
Kesabaranku membawa cinta.
" Allah, sudah menuliskan takdir kita, sebelum bumi dan langit diciptakan. Jadi untuk apa kita menentang kehendak-nya, jika semuanya sudah tertulis dalam takdir" Muhammad Fadil Al Fazar.
" Setiap manusia, pasti akan mengalami perpisahan. Antara hidup dan juga kematian. Jadi untuk apa kalian takut dengan kata perpisahan." Fina Febby Falisha.
.
.
" Halo assalamualaikum."
" Apa benar ini dari keluarga tuan Muhammad Fadil Al Fazar, dan nyonya Fina Febby Falisha?" Tanya seseorang disembarang sana. Terdengar, kalau suara orang yang menelpon Fazar adalah seorang bapak-bapak, karena suara khas nya.
" Iya benar, ini dengan saya abangnya sendiri. Maaf, pak ini dengan siapa dan ada apa ya?" Tanya Fazar bingung. Karena tiba-tiba saja nomornya di telfon oleh orang yang tidak dia kenal. Bahkan menayangkan keluarganya.
" Begini tuan. Saya dari pihak kepolisian ingin memberitahukan kepada kelurga korban. Kalau tuan Fadil dan nyonya Fina, baru saja mengalami kecelakaan hebat di jalan, xx. Dan sekarang tuan Fadil dan nyonya Fina, sudah di berada kerumah sakit." Jawab orang diseberang sana yang ternyata adalah seorang polisi.
" Innalillahi wa inna ilaihi rojiun...." Bunda Sisi dan Wiyah melihat kearah Fazar, saat mendengar ucapan Fazar barusan." Bagaimana kondisi mereka sekarang?" Kini wajah Fazar berubah menjadi khawatir saat mendengar ucapan orang diseberang sana.
" Untuk keadaannya, sebaiknya tuan pastikan di rumah sakit."
" Ada apa Zar?" Tanya bunda Sisi penasaran menatap putranya itu dengan tatapan penuh dengan pertanyaan. Sedangkan Fazar menatap bunda Sisi, dengan wajah memerah menahan tangisnya, yang sebentar lagi akan pecah, saat mendengar kabar ini. Sungguh ini seperti mimpi untuk Fazar. Karena setengah jam yang lalu, mereka masih bersama. Tapi tiba-tiba saja dia mendengar kalau adik dan iparnya mengalami kecelakaan.
" Ada apa Zar? Jangan bikin bunda khawatir!" Kini bunda Sisi merasa cemas, saat melihat wajah putranya itu yang memerah. Apalagi tidak ada jawaban dari Fazar.
" Bu_nda. Fadil__" Fazar tidak bisa melanjutkan ucapannya, malahan kini matanya berkaca-kaca karena akan menangis.
" Ada apa dengan Fadil, Zar?!!"
" Fadil, dan Fina mengalami kecelakaan. Dan sekarang mereka sedang dibawah di rumah sakit." Jelas Fazar sambil berusaha untuk menahan tangisannya. Karena Fazar mau sampai bunda Sisi terpukul mendengar kabar ini, apalagi dengan ia menangis.
__ADS_1
Deg
Bunda Sisi, dan Wiyah sangat terkejut mendengar jawaban Fazar." Ini tidak benar kan Zar?!"
" Ini benar Bun, dan sekarang mereka sedang dibawah kerumah sakit." Bunda Sisi yang tidak percaya dengan kabar kecelakaan Fadil dan Fina, hampir saja menjatuhkan cucu nya yang masih berada di gendongannya. Jika saja Wiyah tidak dengan cepat mengambil bayi kecil itu mungkin sekarang bayi kecil itu sudah terjatuh di lantai." Ini tidak benarkan Zar!!.. hiks... Hiks..."
" Bunda, tenang dulu. Jangan nangis. Mereka pasti baik-baik saja." Ucap Fazar menenangkan bundanya. Walaupun Fazar tidak nyakin dengan ucapannya, karena pikirannya mengarah ke hal yang lain. Apalagi yang menelponnya tadi adalah polisi." Kita akan pergi kerumah sakit, untuk mengecek kondisi Fadil dan Fina. Semoga mereka baik-baik saja."
" Benar Zar, kita harus memeriksa kondisi Fadil dan Fina sekarang. Semoga mereka baik-baik saja. Bunda yakin, kalau keduanya akan baik-baik saja, dan tidak akan terjadi sesuatu kepada mereka." Ucap bunda Sisi menghapus air matanya, dia yakin. Kalau putra dan menantunya pasti baik-baik saja.
" Iya Bun." Jawab Fazar, menatap bunda Sisi yang terlihat khawatir sekarang." Aku yakin, kalau kalian pasti baik-baik saja Dil." Batin Fazar, yang menahan tangisannya, saat mengingat ucapan polisi tadi. Walaupun Fazar yakin kalau tidak akan terjadi sesuatu, dan Fazar berdoa agar adik dan iparnya tidak kenapa-kenapa. Tapi mendengar kalau ada para polisi disana, membuat Fazar seakan tidak yakin dengan pikirannya sekarang.
.
.
Fazar, Wiyah, bunda Sisi, Rido dan juga Haidar melangkah terburu-buru kearah raungan IGD. Ruangan dimana sekarang Fadil dan Fina dibawah untuk mendapatkan pertolongan pertama
Ya, Wiyah, Rido dan Haidar. Ikut melihat kondisi Fadil dan Fina sekarang. Karena mereka ingin mengecek apakah keduanya baik-baik saja atau tidak. Bukan hanya, Wiyah Haidar dan juga Rido. Melainkan bayi kecil yang masih berusia satu bulan itu, ikut dibawah. Karena bayi kecil itu tidak bisa ditinggal dengan siapapun. Karena bayi kecil itu, hanya mau dengan Wiyah, Tapi tidak dengan orang lain. Walaupun bayi berusia satu bulan dilarang masuk, tapi mau bagaimana lagi. Mereka harus tetap membawanya dan tidak bisa ditinggal begitu saja. Karena tadi Fadil sempat sadar, dan meminta agar anaknya itu dibawah. Setelah itu dia kembali kehilangan kesadarannya setelah mengatakan hal itu.
Fazar juga sudah mengabari keluarga Fina tentang kondisi Fadil dan Fina sekarang. Sepertinya mereka akan datang sebentar lagi.
Saat keduanya mendekati ruangan IGD. Dari jarak yang sedikit jauh, mereka bisa melihat kalau ada tiga orang disana. Yang sepertinya sedang duduk didepan ruangan IGD. Bukan saja ketiga orang Itu, melainkan polisi juga berada disana.
Haidar dan Rido melangkah mendekati para polisi, untuk membicarakan tentang kasus kecelakaan yang dialami oleh Fina dan Fadil. Sedangkan, Wiyah, Fazar dan bunda Sisi melangkah kearah raungan IGD untuk menayangkan kondisi Fadil dan Fina sekarang.
Sedangkan tiga orang itu, langsung berdiri dari duduknya, saat melihat kehadiran mereka.
" Apa tuan dan nyonya adalah keluarga dari korban kecelakaan tadi?" Tanya pemuda, yang masih mengunakan seragam putih abu-abu. Pemuda yang tadi menyaksikan kecelakaan mobil Fadil.
" Iya kami keluarga mereka." Jawab Fazar, bingung menatap pemuda yang terlihat masih muda. Mungkin usianya masih seumuran Fazri.
__ADS_1
" Maafkan saya tuan, nyonya." Pemuda itu, langsung menjatuhkan tubuhnya di atas lantai rumah sakit, lalu bersujud dihadapan mereka.
" Nak apa yang kamu lakukan?" Tanya Fazar, Wiyah dan bunda Sisi bingung melihat tingkah pemuda itu.
" Maafkan saya tuan, nyonya. Karena kecelakaan ini semua karena saya. Mereka mengalami kecelakaan, karena ingin menghindari motor saya tadi. Andai saya tidak melawan arus, mungkin mereka tidak akan kecelakaan." Jelas pemuda itu, yang kini sudah terisak." Maafkan saya nyonya tuan."
Deg
Fazar, Wiyah dan bunda Sisi terkejut mendengar ucapan pemuda itu. Yang ternyata dalang dari kecelakaan mobil Fadil.
" Astaghfirullah..." Bunda Sisi mundur beberapa langkah, mendekati kursi tunggu. Lalu mendudukkan tubuhnya. Sedangkan Wiyah mengusap bahu bunda Sisi, agar diberikan kesabaran.
" Berdiri." Suruh Fazar. Walaupun Fazar marah saat mendengar pengakuan pemuda didepannya, tapi Fazar tidak bisa mengambil kesimpulan, kalau pemuda ini sebagai pelaku kecelakaan Fadil. Tanpa mendengar penjelasan dari polisi, yang menangani TKP sekarang.
" Tidak tuan, saya tidak akan berdiri sampai saya mendengar maaf anda tuan."
" Berdirilah!" Perintah Fazar tegas." Jangan sampai saya menjebloskan kamu kedalam jeruji besi sekarang juga anak muda!!"
" Biarlah tuan, saya akan menerima hukuman ini. Karena saya bersalah disini." Ucap pemuda itu yang tetap kekeh dengan pendiriannya." Beritahukan kepada polisi semuanya, kalau saya adalah penyebab kecelakaan ini."
Karena kesal atau bagaimana, Fazar menarik pemuda itu agar berdiri menatapnya." Saya bukan orang bodoh, yang akan menyalakan orang lain, tanpa melihat bukti, Kalau kamu benar-benar penyebab dari kecelakaan adik saya. Karena saya masih punya pikiran anak muda. Jadi jangan berpikir kalau saya akan memasukkan kamu kedalam penjara, sebelum polisi mendapatkan bukti penyebab kecelakaan ini terjadi." Ucap Fazar dengan tatapan datar, tapi penuh dengan ketegasan dalam nada bicaranya.
Sedangkan pemuda itu, membalas tatapan Fazar dengan tatapan penuh dengan ketakutan." Maaf." Lirih pemuda itu yang ingin menangis.
" Duduklah. Saya tidak suka kalau ada anak laki-laki yang cengeng."
Pemuda itu hanya menurut, lalu duduk di kursi bersebelahan dengan Wiyah dan juga bunda Sisi.
Pemuda itu, tertuju pada gendongan Wiyah, yang terdapat Beby Falisha yang sudah tertidur." Terlihat menggemaskan." Batin pemuda itu sambil tersenyum kecil.
Tidak berapa lama. Mama, papa kakak dan adik Fina datang menghampiri mereka. Terlihat kalau mereka sangat khawatir sekarang.
__ADS_1
" Bagaimana dengan kondisi mereka." Tanya papa Fina. Belum Fazar menjawabnya. Dokter keluar dari ruangan IGD.
...----------------...