
Kesabaranku membawa cinta.
" Kita istirahat sebentar, setelah itu kita kerumah sakit." Ucap Fazar memapah istrinya itu untuk duduk di atas kasur.
Ya, Setelah makan siang di restoran Fazar sengaja singgah di hotel terlebih dahulu untuk beristirahat, barulah mereka pergi kerumah sakit untuk menjenguk Harum, Karena Fazar bisa melihat kalau istrinya itu pasti sangat kelelahan, setelah pejalan jauh.
" Tapi kak, aku ingin bertemu dengan Harum." Rengek Wiyah menatap suaminya itu.
" Istirahat sebentar sayang, ingat kalau disini ada tiga janin yang sedang hidup bersama denganmu, mereka juga pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh tadi." Jelas Fazar dengan lembut, sambil mengusap perut istrinya itu." Kalau sampai sayang kelelahan, pasti mereka juga akan merasakannya, jadi kita istirahat sebentar, setelah itu kita pergi kerumah sakit untuk menemui Harum. Apa sayang mengerti."
" Iya kak aku mengerti. Tapi setelah kita istirahat, kita langsung pergi kerumah sakit ya."
" Iya sayang, setelah istirahat kita langsung pergi." Jawab Fazar tersenyum. Fazar suka rengekan istrinya itu, yang terdengar begitu sangat lucu. Apalagi ekspresi nya yang berubah. Hal itu yang membuat Fazar menjadi gemas.
Fazar merubah posisi istrinya menjadi berbaring. Agar istrinya itu bisa tidur sebentar.
" Kakak jangan kemana-mana ya, soalnya aku mau tidur di peluk sama kakak." Ucap Wiyah manja. Terdengar lebay.
Tapi manjanya Wiyah, itu semua karena hormon nya, yang kadang membuat Wiyah berubah seperti ini, dia akan terlihat begitu sangat manja saat berdekatan dengan suaminya itu.
" Iya sayang, kakak ngga kemana-mana. Kakak juga akan tetap disini, nemenin sayang, sama dede." Fazar begitu sangat suka dengan istrinya yang manja seperti sekarang, karena menurut Fazar, ia akan semakin dekat dengan istrinya itu, saat Wiyah manja seperti ini.
Fazar berbaring di atas kasur, lalu membaringkan tubuhnya di samping Wiyah. Tidak lupa ia juga menarik tubuh kecil istrinya, kedalam pelukannya.
" Selamat tidur sayang, mimpi indah." Fazar mencium kening istrinya itu, dengan tangannya yang mengusap punggung istrinya.
.
.
Di kamar lain.
Fina sedang berdiri di dekat jendela, sambil menatap indahnya kota B, saat siang seperti sekarang.
Entah apa yang dia rasakan sekarang, tapi saat dia menatap keluar, ada rasa bahagia dalam hatinya, saat Fina mengingat sesuatu.
" Apa yang kamu pikirkan Fina. Ingat kalau pria yang kamu sukai, tidak akan menyukai mu. Dan mungkin cinta mu tidak akan terbalaskan." Gumam Fina.
Yang membuat hati Fina bahagia, itu semua karena Fadil. Ya karena pria itu, yang membuat hatinya bahagia, mungkin sangat bahagia, jika Fina bisa mengungkapkan nya.
__ADS_1
Bagaimana tidak bahagia. Kalau pria yang pergi selama dua minggu tanpa mengabari nya sama sekali, ternyata berada di kota B. Karena pria itu sedang membantu Harum yang katanya sedang koma di rumah sakit.
Walaupun Fina tidak tau jalan ceritanya seperti apa, tapi Fina yakin, kalau pria yang dia sukai pasti sudah menyelamatkan gadis kecil itu, Dan dua minggu Fadil menghilang, itu semua karena Fadil berada di kota B.
Jadi pikiran buruknya selama ini ternyata salah. Yang mengira kalau Fadil sedang menghindarinya.
Ada rasa bersalah, saat mengingat pikiran negatifnya itu.
" Apa aku harus bahagia bertemu dengannya, sedangkan dia bukan siapa-siapaku."
Saat sedang terdiam sambil menikmati kota B, lewat kamarnya, yang memang berada di lantai paling atas. Tiba-tiba saja pintu kamarnya di ketuk, membuat Fina menoleh kearah pintu."
" Siapa yang datang, apakah Wiyah. Tapi ngga mungkin, karena kata kak Fazar, Wiyah akan beristirahat sebentar didalam kamarnya."
Apa jangan-jangan tuan Zain, yang sedang butuh sesuatu. Tapi ngga mungkin juga, karena tuan Zain pasti bisa melakukannya sendiri. Tapi bisa sajakan kalau yang ketok pintu adalah pelayan hotel." Karena penasaran siapa yang mengetok pintu kamarnya. Fina melangkah mendekati pintu itu, lalu membukanya, Dan betapa terkejut, saat melihat siapa yang datang menemuinya.
" Fina apa kabar."
🍁🍁🍁🍁🍁
Fadil dan kedua adiknya, sedang menikmati makan siang mereka. Walaupun tadi mereka sudah melewatkan waktu makan siang mereka sekitar satu jam, karena mereka lupa.
" Sayur nya hambar benget, beda sama masakan bunda." Komen Abidzar, membuat kedua saudara itu langsung menoleh menatap kearah Abidzar." Nanti kalau sudah pulang kerumah, aku akan minta bunda buat masakkin makanan yang enak."
Kedua saudara itu, yang mendengar ucapan Abidzar hanya tersenyum. Mereka tidak merasa iri kepada Abidzar, karena mendapatkan perhatian dari sang bunda, malahan keduanya ikut senang, karena Abidzar bisa menerima bunda mereka, walaupun Abidzar tau kalau bunda Sisi bukanlah bundanya.
Apakah karena Abidzar belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, maknanya dia menjadi manja saat bersama dengan bunda Sisi. Bisa jadi begitu, karena Abidzar adalah piatu yang di tinggalkan ibunya, semenjak dia lahir kedua ini.
Saat Fadil dan Fazri sedang menatap kearah Abidzar, suara ponsel Fadil berdering. Membuat Abidzar yang sedang makan menoleh kearah Fadil, dan dia bisa melihat kalau Fadil sedang menatapnya.
" Cepat angkat ponsel mu Dil, jangan hanya menatap ku." Ucap Abidzar menatap Fadil.
" Iya, ini gue mau angkat." Jawab Fadil, yang dengan cepat mengeluarkan ponselnya, dari saku celananya.
Fadil bisa melihat kalau yang menelpon itu adalah Fazar." Halo, assalamualaikum bang."
" Waalaikumsalam Dil. Abang sudah ada di kota B, nanti Abang kerumah sakit setelah Abang istirahat sebentar."
" Iya bang. Abang kesini sendirian."
__ADS_1
" Ngga Dil, Abang bareng Zain, istrinya Abang dan juga Fina sahabatnya istrinya Abang."
Mendengar nama Fina membuat Fadil tampak mengerutkan keningnya bingung." Emangnya Fina, sahabatnya Wiyah ikut bang."
" Iya, istrinya Abang yang meminta nya untuk ikut."
" Benarkah itu bang."
" Iya."
Senyuman Fadil langsung terbit saat mendengar, kalau ternyata Fina juga ikut bersama dengan abangnya pergi ke kota B.
Sangking senangnya, Fadil sampai mematikan sambungan teleponnya tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.
" kak emangnya Abang kesini." Tanya Fazri, saat melihat Fadil, tiba-tiba saja senyum-senyum sendiri.
" Nanti kakak baru jawab pertanyaan mu Zri, soalnya ada urusan penting. Kakak keluar sebentar ya." Fadil langsung meninggalkan Fazri dan Abidzar, yang sedang menatapnya kebingungan.
" Apa yang terjadi dengan kak Fadil." Gumam keduanya.
.
.
Sesampainya di hotel tempat Fazar menginap, Fadil langsung bertanya kepada resepsionis." Maaf mbak, kamar yang atas nona Fina."
" Maaf mas, anda siapa nya nona Fina." Tanya resepsionis sambil menatap kearah Fadil.
" Saya suaminya, dan saya kesini untuk menemui nona Fina, tapi Kalau anda tidak percaya, anda bisa menanyakannya langsung kepada nona yang berada didalam kamar itu." Wanita resepsionis itu hanya menatap Fadil dengan tatapan tidak percaya.
Resepsionis itu tidak bertanya lagi, lalu memberikan nomor berapa kamar Fina berada. Resepsionis itu tidak curiga dengan ekspresi Fadil, karena mereka bisa melihat dari raut wajah Fadil, yang mengatakan kalau dia benar-benar suami dari Fina.
Sedangkan Fadil dengan hati tidak sabaran, yang di campur dengan gugup, masuk kedalam life, untuk naik lantai paling atas, tepatnya di kamar Fina.
Fadil begitu sangat tidak sabar ingin menemui Fina sekarang. Apalagi dua minggu tidak memberikan nya kabar. Fadil sengaja tidak mengabari Fina dua minggu terakhir, karena Fadil sengaja melakukan itu. Agar rasa rindunya tidak berlebihan kepada gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta untuk yang kedua kalinya.
Sesampainya didepan pintu kamar Fina, Fadil mencoba untuk menetralkan pacu jantungnya yang sedang berdetak tidak karuan. Dengan keberaniannya Fadil mengetuk pintu itu. Tidak berselang lama pintu itu terbuka, dan menampilkan gadis yang Fadil sukai, yang diam-diam sudah merebut perasaan nya.
" Fina apa kabar." Hanya itu yang keluar dari bibir Fadil, karena Fadil begitu sangat gugup." Maaf Fina, maksud ku assalamualaikum Fina." Fadil meralat ucapannya tadi, karena dia merasa tidak enak dengan Fina.
__ADS_1
...----------------...