Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Ekstra part 20


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta.


Wiyah melangkah masuk kedalam rumah sakit dengan langkah yang terburu-buru. Dengan mata yang masih berair, Wiyah melangkah mendekati resepsionis, untuk menanyakan ruangan manakah Fazar dirawat sekarang.


"Maaf sus, pasien atas nama Muhammad Yusuf Al Fazran dirawat dimana ya." Tanya Wiyah dengan sopan tidak lupa suara yang serak, khas orang yang habis menangis. Karena didalam mobil tadi, Wiyah terus saja menangis tidak ada hentinya.


"Sebentar ya Bu." Ucap resepsionis itu."Pasien atas nama Muhammad Yusuf Al Fazar, baru saja memasuki ruangan opsesi berapa menit yang lalu."


"Baik, terimakasih, sus." Tanpa bertanya lagi Wiyah langsung melangkah meninggalkan meja resepsionis untuk pergi keruangan operasi. Walaupun Wiyah kurang tau ruangan opsesi itu berada dimana, tapi Wiyah akan mencarinya.


"Kak Wiyah cepat betul jalannya." Ucap Jaiz yang mengejar langkah kakaknya itu, yang begitu sangat cepat memasuki rumah sakit. Jaiz kembali melanjutkan langkahnya, untuk mengejar Kakaknya, Yang sekarang sudah jauh dari pandangannya.


Wiyah terus melangkah, mengabaikan tatapan orang-orang yang sekarang sedang menatapnya. Apalagi orang-orang disana menatap penampilan Wiyah yang berantakan dan sedikit kotor, bahkan Wiyah tidak mengunakan alas kaki.


Ya, karena begitu sangat khawatir dengan kondisi suaminya, Wiyah sampai lupa mengunakan alas kaki. Karena dipikirannya, hanya tertuju, pada kondisi 'suaminya'.


Lama menyusuri lorong rumah sakit yang begitu sangat luas dan panjang. Akhirnya Wiyah sampai, didepan ruangan operasi yang dari tadi dia cari, dan disana Wiyah bisa melihat kedua adik iparnya, Liando dan Fiki, yang Wiyah kenal sebagai orang kepercayaan Fadil.


Ya, dua orang kepercayaan suaminya dan juga almarhum Fadil, memang berada disana. Keduanya sengaja datang untuk mengurus kasus yang menimpa Fazar, dan juga Fazri yang lalai dan hampir saja diamankan oleh polisi, karena membawa senjata api memasuki rumah sakit, dan membuat orang-orang disana ketakutan saat melihat kehadiran Fazri dan Abidzar.


Mungkin karena terburu-buru Fazri, sampai lupa menaruh pistolnya didalam mobil tadi. Tapi untungnya Fiki maupun polisi Liando dengan cepat menyelesaikannya masalah Fazri dan membuat pemuda itu, tidak jadi dibawah ke kantor polisi untuk di interogasi.


"Fazri, kak Abidzar. Bagaimana dengan kondisi kak Fazar?" Tanya Wiyah sambil mengatur nafasnya yang sedikit terengah-engah karena berjalan terlalu buru-buru. Apalagi sepanjang jalan dia terus saja menangis, yang membuat Wiyah sedikit merasa sesak didadanya.


Keempat orang itu, yang mendengar suara Wiyah, langsung menoleh kearahnya dan begitu sangat terkejutnya mereka saat melihat kondisi Wiyah sekarang yang terlihat kusut. Mata yang sembab, baju daster kebesaran, dan juga jilbab yang kusut, Bahkan Wiyah tidak mengunakan alas kaki sama sekali. Apakah ibu dari tiga orang anak itu, sampai melupakan kondisinya sekarang karena terlalu terburu-buru untuk pergi kerumah sakit.


Belum lama Wiyah berdiri dihadapan mereka, kini giliran Jaiz yang datang dengan langkah terburu-buru sama seperti Wiyah tadi.


"Kak Abidzar, Fazri. Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaan ku?" Karena tidak mendengar jawaban dari kedua pria didepannya, Wiyah kembali mengulang pertanyaannya.

__ADS_1


"Untuk sekarang, kami kurang tau, Wiyah. Karena Fazar sempat kritis tadi." Jelas Abidzar menatap kakak iparnya sekaligus adik tirinya dengan sedih.


Ya, Fazar sempat kritis dan hampir saja meninggal tadi, karena kehilangan banyak darah. Tapi untungnya dokter bertindak cepat, sehingga Fazar berhasil terselamatkan. Hanya saja dokter harus melakukan tindakan opsesi, karena pisau yang melukai Fazar ternyata memiliki racun, yang membuat nyawa Fazar benar-benar terancam, dan harus segera dikeluarkan sebelum racun itu benar-benar menjalar ke organ-organ penting lainnya.


Wiyah lemas seketika saat mendengar jawaban dari Abidzar. Wiyah tidak percaya, tapi itulah kebenarannya. Sedangkan Jaiz yang memang berada dibelakang kakaknya, langsung menangkap tubuh lemas kakaknya itu, lalu membantu Wiyah untuk duduk di kursi.


"Ya Allah..... Selamatkan suami hamba.... hiks...hiks..." Doa Wiyah yang kembali menangis, kedua tangannya juga menutupi wajahnya yang kini semakin basah akibat air mata yang terus saja berjatuhan tidak ada hentinya.


Fazri, Abidzar dan yang lainnya menatap miris kearah Wiyah. Mereka tau, kalau Wiyah adalah gadis yang kuat. Tapi saat seperti ini, dia akan menjadi lema seperti sekarang.


"Kak Wiyah, jangan menangis, kak. Bang Fazar pasti baik-baik saja." Lirih Fazri mendekati Wiyah, lalu tubuh tinggi itu bersimpuh dihadapan kakak iparnya."Walaupun kakak tidak yakin dengan ucapan ku, tapi yakinlah kalau Allah akan mengirimkan mukjizat untuk umat nya yang kuat dan sabar menghadapi semua ini, dengan ikhlas, kak." Lirih Fazri terus menatap kakak iparnya itu.


Wiyah menurunkan kedua tangannya, yang kini sedang menutupi wajahnya. Untuk menatap kearah adik iparnya, yang kini sedang bersimpuh didepannya. Wiyah bisa melihat kesedihan dimata Fazri, tapi pemuda itu berusaha untuk tetap kuat agar bisa menguatkannya. Padahal kalau bisa dibilang. Disini Fazri sama terpukulnya seperti dirinya. Apalagi kakaknya baru satu minggu yang lalu meninggal, tapi kini kakak yang satunya kembali masuk kedalam rumah sakit. Entah ujian apa yang kelurga nya hadapi. Tapi Wiyah berdoa agar mereka sama-sama saling menguatkan untuk menghadapi semuanya.


"Kakak percaya, Zri. Kalau kak Fazar pasti akan baik-baik saja. Karena dia adalah pria dan Abang yang kuat untuk kita." Jawab Wiyah sambil menangkup wajah Fazri, lalu jarinya menghapus air mata adik iparnya, yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri."Ya Rabb, kuatkan lah diriku untuk keluarga ini, Karena kalau sampai aku sama-sama berlarut-larut dalam kesedihanku, pasti keluarga ini semakin jatuh dalam kesedihan, karena tidak ada yang mengutkan mereka." Batin Wiyah berusaha untuk tetap kuat, walaupun itu sangatlah sulit untuk dirinya.


"Zri, Abidzar. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Fazar bisa masuk rumah sakit? Bukannya tadi pagi Fazar baik-baik saja?" Tanya bunda Sisi, langsung memberikan mereka banyak pertanyaan. Bahkan bunda Sisi terus saja menangis menatap semua orang di sana untuk mendengarkan penjelasan.


Bunda Sisi menatap kearah menantunya, yang kini terlihat kusut bahkan mata Wiyah kini sudah bengkak. Bunda Sisi yakin, kalau dari tadi menantunya itu terus saja menangis. Bunda Sisi ikut duduk di kursi samping menantunya itu, dan bunda Sisi langsung memeluk menantunya, karena sekarang mereka harus saling menguatkan. Bagaimanapun, mereka sama-sama merasa terpukul disini. Apalagi orang yang sama-sama mereka sayangi sedang berada dikondisi yang tidak baik-baik saja.


Abidzar menghembuskan nafasnya, lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Fazar, sampai seperti ini, karena ulah Zain sekretarisnya yang selama ini menyamar. Abidzar juga menceritakan apa saja kejahatan Kevin selama ini.


"Jadi selama ini Zain adalah Kevin, saudara sepupu Amira dan Nadila?" Abidzar menganggukkan kepalanya.


"Karena obsesinya, yang terlalu besar kepada Amira membuat Kevin sampai melakukan banyak kejahatan."


"Aku tidak menyangka, kalau Zain yang baik ternyata adalah penghianat sebenarnya." Sambung tuan Aslan yang tidak percaya akan kebenaran yang Abidzar ceritakan, tapi ini kenyataannya. Kalau orang yang baik belum tentu baik, karena bisa saja mereka berkhianat.


"Aku tidak percaya, kalau orang sebaik tuan Zain ternyata penghianat." Batin Haidar yang sama-sama terkejut sekaligus tidak percaya, kalau penjahat sebenarnya adalah Zain.

__ADS_1


"Kita masuk dalam perangkap Kevin selama bertahun-tahun, bahkan kita tidak mencurigainya sama sekali, makanya selama ini dia bebas." Ucap Abidzar."Apa selama ini, bunda pernah melihat gelagat aneh yang Zain tunjukkan?"


"Bunda tidak pernah melihat gelagat aneh yang Zain tunjukkan, makanya bunda kaget saat mendengar ceritamu, kalau Zain adalah penjahatnya." Jawab bunda Sisi. Bukan saja bunda Sisi yang kaget saat mendengar cerita Abidzar. Melainkan Wiyah, Windi dan juga Jaiz. Walaupun mereka tidak terlalu mengenal Zain, tapi pria yang bertugas sebagai sekertaris suaminya itu, Pernah membantu mereka saat mereka butuh sesuatu.


Tidak berselang lama lapu di ruangan opsesi mati, tanda kalau operasi telah selesai. Mereka semua yang melihat itu, dengan tidak sabar menunggu dokter keluar dari ruangan opsesi.


Pintu ruangan opsesi dibuka dan dari pintu mereka bisa melihat dokter paruh baya yang keluar dari ruangan itu sambil melangkah mendekat kearah mereka.


"Dokter. Bagaimana kondisi anak keponakan saya?" Tanya tuan Aslan menatap kearah dokter, bahkan ruangan itu berubah menjadi tegang sekarang karena menunggu jawaban dari dokter itu.


Doa terus mereka panjatkan dalam hati, agar keajaiban datang dan dokter akan mengatakan. Kalau Fazar baik-baik saja.


"Puji syukur, operasi perjalanan dengan lancar dan kami berhasil mengeluarkan racun itu dari tubuh pasien sebelum racun itu merusak organ-organ penting didalam tubuhnya, dan pasien juga telah melewati masa kritisnya."


"Alhamdulillah....." Semua orang langsung mengucapkan puji syukur saat mendengar ucapan dokter. Ruangan yang tadi tegang, seakan mencair karena ucapan dokter barusan. Ini adalah kabar bahagia untuk mereka, setelah kabar menyedihkan tadi.


"Alhamdulillah Bun. Kak Fazar baik saja... hiks... hiks." Tangis Wiyah didalam pelukan bunda Sisi, karena begitu sangat senang saat mendengar kondisi Fazar yang sudah baik-baik saja.


"Alhamdulillah sayang." Jawab bunda Sisi membalas pelukan menantunya itu.


"Apakah kami bisa menemui pasien, dok?"


"Bisa tuan. Tapi setelah kami pindahkan keruangan rawat, setelah itu tuan dan keluarga bisa menemuinya."


"Terimakasih dokter." Ucap bunda Sisi menengkupkan kedua tangannya.


Dokter itu tersenyum."Terimakasih kembali, nyonya. Kalau begitu, permisi tuan nyonya, saya harus mengecek pasien sebelum dipindahkan." Jawab dokter itu. Lalu kembali masuk kedalam ruangan opsesi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2