Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 202


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Tanpa Fazar dan dokter Melisenda sadari, kalau di luar ruangan, Fazri mendengar semua yang dokter melisenda katakan.


Ya, Fazri sengaja mengikuti Fazar dan dokter Melisenda tadi, tanpa dokter Melisenda dan Fazar sadari. Karena Fazri mengikuti keduanya secara diam-diam.


Karena Fazri begitu sangat penasaran dengan kondisi Harum, sampai memutuskan untuk mengikuti Fazar, tanpa sepengetahuan kedua kakaknya, dan juga abangnya itu.


Kebetulan juga pintu di ruangan dokter Melisenda, tidak terlalu tertutup, yang membuat Fazri masih bisa mendengar ucapan dari dalam lewat celah pintu.


" Andaikan saja waktu itu, kak Fadil tidak melarangku untuk membunuh wanita ular itu, mungkin saja aku sudah membalaskan rasa sakit yang dialami oleh Naila dengan cara membunuhnya." Batin Fazri, yang masih tetap berdiri di tempatnya.


Ada rasa penyesalan dalam dirinya, karena ia tidak membunuh Nadila langsung, padahal jelas-jelas penjahat seperti Nadila pantas mati. Walaupun Fazri tau kalau Nadila akan mendapatkan hukuman dari hukum. Tapi menurut Fazri. Hukuman yang Nadila dapatkan tidak sebanding dengan apa yang Naila rasakan sekarang. Karena hukuman penjara yang Nadila rasakan, tidak akan bisa mengobati trauma Naila.


" Jika aku masih memiliki kesempatan, semoga aku menjadi orang pertama yang akan membunuh wanita ular itu." Gumam Fazri dengan amarah dalam hatinya


Fazri yang masih berdiri di luar ruangan dokter Melisenda, segera melangkah meninggalkan tempat itu, karena dia mendengar kalau abangnya itu akan keluar dari ruangan dokter Melisenda, karena urusan Fazar sudah selesai.


🍁🍁🍁🍁🍁


Fazar melangkah mendekati keluarganya itu, yang masih berada di tepatnya, karena mereka belum ada yang berpindah dari duduknya, posisi mereka juga masih ssma. Hanya saja di situ ada yang kurang, yaitu Fazri.


Fazar tidak curiga dengan ketidak adaan nya Fazri di situ, karena dia berpikir kalau adik nya itu bisa saja sedang berada didalam WC.


Sedangkan Fadil, Abidzar Fina dan Wiyah yang menyadari kehadiran Fazar, langsung berdiri dari duduknya, karena mereka begitu sangat penasaran, dengan apa yang dokter sampaikan, Sampai-sampai memanggil Fazar ke ruangannya, untuk membicarakan kondisi Harum.


" Bang, apa yang di sampaikan oleh dokter tentang kondisi Harum." Tanya Fadil menatap abangnya itu dengan penasaran.


Fazar menatap Fadil setelah itu, ia beralih menatap istrinya yang sedang menatapnya, sama seperti yang lainnya." Abang akan jelaskan nanti tapi tidak disini."


" Kenapa begitu Zar." Tanya Abidzar bingung.


" Nanti aku jelaskan tapi tidak disini, karena aku takut kalau semuanya akan keget mendengar penjelasanku."


" Apa segitu pentingnya bang." Mereka sama-sama melihat kearah belakang Fazar saat mendengar suara seseorang, tapi bukan suara Fazar tentunya, Melainkan seorang pemuda yang sedang melangkah kearah mereka.


" ya ampun Zri, bikin keget aja kamu." Ucap Fadil menatap adiknya itu." Emangnya dari mana sih kamu Zri, tiba-tiba saja hilang, terusmunculnya juga tiba-tiba."

__ADS_1


" Maaf kak Fadil, tadi aku baru dari toilet makanya tiba-tiba saja hilang." Jawab Fazri yang kini mengubah ekspresinya menjadi biasa saja. Tanpa menunjukkan sisi yang mencurigakan.


" Pantas hilang mendadak." Ucap Abidzar yang mendapatkan senyuman dari Fazri.


Padahal, yang mereka tidak tau, kalau sebenarnya, Fazri mengikuti Fazar dan juga dokter Melisenda keruangannya, untuk mendengar apa saja yang dokter katakan tentang kondisi Naila sekarang, tanpa sepengetahuan kedua kakaknya.


" Bang, bagaimana kondisi Naila, apa Naila baik-baik saja." Tanya Fazri menatap kearah Fazar. Fazri menunjukkan sikap, sekaan-akan dia tidak tau apa-apa, padahal sebenarnya tadi dia sudah mendengarkan ucapan dokter langsung.


" Abang tidak bisa menjelaskannya sekarang Zri."


" Kenapa begitu, bang. Coba Abang Jelaskan biar kami tau, daripada terlalu bertele-tele seperti ini yang ada kelamaan nanti."


" Iya kak, yang di katakan oleh Fazri ada benarnya. Lebih baik Kakak jelaskan dulu, biar kita sama-sama tau, agar nanti kita bisa mencari solusi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya." Sambung Wiyah yang ikut berbicara.


Mendengar ucapan istrinya itu, membuat Fazar membenarkan semua yang dikatakan oleh istrinya itu, hanya saja dia bingung ingin menjelaskan nya dari mana.


Karena Fazar takut, kalau sampai terjadi sesuatu dengan istrinya itu, setelah ia menceritakan semuanya. Fazar takut kalau istrinya itu akan terkejut berlebihan saat mendengar kabar buruk ini, dan keterkejutan istrinya itu akan berakibat pada kandungannya.


Fazar melangkah mendekati istrinya itu, lalu menatapnya begitu sangat dalam." Kakak akan jelaskan kepada kalian semua disini bagaimana kondisi gadis kecil itu. Hanya saja sayang, harus janji ke kakak. Kalau sayang ngga akan terkejut terlalu berlebihan, setelah mendengar kabar buruk ini, karena kakak takut terjadi sesuatu dengan kandungannya sayang."


" Emangnya seburuk apa sih kak, sampai harus janji dulu."


" Baiklah kak, aku berjanji tidak akan terkejut berlebihan setelah mendengar penjelasan kakak." Jawab Wiyah sambil mengangkat jari kelingkingnya.


" Baiklah, sayang sudah berjanji ya." Fazar tersenyum, Fazar juga mengangkat jari kelingkingnya lalu mengaitkannya di jari kelingkingnya istrinya itu, kalau ia mempercayai janji istrinya itu. Setelah itu, Fazar menceritakan apa saja yang dokter katakan tadi kepadanya dengan detail, tanpa kekurangan apapun.


Fadil, Abidzar, Fina dan Wiyah begitu sangat terkejut mendengar penjelasan dari Fazar, bahkan sangking terkejutnya, membuat mereka tidak percaya, kalau gadis kecil itu harus mengalami truma yang begitu sangat parah sampai lari kemental. Apakah segitu sadisnya Nadila menyiksa Harum, sampai gadis kecil itu mengalami truma yang membuat mental nya rusak.


Sedangkan Fazri tidak terkejut mendengar penjelasan dari Fazar karena tadi dia sudah mendengarnya, hanya saja Fazri semakin terlihat begitu sangat marah setelah mendengar penjelasan untuk kedua kalinya.


" Astaghfirullahaladzim Harum." Fazar langsung menangkap tubuh istrinya itu, saat melihat istrinya terlihat begitu sangat lemah.


Ini yang Fazar takutkan kalau istrinya itu mendengar kabar mengejutkan apalagi hal yang begitu sangat buruk. Karena istrinya itu akan jatuh pingsan ketika dia terlalu terkejut. Apalagi mendengar ceritanya, dan seperti kali ini Wiyah pasti jatuh karena terkejut.


Mungkin selama Wiyah mengandung, dia begitu sangat sensitif dengan hal-hal seperti ini itu, jadi Fazar harus memakluminya.


" Tenang sayang, kita akan membantu gadis kecil itu menghilangkan truma nya dengan cara kita. Kita akan menggantikan rasa sakitnya dengan memberikan gadis kecil itu kasih sayang, yang mungkin belum pernah dia rasakan." Ucap Fazar menenangkan istrinya itu.

__ADS_1


" Iya kak, kita akan sama-sama membantu, Naila sembuh." Sambung Fazri yang ikut khawatir melihat kakak iparnya itu yang tiba-tiba saja jatuh, karena terkejut.


" Sebaiknya Abang antar Wiyah untuk beristirahat sebentar, agar pikirannya lebih tenang." Ucap Fadil.


" Benar Zar, takutnya kakak ipar akan ngedrop."


" Baiklah, kalau gitu Abang tinggal sebentar, setelah itu Abang kembali lagi kesini." Fazar langsung mengendong tubuh istrinya, membawanya keluar, karena Fazar akan membawa Wiyah ketempat dimana adik-adiknya itu beristirahat selama beberapa hari ini.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hari terus berganti. Tidak terasa Harum sudah lebih baik dari sebelumnya, setelah ia sadar dari koma nya beberapa hari yang lalu, kini gadis kecil itu sudah di pindahkan keruangan VIP selama masa pemulihannya, dan besok Harum bisa keluar dari rumah sakit.


Fazar juga sudah mengetahui truma Harum, kalau Harum akan ketakutan saat melihat pria dewasa seperti mereka mendekatinya, bahkan mendengar langkah kakinya saja sudah membuat gadis kecil itu ketakutan, kalau saja tidak cepat di tenangkan oleh Wiyah maupun Fina.


Ya, selama beberapa hari ini Wiyah dan Fina yang merawat kondisi Harum sampai membaik, bahkan para suster dan yang lainnya tidak boleh masuk, karena Harum takut kalau mereka akan membawanya kembali ke tangan Nadila. Padahal itu tidak akan terjadi, karena Nadila sudah di tangkap oleh pihak berwajib, tapi ketakutan Harum lebih besar membuat Harum tidak percaya dengan orang sekitarnya, selain Wiyah, Fina dan dokter Melisenda, yang selama ini memeriksa kondisinya. Dokter Melisenda juga sedang melakukan terapi secara perlahan-lahan agar Harum lebih tenang, dan sepertinya berhasil. Karena Harum mau bicara dengan Fazri walaupun dengan jarak yang lumayan jauh. Untuk yang lainnya, seperti belum karena butuh proses.


Padahal Abidzar, dan Fadil juga ingin bicara dengan Harum. Tapi sepertinya mereka belum mendapatkan giliran, untuk berbicara dengan Harum, karena Fazri lah orang pertama yang mau Harum aja komunikasi, setelah terapi nya beberapa hari ini.


Mengingat Abidzar. Dua hari yang lalu, dia harus kembali ke Jakarta, kerena perusahaan di kota itu sedang membutuhkannya. Mungkin saja dia akan kembali lagi ke kota S, setelah menyelesaikan urusannya atau dia akan kembali ke Turki terlebih dahulu, karena dia akan mengerjakan pekerjaannya disana.


.


Malam ini terlihat berbeda, karena langit malam ini penuhi oleh butiran bintang, di tambah sembuh bulan purnama yang begitu sangat terang memerangi malam ini, Walaupun tidak seterang matahari, tapi keindahannya tetap sama, membuat malam ini terkesan istimewa, karena jarang malam secantik malam ini. Apalagi malam ini sangat cocok untuk para pasangan muda yang mau dinner.


Mungkin itu yang dirasakan oleh Fadil, yang sedang duduk berdua bersama dengan Fina.


Eh salah, maksudnya bertiga bersama dengan Fazri. Walaupun Fazri harus menjadi obat nyamuk di restoran itu, karena menemani pasangan muda yang sedang jatuh cinta, hanya saja mereka masih malu untuk menyatakan perasaan mereka masing-masing.


Mungkin di restoran itu hanya Fazri lah yang sendiri, karena para pengunjung banyak yang bawah pasangan mereka.


" Beginilah nasip jomblo, yang tidak memiliki pasangan saat berada di meja yang sama dengan orang yang sudah memiliki pasangan. Hanya diam menyaksikan kedua manusia yang sama-sama sedang jatuh cinta, tapi malu untuk mengungkapkan perasaan mereka masing-masing." Gumam Fazri menatap teman satu meja nya itu, yang lebih fokus bercerita, daripada melihat kalau ada dia disana." Mau pulang kerumah sakit, males banget. Soalnya disana sama bucin nya. Yang ada aku makin kepanasan, karena melihat Abang lagi ngebucin sama kak Wiyah." Gumam Fazri kembali.


.


.


Siapkan yang mau menemani Fazri, kasian dia sendirian.

__ADS_1


...----------------...


Maaf author baru bisa update, soalnya author lagi ngga enak badan.


__ADS_2