Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 115


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta.


Paman Aslan melangkah keruangan rawat Fadil, setelah tadi dia pergi keruangan putranya. Tapi tuan Aslan tidak melihat keberadaan Abizard, yang membuat tuan Aslan bertanya-tanya kemanakah putranya itu pergi.


Dari jauh, tuan Aslan bisa melihat kalau sekertaris putranya itu sedang berada di luar sambil mengerjakan sesuatu dari laptopnya yang sekarang sedang pria itu pegang.


" Ardi." Panggil tuan Aslan, membuat sekertaris Ardi yang sedang mengerjakan pekerjaan kantor, langsung menutup laptopnya lalu berdiri dari duduknya setelah mendengar suara yang memanggilnya. Karena sekertaris Ardi mengenal suara siapa yang memanggilnya itu.


" Selamat pagi, Tuan Aslan, tuan Fazar" Ucap sekertaris Ardi membungkuk hormat saat melihat kedua pria yang begitu sangat dia hormati itu sebagai seorang bos.


" Dimana Abizard." Tanya tuan Aslan.


" Tuan muda Abizard, berada di dalam tuan, bersama dengan nyonya dan juga tuan muda Fadil." Jelas sekertaris Ardi.


" Apa yang sedang dia lakukan, padahal dia masih dalam masa penyembuhan." Tanya tuan Aslan kembali, karena dia begitu sangat tidak mengerti dengan putranya itu.


Padahal keadaannya masih belum sepenuhnya pulih dari bekas operasi, Tapi dia sudah keluyuran kemana-mana.


" Tuan muda Abizard bosan berada di ruangannya tuan, makanya dia memintaku untuk mengantarkan nya keruangan rawat Fadil, agar dia tidak merasakan kebosanan jika bertemu dengan tuan muda Fadil." Jelas sekertaris Ardi memberitahukan apa yang Abizard rasakan saat berada di ruangan rawatnya jika sendiri.


" Kenapa kamu tidak mencegahnya."


" Saya sudah mencegahnya tuan, tapi tuan muda Abizard mengancam saya, akan memotong gaji saya jika tidak mengikuti kemauannya." Jawab sekertaris Ardi sambil menjelaskan, kenapa Abizard bisa sampai di ruangan rawat Fadil.


Mendengar penjelasan dari sekertaris Ardi membuat tuan Aslan hanya bisa menggelengkan kepalanya kecil, karena tidak habis pikir dengan pemikiran putra semata wayangnya itu.


" Benar-benar anak itu, suka sekali mengancam seperti ku." Gumam tuan Aslan yang masih bisa didengar oleh Fazar yang berada di sebelah paman nya itu, karena Fazar belum masuk kedalam ruangan rawat Fadil.

__ADS_1


Fazar dan Wiyah hanya bisa mendengar obrolan kedua pria itu, tanpa menyambung ucapan keduanya. Mereka berdua hanya bisa menjadi pendengar setia.


" Kamu bisa pergi sekarang, karena ada saya disini, jika dia membutuhkan mu saya akan mengabari mu." Ucap tuan Aslan menyuruh sekertaris dari putranya itu untuk pergi, karena tuan Aslan tahu kalau sekertaris Ardi pasti merasa lelah duduk di luar sambil menunggu bosnya, yang entah kapan keluarnya.


Tuan Aslan tidak habis pikir dengan pria yang lima tahun lebih tua dari putranya itu, kenapa juga dia menerima putranya sebagai bos padahal pria itu memiliki kecerdasan dan bisa membangun bisnis sendiri. Apakah yang putranya itu berikan kepada pria muda yang berstatus sebagai sekertaris dari putranya.


Sekertaris Ardi mengangguk setelah mendapatkan perintah untuk pergi dari tuan Aslan." Baik tuan." Jawab sekertaris Ardi.


Setelah berpamitan kepada tuan Aslan dan Fazar, sekertaris Ardi melangkah meninggalkan ruangan itu, untuk kembali ke kantor karena ada klien yang harus dia temui. Sebenarnya Abizard yang harus melakukan pertemuan, tapi mengingat kondisinya sekarang membuat sekertaris Ardi lah yang akan bertemu dengan klien.


Setelah kepergian dari sekertaris Ardi, Wiyah Fazar dan tuan Aslan melangkah masuk kedalam ruangan Fadil.


Yang pertama masuk itu Fazar dan istrinya, sedangkan tuan Aslan akan menyusul, karena dia begitu sangat gugup dan merasa takut ingin bertemu dengan istri dari almarhum adiknya itu.


Saat Fazar membuka pintu, terdengar suara tawa dari dalam. Fazar dan Wiyah yang melihat suasana didalam ikut tersenyum saat melihat bunda Sisi dan Abizard sedang tertawa bersama.


" Abizard, dia tertawa." Batin tuan Aslan begitu sangat terharu. Karena tuan Aslan jarang atau tidak pernah sama sekali melihat putranya itu tertawa jika bersama dengan dirinya, karena putranya itu akan dingin jika bersama dengannya dan tidak pernah tertawa sama sekali. Terakhir dia mendengar putranya itu tertawa, saat usianya masih sepuluh tahun. Dimana dia putra nya itu mencari tahu tentang pamannya yaitu Aldevaro.


" Assalamualaikum." Salam Wiyah dan Fazar bersamaan sambil melangkah masuk kedalam ruangan Fadil.


Orang yang didalam menghentikan tawa mereka saat mendengar ada yang masuk kedalam, bunda Sisi, Fadil dan Abizard melihat kedua pintu. Yang terdapat Wiyah dan Fazar yang sedang melangkah kearah mereka.


" Wassalamualaikum." Jawab ketiganya sambil menatap kearah Wiyah dan Fazar.


Entah apa yang Fadil dan Abizard rasakan sekarang, saat melihat gadis yang mereka sukai sedang di rangkul dengan begitu sangat mesra oleh Fazar.


Hati mereka merasa sakit, karena begitu sangat cemburu dengan adegan didepan mereka sekarang, seakan-akan Fazar sedang menunjukan kepada mereka, kalau Wiyah miliknya sekarang.

__ADS_1


" Kalian sedang menceritakan apa sih, sampai tawa kalian sampai diluar." Tanya Fazar saat sudah berada di samping bunda Sisi. Fazar mencium punggung tangan bunda Sisi, sama halnya dengan Wiyah yang melakukan hal yang sama.


Bunda Sisi yang melihat menantunya itu langsung menyuruhnya untuk duduk disebelahnya.


" Aku sedang menceritakan, bagaimana sulitnya Fadil saat sedang memakai bahasa asing Zar." Jelas Abizard sambil terkekeh kecil menatap kearah Fadil yang sekarang sedang kesal. Sedangkan Fazar hanya mengangguk mengerti, karena dia tahu kalau adiknya itu paling tidak suka jika menyangkut pelajaran bahasa.


Padahal adiknya itu terkenal pria yang pintar, tapi malas belajar saat ada pelajaran bahasa.


" Aku tahu, dia tidak bisa mengunakan bahasa asing." Sambung Fazar yang ikut duduk disebelah Abizard yang sekarang sedang duduk di kursi roda.


" Aku bisa, hanya saja aku malas mengucapakannya." Sambung Fadil menjelaskan.


" Alasan." Potong Abizard membuat Fadil menjadi semakin kesal.


" Dasar sepupu luknut." Pekik Fadil kesal, yang membuat orang-orang terkekeh.


" Jangan teriak dek, kami belum sepenuhnya sembuh." Ucap Fazar mengingatkan.


" Biarkan saja." Sambung Fadil cuek.


Saat mereka sedang mengobrol dari arah pintu, ada yang sedang melihat mereka, karena tuan Aslan merasa ragu untuk masuk kedalam. Mengingat bagaimana jahatnya dia.


Tapi tuan Aslan mencoba untuk memberikan diri untuk masuk.


" Assalamualaikum."


...----------------...

__ADS_1


Maaf baru update, soalnya author lagi sibuk.


__ADS_2