
Kesabaranku membawa cinta
Fadil yang sedang tidur, harus terbangun saat merasakan kalau istrinya sudah tidak ada di sebelahnya." Istriku." Panggil Fadil melihat kesana kemari, tapi orang yang dia panggil namanya tidak menyahut sama sekali.
Karena khawatir, dengan cepet Fadil bangun dari tidurnya lalu, turun dari kasur. Hal pertama yang Fadil tujuh adalah kamar mandi.
" Istriku, apakah kamu didalam." Fadil membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci, lalu dia melihat kedalam. Tapi orang yang dia cari tidak ada sama sekali." Ya apapun, kemana kamu Fin." Dengan panik Fadil keluar dari kamar mandi saat menyadari kalau istrinya tidak berada didalam kamar ataupun didalam kamar mandi.
Fadil dengan cepat keluar dari kamarnya, untuk mencari keberadaan istrinya. Tempat pertama yang dia akan tujuh adalah dapur, karena istrinya, suka sekali ngidam kalau tengah malam seperti ini, pasti hal pertama istrinya tujuh adalah dapur.
Dan tebakan Fadil benar, saat melihat lampu dapur yang menyala. Fadil yakin, kalau istrinya itu pasti sedang memasak sekarang." Istriku, kenapa kamu bangun, ngga bangunin suamimu ini." Fina yang sedang menghaluskan beberapa bumbu untuk ikan bakar, menoleh ke sumber suara, dan dia bisa melihat kalau suaminya itu sedang melangkah kearahnya.
" Maaf suamiku, soalnya tadi aku lihat kalau suamiku ini tidurnya nyenyak benget, jadi ngga tega buat bangunin."
" Harusnya tuh di bangunin istriku, apalagi kamu lagi ngidam sekarang." Ucap Fadil mendekati istrinya." Masa kita buat sama-sama, giliran kamu ngidam aku hanya diam saja gitu, tidur santai dalam kamar."
" Iya suamiku, maaf." Ucap Fina mengendus kesal. Bagaimana ngga kesal coba, kalau suaminya itu selalu mengulang perkataannya, jika ia tidak menyangkut pautkan suaminya itu, saat sedang mengidam seperti sekarang.
" Malam ini istriku lagi ngidam apa, hmm?"
" Lagi ngidam Ikan bakar dengan lautan sambal, suamiku." Jawab Fina, yang kembali meneruskan masakannya.
" Ikan bakar dengan lautan sambal? Masakan apa itu istriku?" Tanya Fadil bingung, menatap istrinya." Jangan bilang, kalau istriku ini ngidam yang aneh-aneh lagi?"
" Sepertinya begitu suamiku, aku lagi ngidam masakan yang super pedas malam ini." Jawab Fina, sambil membuka ikan bakar, dari panci khusus untuk membakar ikan, tanpa harus repot mencari arang lagi. Saat ikan bakar itu dikeluarkan, bau harumnya, tercium sampai keseluruh dapur.
" Istriku, jangan banyak makan pedas, ngga baik untuk anak kita nanti." Ucap Fadil." Tapi baunya Harum benget ya istriku."
" Iya suamiku, pasti harum, karena aku membuatnya penuh dengan cinta. Tunggu dimeja makan, aku mau mencampur sambal sama ikan nya dulu." Suruh Fina.
__ADS_1
" Terus aku ngapain istriku? Masa aku cuman duduk-duduk saja sih."
" Ngga apa-apa suamiku, duduk aja disitu. Ini saja mau masak, tunggu sebentar lagi." Ucap Fina. Sedangkan Fadil hanya menurut, kalaupun Fadil ingin membantu istrinya itu untuk masak. Pasti tidak akan mungkin, karena Fadil tidak bisa masak, seperti Fazri. Jadi dia hanya bisa duduk saja sambil menatap istrinya.
Tidak membutuhkan waktu lama masakan istrinya telah siap, dan kini sudah disajikan di atas meja. Tidak lupa nasi putih juga sudah ada diatas meja makan.
" Sepertinya enak istriku? aku jadi lapar lagi." Ucap Fadil menatap masakan itu dengan perut yang sudah berbunyi.
" Istriku, apakah aku boleh ikut makan bersamamu." Tanya Fadil menatap istrinya itu, takut kalau Fina tidak mengijinkannya. Maklum istrinya itu lagi ngidam.
" Tentu boleh suamiku, aku memasak ikan bakarnya banyak, Pasti ngga bakalan habis kalau aku makan sendiri." Jawab Fina yang sudah memprediksi hal ini, karena Fina tau kalau suaminya pasti akan bangun dan mencarinya saat menyadari kalau dia tidak ada di sampingnya. Karena selama dia ngidam, suaminya itu paling senang menuruti ngidamnya, bahkan suaminya itu akan menemani nya saat makan malam seperti ini.
" Duduklah istriku, biar aku yang ambilkah. Aku tau pasti kamu kelelahan tadi, habis masak." Ucap Fadil saat melihat Fina ingin mengambilkan makanan untuknya.
" Tapi suamiku, aku bisa sendiri." Tolak Fina lembut.
" Suamiku, apakah setelah anak kita lahir, suamiku ini akan semakin sibuk?"
" Bisa jadi istriku, karena suamimu ini akan sibuk bulan depan. Karena suamimu ini akan melakukan pembangunan hotel di kota H. Walaupun nggak terlalu jauh, tapi suamimu ini pasti akan bolak balik kesana."
" Pasti sibuk benget ya?" Lirih Fina sedih.
" Ngga apa-apa istriku, aku juga akan selalu mencari kesempatan untuk selalu menemani mu seperti sekarang, jadi istriku tenang saja. Karena tidak ada waktu yang paling berharga, selain berkumpul bersama dengan istriku dan juga anak-anak kita nanti." Jelas Fadil." Baiklah bumil, waktunya makan, karena suamimu yang baik dan tampan ini sudah menyendokan nya untuk mu."
" Kenapa satu piring aja suamiku? terus untukmu mana?"
" Kita akan makan satu piring bersama istriku, nanti suamimu ini yang akan menyuapaimu."
" Tapi nanti ada yang lihat bagaimana suamiku?"
__ADS_1
" Ngga apa-apa istriku, mereka juga tau koh, kalau kita suami istri, dan mereka tidak akan menegur kita yang bukan-bukan." Jelas Fadil." Sekarang istriku, pilih duduk dimana? Di pangkuan suamimu ini? Atau duduk di kursi sebelah sini? Tapi lebih baik, istriku ini duduk di pangkuanku, biar kelihatan romantis gitu."
" Ngga suamiku, aku duduk di kursi saja. Nanti ada yang lihat kalau aku duduk dipangkuan mu." Jawab Fina yang merasa malu dengan ucapan suaminya itu.
" Baiklah-baikla, kalau gitu duduk. Pasti enak nih masakan istriku." Fina hanya menurut lalu duduk di kursi yang bersebelahan dengan Fadil. Setelah membaca doa sebelum makan, Fadil menyuapi istrinya itu mengunakan tangannya, tanpa ada rasa jijik sama sekali. Karena Fadil sangat suka menyuapi istrinya langsung dari tangannya. Sama halnya seperti Fadil, Fina juga tidak merasa jijik sama sekali saat suaminya itu menyuapinya seperti sekarang.
" Masakanmu selalu enak istriku, lebih enak ini dari pada makanan di restoran." Ucap Fadil, yang begitu sangat menikmati masakan istrinya itu sambil menyuapi Fina yang hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya kecil, saat melihat tingkah lucu Fadil.
" Masakan yang di buat, akan selalu enak jika orang yang kita cintai yang memasaknya suamiku."
.
.
Tidak terasa malam kembali berganti dengan pagi. Mungkin terasa singkat, tapi itulah dunia, yang berputar semakin cepat tanpa kita sadari.
Tepatnya di rumah utama, kini para keluarga sudah berkumpul untuk melakukan akikah, sih kembar. Mungkin acara akikah ini cukup sederhana, tapi masih terlihat mewah. Karena Fazar memutuskan untuk mengundang para keluarga, karyawan kantornya, serta beberapa temannya yang lain. Bukan karena Fazar tidak sanggup untuk membuat acara besar-besaran ya. Tapi mengingat sih kembar, masih berusia satu minggu, jadi masih rentan dengan dunia luar, makanya Fazar membuat akikah yang sederhana.
Wiyah juga tidak protes dengan keputusan suaminya itu, malahan dengan senang dia menerimanya.
Tepat di rumah utama, acara akikah diadakan, kini rumah itu sudah berkumpul para keluarga besar Wiyah, maupun Fina. Karena Fazar mengudang seluruh keluarganya untuk datang ke akikah anak-anaknya, bukan saja keluarga. Tapi Fazar juga mengundang anak-anak panti asuhan, bukan hanya satu panti, melainkan tiga panti asuhan sekaligus.
Karena Wiyah yang meminta suaminya itu untuk menghadirkan semua anak panti asuhan, dan panti asuhan yang diundang oleh Fazar, adalah panti asuhan yang sering Wiyah datangi, ketika dia ingin berbagi sesuatu.
Suara lantunan ayat-ayat, menyambar sampai ke penjuru rumah utama. Setiap orang yang berada di ruangan berbeda, masih bisa mendengarkan ayat-ayat yang di bacakan oleh ustadz dan beberapa santri, yang Fazar udang tadi. Suara mereka begitu sangat merdu, membuat orang-orang begitu sangat menikmati lantunan Alquran yang di bacakan.
Termasuk ketiga bayi itu, yang begitu sangat anteng berada didalam pangkuan. Baby Fazran, yang berada dipangkuan bunda Sisi, Beby Fazran, yang berada di pangkuan ibu Widya. Sedangkan Beby Faeyza berada di pangkuan ummi nya. Ketiga bayi itu hanya tidur begitu sangat tenang berada di pangkuan Oma mereka, dan juga ummi nya, tanpa terusik dengan suara dalam ruangan itu
...----------------...
__ADS_1