Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 223


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Fazar dan Wiyah masuk kedalam kamar mereka, setelah berbincang tadi. Untuk masalah Fadil, mereka akan pikirkan besok mengingat ini sudah malam, dan mereka butuh istirahat.


Fazar menuntun istrinya untuk duduk di pinggiran kasur, lalu dia ikut menyusul duduk di sebelah istrinya sambil membawa satu gelas susu, karena tadi Wiyah lupa meminum susu untuknya.


" Baca bismillah sayang." Ucap Fazar mengingatkan istrinya itu. Wiyah hanya mengangguk, lalu meminum susu itu sampai habis." Udah." Lagi-lagi Wiyah hanya mengangguk, menanggapi ucapan suaminya itu." Sayang tunggu disini kakak mau taruh ini di dapur."


" Iya kak, tapi jangan lama-lama." Fazar hanya tersenyum." Terimakasih."


" Untuk apa sayang berterimakasih." Tanya mengerutkan keningnya bingung saat mendengar istrinya itu mengungkapkan 'Terimakasih'


" Untuk semua perhatian yang kakak berikan untuk aku."


Fazar menaruh sisa gelas susu tadi di atas nakas. Fazar memegang kedua bahu istrinya itu, sambil menatapnya dengan dalam mata indah istrinya." Sayang, semua perhatian yang kakak berikan, itu semua sebagai tanda kalau kakak begitu sangat mencintaimu dan juga menyayangi kalian." Ucap Fazar lembut." Apalagi disini ada darah daging kakak, yang membutuhkan perhatian kakak sama seperti sayang." Tangan Fazar yang sebelahnya turun ke perut istrinya itu, lalu mengusapnya dengan sangat lembut." Harusnya itu kakak yang berterimakasih ke sayang, karena saya sudah mau mengandung anak-anak kita. Terimakasih, sayang. Aku mencintaimu" Fazar memeluk istrinya, tidak lupa memberikan ciuman penuh kasih sayang di ubun-ubunnya


Wiyah yang mendengar kata-kata suaminya itu hanya tersenyum. Karena Wiyah tau kalau perkataan suaminya itu sungguh sangat tulus bukan sekedar gombalan yang biasa di lakukan oleh buaya darat, yang sedang mengejar mangsanya.


" Kak." Fazar hanya bergumam menjawab panggilan istrinya itu, karena begitu sangat nyaman memeluk tubuh kecil itu." Kak, apakah kak Fadil punya masalah." Tanya Wiyah yang mengingat wajah Fadil yang lebam tadi.


Fazar langsung melepaskan pelukannya saat mendengar pertanyaan istrinya itu." Ngga ada sayang, Fadil ngga ada masalah." Jawab Fazar bohong.


" Kak, jangan bohong. Aku tau kalau kak Fadil pasti ada masalah. Tadi aja aku lihat wajahnya lembam seperti orang yang habis di pukul." Ucap Wiyah menatap suaminya itu." Kakak sudah janji loh sama aku, untuk jujur, setiap ada masalah." Ucap Wiyah mengingatkan suaminya itu." Sebaiknya kakak jangan tututupi, biar aku juga tau."


Jujur sebenarnya Fazar cemburu saat istrinya itu menanyakan perihal Fadil. Walaupun Fadil adalah adiknya dan mungkin sudah memiliki istri. Tapi bagaimanapun Fazar akan tetap cemburu, mengingat dulu Fadil pernah memiliki perasaan untuk istrinya itu.


" Kak, kenapa diam." Tanya Wiyah cemberut, sambil memegang tangan suaminya itu. Membuat Fazar yang tadinya terdiam langsung tersadar dari lamunannya.


" Ehh, maaf sayang."


" Kakak melamun."


" Ngga sayang."


" Terus kenapa kakak diam, kalau ngga melamun."


Fazar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, saat mendengar pertanyaan istrinya itu. Fazar lupa kalau istrinya itu tidak bisa di bohongi.


" Kakkkk."


" Astaghfirullah, sayang jangan teriak-teriak kaget kakak tau." Ucap Fazar terkejut saat istrinya itu memanggilnya dengan cara berteriak, walaupun ngga terlalu nyaring sih, tapi berhasil membuatnya terkejut.


" Hihihi maaf kak. Kakak sih ngga mau jawab pertanyaanku tadi." Ucap Wiyah sambil terkekeh.


" Kakak mau cerita tapi sayang jangan kaget ya." Wiyah hanya mengangguk sambil menunjukkan senyum manisnya, membuat Fazar jadi gemas sendiri.

__ADS_1


" Masya Allah, manis banget nih senyum. Jadi pengen dicicip deh, kalau boleh sayang." Goda Fazar.


" Nggak boleh cicit-cicip, kalau kakak belum cerita." Ucap Wiyah mulai kesal.


" Artinya kalau udah cerita, boleh dicicip ya sayang." Lagi-lagi Fazar menggoda istrinya itu.


" Kakak, aku lagi serius nih." Rengek Wiyah yang mulai kesal dengan suaminya itu, bukannya bercerita, apa yang telah terjadi kepada Fadil. Suaminya itu malah menggodanya.


" Iya sayang, maaf. Kakak cerita nih." Fazar menggenggam tangan istrinya terlebih dahulu, barulah dia bercerita. Apa yang telah terjadi kepada Fadil dan Fina, yang sudah menikah secara tiba-tiba karena kesalahpahaman, seperti yang diceritakannya oleh Fadil tadi. Fazar menceritakan istrinya itu dengan detail, agar tidak ada kesalahpahaman antara Wiyah dan Fina.


" Astaghfirullah kak." Ucap Wiyah beristighfar karena terkejut mendengar cerita suaminya itu." Benarkah kak Fina dan kak Fadil sudah menikah."


" Tenang sayang, jangan keget kayak gini, kasian mereka." Ucap Fazar menenangkan istrinya itu yang sedang terkejut." Iya sayang, mereka sudah menikah seperti yang kakak ceritakan tadi."


" Tapi kak, kenapa Fina tidak bercerita." Lirih Wiyah sedih


" Mungkin Fina sedang berusaha untuk menyelesaikan masalahnya sendiri sayang." Jawab Fazar menenangkan istrinya itu, Fazar tau kalau Wiyah pasti kecewa dengan sahabatnya itu karena merahasiakan hal seperti ini darinya.


" Kak, aku mau menelfon Fina untuk meminta penjelasan."


" Jangan sayang, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka, dan kita tidak boleh ikut campur karena itu adalah masalah mereka, sayang." Wiyah hanya menurut mendengar ucapan suaminya itu.


" Sebaiknya kita mendoakan yang terbaik untuk mereka sayang." Ucap Fazar kembali, membuat Wiyah hanya mengiyakan ucapan suaminya itu. Padahal dalam lubuk hatinya dia begitu sangat penasaran.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Seorang pria muda, sedang berdiri dekat dengan jendela, yang memperlihatkan hujan rintik-rintik. Hujan itu seakan tau apa yang dia rasakan malam ini.


" Aaaaaaa, aku benci dengan takdir ini ya Rabb, kenapa harus terulang lagi." Teriak Fadil frustasi didalam kamarnya itu. Untuk saja kamar yang di tempati oleh Fadil kedap suara, jadi teriakannya tadi tidak terdengar sampai diluar. Karena tidak bisa mengendalikan amarahnya membuat, Fadil memukul dinding di sebelahnya dengan sangat kuat, hingga tangannya lencet.


Kalau ditanya, apakah terasa sakit. Jawabannya tidak. Karena sakit hatinya jau lebih besar ketimbang tangannya. Apalagi ketika Fadil membayangkan kalau gadis yang dia cintai akan ambil oleh orang lain.


Lama berlarut-larut dalam kemarahannya. Akhirnya Fadil menyadari kesalahannya, yang telah menyalakan takdir yang diberikan untuknya, Seharusnya dirinya bersyukur karena sang pemilik takdir masih mau memberikannya hidup di dunia ini, untuk menjalani hidupnya lebih lama lagi. Tapi dia malah menyalahkan takdir yang dia berikan.


Fadil sampai lupa. Kalau di dunia ini orang-orang akan mendapatkan ujian mereka masing-masing Sepertinya tapi dengan versi yang berbeda." Astaghfirullah...." Fadillah melangkahkan kakinya kearah kasur. Lalu duduk disisi kasur, sambil terus beristighfar.


" Maaf aku ya Allah, karena tidak bersyukur dengan apa yang engkau berikan. Padahal apa yang aku rasakan ini suatu ujian, agar aku tetap ingat padamu ya Rabb." Gumam Fadil yang sadar akan kesalahannya.


Karena belum sholat isya, Fadil memutuskan untuk melakukan tugasnya sebagai muslim untuk melakukan sholat isya yang hampir saja dia lewatkan.


.


.


Fadil mengangkat kedua tangannya setinggi kedua bahunya. Fadil mencurahkan kesedihannya dan kemarahannya hari ini, tidak lupa Fadil juga berdoa agar dia di berikan jalan, agar dia bisa menyelesaikan masalahnya tanpa harus berpisah dari Fina.

__ADS_1


Tapi kalau Allah menakdirkannya untuk tidak berjodoh kepada Fina, maka Fadil akan berusaha untuk menerimanya dengan lapang dada. Bagaimanapun, Fadil tidak bisa mengubah rencana sang pemilik takdir.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Hari terus berganti, berputar melewati hari-hari berikutnya. Tidak terasa sudah dua Minggu setelah kejadian dimana Fadil dihajar habis-habisan oleh Yusuf.


Kini kondisi Fadil lebih baik berkat dukungan keluarganya, walaupun dalam hatinya masih kurang. Yaitu keberadan istrinya.


Apalagi selama dua minggu ini Fadil sedang berusaha untuk mencari keberadaan Fina, yang dipindahkan kerumah neneknya.


Ya, setelah kejadian dimalam itu, keluarga Fina memutuskan untuk memindahkan Fina di rumah neneknya untuk sementara, sampai hari pertunangan tiba, yaitu besok malam. Mungkin terlalu cepat, tapi ini sudah dua minggu setelah kejadian itu.


Fadil juga sedang berusaha untuk menemui keluarga Fina, tapi tidak ada satupun orang yang mau bertemu dengannya. Padahal dia hanya ingin menanyakan keberadaan Fina sekarang dengan baik-baik. Tapi sepertinya mereka begitu sangat membencinya makanya keluarga Fina selalu menghindar.


Kita tinggalkan kondosi Fadil yang sedang memikirkan hubungannya sekarang. Kita beralih ke Harum, yang sedang menikmati sarapannya bersama dengan Fazri. Karena suami istri sang pemilik rumah masih berada didalam kamar mereka. Sedangkan bunda Sisi berada di rumah utama.


Ya, selama tinggal di rumah Wiyah, dan rutin melakukan terapi bersama dengan dokter Melisenda, yang sudah pindah ke kota S. Kini kondisi Harum sudah lebih baik, karena gadis kecil itu sudah mulai terbiasa dengan lingkungan sekitarnya, walaupun sedikit canggung.


Tapi gadis kecil itu sudah mau berinteraksi bersama dengan siapapun. Walaupun sudah berinteraksi dengan orang sekitarnya, tapi Harum belum berani untuk keluar dari rumah Fazar. Makanya dia lebih betah di rumah bersama dengan Wiyah, Fazri, dan juga 2R yang sering berkunjung di rumah Harum selama gadis kecil itu pindah kerumah Fazar.


" Tambah lagi Naila." Tanya Fazri penuh dengan perhatian menatap gadis kecil itu.


" Udah kak, aku sudah kenyang." Tolak Harum sopan.


" Bagaimana makanannya enak."


" Alhamdulillah, enak kak. Masakan bunda selalu enak." Ya, Harum memanggil bunda Sisi dengan panggilan bunda, bukan nenek. Karena menurut Harum bunda Sisi masih terlihat muda.


" Bukan bunda yang masak Naila, tapi aku."


" Emangnya kak Fazri bisa masak." Tanya Harum tidak percaya..


" Gini-gini bisa masak Naila. Malahan pinter aku lagi kalau sudah soal masakan daripada kak Fadil sama bang Fazar" Jawab Fazri sedikit menyombongkan dirinya.


" Aku ngga percaya kak."


" Kalau kamu ngga percaya, biar kakak masakkin lagi, supaya kamu tau kalau kakak sangat pintar dalam memasak." Ucap Fazri


" Ngga usah Kak, aku masih kenyang. Nanti aja." Tolak Harum dengan nada yang sopan, agar tidak mengecewakan Fadil.


" Bagaimana kalau besok, aku masakkin."


" Terserah kak Fazri aja." Jawab Harum memilih mengalah. Daripada berdebat terus.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2