
Kesabaranku membawa
" Yaya, kenapa kamu bisa berada disini." Tanya Fina bingung.
" Kebetulan aku lewat sini Fin." Jawab Yaya." Lagi Mikirin apa sih, sampai diam disini sambil melamun."
" Ngga lagi mikirin apa-apa, Yay." Jawab Fina tersenyum.
" Yakin." Tanya Yaya membuat Fina mengangguk mengiyakan." Terus Kamu sendiri aja disini."
" Iya, aku sendiri aja disini. Emangnya kenapa."
" Ngga ada sih, cuman pengen tahu aja." Jawab Yaya." Aku lihat dua hari ini Wiyah nggak pergi kuliah, apa kamu tahu kabarnya sekarang. Soalnya tiga hari ini dia nggak kasih kabar ke aku kalau dia nggak turun."
" Aku ngga tahu juga Yay. Tapi tiga hari yang lalu, aku sempat main kerumahnya, aku lihat kalau Wiyah baik-baik saja." Jawab Fina." Mungkin saja Wiyah lagi ada urusan keluarga nya beberapa hari ini, makanya dia nggak turun kuliah."
" Bisa jadi Fin, soalnya sekarang Wiyah sudah menikah, bisa aja ada urusan dengan suaminya." Jawab Yaya setuju." Padahal aku pengen cerita sesuatu ke Wiyah."
" Emangnya kamu pengen cerita apa ke Wiyah." Tanya Fina penasaran.
" Ada deh, tapi rahasia. Nanti kalau Wiyah sudah masuk kuliah, aku pasti ceritain. Biar seru, kalau dapat dua orang pendengar dan pemberi solusi."
" Terserah kamu aja, yang mana baiknya." Jawab Fina.
" Kamu ngga kerja Fin."
" Kerja. Tapi aku lagi malas buat turun kerja."
" Aneh kamu Fin, mau kerja tapi malas buat turun kerja maksud kamu gimana sih." Tanya Yaya bingung." Kalau gitu kamu nggak usah turun aja hari ini, biar kamu nemenin aku jalan-jalan sebentar, kebetulan juga aku lagi bosan." Saran Yaya.
" Ngga usah Yay, soalnya aku punya tanggung jawab yang harus aku kerjakan. Insyaallah kapan-kapan aja."
" Baiklah kalau itu yang kamu mau, aku tidak memaksa." Jawab Yaya." Kalau gitu ayo, biar aku antar sampai di tepat kerjaan mu, kebetulan juga aku mau makan siang disana."
" Ngga usah Yay, Terimakasih, aku bisa pergi sendiri." Tolak Fina.
" Ngga apa-apa Fin, nanti motor kamu biar bodyguard ku yang bawakan. Ayo keburu telat nanti kamu masuk kerja nya."
Karena tahu kalau Yaya tidak akan mau mendengar penolakan, terpaksa Fina mengiyakan permintaan dari Yaya.
.
.
Disisi lain
Fazar yang sedang menyetir, sesekali menoleh kearah istrinya yang sedang duduk tenang sambil menikmati beberapa buah yang tadi di petikan oleh orang desa untuknya.
" Kakak mau." Tawar Wiyah saat menyadari kalau suaminya itu diam-diam melirik kearahnya.
" Ngga sayang, kamu aja yang makan kakak sudah senang." Jawab Fazar tersenyum." Apa buahnya manis sayang."
" Iya kak, buahnya manis banget, kayak kakak kalau lagi tersenyum." Jawab Wiyah dengan sedikit gombalan di akhir kalimat nya.
" Udah pinter gombal ya, sayang." Fazar mengacak jilbab istrinya dengan gemas, mengunakan tangan satunya, sedangkan tangan yang satunya memegang setir." Siapa sih yang ajarin."
" Kakak kusut jilbab adek." Kesal Wiyah." Siapa lagi kalau bukan kakak yang ngajarin." Jawab Wiyah dengan wajah kesalnya, yang terlihat menggemaskan di mata Fazar. Rencananya tadi Wiyah ingin menggombali suaminya itu, tapi Fazar malah mengacak jilbabnya.
" Kalau saja kita ngga lagi didalam mobil, mungkin sudah kakak terkam sayang dari tadi."
" Sudah kebiasaan kakak koh, suka terkam secara tiba-tiba." Jawab Wiyah sewot.
" Udah berani ngejawab ya sayang, tunggu hukuman kakak nanti..." Ucap Fazar gemas, karena istrinya itu sudah berani menjawab ucapan konyolnya itu.
Sedangkan Wiyah mendengar ucapan Fazar tidak merasa takut, karena dia tahu hukuman apa yang akan di berikan Fazar untuknya.
__ADS_1
Mobil itu kembali hening, karena Fazar fokus mengemudi sedangkan Wiyah melihat kearah luar.
" Kak kita singgah ke apotik dulu sebentar." Ucap Wiyah menoleh kearah Fazar saat mengingat kalau ia ingin singgah ke apotik sebentar, karena ingin membeli sesuatu.
" Sayang sakit. Kalau gitu kita langsung singgah kerumah sakit, biar nanti dokter aja yang periksa, kalau sayang sakit apa." Sahut Fazar menoleh kearah Wiyah dengan wajah khawatir nya.
" Aku ngga sakit kak, kita juga ngga usah kerumah sakit. Aku ke apotik cuman pengen beli minyak angin yang kebetulan sudah habis dan beberapa vitamin untuk kakak." Jawab Wiyah, membuat Fazar menghebuskan nafasnya lega, mendengar jawaban istrinya itu kalau dia baik-baik saja.
Karena tadi Fazar mengira kalau istrinya itu sedang tidak baik-baik saja makanya ingin pergi ke apotik untuk membeli obat.
" Alhamdulillah, kalau sayang baik-baik saja. Kakak kira tadi sayang, sakit lagi seperti tadi pagi."
" Ngga kak, Alhamdulillah sore ini aku baik-baik saja, aku tidak merasa mual seperti tadi pagi."
" Alhamdulillah kakak senang dengarnya sayang."
Fazar membelokan mobil nya kearah apotik, karena di jalan itu kebetulan terdapat apotik, yang membuat Fazar tidak perlu mencari apotik jauh-jauh untuk berputar-putar mencari apotik.
" Biar kakak aja yang beli, sayang tunggu didalam mobil." Ucap Fazar saat sudah memarkiran mobilnya didepan apotik.
" Ngga usah kak, biar aku aja. Aku ngga lama koh, cuman beli minyak angin dan vitamin." Jawab Wiyah menolak tawaran Fazar. Karena kalau sampai Fazar tahu apa yang ingin dia beli bisa-bisa gagal kejutan untuk suaminya itu.
" Baiklah sayang. Habis beli apa yang sayang cari. Sayang langsung kembali kedalam mobil ya, jangan lirik siapa-siapa, apalagi yang mudah."
" Astaghfirullah, kakak ngomongnya jangan aneh-aneh deh. Insyaallah aku tidak akan melirik yang lain, selain orang didepan ku ini." Jawab Wiyah tersenyum.
" Ya Allah meleleh hatiku." Jawab Fazar terkekeh." Sana turun, keburu ngga jadi nanti, karena sayang terjebak dalam pesona kakak." Goda Fazar sambil mengedipkan matanya genit.
" Siap, omsuku."
" Apa itu omsuku sayang." Tanya Fazar bingung.
" Om suami ku." Jawab Wiyah, setelah itu turun dari mobil.
Mendengar jawaban istrinya itu membuat Fazar terheran-heran karena Wiyah memangilnya dengan sebutan om. Apakah ia terlihat tua.
Sedangkan didalam apotik, Wiyah masuk kedalam apotik dengan hati berdebar-debar karena baru kali ini dia membeli sebuah testpack untuk membuktikan kalau ia benar-benar hamil atau tidak.
Kebetulan apotik itu sedikit ramai, jadinya Wiyah sedikit menunggu.
" Mau cari apa mbak." Tanya pelayan apotik itu dengan ramah
" Mau beli testpack mbak." Jawab Wisyah.
" Oh, testpack ya mbak."
" Eh, biasanya yang mana ya bagus ya mbak." Tanya Wiyah bingung melihat benda didepannya itu, Karena ini kali pertama untuknya.
" Insyaallah semuanya bagus mbak. Mau beli yang mana."
" Yang ini aja mbak." Jawab Wiyah mengambil beberapa testpack yang memiliki kualitas bagus.
Setelah membeli apa yang Wiyah cari, Wiyah kembali kedalam mobil Fazar.
" Sudah beli sayang." Tanya Fazar saat melihat istrinya sudah masuk kedalam mobil.
" Sudah kak." Jawab Wiyah sambil memperlihatkan apa yang dia sebutkan tadi. Tapi bukan testpack, karena Wiyah sudah menyimpan nya didalam tasnya.
Kata penjaga apotik tadi, hasil yang paling bagus itu saat pagi hari, maka dari itu Wiyah akan menunggu sampai besok untuk mengunakan benda itu.
" Udah nggak ada lagi yang di beli sayang."
" Iya kak, ngga ada lagi mau di beli." Jawab Wiyah.
Setelah mendengar jawaban dari Wiyah, Fazar kembali menjalankan mobilnya untuk pergi kerumahnya.
__ADS_1
" Semoga kamu benar-benar hadir disini sayang." Batin Wiyah, mengusap perutnya itu. Dalam hati Wiyah, ia merasa takut kalau ia tidak benar-benar hamil dan tiga ini dia sering muntah itu karena masuk angin. Tapi filing nya sebagai seorang wanita, mengatakan kalau ia benar-benar sedang hamil sekarang.
" Apa hasilnya besok, aku akan tetap menerima nya." Batin Wiyah.
.
.
Setelah memarkirkan mobilnya, Fazar dan Wiyah masuk kedalam rumah yang terlihat begitu sangat sunyi tanpa penghuni.
" Apa ngga ada orang didalam rumah ini kak." Tanya Wiyah.
" Ada sayang, mungkin mereka berada di ruangan keluarga." Jawab Fazar, yang terus melangkah masuk sampai rungan keluarga.
Wiyah maupun Fazar belum menyadari kedatangan bunda Sisi, tuan Aslan, Fadil dan Abizard, karena beberapa hari ini ia mematikan panggilan telfonnya selain pengilangan penting dari kantor.
" Baru pulang." Tanya bunda Sisi yang baru keluar dari dapur.
Wiyah dan Fazar yang melihat bunda Sisi yang baru keluar dari dapur, langsung terkejut, karena kehadiran bunda Sisi disana.
" Bunda udah pulang." Tanya Fazar bingung, menatap kearah bunda Sisi tidak percaya kalau itu bundanya.
" Iya, kami sudah tiga hari kembali kota ini." Jawab suara seseorang membuat Fazar dan Wiyah menoleh kearah samping mereka.
" Paman." Ucap Fazar terkejut saat melihat kehadiran paman nya disana. Fazar tidak menyangka kepulangannya dari desa langsung di berikan kejutan oleh paman dan bundanya yang sudah berada di rumahnya.
.
.
" Jadi gara-gara tuh anak bunda pulang ke kota S." Tanya Fazar tidak percaya mendengar cerita dari bunda Sisi, kalau Fadil kembali melarikan diri dari masa penyembuhannya hanya karena merasa bosan.
" Iya Fadil melarikan diri tiga hari yang lalu. Makanya kami memutuskan untuk kembali ke kota S, mengikuti Fadil. Karena Sintia tidak percaya dengan Fadil yang bisa-bisa saja melakukan hal ceroboh mengingat kondisi belum sepenuhnya pulih, makanya Sintia memutuskan untuk kembali ke kota S." Sambung tuan Aslan.
" Memang benar-benar itu anak, tidak pernah berpikir dewasa, kelakuan masih tetap seperti anak kecil." Ucap Fazar yang tidak habis pikir dengan kelakuan adiknya itu.
" Biarlah seperti itu, nanti juga dia akan berubah."
" Terus dimana dia sekarang bun."
" Fadil berada di rumah utama." Jawab bunda Sisi." Sebaiknya kita jangan membahas kelakuan Fadil. Yang perlu kita bahas sekarang itu kalian." Ucap Bunda Sisi berlarih menatap kearah menantunya." Emangnya kalian dari mana sih, sampai tiga hari bunda pulang kalian nggak ada dirumah."
" Kami berada di desa bun, kebetulan kak Fazar ngajakin ke desa." Jawab Wiyah." Maaf ya bun, karena Wiyah nggak nyambut kedatangan bunda, soalnya Wiyah nggak tahu kalau bunda pulang kemarin, kalau aja Wiyah tahu pasti Wiyah udah pulang." Ucap Wiyah merasa bersalah, karena tidak menyambut kedatangan mertuanya itu, ia malah asyik dengan kesenangan mereka disana.
" Ngga apa-apa sayang, bunda tahu koh, kalau kalian butuh waktu berdua. Bunda pulang kesini juga karena tiba-tiba, itu semua karena Fadil, kalau ngga mungkin bunda masih berada di Jakarta sekarang." Jelas bunda Sisi." Lebih baik sekarang kalian istirahat, pasti kalian capek kan habis melakukan perjalanan jauh. Zar antar istrimu istirahat."
" Siap bun." Jawab Fazar.
" Kalau gitu Fazar keatas dulu ya bun, paman. Nanti Fazar turun lagi."
" Hmm, tapi Ingat sampai dikamar jangan macam-macam sama istrimu, pasti dia akan kecapean sekarang." Ucap bunda Sisi mengingatkan.
" Siap bun."
💮💮💮💮💮
Wiyah membuka matanya, saat merasakan rasa mual nya seperti pagi kemarin.
Dengan perlahan-lahan Wiyah turun dari kasur, agar tidak membangunkan suaminya. Karena Wiyah tahu kalau Fazar pasti kecapean semalam setelah ia memintanya untuk membuatkan nasi goreng untuknya.
Setelah memuthakahkan isi perutnya, Wiyah menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas nya di dinding, agar ia tidak jatuh.
Sedangkan Fazar tidak terusik sama sekali, mungkin dia terlalu lelah, sampai membuatnya tidur bagaikan mayat pagi ini.
Di rasa enakan, Wiyah mengabil testpack yang sudah dia siapkan semalam. Wiyah membacanya terlebih dahulu untuk mengetahui langkah-langkah saat menggunakan benda itu.
__ADS_1
Wiyah mulai mengikuti arahan yang tertulis pada benda itu, dengan cara mengambil air seninya lalu menyimpan nya di wadah kecil. Wiyah menyimpan beberapa, untuk mencoba testpack yang kemarin dia beli.
...----------------...