belum ada yang lewat, Padahal biasanya kalau hari-hari lainnya banyak yang lewat." Keluh Fina, dengan wajah kusutnya karena pusing dengan nasibnya sekarang.


Fadil yang mendengar keluhan dari Fina hanya tersenyum.


" Bagiamana, kalau aku saja yang mengantarmu." Tanya Fadil membuat Fina tampak berpikir.


" Boleh kak, soalnya aku juga hampir mau telat." Jawab Fina mengiyakan bantuan dari Fadil, karena tidak ada cara lain selain menerima bantuan dari Fadil sekarang.


Mendengar jawaban dari Fina membuat Fadil tersenyum kecil." Akhirnya, gadis ini mau juga menerima tawaran ku." Batin Fazar tersenyum senang dalam hatinya sambil menatap kearah Fina." Nanti motor mu, biar orang suruhan ku yang bawah." Ucap Fadil.


" Emangnya ngga apa-apa kak, takutnya merepotkan kak Fadil." Ucap Fina merasa tidak enak.


" Iya ngga apa-apa Fin, nggak merepotkan koh." Jawab Fadil.

__ADS_1


" Terimakasih kak Fadil." Ucap Fina tulus.


" Iya sama-sam. Kalau gitu cepat, nanti kamu keburu telat beneran." Ucap Fadil mengingatkan membuat Fina kembali mengangguk mengiyakan.


Fina dan Fadil menuju ke mobilnya yang masih terparkir disana.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Sedangkan disisi lain.


Seorang pria yang masih tertidur dengan pulas, harus terusik, saat mendengar suara seseorang dari kamar mandi.


Fazar yang mendengar suara itu langsung membuka matanya lebar-lebar dan bisa merasakan kalau disebelah nya sudah tidak ada orang.


Fazar yang merasakan kalau Wiyah tidak ada di sampingnya, langsung bangun dari tidurnya. Dengan cepat ia pergi ke kamar mandi untuk memeriksa kalau istrinya baik-baik saja, karena mendengar suara kalau ada orang yang sedang muntah didalam kamar mandi. Sedangkan di kamar itu hanya ada dirinya dan juga sang istri.


Fazar yang melihat kalau istrinya sedang berdiri di wastafel, sambil memuntahkan isi perutnya. Membuatnya langsung melangkah mendekati istrinya itu dengan perasaan khawatir saat melihat istrinya yang sedang memuntahkan isi perutnya.


" Sayang ngga apa-apa." Tanya Fazar saat sudah berdiri di samping istrinya itu yang masih memuntahkan isi perutnya.


Sedangkan Wiyah tidak menjawab pertanyaan suaminya, karena dia begitu sangat lemas untuk menjawab pertanyaan suaminya itu.


Wiyah kembali memuntahkan isi perutnya, tapi yang keluar hanya cairan hening. Tubuhnya juga langsung lemes seketika setelah memuntahkan isi perutnya untuk kesekian kalinya. Untung saja ada Fazar yang menahan tubuhnya itu agar tidak jatuh.


Sedangkan Fazar membantu mengusap tengkuk istrinya itu agar ia bisa mengurangi sedikit rasa mual nya.


" Sudah sayang." Tanya Fazar lembut sambil mengusap kening dan rambut istrinya itu, sedangkan Wiyah hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Fazar. Karena tubuhnya begitu sangat lemas membuat ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari suaminya itu.


Mendengar jawaban dari Wiyah, membuat Fazar langsung membantu membersihkan mulut Wiyah dan mencuci wajahnya agar lebih segar. Setelah itu Fazar menggulung rambut panjang istrinya itu yang masih terurai.


Karena Fazar tahu kalau tubuh istrinya itu masih lemas untuk berjalan, Fazar langsung menggendong tubuh Wiyah ala bridal style. Membawanya keluar dari kamar mandi, menuju ranjang.


Fazar langsung menaruh tubuh Wiyah di atas kasur, sedangkan ia duduk di sisi kasur sambil memijat lembut kepala istrinya dengan aroma terapi.


" Kepalanya pusing sayang." Tanya Fazar khawatir, sambil menatap kearah Wiyah yang hanya memejamkan matanya.


" Iya kak, kepalaku terasa pusing. Perutku juga terasa begitu sangat mual." Jawab Wiyah, membuat Fazar semakin khawatir.


" Kalau gitu, kita pulang hari ini. Biar kakak antar kerumah sakit, untuk mengecek kondisi sayang, kalau sayang baik-baik saja." Ucap Fazar begitu sangat khawatir.


Wiyah membuka matanya, untuk menatap suaminya itu." Ngga usah kak, Aku baik-baik saja. Mungkin aku hanya masuk angin karena kelamaan di luar, makanya sampai muntah-muntah seperti tadi." Jawab Wiyah dengan suara lirihnya. Wiyah merasa tidak enak, mengganggu kebahagiaan suaminya itu, yang sedang bahagia menikmati waktu mereka berdua.

__ADS_1


" Tapi sayang, kamu muntah-muntah terus dari tadi subuh." Jawab Fazar lembut dengan wajahnya khawatir nya. Karena tadi subuh, saat mereka baru bangun untuk melaksanakan sholat subuh, Wiyah muntah seperti tadi. Makanya Fazar begitu sangat khawatir dengan kondisi Wiyah, apalagi wajah istrinya itu terlihat pucat.


...----------------...


__ADS_2