
Sesampainya didepan ruangan Fadil, Fazar bisa melihat kalau sekertarisnya dan juga sahabatnya sedang duduk di kursi yang berada di luar ruangan Fadil.
Zain dan Rido berdiri dari duduknya saat melihat kedatangan ketiganya.
" Kenapa kalian berada di luar. Fadil didalam tidak kenapa-kenapa kan." Tanya bunda Sisi menatap Zain dan Rido dengan perasaan khawatir.
Zain dan Rido tersenyum mendengar pertanyaan yang bunda Sisi lontarkan kepada mereka.
" Alhamdulillah Fadil baik-baik saja bun. Kami keluar dari ruangan Fadil itu karena dokter sedang memeriksa kondisi Fadil, karena Fadil sudah melewati masa kritis nya, dan Alhamdulillah Fadil sudah sadar." Jelas Rido dengan senyuman di bibirnya. Sekian lama, Akhirnya Fadil kembali sadar dan melewati masa kritisnya.
Fazar, Wiyah, dan bunda Sisi yang mendengar penjelasan dari Rido begitu sangat terkejut dan juga bahagia, karena Fadil kembali sadar.
" Benarkah itu, Rido." Tanya bunda Sisi dengan mata yang sudah berkaca-kaca ingin memastikan kalau ucapan Rido itu memang benar.
" Iya bun, aku mengatakan yang sebenarnya." Jawab Rido mengangguk.
" Alhamdulillah ya Allah." Ucap bunda Sisi begitu sangat bersyukur dengan keajaiban yang Allah berikan untuk Fadil.
Bunda Sisi langsung memeluk tubuh Fazar yang berada di sebelahnya.
" Alhamdulillah Zar, Fadil telah sadar." Ucap bunda Sisi begitu sangat terharu mendengar kabar kesadaran Fadil, sampai membuat bunda Sisi meneteskan air mata karena bahagia.
" Alhamdulillah bun, doa kita telah di kabulkan, dan kini Fadil telah sadar dari kritis nya." Jawab Fazar sambil membalas pelukan dari bunda Sisi karena merasakan kebahagiaan yang sama seperti bunda Sisi saat mendengar adik yang begitu dia sayangi telah sadar.
Sedangkan Wiyah merasakan kebahagiaan yang sama seperti Fazar dan bunda Sisi setelah mendengar kalau Fadil telah sadar dari kritis nya.
" Alhamdulillah kak Fadil. Kakak telah sadar. Semoga kakak bisa melawan penyakit kakak dan berkumpul bersama dengan keluarga mu yang selama ini selalu menunggu mu." Batin Wiyah yang begitu sangat senang mendengar kabar bahagia yang di sampaikan oleh Rido barusan.
Bunda Sisi melepaskan pelukannya.
" Bunda ingin bertemu dengan Fadil, Zar." Ucap bunda Sisi menatap kearah Fazar. Bunda Sisi begitu sangat tidak sabaran ingin bertemu dengan Fadil dan melihat putranya itu.
" Sabar bun, kita tunggu sampai dokter keluar." Ucap Fazar.
__ADS_1
.
.
Tidak membutuhkan waktu lama Faris dan juga dokter Satya keluar dari ruangan rawat Fadil.
" Dokter, bagaimana dengan keadaan Fadil." Tanya bunda Sisi kepada dokter Satya begitu sangat tidak sabaran.
" Keadaan tuan Fadil sekarang, mulai stabil. Tapi kami akan tetap memantau kondisinya sebelum tuan Fadil menjalankan operasi besok." Jelas dokter Satya membuat Wiyah dan bunda Sisi langsung menatap kearah dokter Satya, karena tidak percaya kalau sudah ada yang menjadi pendonor untuk Fadil.
Padahal kata dokter Satya. Darah yang Fadil memiliki adalah darah langkah, membuat orang yang ingin mendonorkan sumsum tulang untuk Fadil begitu sangat sulit untuk di cari. Tapi hari ini dokter mengatakan kalau Fadil telah menemukan pendonor yang cocok untuk Fadil.
Sedangkan Zain, dan Rido tidak terkejut dengan jawaban yang dokter Satya berikan. Karena mereka sudah tahu siapa orang yang menjadi pendonor untuk Fadil.
" Benarkah itu dok, kalau Fadil sudah menemukan pendonor yang cocok untuknya." Tanya bunda Sisi masih belum percaya. Bunda Sisi juga begitu sangat senang dengan kabar yang dokter Satya berikan.
" Benar nyonya, tuan Fadil sudah mendapatkan pendonor yang cocok untuknya dan besok tuan Fadil akan melakukan operasi." Jelas dokter Satya sambil tersenyum.
" Alhamdulillah ya Allah." Puji syukur terus bunda Sisi panjatkan saat mendengar jawaban yang dokter Satya berikan.
" Alhamdulillah bun. Allah telah mengabulkan doa kita selama ini untuk kesembuhan Fadil, dan sekarang Fadil telah menemukan pendonor yang cocok dengannya." Jawab Wiyah yang ikut senang dengan kebahagiaan keluarga nya itu.
" Allah tahu, kalau kita bisa mengahadapi semua cobaan ini dengan sabar. Dan kita bisa melihat sekarang, Allah telah mengirimkan seseorang yang akan membantu kesembuhan Fadil." Sambung Fazar membuat bunda Sisi dan yang lainnya mengangguk setuju dengan ucapan Fazar.
" Kamu benar nak." Sambung Bunda Sisi membenarkan ucapan Fazar.
" Dokter apakah aku bisa bertemu dengan putraku." Tanya bunda Sisi menatap kearah dokter Satya.
" Tentu nyonya, anda bisa menemui tuan Fadil. Selalu berikan dia semangat, dan berikan dia kepercayaan kalau dia akan sembuh." Jelas dokter Satya kembali membuat bunda Sisi dan yang lainnya mengangguk mengerti.
" Baik dokter, kami akan selalu mengingat pesan dokter, untuk selalu menyemangatinya kalau dia akan sembuh." Jawab Fazar, membuat dokter Satya tersenyum.
" Baiklah, kalau begitu permisi, saya ingin memeriksa pasien lainnya." Ucap dokter Satya membuat orang-orang yang berada di situ mengangguk.
__ADS_1
Dokter Satya meninggalkan mereka untuk melakukan tugasnya yang lain.
" Bunda mau masuk kedalam dulu, Zar, Wiyah. Kalian bisa menyusul untuk masuk." Ucap bunda Sisi.
" Iya bun. Nanti kami nyusul masuk kedalam." Jawab mereka bersamaan.
Bunda Sisi melangkah masuk kedalam dengan terburu-buru, karena begitu sangat tidak sabar ingin bertemu dengan Fadil.
Sedangkan Fazar, Wiyah dan yang lainnya hanya bisa menatap kearah bunda Sisi.
" Apa kalian tidak masuk kedalam." Tanya Faris.
" Kami akan masuk kedalam. Tapi aku ingin memberikan kalian ini." Ucap Fazar sambil memperlihatkan tupperware yang masih berada di tangannya.
" Apa ini." Tanya Rido menatap kearah tupperware yang di pegang oleh Fazar.
" Ini sarapan untuk kalian, yang langsung di masak oleh istriku untuk kalian." Jelas Fazar.
" Benarkah, ini untuk kami." Tanya Rido membuat Fazar mengangguk." Ya itu untuk kalian." Jawab Fazar.
" Terimakasih Zar. Kakak ipar." Ucap Rido sambil menatap kearah Wiyah dengan tersenyum.
" Iya sama-sama, tuan." Jawab Wiyah yang belum terlalu mengenal Rido.
" Jangan panggil tuan, panggil aku kak Rido, kakak ipar. Atau sayang juga ngga apa-apa." Jelas Rido sambil menggoda Wiyah, tidak lupa dengan mata sambil berkedip menggoda.
" Jangan macam-macam sama istriku, Rido. Jika tidak ingin di hancurkan." Ancam Fazar sambil menarik Wiyah agar lebih dekat dengannya." Lebih baik, kalian makan." Suruh Fazar kembali lalu menarik tangan Wiyah lembut untuk masuk kedalam ruangan rawat Fadil.
Sedangkan ketiga pria itu hanya menatap kepergian, Fazar sambil menggenggam tangan Wiyah lalu masuk kedalam ruangan rawat Fadil.
" Sepertinya Fazar telah menemukan wanita yang bisa mengobati lukanya." Ucap Faris sambil menatap kearah pintu yang baru saja tertutup.
" Kamu benar, Ris. Fazar telah menemukan wanita yang bisa mengobati lukanya." Jawab Rido." Semoga dengan keberadaan istrinya, Fazar bisa kembali seperti dulu lagi." Doa Rido.
__ADS_1
...----------------...
Kalau ada typo langsung kasih tau author ya, biar author perbaiki. Soalnya author nulisnya dengan keadaan ngantuk 😴