
Pagi kali ini tidak secerah seperti biasanya, Karena hujan masih menyisakan rintikan air yang jatuh membasahi bumi. Walaupun tidak deras seperti kemarin, tapi kalau ada orang yang berdiri di bawah gerimis nya air hujan, pasti mereka akan tetap basah.
Seperti pagi biasa orang-orang akan pergi melakukan tugas mereka masing-masing, walaupun hujan masih saja turun seperti kemarin. Tapi orang-orang tidak patah semangat untuk mencari pundi-pundi rupiah untuk keluarganya. Walaupun rasa malas pagi ini lebih besar daripada kemauannya untuk bekerja.
.
.
Jika orang-orang sudah beraktivitas dengan kegiatan mereka, maka berbeda dengan bumil yang satu itu. Karena gadis cantik yang sebentar lagi akan berganti status sebagai seorang ibu itu, Masih betah di atas kasur, padahal ini sudah pagi. Dan biasanya Wiyah akan di sibukkan dengan tugas nya sebagai seorang istri, yang selalu membantu suaminya sebelum berangkat berkerja, atau dia akan di sibukkan dengan kegiatannya di dapur. Maka berbeda dengan pagi ini, karena Wiyah lebih betah di tempat tidur, setelah sholat subuh. Apalagi pagi ini Wiyah tidak merasakan mual, seperti biasanya.
Mungkin janin dalam kandungannya lagi nyaman dan tidak rewel seperti biasanya.
Sedangkan Fazar hanya geleng-geleng melihat tingkah istrinya itu.
" Sikapnya cepat sekali berubah-ubah." Gumam Fazar.
" Sayang, bangun yuk. Ini sudah pagi, kita sarapan dulu. Nanti baru lanjut lagi tidur nya."
Fazar berusaha untuk membangunkan istrinya itu. Tapi yang di bangunkan malah tidak mau bangun." Sayang."
Dengan lembut dan penuh kesabaran, Fazar berusaha untuk membangunkan istrinya itu. Tangannya juga terus membelai helainya rambut sang istri agar Wiyah bisa bangun.
Fazar beralih menatap kearah perut istrinya itu, lalu mengarahkan tangannya yang tadi mengusap lembut kepala Wiyah, turun ke perut, untuk mengusap lembut perut yang masih di tutupi oleh kain. Perut yang masih terlihat rata.
" Sepertinya pagi ini anaknya Abi lagi pintar, makanya pagi ini lebih senang untuk bermalas-malasan, sampai ummi mu tidak ingin bangun, dan lebih memilih tidur."
Walaupun merasa lucu dengan dirinya sendiri. Tapi Fazar begitu sangat menikmati, jika ia sudah mengajak berbicara dengan janin didalam perut istrinya, Walaupun Fazar akan berbicara sendiri, tapi Fazar membayangkan kalau dia sedang berbincang dengan calon anaknya.
Fazar begitu tidak sabar dengan pertumbuhan janin dalam kandungan istrinya. Apalagi Fazar membayangkan perut istrinya, yang akan bertumbuh dan berubah seperti balon.
" Sehat-sehat sayang, sampai nanti kita bertemu." Fazar mencium perut istrinya, lalu berdiri dari duduknya.
Karena tidak ingin menganggu tidur istrinya, Fazar memutus untuk menyelesaikan urusannya. Fazar akan menitipkan istrinya ke bunda Sisi, kalau Wiyah masih tidur.
.
.
Di meja makan, sudah terdapat bunda Sisi, Fazri Abidzar dan tuan Aslan. Mereka sedang menunggu suami istri yang belum turun juga dari tadi.
Di meja makan itu terlihat hening, karena mereka hanya diam, memikirkan kasus Fadil.
Apalagi orang yang menuntut Fadil itu adalah orang licik, orang yang bisa membalikkan kasus dan fakta.
Fazri yang menyadari kalau ruangan itu hanya hening. Berencana untuk memecahkan keheningan di meja makan.
" Bun, kenapa mereka belum turun juga, aku sudah lapar menunggu mereka." Keluh Fazri membuka suaranya, karena dia sudah tidak sabar untuk memakan sarapannya.
" Sabar Zri, mungkin mereka baru mau turun." Sambung Abidzar.
" Mungkin satu jam lagi. Karena mereka sedang bermesraan dikamar nya."
Bunda Sisi yang mendengar ucapan putranya itu langsung melototkan matanya menatap kearah Fazri." Fazri, jangan ngomong aneh-aneh. Kamu masih kecil." Bunda Sisi yang memang berada di sebelah Fazri, langsung mencubit lengan putra bungsunya itu." Kecil-kecil sudah ngomong sembarangan."
" Auu, sakit Bun, jangan di cubit. Memang kenyataannya memang gitu." Fazri memegang lengan yang sedikit panas karena cubitan dari bunda Sisi.
" Lain kali, jangan ngomong sembarangan kalau tidak mau di cubit bunda." Sambung Abidzar sambil terkekeh melihat tingkah sepupu nya itu. Sedangkan tuan Aslan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, melihat tingkah anak keponakannya itu.
__ADS_1
" Aku tidak menyangka Aldevaro, kalau kamu memiliki anak-anak yang selalu membuat orang tersenyum, karena tingkah mereka yang lucu." Batin tuan Aslan.
Suara langkah kaki membuat mereka semua melihat kearah suara itu, mereka yakin kalau yang datang itu pasti Fazar dan Wiyah. Suami istri yang dari tadi mereka tunggu.
" Mana menantu bunda." Tanya bunda Sisi, saat melihat putranya itu hanya sendiri.
" Istriku sedang tidur bun, aku tidak tega untuk membangunkannya makanya aku membiarkan nya untuk tidur."
Sedangkan bunda Sisi hanya mengangguk mengerti, karena bunda Sisi tau kalau menantunya seperti itu, karena bawaan janin dalam kandungannya.
" Kenapa kak Wiyah masih tidur, biasanya kak Wiyah sudah bangun jam segini."
" Itu, karena bayi yang Wiyah kandung, membuat Wiyah akan malas untuk bangun pagi, Karena moodnya akan sering kali berubah-ubah, seperti pagi ini. Jadi kalian harus memakluminya jika dia akan sedih atau senang dan marah dalam waktu bersamaan."
" Aku tidak menyangka, kalau bumil memiliki mood yang sangat kacau. Kalau gitu, aku tidak boleh membuat kak Wiyah sedih atau marah. Melainkan aku harus membuat kak Wiyah selalu bahagia" Gumam Fazri.
" Bun, paman. Aku titip istriku. Aku akan keluar mungkin selama tiga hari, untuk mencari tahu soal kasus ini. Setelah semuanya selesai, aku akan kembali lagi."
" Kenapa harus pergi tiga hari Zar."
" Aku harus mencari bukti bun. Semua bukti yang pernah Aron hapus. Agar di pengadilan nanti. Anak dari tuan Aron akan di nyatakan bersalah, dari semua kesalahan yang tidak mendapatkan keadilan, dan Fadil akan di bebaskan, karena tidak bersalah."
" Sebenarnya bunda tidak ingin kamu pergi. Tapi karena ini untuk adik mu bunda mengijinkan. Berhati-hatilah, karena Aron adalah orang yang licik, dia tidak akan memberikan kamu berhasil."
" Iya bun, aku akan mengingat pesan dari bunda." Jawab Fazar." Kalau gitu aku pergi bun, paman. Tolong sampaikan salam ku untuk istriku, karena aku tidak berpamitan padanya."
" Iya Zar, nanti bunda sampaikan. Ngga sarapan dulu."
" Ngga usah bun, nanti aku sarapan di luar aja."
" Pastikan rencanamu tidak ketahuan, karena Aron tidak akan membiarkan kamu berhasil membuka kejahatan anaknya."
" Iya paman, aku akan mengingat pesan paman. Untuk selalu waspada."
" Hati-hati bang. Fazri akan selalu menjaga kakak ipar selama bang keluar."
" Abang percaya sama kalian semua disini, yang bisa menjaga istriku."
🌺🌺🌺🌺🌺
Fina yang sedang duduk di meja belajarnya, sambil mengetik sesuatu di laptopnya.
Fina tidak kuliah bahkan tidak pergi berkerja, karena dia masih trauma dengan kejadian yang hampir saja menimpa nya.
Fina takut, kalau Agus akan kembali di kampus dan kembali melecehkan nya seperti kemarin.
" Astaghfirullah Fin, istighfar. Agus tidak akan melakukannya, Karena sekarang dia sedang berada di rumah sakit." Fina berusaha untuk menenangkan perasaan nya yang kacau. Apalagi ia mengingat suruhan Fadil, yang menyuruh nya untuk bersembunyi, karena ayahnya Aron akan mencari nya. Pikirkan itu, selalu membuat nya khawatir.
" Tenang Fin, percaya kalau semuanya akan baik-baik saja. Yang perlu kamu lakukan sekarang, yaitu Mencari tahu siapa Agus sebenarnya."
Fina kembali mencari tahu siapa Agus sebenarnya, lewat data siswa yang sengaja dia ambil kemarin. Lewat Yaya.
Fina terus mencari, sampai ia menemukan satu nama, yang Fina curigai. Belum Fina mencari tahu tentang nama itu. Tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk.
" Kak Fin."
Fina berdiri dari duduknya, melangkah mendekati pintu kamarnya.
__ADS_1
" Iya kenapa nit." Tanya Fina menatap adiknya itu yang sedang berdiri didepan kamar nya.
" Ada orang yang mencari kakak tuh."
" Siapa."
Fina bingung karena ada orang yang mencarinya.
" Ngga tahu juga kak, tapi tidak mencari kakak dua orang pria muda, yang katanya sih temannya kakak." Jawab adik nya Fina, yang mungkin masih berusia Lima belas tahun." Emangnya kapan kakak punya teman laki-laki, yang setampan kedua pria itu. Jangan-jangan _"
" Ngga usah ngomong aneh-aneh deh nit. Nanti Kakak temui mereka, sebaiknya kamu buat minuman untuk mereka." Suruh Fina.
Walaupun malas mendengar perintah kakaknya. Tapi Anita tetap melakukan tugasnya.
Sedangkan Fina melangkah ke dalam kamarnya, untuk mengambil hijab nya. Lalu melangkah keluar untuk menemui kedua orang yang mencarinya.
Sebenarnya Fina takut dan gugup saat menemui orang itu. Karena Fina berpikir kalau orang yang menemuinya itu, pasti orang suruhan ayahnya Agus.
Membayangkan itu, membuat Fina takut dan tidak ingin menemui orang itu. Tapi mereka sudah menunggu nya. Jika ia berbuat macam-macam apakah dia akan di bunuh berserta keluarga nya.
Membayangkan hal mengerikan Itu, membuat Fina semakin mempercepat langkahnya untuk pergi ke ruangan tamu.
Sesampainya di ruangan itu, Fina bisa melihat siapa orang yang ingin menemuinya.
🌺🌺🌺🌺🌺
Dua orang berbeda usia, tapi saling mencintai. Sedang duduk di ruangan yang serba putih sambil bermesraan, padahal ruangan utama tidak pantas. Kerena orang bisa saja masuk kapan saja.
" Aku merindukanmu."
" Bersabarlah, tunggu sampai putra mu pulih, setelah itu kita bisa menikmatinya lagi." Jawab wanita itu.
" Tapi sayang aku tidak sabar."
" Kekasihku Aron."
Ya, kedua orang itu adalah tuan Aron dan Nadila. Kedua orang itu tidak terikat dalam satu hubungan, tapi hubungan mereka saling menguntungkan satu sama lainnya.
" Sss, jangan hentikan. Aku menginginkan nya."
" Tapi tidak disini."
" Kita bisa melakukan disini, tidak akan ada orang masuk. Percayalah."
" Baiklah aku mau, tapi aku ingin memanggil babu ku dulu." Bagaimana pun Nadila juga menginginkan nya, makanya dia mau menerima permintaan kekasihnya itu.
" Untuk apa."
" Ada sayang. Pokonya nanti kamu akan tahu." Jawab Nadila.
Nadila memanggil babu nya. Tidak lama babu itu masuk kedalam ruangan itu dengan takut-takut.
" Iya nyonya, apa anda membutuhkan saya." Tanya babu itu dengan kepala yang di tundukan."
...----------------...
Sebenarnya ini bab dari kemarin author update, tapi lama direview nya.
__ADS_1