
Kesabaranku membawa cinta
Sesampainya di rumah sakit, yang pamannya sebutkan tadi. Fazar memasuki rumah sakit dengan terburu-buru dan juga perasaan khawatir. Fazar melangkah kearah ruangan UGD, dan dari jauh Fazar bisa melihat keluarganya disana, yang sedang duduk di kursi tunggu, untuk menunggu kabar dari dokter.
" Bunda, paman." Panggil Fazar saat sudah sampai di samping para keluarganya.
Mereka yang mendengar suara Fazar sama-sama menoleh ke samping, dan mereka bisa melihat kalau Fazar sudah berada di samping mereka. Padahal belum lama mereka menelfon Fazar, tapi Fazar sudah berada disini.
" Bagaimana dengan kondisi istriku, apakah istriku baik-baik saja, kenapa istriku bisa pendarahan dan kalian tidak memberitahuku masalah ini." Tanya Fazar, yang langsung membondong pertanyaan kepada keluarganya.
" Kondisi istrimu kami belum tau Zar, apakah Wiyah dan juga kandungannya baik-baik saja atau tidak, kami tidak tau kenapa Wiyah bisa pendarahan karena saat bunda masuk kedalam kamar bunda sudah melihat istrimu seperti menahan kesakitan."
" Walaupun kami memberitahukan mu Zar, apakah kamu akan peduli, mengingat kamu sedang menyesali perbuatan mu di masalalu kepada mantan tunangan mu, sampai melupakan istrimu." Ucap bunda Sisi kembali, sambil menatap Fazar dengan kecewa.
Ya, bunda Sisi mengetahui kalau Fazar sedang menyesali kesalahannya di masalalu, karena melihat Fazar sering diam dan melamun beberapa hari ini.
Apalagi Fazar sudah menceritakan semuanya kepada keluarganya siapa Nadila sebenarnya, yang ternyata bukanlah Amira, mantan tunangan Fazar empat tahun yang lalu.
Nadila hanya saudara kembar Amira, dan kejadian waktu itu bukanlah Amira melainkan Nadila, dan Fazar telah salah paham selama bertahun-tahun ini tanpa mengetahui kebenaran yang sebenarnya.
Para keluarga tau, pasti Fazar merasa bersalah karena tidak mendengar penjelasan Amira waktu itu. Makanya sekarang Fazar seperti mengabaikan istrinya, karena terlalu berlarut-larut dalam penyesalan nya.
Dada Fazar seketika sakit saat mendengar jawaban dari bunda Sisi. Fazar menyadari kesalahannya dimana, karena tadi ia seperti mengabaikan istrinya, bahkan dia pergi begitu saja tanpa mengantarkan istrinya itu dikamar.
Fazar sadar, kalau ini pasti karena kecerobohannya yang tidak terlalu memperhatikan istrinya, sampai istrinya seperti sekarang.
" Astaghfirullah, maafkan aku sayang." Fazar langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kursi tunggu, Karena Fazar begitu sangat menyesali kesalahannya. Mungkin ini akan menjadi kesalahan untuk kedua kalinya, karena ia mengabaikan istrinya itu, hanya untuk berlarut-larut dalam penyesalan masalalunya, yang sudah lama berakhir.
Bahkan ia akan menghancurkan rumah tangganya, karena kembali terjebak dalam masalalunya, padahal kemarin ia sudah melupakannya.
" Maafkan aku bunda, karena aku tidak bisa menjaga perasaan istriku. Aku sadar kalau aku yang membuatnya seperti sekarang." Lirik Fazar menatap bunda Sisi, terlihat data mata Fazar kalau dia begitu sangat menyesal." Kalau sampai terjadi sesuatu dengan mereka, akulah orang pertama yang di salahkan disini."
Sebenarnya bunda Sisi merasa kecewa melihat putranya itu, karena kembali menyakiti menantunya. Tapi bunda Sisi sadar kalau Fazar tidak sengaja melakukan itu, karena perasaannya sedang kacau sekarang.
" Jangan menyalakan dirimu Zar, karena kita disini semua bersalah atas kondisi Wiyah sekarang. Seandainya tadi kami menegur sikapmu tadi, yang kamu tunjukkan kepada istrimu, mungkin Wiyah tidak akan berada disini." Ucap bunda Sisi. Bunda Sisi, berserta keluarga yang lain, ikut merasa bersalah, karena mereka tidak melakukan apapun, saat Fazar sikap Fazar berubah tadi.
" Belajarlah dari kejadian ini Zar. Apapun yang terjadi, jangan pernah melibatkan perasaan istrimu, apalagi dalam kondisi istrimu mengandung, pasti perasaannya begitu sangat sensitif terhadap apapun." Nasehat tuan Aslan.
Sedangkan Fazar hanya menundukkan kepalanya, saat mendengar nasehat tuan Aslan.
" Setelah istrimu sadar, minta maaf lah kepadanya, apapun yang terjadi jangan salahkan istrimu. Karena di posisi ini istrimu tidak bersalah melainkan kamu kamu sebagai suami yang tidak bisa menjaga perasaannya. Apa kamu mengerti."
" Iya paman aku mengerti." Jawab Fazar
Sedangkan Abidzar, Fadil dan Fazri yang memang berada di ruangan itu, hanya bisa mendengar perbincangan Fazar bersama dengan bunda Sisi, dan juga tuan Aslan. Mereka hanya bisa menatap Fazar dengan tatapan marah, tanpa bisa melakukan apapun. Walaupun mereka sama-sama kesal dengan lekukan Fazar, tapi mereka tidak bisa melakukan apapun, mengingat sekarang mereka berada di rumah sakit.
" Andai saja ini di rumah dan tangan ku sedang tidak sakit, mungkin Abang sudah aku buat babak belur, karena membuat kakak ipar ku tersakiti kembali, bahkan sekarang janin dalam kandungannya juga menjadi taruhannya." Batin Fazri menatap Fazar dengan tatapan kesal.
__ADS_1
" Untung saja aku masih menghargai mu Zar, kalau ngga, pasti aku sudah dari lama merebut istrimu dari tangan mu."
" Kalau saja boleh, aku akan membawa Wiyah pergi jauh, untuk menjauhi abang, biar Abang kapok. Tapi aku tidak bisa melakukan itu, karena aku belum menyatakan perasaanku kepada Fina."
.
Setelah menunggu lama. Akhirnya dokter wanita, yang berprofesi sebagai dokter kandungan, keluar juga dari ruangan UGD.
Fazar bersama dengan keluarganya lainnya ikut berdiri saat melihat kedatangan dokter itu. Mereka harap-harap cemas dengan kabar yang akan mereka dapat. Mau kabar baik atau kabar buruk, mereka siapa mendengarnya.
" Bagaimana dengan kondisi istri saya Bu dokter." Tanya Fazar.
" Apa anda suami pasien." Tanya dokter wanita itu.
" Iya, saya suaminya." Jawab Fazar." Bagaimana dengan kondisi istri saya dan juga kandungannya."
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Di kota B.
Tepatnya di sebuah bangunan yang tampak megah yang berada di kota itu. Mansion yang berharga fantastis.
Di sebuah ruangan yang tampak mewah, seorang pria sedang menyambut tamu yang tidak di undang datang ke mansion nya.
" Untuk apa kamu datang kesini." Tanya pria itu menatap datar kearah wanita cantik didepannya.
" Saya hanya ingin bertemu dengan anda tuan Ardian Natan Ronaltan. Apakah anda lupa dengan saya, karena selama bertahun-tahun kita tidak bertemu."
" Untuk apa saya harus lupa dengan wanita mu**han seperti anda nyonya Nadila ernesta Berend Lian." Jawab Ardian tersenyum miring.
Mendengar Ardian menyebut namanya dengan wanita m**ahan, membuat Nadila mengepalkan tangannya karena kesal. Tapi Nadila harus menahan kekesalannya, karena tujuannya belum tercapai.
" Saya kira anda melupakan nama saya Ardian, ternyata tidak, yang artinya anda masih mencintai saya."
" Cih, anda sangat pede nona Nadila, Bahkan anda sangat menjijikkan. Saya tidak akan sudi untuk mencintai wanita kotor seperti Anda nona Nadila." Jawab Ardian sambil menatap Nadila dengan tatapan tidak suka." Siapa sih, yang tidak mengenal dengan anda nona Nadila. Pasti setiap orang mengenal anda, Karena anda adalah berkerja sebagai wanita penghibur, tentu mereka mengenal anda dengan baik."
" Tapi kita sama tuan Ardian. Tidak ada bedanya, mencari kepuasan di luar untuk memuaskan n**su kita masing-masing, jadi anda jangan merasa paling suci disini, tapi anda sendiri buruk disini." Geram Nadila kesal.
Mendengar ucapan Nadila membuat Adrian tertawa." Jangan terlalu banyak basa basi nona Nadila, cepat anda katakan kenapa anda datang kesini."
" Saya hanya ingin mengingatkan anda tuan Ardian, kalau anda memiliki masalalu."
" Saya memang memiliki masalalu tapi masalalu itu sudah saya lupakan, termasuk anda." Jawab Ardian." Lebih baik anda keluar, jika anda hanya ingin membahas masalalu yang menjijikkan itu, karena saya sudah lama melupakannya.
" Tapi anda tidak lupa tuan Ardian, Bahkan anda begitu sangat mengenal gadis yang bernama Mayla Saynia. Bukannya dia sama seperti saya, sama-sama wanita murahan yang kamu temukan sembilan tahun yang lalu." Nadila menatap Ardian dengan tatapan mengejek, karena Nadila ingin melihat respon Ardian.
" Bukannya dia wanita murahan, yang pergi meninggalkan anda hanya untuk kepuasannya. Saya tidak menyangka kalau wanita yang anda cintai ternyata sama seperti saya."
__ADS_1
" Diam, anda nona Nadila, dia tidak seperti itu. Karena waktu itu, saya lah, orang pertama, yang mengambil ke kehormatannya. Dia gadis baik-baik tidak seperti anda."
" Jika dia gadis baik-baik, Tapi kenapa dia pergi meninggalkan anda, jika dia bukan wanita murahan."
Ardian semakin memejamkan matanya mendengar ucapan Nadila. Karena apa yang Nadila katakan itu benar. Gadis itu hanya gadis murahan yang mau tidur bersama dengan orang lain, padahal dia sudah bersuami.
Mengingat itu membuat emosi Ardian langsung naik." Jangan pernah menyebutkan nama wanita itu, karena kalian memang sama. Sama-sama murahan, menjual tubuh kalian hanya untuk uang." Ucap Ardian menatap tajam. Ardian kembali teringat akan masalalunya, dimana dia melihat gadis yang dia cintai sedang....
Mengingat itu membuat emosi Ardian semakin memuncak. Dia begitu sangat benci dirinya, karena mempercayai setiap wanita, yang ternyata memiliki perilaku yang sama.
" Tapi bagaimana jika wanita itu memiliki anak, dan mengaku kalau anda adalah ayahnya."
Ardian tersenyum miring." Aku tidak akan sudi menerima anak itu, karena aku yakin dia bukan anakku, mengingat wanita itu pernah tidur dengan pria lain."
" Walaupun dia anakku, aku tidak akan sudi menerimanya, karena dia hadir didalam rahim wanita mur**an itu. saya tidak akan bisa menerima anak itu, bagaimana pun dia. Karena saya begitu sangat membenci Mayla Saynia. Wanita m**ahan yang mau menjual dirinya
Nadila semakin tersenyum jahat mendengar jawaban dari Ardian." Selamat anda sudah terjebak dalam permainan ku Ardian." Batin Nadila.
Yang Ardian tidak tau, kalau perbincangan mereka tadi di dengar oleh gadis kecil yang dari tadi berdiri didepan pintu, sambil mendengarkan semua perkataan Ardian. Hanya bisa menahan Isak tangisannya, dengan cara menutup mulutnya agar tidak terdengar.
Gadis kecil yang tidak lain adalah Harum, tidak tau kalau pria yang pernah dia temui waktu itu ternyata adalah papa nya.
Sebenarnya Harum menaruh harapan kepada Ardian, kalau Ardian akan membebaskannya dari Nadila, setelah tau kalau dirinya adalah putri nya, tapi sepertinya dugaannya salah setelah mendengar ucapan Ardian yang menghina sang bunda dan juga tidak akan mau menerima kehadirannya.
" Mama, maafkan Harum yang terlalu berharap lebih dari papa." Batin gadis kecil itu, sambil menahan tangisnya dan rasa sakitnya.
Di bawah gelapnya malam, gadis kecil itu kembali menerima rasa sakit, karena penolakan.
Seharusnya di usianya seperti sekarang, dia tidak mendapatkan rasa sakit ini. Tapi sepertinya dunia terlalu kejam untuk gadis kecil seusianya yang harus mendapatkan ujian seh berat ini.
.
.
Setelah bertemu dengan Ardian, kini Nadila bersama Harum kembali di mansionnya.
Harum hanya bisa diam sambil menatap langit yang tampak gelap, gadis kecil itu hanya diam tak bersuara sama sekali, karena percuma juga dia bersuara, kalau suaranya akan mengusik nyonya.
" Kamu masih ingat dengan perjanjian kita gadis kecil."
" Iya nyonya, saya masih mengingatnya."
" Kalau begitu, besok kita temui klien pertama kamu gadis kecil."
Harum hanya mengangguk pasrah mendengar ucapan Nadila, karena percuma juga dia menolak kalau dirinya akan tetap mendapatkan nya.
Ya, Nadila akan menjual Harum besok, karena usaha gelapnya sudah sepenuhnya bangkrut, bahkan perusahaan ayah tirinya juga terbawa oleh permasalahan ini. Karena tidak ada cara lain, terpaksa Nadila menjadikan gadis kecil di sampingnya itu sebagai tumbal, apalagi Mansi tempat mereka tinggal sekarang, sudah di temukan oleh polisi, jadi terpaksa Nadila melarikan diri dan mencari persembunyian lain.
__ADS_1
". Besok jangan pernah macam-macam untuk kabur, karena aku telah mengabulkan permintaan mu." Lagi-lagi Harum hanya mengangguk.
...----------------...