
Kesabaranku membawa cinta
Fadil membuka pintu dengan hati yang masih kesal. Tapi kekesalannya itu semakin menjadi saat melihat orang didepannya." Siall benar-benar kalian berdua ya. Suka betul ganggu ketenangan ku. Emangnya kalian ngga ada perkejaan lain hah, selain menggangu ku." Ucap Fadil sambil menatap kedua orang itu, yang tidak lain adalah Rido dan Fazri. Sungguh kedua manusia didepannya itu telah mengusik malam pertamanya. Eh, salah maksudnya siang pertamanya.
Sedangkan Rido yang melihat penampilan Fadil, yang hanya mengunakan handuk yang menutupi dari atas pusar sampai di bawah lutut, membuat Rido tersenyum jahil. Rido tau, kalau dirinya telah mengusik sahabatnya itu. Apalagi wajah yang terlihat kusut bagaikan benang kusut membuat Rido ingin tertawa.
" Emangnya kami mengganggu apa, perasaan kami tidak melakukan apa-apa. Iya ngga Zri." Fazri hanya mengangguk. Walaupun Fazri masih berusia enam belas tahun, tapi dia sudah paham ya, dia bukan bocah polos lagi.
" Iya kak Rido, perasaan kami tidak melakukan apa-apa. Kami datang kesini untuk memberitahukan pesanan bunda, kalau kita akan pergi sebentar lagi. Jadi kak Fadil jangan lama-lama didalam kamar, biarkan kakak ipar bisa beristirahat." Ucap Fazri yang ikut-ikutan mengoda kakaknya itu. Sungguh Fadil yang mendengar ucapan adiknya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, Sepertinya mereka ingin mengerjai dirinya.
Talk.
Sintilan manis berhasil Fadil berikan di kening Fazri. Yang membuat Fazri menatap kakaknya dengan marah, sungguh kakaknya itu paling senang menjitak nya.
" Kecil-kecil jangan ngomong aneh-aneh deh, kalau belum tau apa-apa." Ucap Fadil.
" Emangnya aku mikir aneh-aneh apa sih kak. Aku kan cuman ngingetin aja, ngga mikir aneh-aneh. Emangnya kak Fadil mikir apa, sampai ngomongnya gitu. Jangan-jangan kak Fadil yang mikir nya aneh-aneh kan kak Fadil yang ada didalam kamar." Ucap Fazri yang semakin menggoda Fadil. Sepertinya Fadil akan terpojok kalau berlawanan dengan adiknya itu.
" Benar sekali Zri. Orang Fazri ngga ngomong aneh-aneh. Kamu aja yang terlalu sensi. Apa karena kami mengganggu siang pertamamu." Ucapan Rido berhasil membuat pipi Fadil merona merah, sepertinya mereka berhasil membuat pengantin baru itu malu-malu." Ini masih siang Dil, jangan membuat istrimu kelelahan karena ulahmu. Baru juga nikah, istrinya sudah..."
" Stop, hentikan. Sekarang kalian pergi, jangan ngomong aneh-aneh." Potong Fadil yang tidak ingin mendengar ucapan sahabatnya itu yang semakin jauh. Sungguh Fadil merasa malu saat keduanya mengoda nya terus.
Rencananya dia tadi ingin marah kepada keduanya. Tapi harus berbalik, karena keduanya malah menggodanya.
" Kak Rido ngga ngomong aneh-aneh kak, tapi kak Rido cuman mau ngomong. Baru juga nikah, tapi istrinya sudah di suruh dengan pekerjaan berat-berat." Sambung Fazri. Sungguh kali ini Fadil menjadi bulan-bulanan sahabat dan juga adiknya.
" Brengsek kalian berdua ya. Aku menyuruh kalian untuk pergi, tapi kalian malah menganggu ku. Sekarang kalian cepat pergi." Usir Fadil setelah itu dia menutup pintu kamarnya dengan sangat kuat.
Buuukkkk
Suara keras pintu, bukannya membuat kedua orang itu takut. Tapi keduanya malah tertawa, dan saling berkompakan.
" Hahah. Pasti marah benget tuh Fadil. Siapa suruh siang-siang kayak gini berkunci didalam kamar." Ucap Rido sambil tertawa. Rasanya dia begitu sangat puas mengerjai sahabatnya itu, sampai marah seperti tadi.
" Iya kak, apalagi wajah kesal bercampur dengan rasa malu menjadi satu. Sungguh pemandangan yang sangat susah untuk dilewatkan." Ucap Fazri. Kini keduanya kembali tertawa bersama saat mengingat wajah Fadil tadi. Setelah puas tertawa kini mereka pergi meninggalkan kamar Fadil.
__ADS_1
" Memang mereka berdua ngga ada kerjaan apa selain menggangu ku. Memang mereka berdua, benar-benar sialan, tunggu pembalasan ku nanti." Ucap Fadil yang tidak berhenti-henti untuk mengerutu.
Sampai pandangannya tertuju pada atas kasur." Gara-gara mereka, aku jadi gagal buat berduaan bersama dengan istriku."
🌺🌺🌺🌺🌺
Di sebuah hotel yang mewah, kini gedung itu disulap secantik mungkin, untuk acara resepsi pernikahan malam ini.
Tidak tanggung-tanggung, tuan Fazar menyiapkan hotel berbintang lima untuk cara malam ini. Apalagi hari ini adalah hari bahagianya bersama dengan istrinya. Bukan saja istrinya dan juga dirinya melainkan Fadil dan Fina.
Kini ballroom yang sangat luas didekorasi sangat mewah. Mungkin acara mereka dibilang acara termewah malam ini. Karena acara yang pernah di selenggarakan di hotel itu kalah mewahnya. Karena malam ini, Fazar mengambil dua dekorasi sekaligus, antara pilihannya dan juga pilihan Fadil.
Walaupun dengan tema yang sedikit berbeda, tapi dekorasi dihias digedung yang sama, membuat dekorasi itu perpadu menjadi satu. Sepertinya Fazar memiliki ide tersendiri untuk membuat resepsi malam ini jauh lebih berbeda.
Jika disetiap acara yang diselenggarakan, pasti ada peran-peran orang penting didalamnya. Sama halnya dengan acara resepsi malam ini, banyak orang-orang penting yang membantu dengan hati bahagia.
Tapi berbeda dengan gadis berusia enam belas tahun, yang dari tadi mengumpat karena kesal. Selama dia menjadi asisten pria itu. Dia selalu pusing, karena ada aja perintahnya.
" Anita, tolong kamu cek, apakah tamu-tamu bang Fazar sudah berdatangan atau belum." Ucap Rido sambil melihat ponselnya." Anita, kamu mendengarkan ku atau tidak." Tanya Rido saat dia tidak mendengar jawaban dari gadis itu. Rido berbalik melihat kearah belakang dan dia melihat kalau gadis yang dia cari tidak berada di belakangnya." Kemana gadis itu, kenapa dia tidak ada disini." Ucap Rido, meneliti keseluruh ruangan itu tapi yang dia cari malah tidak ada.
Sampai Rido menghentikan langkahnya saat melihat orang yang sedang dia cari, ternyata sedang berdiri sambil menyambut tamu-tamu yang datang. Rido sempat terpana saat melihat senyuman gadis itu yang sedang tersenyum untuk menyambut tamu-tamu yang datang. Terkirim begitu sangat manis.
" Astaga Rido, apa yang kamu pikirkan. Masa kamu suka tuh bocah." Gerutu Rido, yang menyadari kesalahannya saat mengagumi gadis yang berusia enam belas tahun." Seharusnya kamu mengerjai dia yang lebih banyak lagi, karena sudah memukul mu waktu itu." Ucap Rido mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak tertarik dengan bocah yang terlihat polos, tapi aslinya sangat bar-bar.
" Anita." Anita yang sedang menyambut para tamu harus menghentikan kegiatannya saat mendengar namanya di panggil. Anita mencari orang yang sudah memanggilnya, sampai dia melihat Rido yang sedang berdiri sambil menatapnya dengan tajam. Terlihat pria itu melipat kedua tangannya di atas dada.
" Kenapa sih tuh om-om ngga bisa betul, kalau ngga ganggu aku sebentar saja." Batin Anita kesal. Rasanya dia ingin pergi menjauhi pria yang sudah menyuruhnya selama beberapa hari ini." Rasanya aku pengen melemparnya ke luar angkasa."
Karena tidak ingin mendapatkan omelan dari Rido, Anita tetap mendekati pria itu dengan hati yang kesal." Iya ada apa tuan. Apakah tuan membutuhkan sesuatu." Tanya Anita selembut mungkin dengan senyuman yang dia paksakan.
" Ihhh, ada apa dengan wajahmu itu, yang terlihat menyeramkan saat kamu seperti itu." Tanya Rido yang merasa geli sendiri melihat senyuman Anita yang terlihat sangat lucu, tapi tetap terlihat cantik.
Sedangkan Anita yang mendengar ucapan Rido, langsung merubah raut wajahnya, yang tadi tersenyum menjadi murung karena ucapan pria itu." Memang benar-benar ya anda tuan, tidak bisa menghargai saya sedikit saja. Sudah senang anda melihat saya tersenyum seperti ini, daripada kemarin-kemarinnya tidak sama sekali." Ucap Anita melupakan kekesalannya." Saya heran ya dengan anda tuan yang tidak bisa menghargai saya. Bukannya anda kemarin yang menyuruh saya untuk tersenyum, tapi giliran saya tersenyum anda mengatakan kalau senyuman saya terlihat menyeramkan." Ucap Anita kembali, setelah itu meninggalkan Rido yang hanya terdiam. Sepertinya Rido sedang mencoba mencerna ucapan gadis itu.
" Anita tunggu, maksud ku bukan seperti itu." Rido mengejar langkah Anita." Jangan pergi dulu. Dengarkan ucapakan ku." Ucap Rido menarik tangan Anita, lalu menarik Anita untuk lebih dekat dengannya.
__ADS_1
Kini jarak keduanya sangat dekat, membuat mereka saling tatap-tatapan satu sama lainnya.
" Apalagi sih tuan, bukannya saya terlihat menyeramkan." Ucap Anita ketus sambil menghempaskan tangan Rido dengan kasar.
" Dasar bocil ngambekan, sensitif benget sih. Lagi PMS ya kamu." Anita semakin marah mendengar ucapan Rido. Sunggu pria itu tidak bisa menis-manis sedikit sama perempuan. Saat Anita akan menjawab ucapan pria itu, Rido langsung menutup mulut Anita mengunakan jari telunjuknya." Untuk hari ini, kamu jangan ngomel-ngomel dulu, soalnya sakit kupingku kalau dengar suara cempreng mu. Lebih baik sekarang kamu tersenyum." Rido memgerakan jari nya ke bibir Anita, lalu membuat senyuman disana." Lihat sekarang kamu terlihat cantik saat tersenyum seperti sekarang, tidak jelek seperti tadi." Ucap Rido setelah itu dia melangkah pergi meninggalkan Anita yang masih diam. Karena Anita tidak percaya dengan apa yang Rido lakukan dan apa yang dia ucapkan.
" Apa maksudnya."
Tidak hanya Anita dan Rido yang membuat cerita ini sedikit ramai, tapi disini ada pasangan yang membuat acara itu semakin ramai lagi. Dengan keberadaan keduanya.
Walaupun mereka tidak ingin saling tegur atau saling sapa. Tapi mereka harus melakukan perkejaan yang sama dan itu sesuai permintaan dari Fazar dan Wiyah.
" Hay nona apa yang kamu lakukan. Kamu salah menyimpannya." Tegur Jidan yang Yaya salah meletakan meja disana. Padahal dia tidak ingin menegur gadis didepannya itu, tapi karena kesalahan gadis itu yang membuat dia membuka suara.
" Apa maksud anda tuan. Saya mengerjakannya dengan baik, tidak melakukannya dengan kesalahan sama sekali." Jawab Yaya kesal. Padahal dia mencoba untuk menghindari pria itu, tapi mereka tetap di pertemukan ditempat yang sama.
" Meja itu disebelah kiri, agar para tamu bisa melihat dengan jelas."
" Tidak, meja ini disebelah kanan agar para tamu bisa melihat lebih jelas lagi. Kalau disebelah kiri pasti tidak akan terlihat jelas sama sekali." Jawab Yaya tidak mau mengalah.
" Kamu salah nona, harusnya di sebelahnya kiri."
" Tidak, seharusnya itu disebelah kanan." Ucap Yaya tidak mau mengalah. Kini keduanya saling bertarik-tarikan meja, karena keduanya tidak ada yang mau mengalah. Padahal kalau dibilang. Posisi pilihan keduanya tentu bagus. Hanya saja mereka tidak ada yang mau mengalah.
Sampai
Baaakkk.
Meja itu langsung terjatuh bersama dengan Jidan yang masih menariknya. Karena Yaya sengaja menjatuhkan meja itu saat melihat papa nya berada di acara itu.
" Bisa marah Daddy, kalau lihat kelakukan ku seperti ini." Batin Yaya yang menatap kearah pria paruh baya yang sedang ngobrol bersama dengan tuan Aslan.
Sedangkan orang-orang yang tadi asyik dengan kegiatan mereka, sama-sama menoleh kearah keduanya. Termasuk Jidan yang sudah duduk di lantai. Sungguh, ini adalah hal yang paling memalukan.
" Benar-benar kamu Yaya, membuatku malu saja. Kenapa sih aku menyukai gadis keras kepala sepertimu, dan adikku Wiyah mau berteman denganmu." Ucap Jidan menatap Yaya dengan kesal, tapi tidak mau marah dengan gadis itu.
__ADS_1
...----------------...