
Kesabaranku membawa cinta.
Ijab kabul tadi sengaja dibuatkan sebuah video untuk menjadi barang bukti nanti, jika Fadil dan Fina menjelaskan kepada orang tua mereka masing-masing, kalau mereka sudah menikah.
Fina dan Fadil juga berfoto dengan RT serta para warga yang menggebrek mereka tadi, untuk menjadi barang bukti kedua nanti, kalau mereka benar-benar sudah menikah.
Setelah resmi menikah walaupun masih sirih, kini Fadil maupun Fina akan kembali kerumah sakit, Tapi keduanya harus mengurungkan niat mereka, karena keduanya masih belum percaya dengan pernikahan tiba-tiba tadi. Keduanya juga masih bingung ingin menceritakannya dari mana dulu, kalau mereka sudah resmi menjadi suami istri, dan mereka menikah secara siri.
Memikirkan itu, membuat Fadil maupun Fina sama-sama menjadi bingung mau bercerita dari mana dulu, bagaimana mereka bisa digrebek oleh warga dan menikah secara dadakan.
" Maafkan aku Fin, aku telah menjebakmu dalam pernikahan dadakan ini. Seharusnya bukan pernikahan seperti ini aku mengikat mu, melainkan pernikahan yang langsung disaksikan oleh kedua orang tuamu, dan juga restu dari kedua orang tua kita." Ucap Fadil merasa bersalah menatap gadis yang sudah resmi menjadi istrinya itu berapa menit yang lalu.
Fadil dan Fina juga sudah berada didalam mobil, tapi mobil itu masih terparkir seperti tadi, walaupun tidak berada ditempat yang sama, karena Fadil memarkirkan mobilnya ketempat yang lumayan ramai dari tempat yang tadi.
" Kak Fadil tidak bersalah dalam pernikahan ini, kerena akulah yang bersalah disini. Seharusnya tadi aku bisa mengendalikan ketakutanku, mungkin kak Fadil tidak akan terjebak dalam pernikahan dadakan ini." Lirih Fina sedih.
Fadil yang melihat mata Fina sudah berkaca-kaca, hanya bisa menatap istrinya itu, rasanya ia ingin memeluknya seperti tandi, tapi niatnya sengaja ia urungkan, karena ia tidak mau kalau sampai Fina tidak nyaman dengannya, apalagi mereka baru saja menikah, tapi ia sudah berani memeluknya begitu saja. Walaupun Fadil tau kalau Fina halal untuk ia peluk, karena sudah sah menjadi istrinya.
" Jangan menyalahkan dirimu Fin, karena aku tetaplah bersalah disini. Andaikan saja tadi aku tidak menjahilimu mungkin ketakutan mu tidak akan kembuh seperti tadi." Jelas Fadil." Dan masalah pernikahan ini, aku sangat bahagia Fin, karena gadis yang aku cintai sudah menjadi istriku, walaupun dengan pernikahan tiba-tiba, Tapi Fin, aku berdoa kepada sang pencipta, agar pernikahan ini berjalan lama hingga kita dipisahkan oleh maut nantinya. Jadi jangan pernah berpikir kalau aku menyesal telah menikahi mu malam ini" Tegas Fadil, yang tidak suka kalau sampai istrinya itu berkata seperti tadi, menyalahkan dirinya karena pernikahan dadakan tadi.
" Apa kamu tau Fin, mungkin Allah telah mengabulkan ucapanku. Kalau kamu sampai menolakku, maka malam ini juga aku akan menikahimu. Mungkin apa yang aku ucapkan tadi Allah telah mengabulkannya."
Sungguh takdir yang Allah berikan begitu sangat indah, kita hanya bisa mengikuti alur yang tidak memiliki ujungnya sama sekali, tapi memiliki jalan tersendiri untuk takdir setiap manusia. Takdir yang tidak bisa dibaca atupun dibayangkan seperti apa.
" Apakah kamu menyesal telah menikah denganku Fin." Mendengar pertanyaan dari Fadil, membuat Fina terdiam." Kenapa diam."
__ADS_1
" Entahlah kak Fadil, aku bingung ingin mengekspresikan wajahku seperti apa. Apakah aku harus bahagia atau sedih sedangkan dalam hati ini masih kaget dengan pernikahan tadi. Tapi, kalau untuk menyesal sepertinya tidak, karena aku tau kalau Allah telah mengatur pernikahan ini untuk kita kak, agar kita tidak terjebak dalam zina. Walaupun kita tidak berpacaran, tapi dengan kita berdekatan seperti ini, dan salah satu dari kita memiliki hati, bisa sajakan kita masuk dalam perasaan hingga kita sendiri yang mendekati hal yang selama ini kita hindari kak Fadil." Jelas Fina dengan bijak sambil menatap Fadil.
Sedangkan Fadil tersenyum mendengar jawaban bijak dari istrinya itu." Jadi kamu menerima pernikahan ini." Fina hanya mengangguk, sambil tersenyum." Baiklah aku senang kalau kamu menerima pernikahan ini. Tapi Fin, bagaimana caranya kita menceritakan pernikahan ini kepada keluarga kita, sedangkan aku takut kalau orang tuamu akan menolak pernikahan ini. Kalau keluargaku sih sangat setuju kalau aku menikahimu, karena kamu adalah gadis yang baik dan menantu idaman. Tapi bagaimana dengan keluargamu, apakah mereka akan menerimaku atau tidak." Ucap Fadil menjelaskan ketakutannya, kalau sampai keluarga Fina tidak menerima pernikahan ini.
" Aku juga bingung kak, bagaimana caranya aku menjelaskan pernikahan ini kepada keluargaku nanti. Aku takut kalau keluargaku tidak akan menerima pernikahan ini, apalagi aku menikah secara tiba-tiba, pasti mereka akan berpikir tidak-tidak tentang kita, dan keluargaku akan berpikir kalau aku sudah mempermalukan mereka makanya, aku menikah secara tiba-tiba, tanpa sepengetahuan mereka." Lirih Fina. Ya itu adalah ketakutan Fina saat ini." Pasti mereka berpikir kalau aku telah mengecewakan mereka kak."
" Maafkan aku, aku yang telah menembak mu dalam pernikahan ini." Fadil langsung membawa tubuh istrinya itu dalam pelukannya. Padahal tadi Fadil tidak berani, tapi saat dia melihat Fina bersedih membuat Fadil memberanikan dirinya untuk memeluk tubuh istrinya itu." Kita pikirkan ini besok, karena ini sudah malam, sebaiknya kita istirahat dulu, setelah besok pagi maka kita akan mencari jalan keluarnya sama-sama." Fina hanya mengangguk dalam pelukan Fadil, karena Fina merasa begitu sangat nyaman saat berada didalam pelukan pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.
" Ada apa nih, kenapa aku malah merasa nyaman saat berada didalam pelukannya, Apakah ini yang dinamakan pelukan seorang suami." Batin Fina merasa begitu sangat nyaman dalam pelukan itu, apalagi detak jantung Fadil, membut rasa nyaman itu membuat Fina memejamkan matanya.
.
.
" Kenapa kita tidak pulang ke rumah sakit kak." Tanya Fina bingung saat mobil Fadil berhenti di besmen hotel, bukan parkiran rumah sakit.
Sedangkan Fina menelan ludahnya dengan kasar setelah mendengar ucapan Fadil. Dia sampai lupa kalau pengantin baru pasti tidak akan melewatkan yang namanya malam pertama, apalagi ini adalah malam pertamanya dengan suaminya itu.
" Kenapa kak Fadil mengatakan ini, aku kan belum siap, tapi kalau kak Fadil memintanya, bukannya ini sudah haknya." Batin Fina sambil menatap suaminya itu, Fina sedang berpikir apakah ia akan memberikan hak suaminya itu, sedangkan pernikahan ini hanya pernikahan tiba-tiba, dan keluarganya saja belum mengetahui itu.
" Tenanglah Fin, aku hanya bercanda, aku tidak akan melakukan hal itu sebelum pernikahan kita di ketahui oleh kedua orang tua kita. Tapi setelah mereka mengetahui pernikahan ini, maka aku yang akan memintanya langsung, dan kamu harus bisa mempersiapkan dirimu." Ucap Fadil yang seperti tau pikiran Fina, kalau gadis itu pasti memikirkan godaan nya tadi." Kita tidak akan satu kamar, karena aku sudah memesan dua kamar. Satu untuk kamu dan satu untuk aku, Tapi kalau kamu mau kita satu kamar ya ngga apaz kita bisa mencobanya." Fina membulatkan matanya karena keget dengan ucapan Fadil, membuat ia langsung menggelengkan kepalanya kalau ia tidak setuju dengan ucapan Fadil.
" Aku belum siap kalau kita satu kamar kak, maka kita tidur bede kamar dulu" Fadil hanya terkekeh mendengar jawaban istrinya itu. Padahal belum cukup sejam mereka menikah, tapi ia sudah berani megoda istrinya itu sampai wajahnya tampak terlihat lucu.
" Bercanda Fin."
__ADS_1
.
.
Fina dan Fadil pergi kekamar mereka masing-masing yang kebetulan bersebelahan, karena Fadil sengaja memesannya.
" Besok kita akan kembali ke kota S. Setelah sampai disana, aku akan menemui keluargamu, maka mempersiapkan lah dirimu." Ucap Fadil Sebelum masuk kedalam kamarnya." Selamat tidur, mimpi indah istriku." Fadil langsung menutup pintunya setelah mengatakan itu, karena ia tau kalau Fina pasti akan terkejut dengan ucapannya barusan.
Sedangkan Fina benar-benar terkejut dengan ucapan suaminya barusan, Tapi mau bagaimana lagi, ia memang istrinya." Belum cukup tiga jam menjadi istrinya, tapi aku sudah dibuat kaget beberapa kali, Memang kak Fadil." Gumam Fina, setelah itu ia masuk kedalam kamarnya.
🍃🍃🍃🍃🍃
Setelah melewati malam panjang penuh dengan kejutan untuk Fadil dan Fina. Maka berbeda dengan Harum, karena hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh gadis kecil itu, karena hari ini, adalah hari terakhir Harum di rawat di rumah sakit, karena Harum akan keluar dari rumah sakit. Mungkin hari ini juga terakhir mereka berada di kota B, karena mereka semua akan kembali ke kota S.
Di ruangan serba putih, dokter yang selalu mengecek kondisi Harum, kini kembali memeriksa kondisi Harum.
" Bagaimana dokter Melisenda, apakah harum bisa keluar hari ini dari rumah sakit." Tanya Harum antusias menatap dokter Melisenda yang sedang memeriksanya. Sedangkan Wiyah yang sedang duduk disebelah gadis kecil itu, hanya tersenyum mendengar pertanyaan Harum.
" Tentu Harum bisa pulang, karena Harum sudah sembuh maka Harum bisa pulang sekarang." Jawab dokter Melisenda, sambil mengusap kepala gadis kecil itu, yang kini tidak memiliki rambut panjang lagi, karena rambut panjangnya sudah di potong saat Harum akan melakukan operasi." Tapi Minggu depan Harum harus kembali bertemu dengan dokter, karena disini belum sepenuhnya sembuh." Ucap dokter Melisenda kembali, sambil menunjuk hati Harum.
Sedangkan Harum hanya mengikuti tunjukan dokter Melisenda, yang mengarah ke hatinya." Semangat karena Harum bisa sembuh." Ucap dokter Melisenda, sambil menatap bola mata ember itu.
Bola mata ember itu, mengingkatkan dokter Melisenda, kepada saudara perempuannya yang sudah meninggal sembilan belas tahun yang lalu. Karena bola mata Harum begitu sangat mirip seperti bola mata adiknya yaitu bola mata ember, yang langkah seperti ayahnya.
" Apakah keluarga Harum memiliki keturunan Eropa, sampai bola mata Harum begitu sangat berbeda, karena bola mata ini sangat langka." Batin dokter Melisenda penasaran.
__ADS_1
...----------------...