
Fazar dan juga keluarga lainnya, langsung terkejut saat mendengar nama Amira Jia Berend Lian. Bukankah wanita yang tadi bersama dengan tuan Aron adalah Amira Jia Berend Lian, Tapi kenapa hakim menyatakan kalau Nadila ernesta Berend Lian dan juga tuan Aron telah membunuh Amira Jia Berend Lian. Sebenarnya, siapa Nadila dan Amira itu. Apakah mereka orang yang sama atau berbeda.
Sedangkan Fadil tidak terkejut sama sekali, karena Fadil sudah mengetahui, siapa Amira dan Nadila, itu sudah sangat lama.
Sedangkan tuan Aron tidak menyangka kalau kasus pembunuhan satu tahun yang lalu. Ternyata Fazar sudah mengetahuinya. Dan sekarang Fazar lah yang menuntutnya.
🌺🌺🌺🌺🌺
Sedangkan Nadila. Kini dia telah sampai didepan rumahnya yang berada di kota S, setelah berhasil keluar dari kantor pengadilan. Karena Nadila tau, kalau dirinya pasti akan terlibat dalam kasus ini.
Wanita itu, melangkah dengan terburu-buru masuk kedalam rumahnya. Sesampainya di ruangan tamu, Nadila langsung mendudukkan tubuhnya di sofa panjang yang berada di ruangan itu.
Nadila menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, tidak lupa matanya juga terpejam. Karena sekarang dia sedang memikirkan sesuatu. Entah apa yang sekarang dia sedang pikirkan.
Sampai suara ponsel, yang menyadarkannya dari keterdiamnya. Nadila mengambil ponselnya, lalu mengangkatnya." Katakan, apa yang sudah terjadi dipersidangan." Tanya Nadila, karena dia sudah tau kalau orang yang menelponnya itu adalah orang suruhannya, yang sengaja Nadila suruh untuk mengawasi persidangan, selama berlangsung.
" Tuan Aron dan tuan Aldrich, dinyatakan bersalah nyonya. Karena semua kasus kejahatan nya sudah dibongkar oleh tuan Fazar, bahkan semua bukti yang pernah nyonya dan tuan Aron hilangkan, telah berhasil tuan Fazar dapatkan, dan sekarang dia menjadi penuntut dari semua kasus ini nyonya."
" Tuan Fazar juga berhasil membongkar usaha gelap dari nyonya dalam prostitusi penjualan anak dan juga obat terlarang. Bahkan tuan Fazar sudah mengetahui, siapa nona Amira sebenarnya nyonya. Tuan Fazar juga telah menuntut tuan Aron dan nyonya, atas pembunuhan nona Amira satu tahun yang lalu. Tuan Fazar berhasil mengumpulkan semua bukti kejatahan, nyonya, dan juga tuan Aron." Nadila mengepalkan tangannya, saat mendengar laporan dari anak buahnya.
Nadila tidak menyangka, mantan calon adik iparnya itu telah mengetahui siapa Amira sebenarnya, padahal ia sudah menyembunyikan identitas Amira semenjak empat tahun yang lalu, Dimana Fazar membatalkan pertunangannya dengan adik kembarnya Amira, karena kesalahan pahaman yang tidak di sengaja ia buat.
" Nyonya, sekarang pihak berwajib sedang mencari nyonya, karena pergi dari pengadilan. Apalagi begitu yang cukup untuk menangkap nyonya."
Mendengar ucapan dari anak buahnya itu, membuat Nadila langsung melemparkan ponselnya kelantai dengan begitu sangat kuat, membuat ponsel itu seketika langsung rusak menjadi beberapa bagian." Brengsek kamu Fazar." Ucap Nadila dengan mata yang sudah memerah karena emosinya sudah sampai ke ubun-ubun.
Nadila berdiri dari duduknya, melangkah kearah lantai atas untuk pergi ke kamarnya. Karena sekarang dia tidak bisa mengendalikan emosinya.
" Brengsek kamu Fazar, berani sekali kamu denganku. Apa kamu tidak tau siapa aku." Teriak Nadila, membuat ruangan itu penuh dengan suara Nadila saat dia sedang marah.
Bakkk.
Sangking marahnya, membuat Nadila membanting semua barang yang berada di ruangan itu. Bahkan kaca yang tidak bersalah pun ikut dia pecahkan untuk meluapkan emosinya.
Ya, Nadila memiliki emosi yang susah dia kendalikan, sampai membuatnya membanting bahkan merusak barang disekitarnya jika dia sedang marah seperti sekarang.
Karena tidak puas, Nadila memanggil pelayan rumah itu untuk memanggil babu kecilnya, karena babu kecilnya itu akan menjadi tempat luapan emosinya.
Sedangkan Harum yang sedang bersih-bersih seperti biasanya, harus dibuat terkejut saat pelayan tadi memanggilnya untuk pergi kekamar Nadila.
Harum tau, kalau dia akan menjadi alat untuk meluapkan emosi dari nyonya itu.
__ADS_1
" Ya Allah lindungilah Harum, dari nyonya Nadila yang sedang marah." Batin gadis kecil itu ketakutan.
Ya, Harum mengetahui kalau Nadila sedang marah besar. Karena saat Nadila sedang mengamuk di ruangan tamu. Harum yang memang berada disana, sengaja menyembunyikan dirinya dari Nadila, agar ia tidak menjadi pelampiasan emosi.
Tapi sepertinya rencananya tidak sesuai dengan pikirannya, karena Nadila tetap saja mencarinya.
Harum melangkah dengan perasaan takut, pergi kekamar Nadila. sampainya didepan pintu kamar Nadila. Harum membuka pintu itu dengan perlahan-lahan.
Dengan perasaan yang begitu sangat takut, Harum melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam. Entah apa yang akan terjadi nantinya.
Harum menundukkan kepalanya, dengan takut, saat melihat kamar itu yang terlihat begitu sangat berantakan, mungkin menyerupai kapal pecah. Padahal tadi siang ia sudah membersihkan kamar itu sampai bersih.
" Apa nyonya mencari saya." Tanya Harum dengan terbata-bata sangking takutnya.
Nadila menatap gadis kecil didepannya, yang sekarang sedang menundukkan kepala karena takut.
Nadila yang menatap gadis itu. Tiba-tiba saja dia teringat dengan ayah dan juga ibu dari gadis itu. Mengingat wajah keduanya, membuat amarah Nadila tiba-tiba semakin menjadi. Karena ia begitu sangat membenci Ardian, mantan kekasihnya dulu.
Dengan perasaan emosi, Nadila melangkah mendekati Harum. Lalu menarik rambut itu dengan sangat kuat, membuat kepala gadis kecil itu langsung terangkat menatap kearah Nadila.
Sedangkan Harum hanya menahan air matanya, saat Nadila menarik rambutnya dengan begitu sangat kasar. Rasanya ia ingin menangis sambil berteriak. Tapi ia tidak bisa melakukan itu, karena takut. Harum hanya menahan tangisnya di balik rasa sakitnya.
Setelah puas menarik rambut Harum. Nadila menghempaskan tubuh kecil itu ke lantai, lalu mengambil sesuatu dari bawah ranjangnya.
Nadila mengambil sebuah cambuk yang berukuran kecil, karena ia akan mencambuk gadis kecil itu.
Harum yang melihat cambuk itu, semakin ketakutan." Ampuni saya nyonya, saya janji tidak akan melakukan kesalahan lagi, tolong jangan cambuk saya." Tangis itu langsung pecah, karena rasa takutnya.
Nadila tidak memperdulikan tangisan itu, ia langsung mencambuk tubuh kecil itu dengan sangat kuat. apalagi mengingat wajah Ardian yang tiba-tiba saja hadir di kepalanya.
Nadila mengabaikan tangisan dari gadis kecil itu, Karena tubuh kecil itu sudah menjadi pelampiasan emosinya. Apalagi Nadila teringat rencana untuk menghancurkan Fazar gagal, di tambah dia teringat wajah Ardian, membuat emosinya semakin menjadi-jadi.
Kedua pria itu, begitu sangat dia benci untuk seumur hidupnya, karena menjadi penghalang untuknya.
" Aku membencimu Ardian, Fazar." Ucap Nadila disela-sela dia mencambuk tubuh gadis kecil itu.
Di luar kamar, pelayan itu merasa begitu sangat sedih saat tubuh kecil itu menjadi pelampiasan emosi dari Nadila, apalagi suara kecil itu seakan menghilang. Rasanya, pelayan itu ingin menyelamatkan Harum dari amukan Nadila. Tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa, karena dia tidak memiliki keberanian.
" Ya Tuhan, selamatkanlah Harum dari siksaan nyonya Nadila." Batin pelayanan itu.
🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
Fazar bersama dengan keluarganya, melangkah dengan tersenyum bahagia, karena Fadil tidak jadi dinyatakan bersalah. Bahkan hukum untuknya selama tiga bulan di cabut, karena Fadil tidak jadi dinyatakan bersalah, karena dalam kasus ini yang bersalah adalah tuan Aron dan juga Aldrich.
Sedangkan Fadil, pria itu begitu sangat bahagia. Sampai-sampai dia ingin berteriak sangking bahagianya.
" Alhamdulillah, terimakasih ya Allah. Engkau telah mengirimkan keluarga yang baik untukku, yang selalu bersamaku selama ini." Batin Fadil menatap keluarganya itu. Sampai pandangannya tertuju kepada gadis yang ikut peran menjadi penyemangat untuknya, bahkan menghilangkan nama baiknya untuk menjadi saksi untuknya di persidangan ini.
Fadil melangkah mendekati Fina lalu memeluk tubuh itu dengan begitu sangat erat. Entah apa yang akan orang-orang pikirkan saat melihatnya memeluk Fina.
" Terimakasih dan maaf. Terimakasih karena kamu selalu bersamaku, bahkan sudah menjadi saksi untukku, dan maaf karena aku. Kejadian waktu itu, membuat orang-orang mengetahuinya, bahkan sekarang mereka akan menjelekkan namamu karena ku." Bisik Fadil yang masih memeluk tubuh Fina.
" Untuk apa kakak berterimakasih, karena aku kak Fadil masuk kedalam penjarah." Jawab Fina.
" Tapi aku sudah merusak nama baikmu."
" Lebih baik, kehilangan nama baik untuk mengatakan sebenarnya. Dari pada utuh dengan nama baik, tapi menjatuhkan orang yang sudah menjaga nama baikmu. Lebih baik orang lain menatapku rendah, daripada penyelamatku di nyatakan bersalah. Padahal nyatanya dia yang menjaga nama baikku." Jawab Fina." Apalagi orang yang begitu sangat aku cintai, harus mendekap dalam penjarah. Karena kesalahan yang tidak di sengaja." Gumam Fina dalam batinnya, karena ia tidak mungkin mengatakan itu kepada Fadil.
Sedangkan Fadil yang mendengar kata-kata Fina, merasa terharu. Ternyata gadis yang dia peluk ini memiliki pemikiran yang sangat bijaksana." Terimakasih." Ucap Fadil." Aku mencintaimu Fina." Gumam Fadil didalam batinnya, karena mana mungkin ia mengatakan itu kepada Fina, sedangkan ini belum waktu yang tepat.
Kedua pasangan yang saling mencintai itu. Tapi mereka belum berani menyatakan perasaan mereka masing-masing, hanya bisa bergumam dalam hati mereka, kalau mereka saling mencintai.
Bunda Sisi, Abidzar dan tuan Aslan hanya bisa mengulum senyumnya menyaksikan tingkah Fadil yang masih memeluk tubuh Fina yang belum dia lepaskan.
Sama halnya seperti Fazar, Fiki dan Rido ikut tersenyum saat melihat kelakuan Fadil, mereka tau kalau Fadil menyukai Fina, hanya saja dia belum berani mengatakannya langsung.
" Khemm." Fazar sengaja berbatik, untuk menyadarkan keduanya, yang masih hanyut dalam pelukan mereka.
Sedangkan Fadil langsung melepaskan pelukannya, saat menyadari kalau ia bukan sendiri, tapi ia masih memiliki keluarga. Apalagi Fazar sudah memberikannya istirahat dengan cara berbentuk seperti tadi.
" Ingat bukan Mahram, jangan pelukan." Ucap Fazar sengaja menyindir keduanya, agar adiknya itu sadar.
" Awas, nanti dinikahkan masal oleh orang-orang." Sambung Rido sambil terkekeh, yang membuat Fadil dan Fina begitu sangat malu.
Orang-orang yang berada disitu hanya bisa tertawa saat melihat wajah malu dari keduanya.
" Ya Allah, terimakasih telah memberikan keluarga seperti keluargaku. Yang selalu bersama walupun banyak cobaan yang selalu menerpa kami untuk berpecah belah." Batin Fazar.
...----------------...
Maaf author sibuk, makanya baru update.
Doain author, biar urusan author cepat selesai.
__ADS_1