Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 117


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Tuan Aslan berdiri dari posisinya, setelah bunda Sisi menyuruhnya untuk berdiri, Tuan Aslan begitu sangat senang karena mendengar jawaban yang bunda Sisi berikan kalau ternyata bunda Sisi sudah memaafkan jauh sebelum ia meminta maaf. Tapi tuan Aslan juga sedih, karena orang yang pernah dia benci ternyata tidak menyimpan dendam kepada dirinya walaupun ia sudah banyak memberikan luka.


Mungkin kata maaf nya tidak akan sebanding dengan luka yang selama ini dia berikan kepada bunda Sisi, tapi mendengar bunda Sisi memaafkannya membuat tuan Aslan sangat bersyukur.


" Terimakasih, karena kamu sudah mau memaafkan ku Sintia, terimakasih." Ucap tuan Aslan menuduhkan kepalanya dengan tangan kembali di tengkupkan di atas dada.


" Tidak tuan, jangan mengatakan itu lagi. Saya sudah memaafkan anda tuan, jadi saya mohon jangan meminta maaf kepada saya lagi seperti ini." Ucap bunda lalu memegang kedua tangan kakak iparnya itu." Anda, paman dari ketiga anak saya, jadi jangan mengakat tantangan seperti ini." Ucap bunda Sisi kembali.


Tuan Aslan yang mendengar ucapan dari bunda Sisi seketika langsung menangis, dia sangat menyesal telah banyak melakukan kesalahan kepada keluarga adiknya, bahkan dengan tega dia menolak kehadiran anak keponakan yang terlahir dari bunda Sisi.


Masih bisakah dia di anggap seorang paman, setelah selama ini dia melakukan kesalahan.


" Aku tidak pantas di sebut paman." Lirih paman Aslan dengan isak tangisannya.


" Tidak paman, paman adalah paman kami walaupun paman pernah menyakiti kami. Tapi paman tetap paman kami yang terbaik." Sambung Fadil yang berada di atas ranjang, sambil menatap kearah pamannya itu. Fadil tahu pamannya itu membenci bunda sampai tidak menganggap kehadiran mereka.


Tapi pamannya itu tetap paman mereka, yaitu kakak dari ayah mereka, jadi mereka tidak akan pernah menyimpan dendam kepada pamannya itu.


Mendengar ucapan sang keponakan, semakin membuat tuan Aslan terisak karena penyesalan. Sejahat-jahatnya ia ternyata anak keponakannya masih mau memaafkannya. Apakah masih pantas ia diberikan maaf.


Tuan Aslan melangkah mendekati Fadil yang sedang berada di ranjang rumah sakit, lalu memeluk tubuh yang kurus itu. Mengusap lembut kepala Fadil yang tidak memiliki rambut karena botak.


" Terimakasih, nak kalian mau memaafkan paman bahkan masih menganggap paman ada." Lirih tuan Aslan yang masih memeluk tubuh Fadil.


Sedangkan Wiyah yang mendengar dan menyaksikan adegan didepannya merasa terharu. Sekarang dia mengerti arti curhatan Abizard kemarin, setelah mendengar dan melihat apa yang terjadi sekarang.

__ADS_1


Wiyah tidak menyangkut keluarga yang baru dia kenal dua bulan terakhir, ternyata menyimpan banyak misteri yang kini sudah terpecahkan.


" Kenapa sayang, hmm." Tanya Fazar lembut saat melihat mata istrinya itu berkaca-kaca.


" Aku hanya terharu kak." Jawab Wiyah sambil menyembunyikan kepalanya di lengan Fazar.


Fazar yang melihat itu tersenyum." Kakak akan ceritakan, kenapa keluarga kami seperti ini." Wiyah menjauhkan kepalanya, dari lengan Fazar lalu menatap suaminya itu.


Fazar yang melihat tatapan istrinya hanya tersenyum, karena merasa lucu." Karena sayang perlu tahu apa yang terjadi di keluarga kami." Jawab Fazar yang seperti tau apa yang istrinya itu pikirkan.


Sedangkan Abizard yang menyaksikan semuanya, masih belum percaya kalau papi nya benar-benar meminta maaf kepada keluarga pamannya.


" Akhirnya, keluarga ini bisa bersatu kembali." Batin Abizard tersenyum senang menatap kearah papi nya yang masih memeluk tubuh Fadil.


" Andai mas masih bisa melihat sekarang, doa mas selama ini sudah di kabulkan. Walaupun mas ngga ada disini bersama kami, tapi aku tahu mas pasti senang melihat kakak mas sudah menerima anak-anak." Batin bunda Sisi menatap kearah tuan Aslan.


🍁🍁🍁🍁🍁


Seminggu sudah masalah kesalahpahaman keluarga Fazar selesai. Kini keluarga itu semakin membaik, apalagi bertambahnya keluarga mereka membuat keluarga itu semakin lengkap.


Tuan Aslan sebagai paman, selalu berusaha untuk memberikan waktunya untuk kedua anak keponakannya, karena sih bungsu Fazri masih berada di kota S. Karena selama ini dia tidak pernah bersama dengan anak keponakannya.


Menyangkut Fazri dia sudah mengetahui semuanya, karena bunda Sisi sudah memberitahu Fazri.


Fazri yang mendengar itu tentu senang, karena paman yang sering di ceritakan oleh ayahnya ternyata memang benar-benar ada dan sudah mau menerima kehadiran mereka, walaupun lima tahun yang lalu pernah menolak mereka.


Sebenarnya Fazri ingin ikut di Jakarta, tapi sekarang dia sedang melaksanakan ujian kelulusan sekolah, jadi setelah liburan dia akan pergi ke Jakarta.

__ADS_1


Fazar juga sudah menceritakan kisah keluarga mereka, tapi tidak semuanya. Karena ada aib Keluarganya yang harus dia jaga walaupun Wiyah itu adalah istrinya.


Sama halnya dengan Wiyah yang sama-sama menceritakan kisah keluarganya walaupun tidak semuanya, karena ada aib keluarga yang dia harus jaga, apalagi menyangkut kedua orang tuanya.


Wiyah juga menceritakan siapa dirinya sebenarnya tanpa ragu kepada Fazar, Karena suaminya berhak tahu siapa dirinya. Walaupun nanti suaminya itu akan berpikir seperti apa dirinya, tapi Wiyah akan tetap menceritakan semuanya, Karena Fazar berhak tahu.


Wiyah mengira Fazar akan membencinya sebagai gadis yang ternyata hanyalah anak haram dari hubungan gelap ibunya. Tapi pemikirannya salah, karena Fazar benar-benar mau menerimanya.


Karena yang membuat kesalahan itu bukan dia, melaikan orang tuanya. Jadi Wiyah tidak pantas untuk di salahkan. Itu yang Fazar katakan kepada Wiyah.


Wiyah yang mendengar ucapan bijak dari suaminya begitu sangat terharu, karena dia masih mau di terima oleh suaminya itu, setelah menceritakannya kebenaran yang ada.


Malahan kedua pasang itu semakin romantis saja, Fazar juga sudah menunjukkan sikap aslinya yang ternyata suka bercanda dan mengusili istrinya itu, yang membuat Wiyah kadang senang dan kadang sedih karena keusilan suaminya itu.


Wiyah tidak menyangka pria yang begitu sangat dingin, ternyata sangat romantis dan juga receh. Rasanya Wiyah tidak menyesal menikah dengan suaminya itu, walaupun awal mereka bertemu Fazar selalu menatapnya dengan kebencian, karena kesalahpahaman. Tapi berbeda dengan sekarang, karena Fazar selalu menatapnya penuh dengan cinta, walaupun Wiyah tidak tahu apakah suaminya sudah mencintainya atau belum.


Kalau ditanyakan, apakah ia sudah mencitai suaminya itu atau belum. jawabannya tentu, Wiyah sudah mencintai suaminya, apalagi selama seminggu terakhir, mereka selalu berkencan ala anak muda, jadi Wiyah bisa merasakan yang namanya berpacaran.


Fazar bukan saja memanjakan Wiyah sebagai kekasih halalnya, tapi Fazar juga memanjakan Wiyah sebagai istrinya. Karena Fazar menginginkan anak yang hadir di tengah-tengah kebahagiaan mereka sekarang.


...----------------...


Alhamdulillah bahagia juga keluarga Fazar.


Mau lagi ngga nih. Komen ya.


Salam manis dari author 😉

__ADS_1


__ADS_2