Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 205


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Setelah kepergian dokter Melisenda. Kini Fazar dan Wiyah sedang berada di dalam ruangan Harum. Karena Harum sudah tidur sekarang, jadi bebas mereka masuk kedalam ruangan itu saat harum sedang tertidur.


Wiyah yang hanya diam duduk di kursi dekat dengan rajang Harum.


" Sayang, jangan marah." Fazar melingkarkan tangannya ke leher istrinya lewat belakang, lalu dagunya ia taruh di kepala istrinya itu yang tertutup oleh hijabnya." Apa sayang cemburu dengan dokter Melisenda."


" Untuk apa aku cemburu kak. Kalau kak Fazar mau dekat sama dokter Melisenda, ya ngga apa-apa. Kan dokter Melisenda memliki karir yang bagus, cantik lagi. Beda benget sama aku yang hanya mahasiswa yang belum lulus, bahkan masih bocah lagi, penampilan juga ngga ada apa-apanya sama dokter Melisenda."


Mendengar jawaban istrinya itu membuat mulut Fazar mengagaa, sungguh karena cemburu, istrinya itu sampai mengatakan hal itu.


" Sayang marah."


" Aku ngga marah kak atupun cemburu." Fazar tidak percaya dengan jawaban istrinya itu, ia melepaskan tangannya, lalu ia langsung menggeser kursi istrinya itu secara perlahan-lahan, agar istrinya itu bisa melihat kearahnya tidak membelakanginya seperti tadi


" Coba sayang lihat kakak." Fazar mengangkat dagu istrinya itu, membuat mata mereka saling bertemu. Fazar tersenyum, saat ia melihat dari tatapan istrinya itu, kalau istrinya itu sedang cemburu. Istrinya itu tidak bisa menyembunyikan wajah cemburunya itu saat bersama dengan dirinya.


Fazar mendekatkan wajahnya, kearah wajah istrinya itu, lalu Fazar langsung mengambil permen yupi itu yang beberapa hari ini ia tidak cicipi. Rasanya tetap sama, tidak ada yang berbeda, malahan semakin manis.


Yang tentu bukan madu atupun gula ya. Tapi rasa sangat manis.

__ADS_1


Setelah beberapa lama, Fazar baru melepaskannya saat melihat istrinya kehabisan oksigen. Fazar semakin di bikin gemas, saat ia wajah istrinya itu yang terlihat kesal padanya. Karena ia m**cium istrinya itu secara tiba-tiba." Rasanya sangat manis sayang." Goda Fazar sambil tersenyum.


" Kak Fazar menjengkelkan." Wiyah memanyungkan bibir nya.


" Sepertinya masih kurang ya sayang, makanya itu bibir manyung dua meter." Goda Fazar kembali sambil menarik hidung istrinya itu.


" Kakak sangat menyebalkan."


" Hihihi maaf sayang." Ucap Fazar saat melihat wajah cantik itu semakin terlihat kesal." Jangan berkata seperti tadi sayang, karena sayang adalah wanita yang sempurna dalam kehidupan kakak. Tidak ada wanita lain selain istriku ini. Walaupun banyak di luar sana wanita cantik seperti bintang, Tapi hanyalah istriku yang paling cantik dari ribuan bintang itu, karena dialah rembulannya. Seperti yang kakak rasakan saat ini, walaupun di luar sana banyak wanita cantik, Tapi istrinya kakak tetap menjadi wanita yang lebih cantik dari mereka." Terdengar seperti gombalan, tapi Fazar mengatakan itu sebenarnya. Bukan sekedar menenangkan istrinya itu yang sedang cemburu, Tapi Fazar mengatakan itu lewat hatinya langsung." Kakak tidak akan pernah berpikir untuk menyukai wanita lain selain istrinya kakak. Dan kakak juga tidak akan pernah berpikir untuk mendekati dokter Melisenda, walaupun dia cantik dan karirnya bagus."


Mendengar penjelasan suaminya itu membuat Wiyah merasa bersalah, karena ia telah mengucapkan sesuatu yang seharusnya dia tidak katakan. Sungguh Wiyah merasa bersalah, mendengar ucapan tulus suaminya itu.


" Maaf kak aku cemburu berlebihan tadi, sampaikan mengatakan perkataan yang seharusnya tidak aku katakan." Lirih Wiyah sedih menatap suaminya itu.


" Astaghfirullah, kenapa kakak berubah jadi m**um sih."


" Hihihi, m**um sama istri sendiri itu dapat pahala Lo sayang." Jawab Fazar sambil terkekeh." Bagaimana apa sayang nggak marah lagi."


" Marah kenapa." Wiyah seakan lupa kalau tadi ia sedang cemburu kepada suaminya itu.


" Lupakan Saja, artinya istriku ini sudah tidak marah lagi sekarang." Fazar berdiri dari duduknya lalu menuntun istrinya itu untuk berdiri.

__ADS_1


" Kita mau kemana kak." Tanya Wiyah saat melihat suaminya itu menariknya untuk keluar.


" Kita harus kembali ke apartemen sayang."


" Kenapa kak. Lalu Harum siapa yang jaga kalau sampai dia bangun."


" Kakak ngga tahan sayang, dari tadi menahan sesuatu, makanya kita pulang ke apartemen. Kalau masalah Harum, ada Fina dan Fadil. Mereka sekarang masih di jalan, dua menit lagi sampai."


" Tapi kak."


" Sayang, dosa loh."


" Iya kak maaf, ayo kita pulang." Dengan terpaksa Wiyah harus mengikuti suaminya itu, karena Wiyah akan menjaga bayi besarnya itu terlebih dahulu. Untung saja Harum sudah tidur, kalau tidak. Mungkin suaminya itu harus mengalah dulu sebentar."


.


.


Setelah kepergian Fazar dan Wiyah. Kini Fazri sudah berada di ruangan Harum. Karena tadi Fadil memberikannya pesan, kalau dia sedikit terlambat untuk pergi kerumah sakit, karena ada urusan.


" Entahlah kak Fadil membawa kak Fina kemana, semoga aja dia tidak berbuat macam-macam kepada kak Fina. Kalau kak Fadil sampai macam-macam, nanti kak Fadil bakalan mendapatkan hukuman dari kak Wiyah dan bunda." Batin Fazri. Fazri mendekati kasur Harum. Lalu menatap gadis kecil itu yang sedang tertidur, tanpa terusik sama sekali.

__ADS_1


" Aku senang Rum bisa melihat mu dengan dekat seperti ini, Walaupun kamu dalam keadaan tidur. Tapi aku tetap senang melihat mu seperti sekarang. Cepat sembuh Harum, agar kita bisa bermain kembali." Ucap Fazri sambil menatap wajah cantik itu." Besok kita akan kembali di kota S, dan kamu akan merasakan kasih sayang yang belum pernah kamu rasakan."


...----------------...


__ADS_2