
Agus berusaha untuk menindih tubuh Fina tapi Fina terus memberontak untuk di lepaskan nya.
" Tidak Gus aku tidak mau. Lepaskan, jangan lakukan ini." Fina menendang-nendang tubuh Agus, dan berusaha melepaskan tangan Agus yang sudah memegang kedua tangannya, tapi tenaganya tidak sekuat Agus." Aku mohon Agus jangan lakukan hal ini, kamu hanya salah paham." Ucap Fina ketakutan, Fina sambil menangis, karena takut apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya.
" Aku tidak percaya dengan perkataan mu Fin dan aku akan tetap melakukannya, karena aku tidak akan pernah melepaskan mu." Jawab Agus." Kebetulan juga, aku sudah berbulan-bulan tidak merasakan surga dunia bersama dengan wanita-wanita yang selama ini selalu menemaniku. Apalagi aku akan menikmati surga yang baru dan belum pernah di injak oleh orang, dan akulah yang pertama menginjaknya." Ucap Agus kembali, yang mencoba untuk menyentuh Fina. Tapi Fina terus menolak dengan Isak tangisannya.
" Kumohon jangan lakukan ini Gus." Fina semakin terisak saat Agus ingin menciumnya dengan paksa, tapi Fina selalu menghindar memalingkan wajahnya kearah lain.
" Ya Allah, kirimkan lah orang baik yang mau membantu hamba ini, untuk menggagalkan niat dari pria ini." Doa Fina dalam batinnya." Tolong lepaskan aku Gus, ku mohon."
Sedangkan Fadil sudah mengelilingi hampir setiap kamar, dan kamar itu sebagian terkunci.
" Apakah mungkin ada di lantai atas." Batin Fadil melangkah naik kelantai atas dengan sedikit berlari melewati satu persatu anak tangga. kedua kakinya begitu sangat cepat melewati setiap anak tangga. Karena Fadil merasakan kalau perasaannya seperti tidak enak, makanya ia berusaha untuk cepat-cepat menemukan keberadaan Fina sekarang.
Saat Fadil sudah berada di lantai atas, ia menyusuri setiap ruangan, tapi yang dia cari masih belum ia temukan.
" Dimana kamu Fina." Batin Fadil semakin gelisah karena ia belum menemukan keberadaan Fina." Ya Allah lindungilah Fina dan berikan aku sebuah pertanda kalau Fina memang berada disini."
Lama terdiam di tempat yang sama, Fadil berencana untuk turun, karena ia merasa kecewa tidak menemukan keberadaan Fina di lantai atas. Sampai Fadil mendengar sesuatu dalam sebuah kamar membuat Fadil mengikuti sumber suara itu yang bertujuan kearah mana. Padahal Fadil sudah memeriksa kamar itu, hanya saja terkunci makanya Fadil tidak terlalu curiga.
Fadil menempelkan telinganya di pintu dan ia bisa mendengar ada suara orang yang meminta untuk di lepaskan dengan Isak tangisannya. Walaupun tidak terlalu jelas, tapi Fadil masih bisa mendengar nya.
Tiba-tiba saja Fadil teringat Fina. Fadil takut kalau yang meminta untuk di lepaskan itu adalah Fina yang sekarang keberadaan nya tidak tahu kemana, dan bisa saja kan kalau didalam itu benar-benar Fina yang sedang dalam bahaya karena bersama dengan Agus yang terkenal pria pecinta wanita.
" Woy, buka pintunya." Teriak Fadil sambil menggedor-gedor pintu kamar itu agar orang didalam terusik." Buka pintunya, sebelum aku mendobraknya." Ancam Fadil tapi tidak mendapatkan sahutan dari dalam.
Karena tidak mendapatkan sahutan dari dalam dan suara dari dalam semakin membuat Fadil khawatir membuat Fadil berinisiatif untuk mendobrak pintu itu, tapi tenaganya tidak sekuat dulu, membuat ia tidak bisa membuka pintu itu.
Karena tidak ada cara lain, membuat Fadil mengabari Fiki untuk membantunya.
Tidak membutuhkan waktu lama Fiki datang dengan tergesa-gesa menghampiri Fadil." Cepat dobrak pintu ini Fik, aku yakin kalau Fina berada didalam." Perintah Fadil membuat Fiki mengangguk mengiyakan, lalu dengan ancang-ancang Fiki bersiap mendobrak pintu.
Dalam satu dobrakan pintu itu masih belum terbuka karena terlalu kuat. Kedua, sampai yang ketiga. Akhirnya pintu itu terbuka. Fadil dan Fiki bergegas masuk kedalam.
Sedangkan Agus harus menghentikan kegiatan nya saat mendengar pintu kamarnya di dobrak dan melihat kalau ada yang masuk kedalam. Padahal Agus sudah berhasil membuka hijab Fina dan merobek setengah pakaian Fina. Tapi Agus belum sempat melihat rambut dan tubuh itu, karena kegiatan nya harus di hentikan saat mendengar pintu yang didobrak paksa dan ada orang yang masuk dalam kedalam dan mengganggu aktivitasnya.
Fina yang menyadari kalau Agus melepaskan nya langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut karena setengah bajunya sudah sobek dan hijabnya juga sudah terlempar.
__ADS_1
Fadil yang melihat keberadaan Agus yang berada di atas kasur dengan bertelanjang dada, dan ia juga melihat balutan selimut yang menutupi tubuh seseorang, membuat Fadil langsung mengepalkan tangannya dengan penuh amarah.
" Dasar pria brengsek." Fadil melangkah mendekati Agus, lalu menarik tubuh Agus dengan kasar yang membuat tubuh Agus langsung jatuh kelantai." Kenapa kamu melakukan kepada gadis yang tidak tahu apa-apa. Dasar pria yang tidak tahu malu" Fadil memukul wajah Agus berkali-kali dengan sangat kuat membuat wajah Agus langsung biru, keunguan dan juga mengeluarkan darah.
Agus tidak bisa melawan karena tenaga Fadil begitu sangat kuat daripada dirinya." Dasar pria brengsek, tidak tahu malu. Kamu sudah banyak melakukan nya kepada wanita lain, kenapa harus dia." Ucap Fadil di sela-sela pukulannya.
Sedangkan Fiki tidak ikut campur dengan apa yang Fadil lakukan. Karena Fiki membenarkan tindakan Fadil yang memukul Agus. Karena setiap penjahat seperti Agus yang suka melecehkan wanita begitu sangat pantas mendapatkan pukulan, bahkan membunuh nya juga tidak masalah.
Fadil menarik kerah baju Agus, lalu dengan kasar menarik nya untuk berdiri." Apa yang sudah kamu lakukan." Teriak Fadil tepat di wajah Agus. Sedangkan Agus hanya tersenyum, menatap Fadil.
" Aku sudah menikmati nya." Jawab Agus semakin membuat emosi Fadil bertambah, yang membuat Agus kembali memukul Agus yang membuat wajahnya semakin babak belur.
" Bereskan dia. Tapi sebelum itu, antar dia di rumah sakit untuk mengobati nya" Setelah meluapkan emosi nya, Fadil melemparkan Agus dengan kasar di kaki Fiki. Fadil melangkah mendekat kearah kasur yang terdapat Fina disana yang sedang menutupi tubuhnya dengan selimut.
Perlahan-lahan Fadil membuka selimut itu dan membuatnya bisa melihat rambut Fina yang kusut dan baju nya yang sobek." Keluarlah Fiki." Perintah Fadil saat melihat Fina tidak memakai hijab nya.
Fiki hanya menuruti perintah Fadil, lalu keluar sambil membawa tubuh tidak berdaya Agus.
" Tenanglah, semuanya sudah baik-baik saja." Ucap Fadil mendekati tubuh Fina. Fadil membawa Fina dalam pelukannya." Jangan takut, aku ada disini." Ucap Fadil sambil memberikan ketenangan kepada gadis yang dia sukai, mengusap lembut punggung itu.
" Terimakasih kak. Karena sudah menyelamatkan ku dari dia. Andai saja kak Fadil tidak ada, mungkin..." Fadil menaruh telunjuknya di bibir Fina.
" Sudah, jangan di ingat. Biarkan kejadian tadi sebagai mimpi buruk mu." Potong Fadil." Kamu mengerti." Fina hanya mengangguk mengiyakan.
" Terimakasih kak." Ucap Fina kembali sambil menangis, membuat Fadil kembali memeluknya.
" Sudah, jangan berterimakasih dan menangis." Ucap Fadil." Lebih baik sekarang kita keluar. Aku akan mengantarmu mu pulang." Ucap Fadil kembali, meraih hijab Fina yang berada di lantai." Pakailah."
Yang Fadil dan Fina tidak tahu, kalau Fadil adalah laki-laki pertama yang melihatnya tanpa mengunakan hijab. Walaupun Agus membuka hijab itu secara paksa, tapi belum sempat Agus melihat nya, Fadil sudah masuk kedalam dan membuat Agus tidak bisa melihat rambut Fina.
Fadil membantu menurunkan Fina dari kasur, lalu membuka kemejanya yang menyisakan baju kaos saja saat melihat baju Fina yang sedikit robek. Fadil memakaikan kemejanya ke Fina, agar bagian yang sobek itu tidak terlihat.
" Terimakasih kak."
" Sudah jangan berterimakasih terus."
Fadil melihat kearah kasur, dan ia bisa melihat kalau kasur itu tidak terdapat apapun, yang berarti Fina belum di sentuh dan yang di katakan oleh Agus tadi bohong.
__ADS_1
" Terimakasih ya Allah, karena engkau sudah melindungi nya." Batin Fadil.
.
.
Orang-orang menatap kearah Fadil dan Fina, saat mereka baru saja turun dari lantai atas. Mereka sudah mengetahui apa yang terjadi di lantai atas. Karena salah satu dari tamu undangan, tidak sengaja melihat Agus yang di seret pergi dengan kondisi yang tidak baik.
Fadil yang melihat tatapan orang-orang yang mengarah ke Fina, menyembunyikan wajah Fina di dadanya. Agar orang-orang tidak melihat wajah Fina.
" Tetap seperti ini, karena orang-orang menatap kearah kita." Bisik Fadil.
.
.
Fadil menjalankan mobilnya, sambil sesekali menoleh kearah Fina yang berada disebelahnya. Gadis itu hanya diam melamun menatap kearah jalan.
" Percayalah semuanya sudah selesai, dan pria itu tidak akan mengusik mu."
" Terimakasih kak, karena sudah mau menolongku bahkan dengan baik mengantarkan ku kerumah." Ucap Fina." Andai aku mengerti apa yang kak Fadil ucapakan waktu itu, mungkin semua tidak terjadi seperti ini." Ucap Fina yang merasa bersalah.
Andai ia menuruti ucapan Fadil mungkin semuanya tidak akan terjadi seperti ini.
" Sudahlah jangan di ingat, yang lalu biarlah berlalu." Jawab Fadil." Sebaik lupakan kejadian tadi agar tidak menggangu pikiran mu."
Tidak lama mereka telah sampai di kediaman Fina.
" Terimakasih kak, sudah mau menolongku dan membantuku." Ucap Fina." Berjanjilah kalau kak Fadil tidak mengatakan sesuatu kepada siapapun, termasuk kedua orang tuaku."
" Kenapa, mereka harus tahu, apa yang menimpamu tadi." Tanya Fadil.
" Karena aku tidak mau membuat mereka khawatir. Maka berjanjilah untuk untuk tidak mengatakan apapun kepada kedua orang tuaku, termasuk Wiyah. Pasti dia akan sangat khawatir jika mendengar kejadian tadi hampir menimpaku. Anggap semua ini hanya rahasia kita berdua."Jawab Fina.
" Baiklah aku tidak akan memberitahukan kepada siapapun dan akan menjaga rahasia ini." Jawab Fadil." Dan aku juga akan membuat orang-orang dia setelah tahu kejadian itu." Batin Fadil.
...----------------...
__ADS_1