
Keesokan paginya, Wiyah sudah merapikan semua barang-barangnya yang ia butuhkan nanti di kota J, Wiyah yang bingung ingin membawa pekaian apa saja, membuat Wiyah mengambil pekaian yang penting saja, karena pikiran Wiyah mungkin mereka lumayan lama di sana.
Wiyah yang sudah rapi dengan gamis berwarna hitam bermotif bunga-bunga coklat yang di padukan dengan jilbab syar'i berwana coksu, membuat penampilan Wiyah semakin terlihat cantik.
Wiyah menarik kopernya untuk melangkah keluar dari kamarnya. Wiyah tidak takut lagi, kalau sampai dirinya ketahuan oleh Fazri, kalau dia dan Fazar pisah kamar. Karena Fazri sudah mengetahui akan hal ini. Malahan pemuda itu tidak banyak bertanya kepadanya kenapa kamarnya berada di bawah, sedangkan Fazar berada di kamar atas.
Karena Fazri mengatakan ' Abang terlalu banyak mengoleksi ego dan juga gensi. Hilang baru dia sadar '. Ya perkataan Fazri selalu membuat Wiyah bingung sampai sekarang.
" Sini biar aku bantu kak." Ucap Fazri yang sekarang sudah berada di depan kamarnya. Wiyah bingung melihat kehadiran Fazri yang sudah berada di depan kamarnya, tapi Wiyah tidak banyak bertanya.
Pemuda itu sudah rapi dengan baju kaos berwarna putih dan juga celana berbahan jins berwarna hitam.
" Makasih Zri." Ucap Wiyah tulus sambil tersenyum senang.
" Iya sama-sama kak." Jawab Fazri." Kak Wiyah, lama ngga di kota J." Tanya Fazri sambil menarik koper yang Wiyah bawah tadi.
" Kakak, ngga tahu juga Zri, semua ada di tangan kak Fazar, kalau lama, ya kakak lama di sana. Tapi kalau sebentar kakak pulangnya juga cepat. Kami kekota J, untuk menemani kak Fadil dan juga menyemangati kak Fadil biar cepat sembuh saat melakukan pengobatan." Jelas Wiyah membuat Fazri mengangguk mengerti.
" Maaf kak, Fazri belum bisa ikut kekota J, karena Fazri masih sekolah. Insyaallah kalau semuanya sudah selesai, aku langsung kekota J, buat menyemangati kak Fadil." Ucap Fazri. Sebenarnya Fazri bisa saja ikut kekota J, hanya saja ia tidak mau meninggalkan sekolahnya, karena sebentar lagi akan ada ujian kelulusan.
Mendengar ucapan dari Fazri membuat Wiyah tersenyum." Ngga apa-apa, Zri, nanti kalau kamu sudah selesai baru kekota J.." Ucap Wiyah membuat Fazri mengangguk.
Sesampainya didepan di garasi, Wiyah melihat kalau ada Zain disana sedang berdiri di samping mobil sambil menunggu mereka. Tapi Wiyah tidak melihat keberadaan suaminya.
" Kak Zain, dimana Abang. Padahal kata Abang mau berangkatnya pagi-pagi." Tanya Zain yang belum melihat kehadiran Fazar di sana.
Belum Zain menjawab. Suara seseorang yang baru saja berada di situ membuat ketiganya melihat kearah suara itu.
" Zain, apakah semuanya sudah siap." Tanya Fazar menatap ketiganya.
Kini Fazar sudah rapi dengan setelan jas berwarna coklat dan juga celana berbahan kain yang sama seperti warna jas yang Fazar pakai. Fazar terlihat begitu tampan dengan penampilannya seperti itu.
Wiyah yang melihat suaminya, semakin kagum dengan ketampanan dari suaminya. Wiyah mengakui kalau suaminya itu memiliki daya tarik tersendiri yang membuat kaum hawa terpikat, karena ketampanannya, apalagi Fazar memiliki wajah dingin terkesan seperti malaikat maut yang siap mencabut nyawa, setiap Fazar menatap orang. Tapi wajah dingin Fazar tidak membuat kaum hawa pergi, tapi dengan senang hati mendekatinya.
" Sudah siap semuanya, tuan." Jawab Zain." Kalau gitu mari tuan. Sini biar saya bantu nona untuk membawa barangnya." Minta Zain sambil mengambil koper yang tadi Fazri bawah bawah.
__ADS_1
" Terimakasih tuan Zain." Ucap Wiyah tulus sambil tersenyum.
Sedangkan Zain hanya membalas dengan senyuman lalu mengambil koper Wiyah untuk di masukkan kedalam mobil.
Wiyah Fazar bersama dengan Fazri menaiki mobil. Fazri mengikuti mereka,
Karena Fazar ingin menitipkan adiknya itu kepada seseorang yang bisa menjaga adiknya itu selama Fazar pergi.
" Ingat pesan kakak. Jangan nyusahin mereka." Ucap Fazar menatap Fazri yang duduk kursi depan, dekat dengan Zain yang sedang menyetir.
" Iya bang, tenang aja, aku tidak akan menyusahkan mereka." Jawab Fazri.
πΊπΊπΊπΊπΊ
" Kak aku titip Fazri, selama aku berada di kota J. Nanti kalau dia muncil di marahin aja kak." Ucap Fazar menatap Haidar.
Ya, Fazar akan menitipkan Fazri bersama dengan Haidar. Karena Fazar yakin, kalau Fazri akan baik-baik saja jika dia di titipkan bersama dengan keluarga Haidar, ketimbang Fazri duduk sendiri di rumahnya atau di rumah utama. Fazar yakin kalau Haidar bisa menjaga adiknya itu.
Sebenarnya Fazar bisa saja meninggalkan adiknya itu bersama dengan para bodyguard nya untuk menjaga Fazri, tapi menurut Fazar kalau Fazri bersama dengan Haidar itu lebih baik, karena Haidar bisa mengajari adiknya itu yang kadang mucil.
" Terimakasih kak." Ucap Fazar tulus.
" iya, sama-sama Fazar." Jawab Haidar.
Sedangkan Fazri hanya mendengar obrolan keduanya tanpa membuka suara sama sekali. karena ini untuk yang kedua kalinya Fazri bertemu dengan Haidar.
" Ingat jangan nyusahin kak Haidar Zri." Ucap Fazar mengingatkan Fazri kembali.
" Iya bang, aku ngerti." Jawab Fazri.
Setelah mengantarkan Fazri kerumah Haidar kini Wiyah dan Fazar akan kembali melanjutkan perjalanan mereka kebandara, tapi sebelum itu Wiyah berpamitan terlebih dahulu, dengan kedua kakaknya dan juga tiga anak keponakannya itu.
" Hati-hati di jalan dek, Nanti kalau sudah sampai, langsung kabari kakak." Ucap Windi sambil memeluk tubuh Wiyah.
" Iya kak, nanti kalau sudah sampai di sana, aku langsung kabari." Jawab Wiyah membalas memeluk Windi.
__ADS_1
Wiyah melepaskan pelukannya beralih mencium punggung tangan Haidar." Hati-hati di jalan dek, ingat selalu jaga kesehatan." Ucap Haidar sambil tersenyum, membuat Wiyah hanya mengangguk mengerti mendengar pesan dari kakaknya.
" Acil Wiyah." Panggil Rafi sambil menatap kearah Wiyah.
" Iya kenapa Rafi." Tanya Wiyah menatap ketiga anak keponakannya itu.
" Jangan lupa bawa oleh-oleh untuk kami." Sambung Rafa dengan senyumannya, membuat Wiyah mengangguk.
" Iya nanti acil bawakan." Jawab Wiyah." Tapi oleh-olehnya apa." Tanya Wiyah sambil menatap ketiganya.
" Adik bayi." Jawab ketiganya dengan serempak membuat orang-orang yang berada disitu, yang tadi mendengar ucapan dari ketiga bocah itu langsung melihat kearah ketiganya.
" Kata kak Fazri, kalau oleh-oleh itu yang terindah, makanya kami meminta Acil Wiyah untuk membawakannya untuk kami." Ucap Rafa membuat Fanesya dan Rafi mengangguk setuju.
Sedangkan Fazar langsung menepuk keningnya, karena merasa heran dengan Fazri. memberitahukan anak kecil soal itu.
" Baru saja, aku mengantarkan dia disini, tapi dia sudah berulah. Ya allah kemana sikap dinginnya itu." Batin Fazar yang mencoba untuk menenangkan kejengkelannya.
Bagaimana dengan Haidar dan Windi yang mendengar permintaan ketiga anaknya itu hanya bisa tersenyum dan mengaminkan, semoga, dari Kota J mereka sudah mendapatkan momongan.
" Acil, apa Acil akan membawakannya untuk kami." Tanya Fanesya membuat Wiyah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bingung ingin menjawab apa.
" Insyaallah Acil akan membawakannya untuk kalian." Jawab Wiyah sambil tersenyum membuat ketiga anak keponakannya untuk langsung berteriak kegirangan.
" hore... Terimakasih Acil Wiyah."
...----------------...
Ada ada aja kamu Fazri, kasih tau anak kecil kayak gitu π€¦.
Tapi teman teman, setuju ngga kalau nanti Wiyah pulangnya langsung bawa adik bayi.
Kalau setuju komen ya π
Harap bijak dalam membaca karena banyak typo yang bertebaran. Jangan lupa like komen dan vote nya biar author makin semangat buat update.
__ADS_1
Salam manis dari author π