
Kesabaranku membawa cinta.
"Tau apa anda tentang cinta dan opsesi, sedangkan anda tidak mengerti akan cinta sebenarnya!!" Ucap Kevin sambil tertawa, menatap Fazar dengan tatapan sinis.
"Cinta yang sebenarnya itu, ketika kamu mengikhlaskan dan juga melepaskannya bersama dengan orang lain! Bukan menyakitinya dengan cinta mu, yang mungkin tidak akan pernah terbalaskan! Cinta sebenarnya itu, ketika kamu ikut tersenyum saat melihat senyumannya. Walaupun senyumannya itu bukan untukmu, melainkan orang lain."
"Benarkah? Bagaimana, kalau saya merebut istri anda! Bukannya Wiyah tidak pernah bahagia dengan pernikahan ini selama kalian menikah?!" Urat-urat leher Fazar langsung mengeras saat mendengar Kevin menyebutkan nama istrinya. Fazar tentu tau, kalau Kevin tau semuanya tentang pernikahan mereka selama ini, karena dialah saksi cintanya.
"Brengsek!! Saya tidak akan pernah melakukannya, Karena saya mencintai istri saya!!" Teriak Fazar marah. Rasanya dia ingin mencekik pria didepannya. Karena berani menyebut nama istrinya, dan juga berencana untuk memisahkan mereka."Saya akan menghancurkan mu, Kevin Arlio." Teriak Fazar kembali, saat dirinya tidak bisa bergerak kemana-mana. Karena tali dilehernya bisa saja membunuhnya, jika dia banyak bergerak, dan kursi di kakinya terjatuh.
"Bukannya tadi anda mengatakan. Kalau cinta yang sebenarnya itu, ketika kamu mengikhlaskan dan juga melepaskannya bersama dengan orang lain! Bukan menyakitinya dengan cinta mu, yang mungkin tidak akan pernah terbalaskan! Cinta sebenarnya itu, ketika kamu ikut tersenyum saat melihat senyumannya. Walaupun senyumannya itu bukan untuk mu, melainkan orang lain." Ucap Kevin mengulang ucapan Fazar barusan."Bukannya anda tadi mengatakan seperti itu? Lalu kenapa anda diam?" Ucap Kevin terkekeh saat melihat Fazar terdiam, saat Kevin mengulang ucapannya."Lepaskan Wiyah! Bukannya dia tidak bahagia dan anda tidak mencintai nya!" Ulang Kevin kembali.
"Tidak! Saya tidak akan melepaskan istriku! Karena istriku adalah cinta ku!!" Tegas Fazar, menatap nyalang kearah Kevin yang sedang tersenyum mengejek.
"Jika ada merasakan seperti itu? Maka itu yang aku rasakan selama tujuh tahun ini Fazar! Karena Amira adalah cinta pertama dan terakhirku!! Aku akan terus mencintainya, dan tidak akan iklhas melepaskannya bersama dengan orang lain. Walaupun aku tau, kalau kami tidak akan pernah bisa bersama!! Tapi aku tidak ingin melihatnya bersama dengan orang lain, sama seperti anda! Yang tidak akan pernah bisa melihat istri anda bersama dengan orang lain!"
__ADS_1
"Kevin Arlio! Dalam kasus kita berbeda! Jika saya sudah menikah, sedangkan anda belum. Orang mana, yang mau melepaskan istrinya kepada orang lain, sedangkan dia begitu sangat mencintai istrinya dan berharap kalau rumah tangga mereka baik-baik saja. Sedangkan anda! Anda hanya saudara sepupu, yang diam-diam mencintai nya dan tidak akan melepaskan nya, karena opsesi terlal_"
"Diam!! Mau bagaimanapun saya! Saya tetap mencintainya!"
"Benar-benar pria gila! Anda gila tuan Kevin Arlio, karena opsesi cinta!"
"Saya tidak gila, saya hanya memberitahukan kebenaran sebenarnya!" Jawab Kevin yang sudah terpancing emosinya. Kevin berdiri dari duduknya, melangkah mendekati Fazar yang masih berada di posisinya." Sepertinya, aku ingin menggores tangan ini! Karena dulu pernah menyentuh Amira." Ucap Kevin memutari tubuh Fazar, lalu dia tertuju pada satu. Yaitu, tangan Fazar yang sudah diikat.
"Apa! Jangan gila kamu Kevin! Kejadian itu sudah lamadan dan Amira juga sudah meninggal!" Tegas Fazar, yang bingung dengan pikiran jahat sekertarisnya itu, atau lebih tepatnya Kevin.
"Ya!! saya memang gila! Saya gila! Dan, yang perlu anda tau. Kalau kegilaan saya telah membunuh orang yang saya cintai dua tahun yang lalu! Bahkan saya telah menghancurkan hidupnya, sebelum saya merencanakan kematiannya!" Ucapan Kevin membuat Fazar mengerutkan keningnya bingung.
"Aku suka dengan lengan yang kekar ini. Pantas saja Amira dan Wiyah menyukainya!" Ucap Kevin, lagi-lagi membuat Fazar bingung dibuatnya." Aldrich, ambilkan aku pi**u." Suruh Kevin menatap kearah Aldrich yang hanya berdiri ditempatnya, tanpa bergerak sama sekali. Pemuda itu hanya menjadi penyimak perdebatan keduanya.
"Baik paman." Aldrich mengeluarkan pi**u lipat dari kantong celananya, lalu memberikan kepada Kevin.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu lakukan, Kevin Arlio?!" Tanya Fazar panik saat melihat Kevin memutar-mutar pisau lipat itu.
"Hanya ingin mencoba, sedikit. Bagaimana sakitnya saat aku m**otong pergelangan tangan ini!" Kevin langsung me**ris lengan Fazar dengan perlahan-lahan, yang membentuk luka sobek dengan darah langsung mengalir dengan derasnya.
Aaggg.
Teriak Fazar kesakitan, saat pisau itu melukai tangannya. Rasanya sangat sakit."Lepaskan, manusia sialan!" Umpat Fazar walaupun tangannya sudah memiliki luka mengangah, apalagi darah mengalir dengan derasnya. Wajah Fazar seketika berubah menjadi berkeringat dan juga pucat.
"Aku ingin memberitahukanmu satu hal Fazar." Ucap Kevin sambil memainkan pisau nya."Kalau kematian Amira, semua itu adalah rencanakku!" Fazar yang sudah lemas terkejut dengan pengakuan Kevin.
"Ap_a maksudmu Kevin?!"
"Apa kamu masih ingat Fazar? Dua tahun yang lalu? Dimana aku sedang keluar kota untuk mengantikan mu?" Tanya Kevin menatap wajah pucat Fazar."Di hari itu, aku merusak Amira dengan cara merampas sesuatu yang berharga darinya!" Ucap Kevin sambil tersenyum tanpa dosa.
"Apa!" Begitu sangat terkejut nya Fazar saat mendengar kebenaran yang begitu sangat menyakitkan ini. Kalau Kevin, telah...." Aj**ng kamu Kevin!!bangsat kamu Kevin!! Amira itu adik sepupu mu, kenapa kamu melakukan itu kepadanya! Kamu benar-benar laki-laki biadab!!" Umpat Fazar yang ingin membunuh Kevin saat ini juga saat mengetahui, kalau sahabatnya ternyata sudah di.... Oleh Kevin.
__ADS_1
"Sebenarnya aku tidak ingin melakukan itu. Hanya saja. Saya cemburu saat Amira terus memanggil namamu. Bahkan saat itu dia ingin menelepon mu dan melaporkan apa yang sudah terjadi padamu. Makanya aku merencanakan sesuatu untuk membunuhnya saat itu juga. Tapi dengan rencana. Yaitu. jangan sampai ada yang tau kalau kasus pembunuhan Amira adalah ulah saya!"
...----------------...