Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 234


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta.


Satu minggu setelah pertunangan Fina dan Fadil. Kini hari pernikahan mereka telah tiba. Walaupun mereka sudah menikah, tapi keduanya tetap melangsungkan akad kedua.


Jika kemarin Fina dinikahkan oleh wali hakim, maka berbeda dengan ini. Karena Fina dinikahkan langsung oleh papanya, dan Ini adalah hari yang paling terbaik untuk kedua pengantin.


Kenapa kedua pengantin, bukannya hanya Fina.


Kerena Fina tidak akan sendirian hari ini. Melainkan berdua, karena hari ini Fazar akan mengulang pernikahannya.


Jika dulu mereka menikah tanpa di saksikan oleh orang tua Wiyah, dan hanya Haidar dan juga keluarganya. Maka berbeda dengan ini, karena hari ini ada ayah Jambri, Jabir. Dan ya mungkin masih ada yang lain.


Rumah utama sudah di hias sedemikian rupa, untuk akad nikah dua orang putra kaya dari keluarga Aldevaro.



Dekorasi sengaja di hias diluar, karena bunda Sisi yang memintanya.


Kita tinggalkan di luar rumah, untuk masuk kedalam kamar pengantin. Karena kedua pengantin itu sedang dihias oleh penata rias profesional. Keduanya di rias didalam ruangan yang sama.


" Kak Fina, kak Wiyah. Masya Allah cantik benget." Ucap Anita sambil menatap kedua gadis itu, yang terlihat sangat cantik pagi ini." Pasti kakak ipar makin cinta deh, saat melihat istrinya secantik ini." Ucap Anita kembali sambil mengoda keduanya, Yang membuat Wiyah dan Fina jadi tersipu malu-malu.


Fina Febby Falisha



Wisyah Hanifah Putri



" Terimakasih Anita, kamu juga terlihat sangat cantik." Balas Wiyah sambil tersenyum, menatap rejama seumuran dengan Fazri yang terlihat cantik mengunakan gaun berwarna coklat, dengan hijab pashmina hitam plisket simple style.


" Terimakasih kak Wiyah."


" Pasti kamu dandan untuk kak Rido ya. Cieee." Ucap Fina yang membalas mengoda adiknya itu.


" Iihh, apaan sih kak, siapa juga yang mau sama tuh om-om mesum." Jawab Anita kesel.


" Astaghfirullah dek, jangan ngomong kayak gitu, takut jodoh Lo."


" Ngga bakalan." Jawab Anita kesel, membuat Fina dan Wiyah terkekeh melihat wajah cantik itu menjadi lucu saat sedang kesel seperti ini.


" Ya ampun Anita, kenapa kamu menganggu kedua pengantin ini. Tadi mama menyuruhmu apa." Omel mama Afifah sambil masuk kedalam ruangan itu, tapi malah bertemu dengan Anita.


" Hihihi, maaf ma. Soalnya aku malas kalau ketemu sama tuh om-om."


" Siapa yang om-om nak." Tanya mama Afifah sambil menatap putrinya bingung.


" tidak ada ma."


" Kamu membuat mama bingung saja." Ucap mama Afifah sambil menggelengkan kepalanya merasa aneh dengan tingkah putri bungsunya itu.


" Masya Allah, putri mama terlihat sangat cantik." Puji mama Afifah sambil tersenyum menatap putri keduanya.


" Terimakasih ma."


" Mama ngga nyangka kalau hari ini mama akan melihatmu menikah. Padahal kemarin mama merasa baru mengendong mu." Ucap mama Afifah sambil meneteskan air matanya. Bukan karena sedih, tapi mama Afifah meneteskan air matanya karena bahagia.


" Mama jangan nangis. Aku jadi ngga tega membuat menikah."


" Sutt, jangan ngomong kayak gitu." Ucap mama Afifah lalu memeluk Fina dengan sayang.


Sedangkan Wiyah yang berada di ruangan itu ikut tersenyum, karena melihat kebahagiaan Fina dan mamanya. Tapi senyum itu seakan pudar saat mengingat sosok ibu yang dia. rindukan, yang selama empat tahun ini pergi.


" Tepat hari ini bu. Empat tahun kepergianmu Bu." Gumam Wiyah sedih.


Ya, hari ini adalah hari ulang tahun Wiyah yang ke sembilan belas tahun, dan hari ini juga, adalah hari dimana orang tuanya berpisah empat tahun yang lalu.


" Dimanapun ibu, dan adik-adikku berada, aku berdoa semoga Allah tetap melindungi kalian." Batin Wiyah.


" Maaf Wiyah, Tante sampai mengabaikan kamu." Ucap mama Afifah merasa bersalah, karena mengabaikan sahabat putrinya itu yang sudah dia anggap seperti putri nya sendiri.


" Tidak apa Tante."


" Sudah berapa bulan nak." Tanya mama Afifah sambil mengusap perut Wiyah.

__ADS_1


" Empat bulan Tante, hampir jalan lima."


" Masya Allah. Tapi kenapa terlihat besar daripada perut ibu hamil lainnya."


" Soalnya aku hamil Beby Triple, Tante."


" Benarkah. Masya Allah, ternyata sebentar lagi Tante akan memiliki cucu tiga sekaligus." Ucap mama Afifah yang terlihat terkejut, tapi ikut bahagia." Sehat-sehat di perut ibumu nak."


Wiyah hanya tersenyum penuh haru, menanggapi ucapan mama Fina. Walaupun dia tidak mendapatkan peran kasih sayang dari sosok ibunya, tapi banyak orang yang menyayanginya disini.


Tok


Tok


Tok


Pintu diketuk membuat Fina, Wiyah dan mama Afifah melihat kearah pintu.


" Apa kami boleh masuk."


" Iya kak, masuk aja." Jawab Anita.


Pintu terbuka, dan menampilkan Cyra, Windi dan juga sekecil Fanesya disana. Winda, dan Cyra melangkah mendekati kedua pengantin itu.


" Maaf Kakak datangnya sedikit telat, soalnya ada hal yang harus kakak kerjakan." Ucap Windi sambil memeluk Wiyah, lalu mencium ubun-ubunnya dengan sayang." Selamat ulang tahun Wiyah, yang ke sembilan belas tahun." Bisik Windi." Semoga di usiamu ini, kamu semakin dewasa untuk menjadi istri dan ibu yang terbaik."


Wiyah merasa terharu, karena orang-orang terdekatnya begitu sangat menyayanginya, sampai-sampai ulang tahunnya saja di ingat seperti ini.


" Terimakasih kak Windi." Ucap Wiyah membalas pelukan dari Windi.


" Sudah, jangan nangis nanti riasannya luntur." Ucap Windi sambil melepaskan pelukan mereka." Masya Allah, ternyata bumil ini terlihat sangat cantik."


Sedangkan orang-orang yang berada di ruangan itu hanya tersenyum, karena mereka tau bagaimana sayangnya Windi terhadap adik iparnya itu.


" Acil Wiyah, kenapa dedek bayi nya belum kelual." Mereka yang berada di ruangan itu langsung menatap kearah Fanesya saat mendengar pertanyaan gadis kecil itu.


Entah kapan. Tapi sekarang Fanesya sedang berdiri sedangkan kuping nya menempel di perut Wiyah.


" Apa benal, kalau disini ada dedek bayi nya. Tapi kenapa Fanesya tidak melihatnya." Tanya Fanesya dengan polosnya, membuat mereka tersenyum.


" Empat hali lagi bunda."


" Bukan Fanesya, tapi empat bulan lagi." Sambung Anita, karena sudah merasa gemas dengan gadis kecil itu.


" Empat bulan. Empat bulan itu belapa bunda." Mereka hanya terkek mendengar pertanyaan gadis kecil itu.


.


.


.


" Saya nikahkan dan kawinankan engkau ananda Muhammad Fadil Al Fazar binti Aldevaro Faizan Roshan dengan putri saya Fina Febby Falisha binti Alli Hamdi, dengan mas kawin Emas empat karat dan rumah beserta isinya dibayar tunai."


" Saya Terima nikah dan kawinannya Fina Febby Falisha binti Alli Hamdi dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Terdengar kalau Fadil telah berhasil mengucapkan kalimat sakral itu.


" Padahal ini untuk kedua kalinya aku mendengar kak Fadil mengucapkan kalimat akad, tapi hari ini sangatlah berbeda." Batin Fina.


Setelah mendengar kalimat akad yang diucapkan oleh Fadil. Kini akad kedua yang di lakukan oleh Fazar.


" Saya nikahkan dan kawinankan engkau ananda Muhammad Yusuf Al Fazar binti Aldevaro Faizan Roshan dengan putri saya Wisyah Hanifah putri binti Jambri Akbar Taufik dengan mas kawin........ Dibayar tunai."


" Saya terima nikah dan kawinannya Wisyah Hanifah putri binti Jambri Akbar Taufik dengan maskawin tersebut dibayar tunai."


" Bagaimana parah saksi sah."


Sah


Jambri begitu sangat lega karena dia telah menikahkan putrinya, walaupun sebenarnya pernikahan putrinya sudah terjadi beberapa bulan yang lalu, tapi untuk yang ini berbeda.


Sedangkan Wiyah terkejut saat mendengar kalau ayahnya yang telah menikahkan nya, bukan wali hakim seperti beberapa bulan yang lalu.


Tapi bukan itu, yang membuat Wiyah terkejut. Melainkan ayahnya mengunakan namanya dan ayahnya juga yang telah menikahkannya. Bukannya ayah tidak boleh menikahkan nya, karena dia bukan putri kandungnya.


Lalu kenapa hari ini berbeda. Apakah ada sesuatu yang dia tidak tau. Wiyah menatap kearah Windi, yang terlihat meneteskan air matanya. Sepertinya ada yang Windi sembunyikan.

__ADS_1


" Apa yang telah terjadi kak, apa yang aku lewatkan." Tanya Wiyah penasaran.


" Kamu akan tau nanti Wiyah." Ucap Windi sambil tersenyum."


.


.


Fina dan Wiyah keluar dari ruangan rias untuk pergi ketempat dimana suami ku mereka melantunkan akad nikah.


Fina yang didampingi oleh mama Afifah dan juga Anita, sedangkan Wiyah bersama dengan Wiyah didampingi oleh Windi dan juga Cyra.


Fadil dan Fazar yang melihat istri-istri mereka, segera melangkah mendekatinya.


" Pelan-pelan sayang." Ucap Fazar, sambil menuntun istrinya dengan hati-hati.


Muhammad Yusuf Al Fazar



" Beb, kamu terlihat sangat cantik pagi ini." Puji Fadil sambil berbisik.


Muhammad Fadil Al Fazar



" Terimakasih. Kamu juga terlihat tampan."


" Benarkah. Hatiku jadi berbunga-bunga saat mendengar pujian mu." Ucap Fadil yang terlihat salah tingkah." Jadi pengen peluk."


" Jangan dulu kak." Cegah Fina membuat Fadil memanyunkan bibirnya.


Setelah mereka duduk, kini seperti acara lainnya. Fina dan Fadil saling memasangkan cincin, lalu Fadil mencium kening istrinya dan Fina mencium punggung tangan suaminya.


.


.


" Jabir." Jabir langsung menghindar dari situ, saat melihat Yaya." Jabir jangan menghindar. aku ingin menanyakan sesuatu."


" Apa yang kamu ingin tanyakan."


" Kenapa kamu ngga pernah cerita, kalau kamu ternyata abangnya Wiyah."


" Aku juga ngga tau, kalau kamu adalah teman nya Wiyah."


Ya, Yaya baru mengetahui fakta satu minggu yang lalu kalau ternyata Jabir adalah saudara Wiyah, temannya.


Sama halnya seperti Jabir yang terkejut mengetahui kalau ternyata Yaya adalah teman adiknya.


Sebenarnya Yaya dan Jabir tidak percaya, kalau mereka mengenal orang yang sama. Tapi mendengar ucapan Wiyah, membuat mereka percaya.


Sungguh dunia itu sempit, walaupun Jabir ingin menghindar tapi dia tetap dipertemukan dengan orang yang sama.


" Jabir...."


" Yaya, walaupun kita mengenal orang yang sama tapi kita tetap tidak bisa bersama." Ucap Jabir setelah itu melangkah pergi meninggalkan Yaya.


" Padahal aku hanya ingin mengatakan Jabir. Kalau kita tidak bisa bersama, kenapa kita tidak bisa menjadi teman saja." Lirih Yaya menatap kepergian Jabir. Pria yang ternyata adalah saudara dari temannya.


Apakah Yaya akan mengambil kesempatan dengan mendekati Jabir dengan bantuan Wiyah. Jawabannya adalah tidak. Karena Yaya bukan orang seperti itu.


.


.


" Dari mana kamu gadis bodoh." Ucap Rido sambil menarik pergelangan tangan Anita.


" Ihhh, jangan pegang-pegang. Lepas." Ucap Anita sambil menghempaskan tangan Rido.


" Oh berani ya kamu. Sepertinya aku harus melaporkan kamu ke polisi karena tindakan kasus kekerasan." Ancam Rido.


" Eehh, jangan-jangan." Ucap Anita panik." Jangan laporkan aku ke polisi om."


" Kalau tau takut, kenapa masih berani melawan." Anita hanya diam tidak menjawab pertanyaan Rido." Kamu sudah terikat perjanjian, kalau selama satu tahun. Kamu akan menjadi asisten pribadi ku."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2