Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 131


__ADS_3

Kesabaran ku membawa cinta


" Acil mana adek bayinya untuk kami." Tanya Fanesya dengan polosnya, membuat Wiyah semakin bingung ingin menjawab apa.


Sedangkan Fazar yang mendengar pertanyaan dari Fanesya langsung mendekati istrinya, karena Fazar tahu kalau istrinya itu pasti kebingungan ingin menjawab apa.


" Adik bayinya masih dalam proses, Nesya." Jawab Fazar membuat Wiyah menoleh kesamping untuk menatap suaminya yang sudah berada di sampingnya. Sama halnya dengan Fanesya yang menatap kearah Fazar.


" Masih dalam proses, emangnya lama ya om tampan." Tanya Fanesya semakin membuat kedua suami istri itu kebingungan ingin menjawab apa.


" Gini amat punya adik kaya kamu Zri, ngajarin anak orang yang bukan-bukan." Batin Fazar menatap Fazri, yang hanya membuang mukanya saat di tatap oleh nya.


" Mungkin masih lama atau bisa juga cepat sayang." Sambung Windi menjawab pertanyaan Fanesya, karena Windi tahu kalau Wiyah dan Fazar pasti bingung jawabnya.


Fazar Wiyah melihat kearah Windi yang mendekati mereka, lalu mengendong putri kecilnya itu.


" Kenapa lama." Sambung Rafa dan Rafi bersamaan, Membuat beberapa orang dewasa itu saling menatap, satu sama lainnya.


" Sudah anak-anak ngga usah membahas lagi, kasian acil Wiyah dan om tampan dari tadi di luar padahal baru saja pulang." Ucap Haidar mengalihkan pertanyaan kedua nya." Pasti om tampan dan Acil Wiyah capek habis perjalanan jauh." Ucap Haidar kembali.


" Maafkan kami cil, Om. Karena kami sampai melupakan hal itu." Ucap Rafa merasa bersalah.


" Rafi juga cil, om." Sambung Rafi


" Iya ngga apa-apa, lebih baik sekarang kita masuk. Soalnya Acil capek benget." Jawab Wiyah akhirnya bisa bernafas lega, karena kedua anak keponakannya itu mengerti dan tidak bertanya lagi. Untungnya ada Haidar tadi yang mengalihkan pertanyaan mereka.


Keluarga itu masuk kedalam rumah, agar mereka bisa mengobrol dengan santai.


🍃🍃🍃🍃🍃


" Bagaimana dengan keadaan Fadil sekarang." Tanya Haidar saat Fazar dan Haidar sedang berada di ruangan keluarga. Sedangkan ketiga kurcaci itu dan Fazri sedang duduk sambil menikmati beberapa jajanan yang tadi di bawakan oleh Wiyah untuk ketiganya.


" Alhamdulillah kak, Fadil sudah lebih baik dari sebelumnya. Fadil sudah di nyatakan sembuh oleh dokter. Tinggal melakukan beberapa perawatan, maka Fadil bisa kembali ke sini." Jawab Fazar.


" Alhamdulillah kakak senang dengarnya." Ucap Haidar tersenyum.


" Mungkin bulan depan Fadil sudah bisa kembali ke kota S. Setelah Fadil kembali ke kota ini, maka aku akan melakukan resepsi pernikahan kami untuk memberitahu ke orang-orang kalau kami sudah menikah." Ucap Fazar.


" Kalau masalah resepsi itu terserah kalian, Tapi kakak ikut senang dengan rencana mu, untuk memberitahukan ke orang-orang kalau kalian sudah menikah." Ucap Haidar yang ikut senang dengan rencana adik iparnya itu.


" Makasih kak, insya allah bulan depan aku akan melakukan resepsi." Ucap Fazar tersenyum.


Haidar merasakan perubahan dari Fazar yang tidak sedingin dulu, merasa begitu sangat senang karena perubahan bos nya itu.

__ADS_1


Haidar yakin kalau Fazar pasti sudah banyak berubah selama tinggal bersama dengan Wiyah, sampai melelehkan Fazar yang begitu sangat dingin seperti es, membuat nya hangat seperti ini. Karena dari tadi Fazar sering sekali tersenyum jika sedang berbicara dengan siapapun. Menandakan kalau dia sudah berubah menjadi pria yang suka sekali tersenyum dengan senang hati, bukan paksaan.


" Aku senang dek, karena kamu bahagia dengan pernikahan mu. Sampai membuat Fazar bisa berubah seperti ini." Batin Haidar menatap kearah Fazar sambil tersenyum.


Kedua nya kembali mengobrol membahas pekerjaan kantor.


Sedangkan di dapur, kedua wanita sedang sibuk dengan masakan mereka sambil menyiapkan beberapa makanan yang sudah di simpan di atas meja makan.


Windi menatap adiknya itu yang sedang sibuk memasak.


" Wiyah." Panggil Windi membuat Wiyah melihat kearah kakak ipar nya itu.


" Iya kak." Jawab Wiyah menoleh melihat kearah Windi.


"Bagaimana dengan kegiatan kuliah mu selama di jakarta." Tanya Windi menatap adiknya itu.


" Alhamdulillah berjalan dengan lancar kak, walaupun lewat online. Tapi kak Fazar sering membantuku untuk mengerjakan semua tugas kuliahku. Sampai kak Fazar dan bunda sering melarang ku untuk pergi ke kerumah sakit agar aku tetap fokus dengan kuliahku." Jelas Wiyah.


Mendengar jawaban dari Wiyah membuat Windi tersenyum." Alhamdulillah dek, Kakak ikut senang kalau keluarga mu mengerti akan keadaan mu sebagai mahasiswa, dan mereka juga begitu sangat menyayangimu." Ucap Windi. Sebenarnya Windi begitu sangat takut kalau sampai adiknya itu tidak bisa kuliah lagi saat sudah menikah, mengingat Wiyah sudah menjadi seorang istri. Tapi pikiran nya salah, karena mertua bahkan suami dari adiknya itu ternyata begitu sangat mengerti Wiyah.


" Alhamdulillah kak, mereka begitu sangat mengerti ku." Ucap Wiyah tersenyum.


" Alhamdulillah dek, kakak senang dengarnya, karena kamu menemukan keluarga yang bisa menyayangi mu." Batin Windi menatap kearah Wiyah." Karena sudah masak semuanya, lebih baik kamu memangil suamimu bersama kak idar, sekalian sama anak-anak, nanti makanya biar kakak aja yang siapin." Suruh Windi membuat Wiyah mengangguk mengerti.


" Siap kak." Jawab Wiyah. Wiyah melangkah kearah rungan keluarga.


" Kak Fazar, kak idar, makan malam sudah siap. Nanti baru lanjutkan ngobrol nya, sekarang kita makan dulu." Ucap Wiyah sopan.


Fazar dan Haidar melihat kearah Wiyah." Iya dek." Jawab Haidar.


" Nanti kita sambung lagi, sekarang kita makan malam dulu." Ucap Haidar membuat Fazar mengangguk mengerti.


" Iya kak." Jawab Fazar.


" Ayo anak-anak kita makan dulu." Ajak Haidar menatap ketiga anaknya itu.


" Iya yah." Jawab ketiganya langsung berdiri dari duduknya.


" Fazri simpan dulu ponselnya, nanti baru lanjut main game nya." Suruh Haidar.


" Baik kak." Jawab Fazri langsung menyimpan ponselnya untuk menuruti permintaan dari Haidar.


Haidar bersama dengan anak-anaknya melangkah ke dapur, yang diikuti oleh Fazri.

__ADS_1


Belum Wiyah melangkah untuk mengikuti mereka, Fazar langsung menarik tangan Wiyah dengan lembut yang membuat tubuh Wiyah langsung duduk di pangkuan Fazar, karena pria itu belum berdiri dari duduknya.


Fazar melingkarkan tangannya di perut Wiyah, sambil mencium bahu istrinya yang tertutup oleh jilbab nya.


" Kak, jangan kayak gini nanti ada yang lihat, kita bukan di apartemen atau di hotel melaikan di rumah kak Indar." lirih Wiyah merasa tidak nyaman. Mereka berada di rumah Haidar, tapi suaminya itu berbuat hal mesum.


" Ngga apa-apa sayang mereka lagi ada di dapur, tidak akan ada yang melihat kita seperti ini." Jawab Fazar." Tetap seperti ini, kakak merasa nyaman. Rasanya pengen tidur lagi." Ucap Fazar kembali.


" Tapi kak." Fazar langsung memotong ucapan istrinya itu dengan menyimpan telunjuknya di bibir Wiyah agar istrinya itu diam sebentar.


Saat keduanya sedang diam dalam suasananya mereka.


Fazri datang keruangan keluarga untuk memanggil Abang dan juga kakak ipar nya itu, karena tidak kunjung datang di meja makan apalagi dari tadi Haidar sudah menunggu mereka.


" Astaghfirullah bang." Pekik Fazri terkejut langsung membalikkan tubuhnya saat melihat adegan didepan nya.


Sedangkan Wiyah yang melihat kehadiran Fazri langsung melepaskan tangan Fazar dari perutnya lalu berdiri dari pangkuan Fazar. Sama halnya dengan Fazar yang berdiri dari duduknya.


" Bang, kakak Wiyah kalian sudah di tungguin di meja makan." Ucap Fazri, setelah itu pemuda yang baru berusia lima belas tahun itu melangkah meninggalkan ruangan keluarga.


" Kalau aku tahu akan seperti ini, mendiang aku tidak usah memanggil mereka." Batin Fazri kesal.


" Tuh kan kak, ketahuan sama Fazri." Kesal Wiyah dengan wajah merona merah karena sudah di pergoki oleh adik iparnya.


Sedangkan Fazar yang melihat wajah memerah dari Wiyah hanya terkekeh." Maaf sayang, kakak ngga tahu akan seperti ini." Ucap Fazar yang sama-sama malu nya tapi Fazar mencoba untuk menenangkan rasa malunya itu.


" Lebih baik kita pergi ke meja makan sebelum kak Idar berpikir aneh-aneh tentang kita." Ucap Wiyah, setelah itu melangkah meninggalkan Fazar.


Fazar yang di tinggalkan hanya mengikuti langkah istrinya itu sambil tersenyum melihat istrinya yang sedang malu.


🍃🍃🍃🍃🍃


Fazri menatap kedua kakaknya itu.


Wiyah yang menundukkan kepalanya karena masih malu dengan kejadian tadi, apalagi dari tadi ia di tatap oleh Fazri.


Sedangkan Fazar sang pelaku utama hanya bisa-bisa saja saat melihat tatapan adiknya itu.


" Memang Abang ngga tahu tempat saat bermesraan bersama kakak ipar. Sepertinya Abang benar-benar sudah kena sindrom bucin akut seperti yang di ceritakan oleh bunda." Batin Fazri masih menatap keduanya.


Sedangkan Haidar dan Windi merasa Heran dengan tingkah ketiganya.


...----------------...

__ADS_1


Yang kepergok, pasti malu benget ya


Jangan lupa like komen dan vote nya biar author makin semangat buat update.


__ADS_2