
Kesabaranku membawa cinta.
Tidak terasa malam kini berganti menjadi pagi. Semalam adalah malam yang begitu sangat istimewa untuk dua insan karena baru saja melakukan kencan pertama mereka sebagai pasangan halal setelah dua bulan menjalani rumah tangga.
Wiyah yang baru tadi malam berkencan dengan seorang pria yang sudah halal untuknya begitu sangat senang, karena suaminya itu bertingkah seperti remaja yang baru saja merasakan jatuh cinta dan melakukan kencan pertama, padahal usianya lebih tua yaitu dua puluh delapan tahun, tapi dengan pedenya dia bertingkah seperti remaja. Bagaimana tidak suaminya itu mau menuruti semua kemauannya. Bukan saja nonton bioskop, tapi banyak hal yang mereka lakukan seperti pasangan kekasih.
Wiyah tidak menyangka kalau suaminya itu ternyata pria itu yang begitu sangat romantis saat berkencan. Dia berubah menjadi pria yang begitu sangat diidamkan oleh kaum hawa setiap melihat apa saja hal romantis yang dia lakukan. Apalagi para kamu hawa melihat wajah tampan suaminya itu, yang bukan seja terlihat tampan saat memasang wajah datarnya, tapi akan semakin terlihat begitu sangat tampan saat sedang tersenyum.
Bagaimana Wiyah melihat para wanita yang menatap suaminya itu. Mengingat itu membuat Wiyah merasa cemburu, karena Wiyah tidak mau kalau suaminya itu sampai diambil oleh wanita lain.
" Kenapa diam sayang." Tanya Fazar sambil memeluk tubuh istrinya yang sedang duduk di cermin rias sambil terdiam karena melamun, entah apa yang istrinya itu lamunakan sampai membuat dia tidak sadar akan kehadirannya.
Wiyah yang sedang melamun langsung tersadar dari lamunannya saat merasakan pelukan tiba-tiba dari suaminya itu.
" Apa yang sedang sayang lamunakan hmm." Tanya Fazar kembali dengan begitu sangat lembut, menatap pantulan istrinya dari cermin yang sedang menatap kearahnya.
" Ngga ada kak." Jawab Wiyah.
" Yakin." Tanya Fazar semakin menatap Wiyah yang membuat istrinya itu mengangguk." Lalu kenapa tadi diam sampai tidak menyadari kehadiran kakak, jika tidak melamun." Tanya Fazar kembali, lalu menundukkan kepalanya sedikit lebih dekat dengan wajah Wiyah.
Wiyah yang mendengar pertanyaan dari suaminya itu tampak begitu sangat bingung mau menjawab apa. Apa dia harus jujur kalau dia sedang mengingat kencan semalam.
__ADS_1
" Sungguh kak, aku tidak melamun." Jawab Wiyah dengan Jelas.
" Baiklah kakak percaya." Ucap Fazar, karena tidak ingin membuat istrinya itu kesal karena pertanyaannya yang membuat suasana hatinya akan kacau pagi ini. Padahal mereka baru saja semalam jadian tapi sudah marahan, kan ngga lucu.
Wiyah melepaskan pelukan suaminya itu lalu berdiri dari duduknya untuk menghadap suaminya, yang sekarang sedang menatap kearahnya.
" Sekarang kakak siap-siap dulu, karena kita mau kerumah sakit untuk nganterin makanan untuk bunda." Ucap Wiyah mengingatkan suaminya itu untuk bersiap-siap, karena suaminya itu masih mengunakan pekaian olahraganya, pekaian juga masih basah karena keringat.
" Tapi sayang yang bantuin." Ucap Fazar yang kembali memeluk tubuh istrinya itu.
" Kak, lepasin, ini hampir siang lo bunda pasti udah nungguin." Ucap Wiyah kembali mencoba untuk melepaskan pelukan dari suaminya itu, tapi tidak terlepas karena Fazar begitu sangat kuat memeluk tubuhnya.
" Bunda tahu sayang, kalau kita sedang bermesraan sekarang." Jawab Fazar tidak memperdulikan ucapan istrinya itu, karena sekarang Fazar ingin bermesraan dengan istrinya itu.
" Sst, sayang diam sebenar jangan bergerak, kakak takut kalau kakak akan melakukannya lagi entar kita ngga jadi kerumah sakit buat ketemu bunda." Ucap Fazar memotong ucapan istrinya itu. Fazar menghirup aroma harum dari rambut istri yang membuat perasaanya seakan tenang.
Sedangkan Wiyah yang mendengar ucapan dari suaminya itu hanya bisa diam, karena Wiyah sendiri takut dengan apa yang Fazar ucapakan tadi.
Saat Fazar akan kembali melakukan hal yang menguntungkan untuknya, suara dering ponsel yang berada di atas nakas membuat Fazar menghentikan aksinya itu.
" Kak, ada yang telfon." Ucap Wiyah membuat Fazar melepaskan pelukannya.
__ADS_1
" Mengganggu saja." Gerutu Fazar kesal. Walaupun kesal, Fazar tetap melangkah mendekati ponselnya. Sedangkan Wiyah yang memiliki kesempatan untuk kabur, dengan langkah cepatnya meninggalkan kamar suaminya itu yang kini sudah menjadi kamarnya juga.
" Alhamdulillah selamat." Batin Wiyah bersyukur karena suara ponsel suaminya itu membuat dia terlepas dari Fazar.
Sedangkan Fazar menggerutu kesal saat melihat siapa yang menelepon nya, ternyata adalah Rido.
" Aku memotong gaji mu sepuluh persen, karena kamu sudah mengganggu pagi ku." Ucap Fazar lalu mematikan sambungan teleponnya.
" Dasar Rido pengganggu." Gerutu Fazar kesal saat melihat istrinya yang sudah tidak ada didalam kamar, karena kesal Fazar melangkah masuk kedalam kamar mandi dengan wajah kesalnya.
Sedangkan disisi lain.
Rido tampak bingung saat mendengar gajinya yang di potong, padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun.
Rido hanya ingin memberikan informasi, kalau tuan Aslan akan datang kerumah sakit pagi ini untuk menemui Fadil dan juga bunda Sisi.
Tapi apa yang dia dapat. Dia malah mendengar kalau gajinya di potong sepuluh persen oleh Fazar.
" Aku bingung dengan mu bang, padahal aku tidak melakukan kesalahan, tapi Abang malah memotong gaji ku." Ucap Rido sedih.
...----------------...
__ADS_1
Kasianya kamu Rido, makanya jangan ganggu Fazar yang sedang berduaan dengan istrinya.
Author udah kasih dua bab ya, jangan lupa like komen dan vote nya.