Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Ban 85


__ADS_3

Malam berganti, pagi.


Cahaya, terang memaksa masuk kedalam lewat celah-celah gorden yang sedikit terbuka. Fazar yang sudah melaksanakan shalat subuh kembali tidur, karena ia masih merasa mengantuk, kini kembali membuka matanya kembali saat silaunya cahaya matahari mengusik tidurnya. Fazar membuka perlahan-lahan mata-mata lalu melihat kearah jam dinding. Fazar bisa melihat kalau jam menunjukkan pukul setengah delapan.


" Aku kesiangan karena begitu sangat tenang dalam tidurku." Batin Fazar. Fazar beralih menatap istrinya yang kini sedang tidur dalam pelukannya dengan tangan yang melingkar indah di pinggang istrinya itu.


Membuat Fazar bisa menatap wajah cantik Istrinya dengan jarak yang begitu sangat dekat, apalagi Wiyah yang masih tidur dengan nyenyaknya tanpa terusik sama sekali. Rambut panjang Wiyah sedikit menghalangi wajahnya membuat gadis itu terlihat semakin cantik di mata Fazar.


" Terimakasih sudah mau bertahan dangan sikapku selama ini. Terimakasih sudah membuat ku tahu apa arti dari hubungan yang harus di pertahankan. Semoga aku bisa mencintai mu dan menerimamu membagi istriku seutuhnya." Ucap Fazar kembali. Fazar melepaskan pelukannya, karena ia akan bersiap-siap pergi kerumah sakit.


Sebelum Fazar benar-benar berdiri dari duduknya ia mencium kening Wiyah lalu beralih ke permen yupi yang membuat Fazar begitu sangat candu akan permen itu, rasanya ia ingin merasakan setiap saat.


Sebelum pikirannya berubah macam-macam Fazar cepat-cepat melangkah turun dari kasur. Setelah itu Fazar masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Tidak lama Wiyah membuka matanya. Wiyah melirik kearah sampingnya yang kosong, karena suaminya itu sudah bangun.


" Astaghfirullah, aku kesiangan." Ucap Wiyah begitu sangat terkejut saat melihat jam hampir jam delapan. Sedangkan dia belum menyiapkan apapun. Wiyah buru-buru bangun dari tidurnya lalu menyiapkan baju untuk Fazar saat mendengar suara dari kamar mandi, menandakan kalau Fazar sedang mandi.


Setelah mengatur pekaian untuk suaminya. Wiyah mengambil baju gantinya karena dia akan mandi di kamar mandi belakang.


Mengingat sekarang ia sedang mendapatkan tamu bulanan. Jadi sebelum melakukan aktivitas seperti biasanya Wiyah akan bersih-bersih terlebih dahulu.


Sesampainya dilantai bawah, Wiyah bisa melihat kalau kamar mertuanya masih tertutup, menandakan kalau mertuanya belum bangun atau keluar dari kamarnya.


Wiyah cepat-cepat pergi ke belakang lalu masuk kedalam kamar mandi untuk memeriksakan tubuhnya.


Setelah lima belas menit, Wiyah keluar dari kamar mandi yang kini sudah terlihat lebih seger dari tadi. Dengan langkah cepatnya Wiyah mulai mengerjakan tugasnya yaitu masak makanan simpel seperti rasi goreng.


Kamar Fazar.

__ADS_1


Fazar yang sudah selesai dengan mandinya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melingkar di pinggangnya.


Fazar melihat kalau di kasur sudah kosong menandakan kalau istrinya sudah bangun.


" Apakah dia sudah bangun." Ucap Fazar melirik keatas tempat tidur, lalu Fazar beralih melihat kalau pekaian nya sudah tersedia di atas tempat tidur." Dia selalu tahu apa yang aku butuhkan." Gumam Fazar sambil tersenyum kecil saat melihat pekaian nya sudah rapi. Fazar segera memakai pekaian nya, Setelah semuanya selesai Fazar melangkah keluar.


Fazar sengaja tidak mengerikan rambutnya,. karena hair dryer dalam kamar itu sedang rusak, makanya rambut Fazar sedikit basah tapi tetap terlihat rapi.


Di lantai bawah, tempatnya di ruangan makan, Fazar bisa melihat kalau bundanya sudah berada di meja makan sambil menikmati secangkir teh.


" Bunda sudah bangun." Tanya Fazar lalu duduk di kursi bersebelahan dengan bunda Sisi.


" Jika kamu sudah melihat bunda disini artinya bunda sudah bangun Zar." Jawab bunda Sisi, walaupun dari suaranya terdengar kalau bunda Sisi berbicara dengan nada lembut tapi masih terdengar ketegasan disana.


" Iya bun, tadi aku hanya salah bertanya." Ucap Fazar.


Bunda Sisi menatap penampilan putranya, tepatnya di kearah rambut Fazar yang masih terlihat basah." Jangan terlalu sering melakukannya, karena istrimu masih terlalu muda untuk bergadang setiap malam apalagi dia masih kuliah." Ucap bunda Sisi sambil meminum tehnya.


" Maksud bunda apa." Tanya Fazar bingung.


" Jangan bertingkah seperti tidak tahu apa-apa Zar, bunda tahu apa yang kamu lakukan. Terlihat dari rambut mu yang masih basah." Jawab bunda Sisi membuat Fazar langsung memegang rambutnya yang terasa masih basah.


" Astaghfirullah, apa yang bunda pikirkan." Batin Fazar setelah memegang rambutnya yang masih terasa basah walaupun sedikit." Oh, rambut ku bun, aku ngga sempet mau kasih kering tadi, karena hair dryer dalam kamar rusak." Jelas Fazar jujur.


" Ngga usah bohong Zar, bunda tahu. Karena bunda sudah pernah menikah dan pernah berada di posisi istrimu." Ucap bunda Sisi membuat Fazar menghembuskan nafasnya kasar.


" Bagaimana melakukannya bun, jebol aja belum." Batin Fazar." Terserah bunda aja dah, tapi Fazar sudah ngomong yang sejujurnya." Jelas Fazar kembali yang memilih mengalah.


Fazar teringat kejadian semalam, dimana Fazar memutuskan untuk mempertahankan hubungan rumah tangganya dengan Wiyah. Dan memulainya dari awal. Tapi sebelum Fazar memulai hubungan mereka dari awal

__ADS_1


Fazar ingin menjadikan Wiyah sebagai istrinya seutuhnya, dengan cara meminta hak nya sebagai seorang suami, Tapi tidak bisa karena Wiyah menolaknya.


Maaf tuan, aku tidak bermaksud untuk menolakmu, tapi aku tidak bisa melakukannya sekarang, Karena aku sedang mendapatkan tamu bulanan.


Penolakan dari Wiyah membuat Fazar sedikit kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Namanya perempuan, pasti akan mendapat hal itu. Dan ia sebagai suami harus bertahan.


" Kenapa diam." Tanya bunda Sisi menatap Fazar.


" Ngga ada bun." Jawab Fazar.


Tidak lama Wiyah keluar dari dapur sambil membawa secangkir kopi. Lalu menaruhnya didepan Fazar.


" Terimakasih." Ucap Fazar sambil menatap kearah Wiyah.


" Iya tuan sama-sama." Jawab Wiyah sambil tersenyum. Wiyah kembali lagi kedapur untuk membawa dua piring nasi goreng bersama dengan telur dadar untuk menjadikan lauknya.


" Maaf bun, untuk sarapan hari ini hanya seperti ini. Soalnya tadi aku bangun kesiangan." Ucap Wiyah merasa tidak enak karena menyajikan nasi goreng untuk sarapan pagi kali ini.


" Tidak apa-apa sayang, sarapan pagi dengan nasi goreng atau yang lainnya sama saja, karena akan tetap terasah enak karena menantu bunda yang masak. Bunda juga tahu kalau kamu pasti merasa kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh kemarin. Apalagi di tambah dengan ulah Suamimu." Jelas bunda Sisi sambil melirik kearah Fazar..


Sedangkan Fazar hanya membuang nafasnya keudara saat mendengar ucapan bundanya itu." Pasti aku yang salah." Gumam Fazar.


Bagaimana dengan Wiyah yang tersenyum senang setelah mendengar ucapan dari mertuanya itu yang begitu sangat menghargai dirinya, walaupun dia begitu sangat bingung dengan kalimat terakhir." Terimakasih bunda atas pujiannya." Ucap Wiyah sambil tersenyum.


" Sama-sama sayang, kalau gitu cepat kita sarapan sebelum makanan nya dingin." Suruh bunda Sisi membuat Wiyah mengangguk mengerti. Wiyah kembali di dapur untuk mengambil satu piring nasi goreng lainnya, lalu sarapan bersama dengan keluarganya.


Walaupun keluarga itu ada yang kurang karena tidak ada Fazri dan juga Fadil. Tapi kita sama-sama berdoa saja setelah semuanya selesai maka keluarga mereka bisa kumpul bersama lagi.


...----------------...

__ADS_1


Maaf baru update, soalnya author lagi sakit.


__ADS_2