Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Ekstra part 22


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta.


Setelah dua minggu di rawat di rumah sakit, kini Fazar di perbolehkan pulang dan Luka jahitan nya juga sudah mulai pulih.


Setelah melakukan beberapa pengecekan, kini Fazar bisa keluar dari ruangan serba putih itu, yang dua minggu ini selalu membuatnya pusing.


"Jadi ngga sabar ketemu sama anak-anak, sayang. Apalagi selama dua minggu ini tidak melihat anak-anak secara langsung." Ucap Fazar begitu sangat tidak sabar untuk sampai di rumahnya, apalagi selama dua minggu ini, Fazar tidak bertemu anaknya. Walaupun mereka sering melakukan video call tapi Fazar begitu sangat merindukan untuk bertemu secara langsung.


"Iya, Bi. Sama aku juga merindukan anak-anak. Walaupun aku sering menemui anak-anak di rumah, tapi aku tetap merindukan mereka, karena waktu untuk bersama mereka begitu sangat singkat, bi." Sambung Wiyah, yang bisa merasakan ke bahagia nya suaminya itu. Karena selama dua minggu ini, Wiyah begitu sangat jarang bertemu dengan anak-anaknya, karena Wiyah harus bolak-balik kerumah dan juga rumah sakit untuk menjaga suaminya, membuat Wiyah jarang memiliki waktu untuk anak-anaknya di rumah. Sebenarnya Wiyah begitu sangat bersalah meninggalkan sih kembar dan juga Beby Falisha, tapi Wiyah juga harus merawat suaminya, yang membuat Wiyah dengan terpaksa meninggalkan anak-anak dia rumah bersama ibu, kakak ipar dan juga mertuanya.


"Pasti mereka berempat bakalan rindu sama, kamu Zar, karena sudah lama nggak bermain sama mereka." Sambung Abidzar yang ikut tersenyum jika mengingat anak keponakannya yang sangat aktif selama berapa hari ini. Apalagi menjaga Beby Fazran dan Beby Faeyza, Abidzar begitu sangat kewalahan.


"Memang anak-anak yang aktif, bang, kak." Ucap Fazri, yang mengingat kelakuan sih kembar yang hampir saja keluar di luar, karena mereka lalai menjaga sih kembar kemarin.


"Apakah mereka menyusahkan kalian selama beberapa hari ini?"


"Ya, lumayanlah bang." Jawab Fazri sambil membalikkan tubuhnya, menghadap kearah kursi belakang untuk menatap Abang dan kakak iparnya."Mereka hampir saja membuat ku gila, bang. Kalau saja bukan bayi dan anak keponakan ku, mungkin sudah ku gprek."


"Astaghfirullah, Zri, Ada-ada saja kamu. Baru jagain mereka selama dua mingguan kamu sudah stres, apalagi satu bulanan, mungkin sudah mati anak-anaknya Abang." Ucap Fazar menggelengkan kepalanya, heran dengan jawaban adiknya itu.


"Dasar." Cibir Abidzar, membuat Wiyah terkekeh kecil mendengar perdebatan ketiganya.


"Ck, memang gitu kenyataannya."


.


.


Tidak membutuhkan berapa lama, mobil yang mereka naiki telah sampai didepan rumah utama. Karena selama dua minggu ini, sih kembar dan juga Beby Falisha sengaja di bawah ke rumah utama dan di asuh oleh bunda Sisi. Bukan saja bunda Sisi, melainkan Windi dan Widya juga ikut mengasuh tiga bayi itu.


Mobil yang mereka naiki berhenti diparkiran khusus untuk mobil. Mungkin tidak terlalu mewah, seperti parkiran mobil mewah lainnya, tapi di parkiran itu tetap tersusun mobil dengan merek terkenal dan juga harga fantastis.


Dengan tidak sabaran, Fazar turun dari mobilnya, sambil menggandeng tangan sang istri, untuk cepat-cepat masuk kedalam.

__ADS_1


"Sabar, Abi. Jangan buru-buru." Tegur Wiyah saat melihat suaminya, terburu-buru sama seperti anak kecil yang begitu tidak sabaran untuk cepat-cepat masuk kedalam.


Sedangkan Fazri dan Abidzar hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Fazar yang tidak sabaran sekali untuk masuk kedalam karena ingin cepat bertemu dengan anaknya.


"Iya sayang, maaf." Jawab Fazar sambil tersenyum manis. Setelah itu keduanya kembali melangkah masuk kedalam rumah, dengan disusul oleh Abidzar dan Fazri yang sedang berbincang kecil.


Saat keempatnya masuk, mereka telah disambut oleh sih kembar yang kini merangkak kearah Wiyah dan Fazar, dengan wajah ceria. Sedangkan Beby Falisha yang berada di gendongan bunda Sisi, hanya menatap mereka dengan diam.


"Cup." Fazar mengendong satu bersatu anaknya, tidak lupa mencium ketiganya dengan rasa rindu yang begitu sangat besar. Ada rasa bersalah dalam hatinya, karena selama dua minggu ini meninggalkan mereka. Bahkan selama dua minggu, Fazar tidak melihat bagaimana perkembangan sih kembar.


Padahal hanya dua minggu terlewatkan, tapi Fazar merasa banyak hal yang dia lewatkan selama beberapa hari ini.


Wiyah, Fazri dan Abidzar hanya bisa tersenyum menatap kearah Fazar yang kini menjadi kursi untuk anak-anaknya, bahkan ketiga bayi gembul itu dengan tidak sabaran dan saling berebutan untuk duduk di pangkuan Fazar, yang kini sudah duduk di atas lantai.


Saat Wiyah sedang menatap ketiga anaknya, pandangannya tertuju pada bayi berusia dua bulan, yang sebentar lagi akan berusia tiga bulan, Sedang menatap mereka. Entah apa yang bayi kecil itu rasakan, tapi Wiyah merasakan kesedihan setiap menatap bayi kecil itu. Ada rasa sedih dalam lubuk hatinya, karena masih kecil, tapi bayi berusia dua bulan itu harus kehilangan figur penting dalam kehidupannya.


"Bunda, aku ingin mengendong Beby Falisha." Bunda Sisi mendengar permintaan menantu, hanya tersenyum. Lalu memberikan Beby Falisha dalam gendongan menantunya. Walaupun Beby Falisha bukan anaknya tapi Wiyah merawat Beby Falisha dengan penuh kasih sayang dan tulus sama seperti dia merawat sih kembar.


"Walaupun, tidak ada sosok ibu dan ayah di sampingnya. Tapi Beby Falisha akan tetap merasakan kasih sayang kedua orangtuanya, karena kita akan merawatnya dengan penuh kasih sayang seperti, Fauzan, Fazran dan Faeyza." Ucap Fazar yang kini sudah berdiri disamping istrinya. Lalu mengambil alih Beby Falisha untuk masuk kedalam pelukannya."Beby Falisha, adalah harta yang tidak akan pernah hilang untuk selamanya, walaupun Fadil dan Fina sudah pergi. Cinta keduanya memang sudah mati, setelah kepergian keduanya. Tapi cinta mereka akan tetap hidup di tubuh Beby Falisha untuk selamanya, dan tidak akan pernah mati walaupun waktu terus berputar." Ucap Fazar sambil memberikan ciuman di atas ubun-ubun Beby kecil itu dengan penuh kasih sayang.


"Kita akan sama-sama merawatnya, Abi. Seperti keinginan kak Fadil." Jawab Wiyah yang ikut memeluk Beby Falisha dari samping, Karena Wiyah bisa merasakan kesedihan yang Fazar rasakan. Fazar memang tidak menunjukkannya, Tapi terlihat dari mata dan nada bicaranya yang terdengar lirih dan berusaha untuk kuat.


Sedangkan keluarga mereka yang memang berada di sana, ikut menitikkan air mata, setelah melihat pemandangan didepan mereka dan juga mendengar ucapan Fazar barusan.


"Ya Rabb, selalu berikan kebahagiaan untuk keluarga ini dan jangan biarkan mereka berpisah walaupun ujian begitu sangat besar menerpa mereka. Jangan membuat mereka goya dan ingin mengakhiri hubungan ini, walaupun mereka tidak sanggup untuk menjalani kehidupan yang begitu sangat rumit." Batin Haidar menatap kelurga adiknya itu.


☀️☀️☀️☀️☀️


Waktu, menit dan tahun terus berganti. Tidak terasa empat tahun sudah Wiyah dan Fazar jalani rumah tangga dengan penuh liku-liku dan juga ujian yang tidak henti-hentinya datang. Tapi untungnya kedua begitu sangat sabar dan saling menguatkan untuk kuat dan tetap bertahan. Banyak kejadian yang mereka hadapi, dari bahagia sampai sedih sekalipun. Tapi keduanya tetap kuat karena Allah.


.


.

__ADS_1


"Fauzan, Fazran! Cepat kita harus pergi ke wisuda bunda, sebelum ummi benar-benar telat!" Panggil Fazar sambil menatap kedua putra kecilnya yang benar-benar belum siapa sekarang. Bahkan keduanya hanya mengunakan kaus dalam.


"Tidak, ini puna uzan butan Aran!" Ucap bocah kecil berusia tiga tahun dan sebentar lagi usianya akan empat tahun di bulan ini. Sedang memperebutkan sebuah robot-robotan dengan saudara kembarnya.


"No, itu punya Alan, butan Uzan!" Jawab bocah satunya dengan wajah yang sama, dan sedang memperebutkan mainan robot-robotan.


"Ini punya, Alan!"


"Tidak ini punya Uzan!"


Fazar yang mendengar perebutan kedua anaknya, hanya bisa menghembuskan nafasnya sabar. Karena menghadapi kedua anaknya, perlu kesabaran yang ekstra.


"Abang, kakak! Jika kalian tidak menghentikan perebutan ini, maka Abi tidak akan membiarkan kalian untuk ikut bersama dengan bunda!!" Ancam Fazar karena sudah terlalu kesal dengan tingkah kedua putranya itu. Sedangkan Fauzan dan Fazran yang mendengar ancaman sang Abi, langsung menjatuhkan robot-robotan yang dari tadi mereka perebutkan.


"Maaf, Abi." Lirih keduanya sambil menundukkan kepalanya, karena merasa bersalah.


Melihat itu, Fazar mendekati kedua anaknya. Lalu berjongkok untuk mengambil robot-robotan yang mereka perebutkan dari tadi."Abang, kakak." Dengan lembut Fazar mengakat dagu kedua putranya secara bergantian, agar anak-anaknya itu menatapnya."Ingat, seperti pesan Abi kemarin. Kalau semua mainan di rumah bukan saja milik satu orang, Tapi milik Abang, kakak dan juga adek. Jadi kalau ada mainan seperti ini, jangan diperebutkan. Coba untuk bermain bersama." Ucap Fazar dengan suara lembutnya menatap kedua putranya itu.


"Baik Abi. Maaf, kami janji tidak akan melakukannya lagi." Ucap keduanya.


"Baik, Abi percaya." Jawab Fazar tersenyum mengusap kepala keduanya secara bergantian."Abi mau tanya, Ini mainan siapa? Sepertinya Abi baru melihatnya?"


"Itu mainan dedek Ji, Abi. Kemarin ketinggalan saat dedek Ji kesini." Jawab Fauzan.


"Hmm. Terus kenapa Abang sama kakak yang memperebutkan nya? Bukannya ini bukan mainan kakak sama Abang ya?"


"Lencana nya, Alan mau kembalikan, ke dedek Ji." Jawab Fazran.


Ternyata kedua putranya memiliki niat yang baik. Hanya saja mereka ingin sama-sama di puji oleh om mereka, makanya mereka memperebutkan mainan itu."Abang, kakak. Kalau ini adalah mainan dedek Ji. Kalian jangan memperebutkan nya seperti tadi, karena takut akan rusak. Tapi jika kalian ingin mengembalikannya, Kalian bisa melakukannya secara bersamaan, tidak memperebutkan nya seperti tadi. Apa Abang dan kakak mengerti?" Fauzan dan Fazran menganggukkan kepalanya tanda kalau mereka mengerti.


"Bagus, anak pintar." Puji Fazar."Karena kita hampir telat, sebaiknya Abang dan kakak siap-siap. Soalnya ummi bisa saja telat jika kita belum siap-siap."


"Baik Abi." Jawab keduanya secara bersamaan. Sepertinya keduanya begitu sangat bersemangat sekarang.

__ADS_1


"Robotnya, biar Abi yang simpan."


...----------------...


__ADS_2