
" Selamat Zar. Aku tidak menyangka kalau kamu, sehebat itu, yang bisa membuat tiga sekaligus" Ucap Abizard sambil terkekeh yang masih menggoda sepupunya itu yang terlihat kesel.
Sedangkan Fazar yang mencabik kesal mendengar ucapan Abizard.
" Makanya cepat menikah, biar kamu bisa membuat empat sekaligus. Agar kamu tidak kalah denganku." Jawab Fazar kesal.
Sedangkan Abizard hanya bisa tertawa terus menerus melihat wajah kesal Fazar.
" Bagaimana mau nikah Zar, pacar saja tidak ada." Jawab Abizard terkekeh.
Sedangkan tuan Aslan yang melihat perdebatan keduanya hanya menggelengkan kepalanya." Abaikan ucapan adikmu Zar." Sambung tuan Aslan sambil menatap Abizard." Paman hanya bisa mengatakan selamat nak, karena kamu akan memiliki tiga anak sekaligus. Paman tidak menyangka, kalau kamu bisa membawakan paman tiga cucu sekaligus."
Tuan Aslan yang memang jarang tertawa, ikut terkekeh melihat wajah kesal Fazar. Bukan maksud ia ingin menggoda anak keponakannya itu, tapi ia ingin memberitahukan kebahagiaannya, dengan berkata seperti tadi.
" Terimakasih paman, ini juga berkat doa kalian semua, dan Alhamdulillah Allah telah mengabulkan nya dengan menitipkan tiga malaikat kecil untuk kami." Jawab Fazar tersenyum.
Setelah berbincang dengan pamannya, Fazar beralih menatap istrinya yang sedang dikerumuni oleh keluarganya, karena mereka ikut bahagia dengan kabar bahagia ini.
Apalagi pria paruh baya, yang pernah Fazar lihat di foto yang berada di kamar istrinya.
Fazar yakin kalau pria paruh baya itu pasti ayah mertuanya, yaitu ayah dari istrinya. Tapi Fazar sedikit bingung melihat penampilan pria itu, yang terlihat lebih kurus dari foto yang dia lihat.
Mungkin pengaruh berputarnya waktu, yang membuat setiap orang pasti akan berubah. Apalagi foto itu di ambil empat tahun yang lalu.
" Sayang." Panggil Fazar saat sudah berada di samping istrinya.
Wiyah yang mendengar kalau namanya di panggil, menoleh kearah samping dan ia bisa melihat suaminya disana.
Termasuk Jambri yang ikut menoleh, dan melihat pria yang tampan sedang berdiri di sebelah mereka sambil tersenyum.
Sama halnya dengan. Haidar dan Wiyah yang melihat kehadiran Fazar, dikit bergeser untuk memberikan Fazar maupun Jambri untuk berkenalan, apalagi menantu dan mertua itu baru pertama kalinya mereka bertemu.
" Kakak, ini ayah yang sering aku ceritakan." Ucap Wiyah memperkenalkan ayahnya kepada Fazar. Saat melihat suaminya itu menatap kearah ayahnya.
Ya, Wiyah sering menceritakan ayah kepada Fazar. Bagaimana rindu nya Wiyah kepada ayahnya yang selama ini pergi, padahal mereka baru saja bertemu.
Tapi Wiyah tidak bercerita kalau dia ingin bertemu kembali dengan keluarganya, dan berkumpul bersama seperti dulu lagi.
Wiyah memilih merendam rasa rindunya, dan tidak bercerita kepada Fazar, karena ia tidak ingin menyusahkan suaminya yang beberapa hari sedang mendapatkan masalah.
" Ayah, ini suamiku." Jambri tersenyum menatap menantunya itu. Jambri bisa merasakan kalau menantunya itu begitu sangat menyayangi dan mencintai putrinya. Jambri yakin, kalau putrinya tidak salah memilih seorang pria untuk menjadi mertuanya.
Fazar melangkah mendekati Jambri, lalu mencium punggung tangan mertuanya itu. Sampai membuat tubuhnya tiba-tiba saja ia merasa gugup saat di tatap oleh pria paruh baya itu.
__ADS_1
" Saya senang bisa bertemu dengan mu ayah mertua." Ucap Fazar gugup.
Padahal biasanya Fazar tidak segugup ini saat bertemu dengan kliennya. Tapi berbeda dengan malam ini, dia merasa gugup saat bertemu dengan ayah mertuanya.
" Saya juga senang bisa bertemu dengan menantuku." Ucap Jambri tersenyum senang." Aku tidak menyangka, kalau menantuku setampan ini, pantas putriku mau menikah di usianya yang belum genap sembilan belas tahun."
Fazar yang mendengar ucapan mertuanya hanya tersenyum. Andai mertuanya itu tau, kalau ia menikah dengan putrinya dengan cara memaksa putri nya untuk menikah dengannya. Apakah mertuanya akan tetap berkata seperti tadi.
" Terimakasih ayah mertua. Aku Juga bahagia, Karena bisa menikah dengan istriku. Walaupun usianya masih muda, tapi istriku mau menikah denganku. Bahkan istriku mau menerima semua kekurangan dan kelebihanku." Jawab Fazar tersenyum menatap istrinya." Terimakasih ayah mertua, karena sudah mendidik istriku, menjadi wanita yang hebat seperti sekarang. Mungkin kalau tidak ada istriku, aku tidak seperti sekarang." Walaupun bingung dengan ucapan menantunya itu, Tapi Jambri tetap mengangguk dan menepuk pelan punggung Fazar.
" Aku memang merawatnya sampai istrimu dewasa nak, tapi selama bertahun-tahun aku meninggalkan nya. Dia seperti sekarang, itu karena didikan dari kakak nya Haidar." Jawab Jambri menghembuskan nafasnya.
Semua orang menatap kearah Haidar.
Mereka tau kalau Wiyah besar bersama dengan Haidar. Tapi mereka tidak tau, kenapa Jambri meninggalkan Wiyah bersama dengan Haidar.
" Aku titip putriku, jika dia melakukan kesalahan, tolong tegur putriku dengan lembut, karena dia belum sepenuhnya dewasa. Dan jika kamu sudah tidak nyaman dengannya, tolong jangan sakiti putriku. Tapi kembalikan putriku kepada kami. Maka kami akan menerima dengan sepenuh hati, seperti kami menyerahkannya kepada mu."
Sebenarnya perkataan itu ingin Jambri katakan saat putrinya menikah. Tapi di saat Wiyah menikah, Jambri tidak menghadirinya. Maka malam ini dia akan mengatakannya.
" Ayah mertua tenang saja, aku tidak akan menyakitinya, karena Istriku adalah belahan jiwaku ayah mertua, aku tidak akan melakukan hal konyol dengan cara menyakitinya. Aku tidak akan melepaskannya sampai ajal memisahkan kami. Aku tidak akan melakukan hal konyol seperti hal itu, apalagi sekarang istriku sedang mengandung." Jelas Fazar tegas menatap mertuanya itu, agar mertuanya itu percaya dengan ucapannya tadi." Aku tidak akan melakukan hal konyol seperti dulu, untuk yang kedua kalinya, Ayah mertua. Karena sekarang, istriku adalah nyawaku." Batin Fazar.
Jambri tersenyum, lalu menepuk kembali pundak menantunya itu." Aku percaya kepada nak, karena kamu adalah pria yang bertanggung jawab dan bisa menepati janjimu. Aku tau nak, kalau kamu tidak akan menyakiti putriku, karena kamu mencintai nya." Jambri beralih menatap putrinya itu. Jambri mendekatkan tubuhnya untuk lebih dekat dengan menantunya itu." Aku percayakan padamu menantuku, untuk kebahagiaan putriku, setelah kepergianku nanti." Bisik Jambri tepat di kuping Fazar.
Fazar tampak mengerutkan keningnya bingung, mendengar bisikan Jambri. Rasanya ia ingin bertanya, tapi tidak jadi saat melihat mertuanya itu tersenyum padanya.
Suasana yang tadi tegang, karena perbincangan antara menantu dan mertua. Kini lebih mencair saat keduanya kembali berbincang, tapi tidak setegang tadi. Karena Jambri menggoda menantunya itu.
Kini menantu dan mertua itu, seakan anak dan ayah saat berkumpul seperti ini.
Semoga hubungan keluarga itu tetap seperti sekarang.
🥀🥀🥀🥀🥀
Tidak terasah malam telah berganti pagi. Matahari yang tadi terbenam, kini kembali menyapa umat manusia. Pagi yang cerah dengan aktivitas yang baru. Apalagi hari ini adalah persidangan pertama untuk Fadil.
Semoga persidangan hari ini, Fadil di nyatakan tidak bersalah dan semua kejahatan Aldrich terbongkar.
" Kalian sudah menyiapkan semuanya." Tanya Fazar pada orang diseberang sana.
" Sudah tuan, semuanya sudah saya siapkan."
" Alhamdulillah. Pastikan rencana kita tidak tercium oleh mereka."
__ADS_1
" Tenang saja tuan, kami sudah merencanakannya dengan matang."
Setelah mendengar jawaban dari orang suruhannya. Fazar kembali mematikan panggilan telefon nya, lalu menyimpan ponselnya.
" Kak, hari ini persidangan kak Fadil." Tanya Wiyah melangkah kearah suaminya, sambil membawa Jas kerja suaminya.
" Iya sayang, hari ini adalah persidangan Fadil." Jawab Fazar.
Fazar mengambil jas itu dari tangan istrinya, tidak lupa mencium kening Wiyah dengan mesra.
" Kenapa aku ngga ajak kak. Padahal aku mau ikut."
" Ngga boleh sayang. Soalnya, sayang lagi hamil. Nanti terjadi sesuatu sama anak-anak kita, saat suasana tegang nanti."
" Tapi kak, aku pengen menyaksikan persidangan itu. Hitung-hitung, nanti aku jadi pengacara. Boleh ya kak" Ucap Wiyah memohon sambil menatap Fazar.
" Maaf untuk kali ini kakak menolak permintaan mu sayang, Kakak takut, terjadi sesuatu dengan kandungan mu." Ucap Fazar mengusap perut istrinya itu." Apalagi nanti disana ada orang-orang jahat yang akan mengincar keluargaku sayang. Takutnya nanti, mereka mengincar sayang dan anak-anak kita. Makanya kakak ngga mengajakmu untuk ikut." Jelas Fazar." Maaf."
Ya, itulah alasan kenapa Fazar tidak membawa Wiyah untuk ikut. Karena taku istrinya itu menjadi incaran tuan Aron dan Nadila, Apalagi waktu itu istrinya pernah bertemu dengan Nadila.
Fazar juga sudah mengetahui kalau Nadila yang menyakiti Fazri kemarin. Fazar hanya takut, kalau Nadila akan menyakiti istrinya seperti Nadila menyakiti Fazri seperti kemarin. Apalagi kalau mereka tau, kalau istrinya sedang mengandung.
Tapi bukan itu saja yang Fazar takutkan. Fazar juga takut kalau sampai istrinya mengetahui, Kalau korban yang Fadil selamatkan itu adalah sahabatnya sendiri. dan istrinya itu akan merah saat mengetahui kebenaran itu, Karena hal seperti ini mereka tidak memberitahukan nya, malahan mereka merahasiakan nya dari Wiyah.
Walaupun sedih, tapi Wiyah tetap menuruti ucapan suaminya." Baiklah kak, aku tidak akan ikut. Tapi kalau persidangannya sudah selesai, tolong kabarin aku ya kak."
" Iya sayang." Jawab Fazar." Kalau gitu, ayo kita keluar untuk sarapan bersama. Pasti ayah, kak Haidar, kak Windi dan ketiga anak keponakan mu sudah menunggu kita dari tadi."
Ya, Fazar dan Wiyah masih berada di rumah Haidar. Karena istrinya itu masih tidak mau pulang, karena ia masih ingin menghabiskan waktu beberapa hari lagi untuk bersama dengan ayahnya, sebelum ayahnya kembali ke kota B.
Sedangkan Wiyah hanya mengangguk mendengar ucapan suaminya itu.
.
Sesampainya di meja makan. Fazar dan Wiyah bisa melihat, keluarga Haidar yang dari tadi menunggu mereka.
" Maaf kalian menunggu kami terlalu lama." Ucap Fazar sambil duduk di kursi.
Wiyah duduk di tengah-tengah ayah dan suaminya. Suaminya yang berada di sebelah kanan sedangkan ayah di sebelah kirinya.
" Tidak apa-apa Nak. Yang penting sekarang kita bisa berkumpul bersama." Jawab Jambri." Aku senang karena aku bisa berkumpul seperti ini dengan kalian. Semoga kedepannya akan tetap seperti ini."
" Aminn yah, semoga kedepannya akan tetap seperti ini." Jawab mereka dengan bersamaan.
__ADS_1
Sedangkan Wiyah begitu sangat bersyukur bisa melihat suaminya dan ayahnya bisa berkumpul bersama di meja yang sama.
...----------------...