Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 214


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Harum menatap nisan bertuliskan nama orang yang begitu sangat dia rindukan selama berbulan-bulan ini.


Ya, Harum sengaja meminta Wiyah untuk mengantarkannya ke makam sang mama sebelum dia kembali ke kota S. Karena Harum begitu sangat merindukan mamanya itu, apalagi selama dia di tahan oleh Nadila, gadis kecil itu tidak pernah mengunjungi makam mama nya itu.


" Assalamualaikum ma, maaf Harum baru bisa datang sekarang. Tapi mama jangan marah, karena Harum tidak datang sendirian, karena disini ada kak Fina, dan juga kak Wiyah." Ucap Harum sambil mendudukkan tubuhnya di samping makam mamanya itu. Gadis kecil itu tersenyum menatap nama nisan itu, dia tau kalau sekarang mamanya tidak akan merasakan rasa sakit lagi seperti dulu, karena sekarang mamanya sedang beristirahat di tempat yang begitu sangat nyaman, dan indah disana.


Mayla Saynia.


Nama wanita yang sudah melahirkannya, dan membesarkannya dengan susah payah, dari lingkungannya selalu menghinanya dan juga mamanya. Selalu menyebut kalau mama nya itu adalah wanita malam, Bahkan mamanya itu merawatnya tanpa sosok ayah, membuat mamanya selalu mengabaikan cumohohan dari lingkungan mereka, mengabaikan rasa sakit akibat hinaan dan caci maki orang-orang.


Andaikan saja Harum bisa bertanya kepada orang-orang yang sudah menghina mamanya.


Harum ingin menanyakan. Apakah mereka pantas dihina seperti ini, apakah mereka pantas dikucilkan seperti orang jahat, Tapi mereka tidak melakukan kejahatan yang merugikan orang-orang, malahan orang-orang lah yang merugikan mereka, karena selalu mendapatkan rasa sakit karena, hinaan serta caci dan makian.


Apakah orang-orang itu tidak bisa bertanya, kalau disini ada orang yang terluka karena hinaan mereka. Apakah mereka tidak bisa berpikir, kalau hinaan mereka, telah membuat gadis kecil dan juga seorang wanita terluka mental dan juga fisiknya.


Sungguh Harum ingin bertanya dengan cara berteriak didepan orang-orang yang sudah berani menghina mamanya itu, dengan mengatakan, kalau orang-orang itu pasti memiliki kesalahan dan masalalu seperti mamanya, dan Mungkin mereka yang lebih buruk lagi dari mamanya.


" Mama Harum merindukanmu." Tubuh itu langsung memeluk tumpukan tanah dengan air mata yang sudah tidak bisa ditahan lagi." Harum merindukan mama di samping Harum, Harum merindukan semuanya ma, hiks... Hiks...."


Wiyah dan Fina yang berada disitu ikut menangis, karena mereka bisa merasakan kesedihan Harum sekarang.


" Ya Allah jika saja aku bisa memilih, maka aku akan memilih, kalau aku tidak ingin lahir kedua ini, jika saja aku tau akan seperti ini. Kelahiranku bukan saja menyiksanya, tapi karena kelahiranku juga sudah membuat mama terluka karena omongan orang-orang." Lirih Harum yang begitu sangat menyalahkan dirinya, apalagi gadis kecil itu masih mengingat apa saja yang dikatakan oleh papanya beberapa waktu yang lalu saat bertemu dengan Nadila." Maafkan Harum ma, karena kelahiranku mama seperti ini." Tetesan air mata Harum terus mengalir membasahi makam itu, bahkan setiap tetesan nya membasahi rumput yang tumbuh di atasnya seperti tetesan air hujan.


Sedangkan Wiyah melihat gadis kecil itu menangis, bahkan menyalakan dirinya, membuat Wiyah bisa merasakan rasa sakit itu." Kenapa diusiamu yang belum dewasa Rum, kamu terlihat dewasa bahkan menanggung pukulan yang begitu sangat berat di punggungmu." Lirih Wiyah didalam hatinya, menatap gadis kecil itu dengan ibah. Karena tidak tega membuat Wiyah langsung membawa tubuh kecil itu kedalam pelukannya.


" Harum, jangan pernah menyalahkan kalau kelahiran mu adalah kesalahan untuk tante Mayla, karena kelahiran mu adalah anugrah untuk tante Mayla, bahkan Harum adalah penyemangat untuk tante Mayla, bukan rasa sakitnya seperti yang Harum pikirkan." Ucap Wiyah sambil memeluk tubuh Harum


Lama memeluk tubuh Harum yang masih saja menangis, Wiyah melonggarkan pelukannya, lalu menangkup wajah gadis kecil itu yang sudah memerah karena terus menangis." Jangan pernah berpikir seperti tadi Rum, karena tante Mayla akan merasa sedih saat mendengar kalau Harum menangis seperti ini apalagi menyalahkan diri Harum sendiri, karena kelahiran Harum."


" Tapi kelahiran harum banyak menggoreskan luka ke mama, karena kelahiran Harum juga mama selalu mendapatkan hinaan dari orang-orang, bahkan orang terdekatnya nya."


" Dengar kak Wiyah Rum. Sandainya waktu kelahiran Harum tante Mayla merasa kalau Harum adalah masalah untuknya, mungkin tante Mayla sudah menyimpan Harum ke panti asuhan, tapi tante Mayla tidak melakukan itu, karena Tante Mayla sangat menyayangi Harum, dan mengganggap Harum adalah tujuan hidupannya dulu." Jelas Wiyah terus menatap mata gadis kecil itu, agar Harum tidak terus-menerus menyalahkan dirinya seperti sekarang.


" Lalu kenapa sekarang mama pergi meninggalkan Harum kak, kalau benar-benar Harum adalah tujuan hidupnya, pasti mama tidak akan meninggalkan Harum."


" Tante Mayla tidak ingin pergi meninggalkan Harum, tapi takdir lah yang memaksa tante Mayla untuk pergi meninggalkan Rum, tapi percayalah Rum kalau kelahiran harum adalah kebahagiaan tante Mayla." Jawab Wiyah." Apa Harum percaya dengan kak Wiyah." Harum hanya mengangguk." Sekarang Harum jangan nangis, karena kalau Harum menangis tante Mayla ikut sedih disana." Ucap Wiyah kembali sambil mengusap air mata Harum.


Sedangkan Fina yang berada disebelah Wiyah hanya menatap pemandangan yang begitu sangat mengharukan ini.

__ADS_1


" Daripada Harum menangis seperti ini, lebih baik kita sama-sama mendoakan Tante Mayla agar Tante bahagia disana." Ucap Fina membuka suara, membuat kedua orang itu melihat kearah Fina.


" Maaf kak Fina, Harum sampai melupakan tujuan harum, kesini. Kalau Harum mau berpamitan ke mama, kalau Harum mau kembali ke kota S." Harum melepaskan pelukannya dari Wiyah, lalu melap air matanya.


" Mama, hari ini Harum, akan kembali ke kota S, bersama dengan kak Wiyah dan juga kak Fina. Tapi mama jangan khawatir, karena Harum tidak akan sendirian disana, karena kak Wiyah dan kak Fina akan selalu bersama dengan Harum." Ucap Harum sambil menatap kearah Wiyah dan Fina bergantian.


" Iya Tante Mayla, aku berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi Harum seperti adikku sendiri. Tante Mayla tidak usah takut, karena aku akan mendidik Harum menjadi gadis yang pintar yang memiliki pendidikan tinggi seperti keinginan Tante waktu itu." Sambung Wiyah membuka suaranya, membuat Harum langsung menatap kearah Wiyah.


" Aku tidak tau kak Wiyah. Allah membuat hati kak Wiyah dari apa, sesampai segitunya kak Wiyah ingin menjaga Harum." Batin Harum menatap kearah Wiyah.


" Apakah karena sifatmu ini, membuat kak Fazar dan kak Fadil menyukaimu Wiyah." Batin Fina yang sama-sama menatap kearah Wiyah setelah mendengar ucapan sahabatnya itu. Tidak di pungkiri, apa yang Wiyah lakukan selalu membuat orang kagum. Karena Wiyah bukan saja gadis yang cantik, baik. Tapi dia memiliki hati yang begitu sangat baik kepada orang-orang, termasuk Harum. Gadis kecil yang Wiyah sekolahkan dengan hasil kerjanya sendiri.


.


.


Setelah membersihkan makam itu, mereka bertiga mendoakan mama Harum." Mama, Harum pergi dulu, nanti kalau ada waktu Harum akan kembali lagi kesini untuk menjenguk mama." Ucap Harum berdiri dari duduknya bersama dengan Wiyah dan juga Fina.


" Beristirahat yang tenang Tante, karena Harum akan aman bersama dengan kami." Ucap Wiyah.


" Kami pamit mama. Assalamualaikum." Hampir setengah jam mereka berada di makam Mayla, kini mereka kembali lagi kedalam mobil untuk meneruskan perjalanan mereka kebandara.


" Doakan Harum ma, agar menjadi orang yang sukses. Saat Harum sukses nanti, Harum akan bertemu dengan papa, dan memberitahukan kalau Harum adalah anaknya." Batin gadis kecil itu menatap tempat peristirahatan terakhir mama nya itu.


Hampir berjam-jam melakukan perjalanan, kini mereka telah sampai di kota S.


" Wiyah apa kamu ngga apa-apa." Tanya Fina saat melihat sahabatnya itu terlihat pucat.


" Aku ngga apa-apa Fin, hanya mual dikit, mungkin pengaruh kita perjalanan jauh tadi, apalagi kita melakukan perjalanan mengunakan pesawat." Jawab Wiyah sambil memejamkan matanya.


" Apa aku telfon kak Fazar saja Wiyah, untuk memberitahukan kondisi mu sekarang, Aku takut nanti kak Fazar khawatir saat melihat kondisi mu seperti ini." Ucap Fina khawatir kondisi Wiyah yang sedang mengandung sekarang, apalagi mereka berada di mobil yang berbeda dengan mobil Fazar. Bahkan yang menyetir sekarang adalah sopir wanita, Karena Fazar sengaja menyuruh sopir wanita yang menyetir, agar gadis kecil itu tidak ketakutan saat melihat sopir laki-laki yang menyetir.


" Ngga usah Fin, aku baik-baik saja. Biarkan kak Fazar beristirahat, pasti kak Fazar kelelahan juga setelah perjalanan jauh ini Fin." Cegah Wiyah.


" Tapi Wiyah, aku takut dengan kondisi mu sekarang."


" In sya allah ngga apa-apa Fin. Sebaiknya kamu ikut beristirahat juga, pasti kamu kelelahan juga kan." Jawab Wiyah." Lihatlah Harum terlihat lucu saat tertidur seperti sekarang, dia pasti lelehan karena perjalanan jauh tadi."


" Iya Fin, pasti dia kelelahan, apalagi dia baru saja keluar dari rumah sakit."


Saat keduanya sedang berbincang-bincang ringan, tiba-tiba mobil yang mereka naiki berhenti.

__ADS_1


" Kenapa berhenti mbak." Tanya Wiyah kepada sopir wanita didepannya itu.


" Tuan Fazar menyuruh saya untuk menghentikan mobil ini nyonya."


" Kenapa, apakah ada masalah."


" Tidak nyonya, hanya saja tuan Fazar ingin kesini." Jawab sopir wanita itu membuat Wiyah mengetuknya kening bingung.


Tidak berselang lama pintu mobil itu diketuk, dan orang yang mengetuknya adalah Fazar.


Wiyah yang melihatnya suaminya itu, langsung membuka pintu mobilnya." Ada apa kak, apakah ada masalah, sampai kakak menyuruh mobil kami berhenti."


" Tidak ada masalah sayang, hanya saja aku menghawatirkan kondisi istriku ini, makanya aku menyuruh mobilnya berhenti." Jawab Fazar.


" Tapi kak aku baik-baik saja."


" Tidak ada yang baik-baik saja sayang, lihat wajahmu sangat pucat, bahkan kakak tau, kalau sayang pasti mabuk perjalanan jauh, makanya kakak menyuruh mobil ini agar berhenti." Jawab Fazar." Sekarang sayang turun dari mobil ini, sayang ikut di mobil kakak."


" Tapi bagaimana dengan Harum kak, dia pasti akan mencariku nanti."


" Disini ada Fina sayang, dan Fina bisa menjaga Harum. Kakak juga sudah menyuruh Fadil dan Fazri untuk ikut menemani Harum didalam mobil ini, sedangkan kita di mobil satunya." Jawab Fazar." Sekarang sayang turun, kita pergi di mobil satunya, dan satu lagi, kakak tidak mau ada kata bantahan." Ucap Fazar kembali saat melihat istrinya itu ingin menjawab ucapannya.


" Baiklah kak." Jawab Wiyah pasrah, karena Wiyah tau kalau suaminya itu tidak akan bisa di bantah.


Sedangkan Fina, dan Fadil, serta Fazri yang melihat betapa besarnya sifat keprotektif Fazar hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala mereka, karena mereka bertiga tau kalau Fazar pasti sangat khawatir dengan kondisi Wiyah sekarang.


" Iya Wiyah, masalah Harum disini ada aku, sebaiknya kamu ikut sama kak Fazar aja." Sambung Fina membenarkan ucapan Fazar.


" Iya Wiyah, sebaiknya kamu ikut aja Abang, kelihatannya juga kamu kurang sehat."


" Kak Wiyah tidak perlu takut. Nanti kalau Naila bangun kamu tinggal bersembunyi, agar Naila tidak takut saat melihat kami." Sambung Fazri.


" Nah, sayang udah dengarkan kata mereka, Sekarang sayang ikut kakak." Wiyah hanya pasrah, turun dari mobil itu dengan bantuan suaminya itu.


Belum juga lama Wiyah menginjakkan kakinya di tanah, suaminya itu malah mengendongnya secara tiba-tiba.


" Astaghfirullah kak, kenapa kakak mengendongku." Ucap Wiyah terkejut.


" Maaf sayang, kakak hanya tidak ingin sayang sampai jatuh kalau sampai jalan sendiri."


" Tapi kak mobil kakak sekat aja, aku bisa sendiri." Ucap Wiyah." Apa kakak ngga malu di lihat sama Fina dan kak Fadil." Bisik Wiyah yang bisa merasakan tatapan dari ketiganya.

__ADS_1


" Biarkan saja sayang, nanti juga mereka akan menikah." Jawab Fazar santai, tanpa memperdulikan tatapan dari beberapa orang itu.


" Dasar bang Fazar prospektif." Bantin Fazri dan Fazar secara bersamaan.


__ADS_2