Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 228


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta


Fadil menatap gedung yang sudah dihias seindah mungkin, seperti acara-acara pertunangan lainnya, tapi ini sedikit berbeda, karena acara itu terlihat sangatlah mewah, sehingga parah wartawan ada di sana.


Bukan itu saja, tapi parah bodyguard juga tersusun rapi di luar gedung, untuk menjaga keamanan disana. Apalagi dari tadi wartawan banyak yang memotret mobilnya, padahal mobilnya baru saja berhenti disana.


" Tuh, apa yang gue bilang Dil. Disini lo akan terlihat lebih mencolok ketimbang pria yang akan bertunangan malam ini." Ucap Rido berbangga diri. Fadil yang mendengar ucapan sahabatnya itu hanya memutar matanya malas.


" Cak, jangan terlalu percaya diri lo Do, walaupun bukan karena Lo, gue akan tetap mencolok dari ribuan orang lainnya." Jawab Fadil.


" Terkenal juga, karena bang Fazar."


" Oh tentu saja. Daripada lo, terkenal karena jadi sekertaris gue." Sindir Fadil.


" Sama saja. Sama-sama berketergantungan dengan orang yang sama." Jawab Rido." Sudahlah, daripada kita ribut disini, mendingan lo keluar dari mobil ini, karena gue mau parkir di besmen." Usir Rido yang menyudahi perdebatan mereka.


" Lo berani ngusir gue, Do." Tanya Fadil menatap Rido dengan tatapan tajam.


" Bukan ngusir Dil. Tapi kita sudah sampai. Dan gue nyuruh Lo keluar, biar lo deluan masuk kedalam, nanti baru gue nyusul kalau gue sudah selesai memarkirkan mobil di besmen." Jelas Rido, menatap sahabatnya itu yang semakin hari semakin sensitif. Bawaannya marah terus, dari tadi pagi." Emangnya lo mau ikut ke besmen."


" Gue ngga mau, lo saja sana, gue mau turun disini." Jawab Fadil sambil membuka pintu mobilnya


" Tadi aja nuduh gue ngusir, sekarang Lo sendiri yang milih turun disini. Dasar aneh kamu Dil." Gerutu Rido kesal, dengan kelakuan sahabatnya itu." Cak, terlalu sensitif kayak perempuan lagi pms aja."


.


.


Fadil melangkah masuk kedalam gedung dan dia bisa melihat bagaimana mewah nya acara itu, yang terlihat seperti resepsi pernikahan, ketimbang pertunangan.



" Berapa banyak dia mengeluarkan uang, sampai semewah ini." Gumam Fadil meneliti setiap sudut ruangan yang sudah dihias seindah mungkin, bahkan membuat Fadil ikut takjub.


Sampai Fadil mengingat dimana dia mengungkapkan perasaannya kepada Fina." Seharusnya aku membuat acara semewah ini untuk mengungkapkan perasaanku, bukan di warung sederhana seperti kemarin." Batin Fadil yang merasakan penyesalan, karena dia mengungkapkan perasaannya dengan sederhana bukan acara lamaran mewah lainnya. Seandainya saja dia membuat acara semewah ini, mungkin keluarga Fina akan menerimanya." Aku berjanji Fin, setelah kita bertemu, maka aku akan mengadakan resepsi pernikahan yang tidak kalah mewah nya dari ini."


Karena tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihannya, Fadil melangkah ketempat dimana jamuan untuk para tamu berada.


Saat sedang mengambil beberapa makan ringan. Pandangannya tertuju pada orang yang dia kenal, yang sedang duduk di meja bundar, yang tidak jauh dari tempat itu." Apakah bang Fazar juga menghadiri acara pertunangan klien kita, sampai dia berada disini bersama dengan istrinya." Gumam Fadil saat melihat keberadaan Abang nya disana yang sedang duduk bersama dengan istrinya.


Terlihat kalau kakak iparnya itu sedang lahap memakan makanannya, sambil di suapi langsung oleh Fazar.


Fadil yang melihat itu, hanya tersenyum lucu. Karena abangnya itu hanya menurut dengan wajah pasrah nya saja, tanpa menolak sama sekali." Sungguh aku kasian melihatmu seperti itu bang. Tapi dengan ini, Abang bisa menunjukkan kalau Abang begitu sangat mencintai Wiyah, tanpa rasa malu sama sekali menunjukkan kalau Abang begitu sangat mencintai Wiyah." Gumam Fadil.


Saat menatap kearah suami, istri itu, pandangannya kembali tertuju kearah orang yang paling dia kenal." Bunda, Fazri dan Harum. Kenapa mereka bisa berada disini. Apakah bunda di undang juga." Ucap Fadil bertanya pada dirinya sendiri saat melihat keberadaan bunda Sisi dan Fazri disana." Sebaiknya aku harus bertanya." Ucap Fadil kembali, sambil melangkah mendekati keluarganya.


.


" Kak, aku sudah kenyang." Tolak Wiyah sambil menutup mulutnya saat Fazar akan kembali memasukkan suapan kedalam mulut Wiyah.


" Tapi sayang, dikit lagi. Habis itu sudah." Ucap Fazar membujuk istrinya itu, karena ini adalah suapan terakhirnya."

__ADS_1


" Udah kak, aku sudah kenyang. Kalau dipaksain lagi, takutnya nanti aku muntah." Tolak Wiyah kembali sambil menggelengkan kepalanya, tanda kalau dia benar-benar sudah kenyang.


Sedangkan Fazar hanya menghembuskan nafasnya, Mengikuti kemauan istrinya itu, untuk tidak memaksanya makan lagi. Karena sayang dengan makan itu Fazar memakan suapan terakhir istrinya tadi.


" Kenapa dimakan kak." Tanya Wiyah saat melihat suaminya itu memakan makanan sisa tadi, tanpa rasa jijik sama sekali. Padahal itu sudah bekas sendoknya.


" Sayang kalau di buang, sayang, mending kakak makan aja." Jawab Fazar." Emangnya kenapa sayang tanya kayak gitu."


" Ngga apa-apa kak, hanya saja aku bingung, apa kakak ngga jijik makan makanan bekasku tadi, terus mengunakan sendok yang sama." Tanya Wiyah, membuat Fazar tersenyum sambil menatap istrinya itu.


" Untuk apa jijik sayang, orang kakak sudah mencicipi itu, lebih dari sendoknya lagi. Merasakan dari sendoknya saja sudah manis, apalagi kalau yang aslinya."


" Astaghfirullah kak." Wiyah membulatkan matanya terkejut mendengar jawaban ambrol dari Fazar." Kak ini acara besar, kenapa kakak mengatakan hal mesum sih." Cubit Wiyah, ke lengan suaminya itu saat mendengar ucapan amburadul dari suaminya itu.


Padahal sudah jelas-jelas mereka berada di acara besar, dan disana terdapat orang-orang banyak. Tapi suaminya itu masih sempat-sempatnya mengucapkan hal kotor, dan untungnya ucapan Fadil tadi tidak ada yang dengar.


" Auu, sakit sayang. Kenapa kakak di cubit." Tanya Fazar, yang pura-pura kesakitan, sambil mengusap lengannya yang tadi di cubit oleh istrinya itu.


" Kak sih, mesum." Bisik Wiyah, sambil menatap Fazar kesal.


" Mesum sama istri sendiri ngga apa-apa sayang, soalnya dapat pahala." Ucap Fazar sambil terkekeh.


Melihat suaminya itu terkekeh, membuat Wiyah semakin kesal." Kak Fazar benar-benar menyebalkan. Nanti malam kakak tidur sendiri."


Fazar membulatkan matanya saat mendengar perkataan istrinya itu, saat Fazar akan mengucapkan sesuatu, agar istrinya itu tidak mara lagi. Perkataan harus dihentikan saat melihat kedatangan bunda Sisi bersama dengan Fazri dan Harum.


" Bunda." Wiyah ingin berdiri, tapi bunda Sisi memberikan isyarat agar Wiyah tetap duduk saja.


" Itu Bun, kak Fazar." Jawab Wiyah sambil menoleh kearah suaminya itu yang sedang tersenyum gugup.


" Astaghfirullah Zar, acara kayak gini kamu menjahili istrimu. Benar-benar kamu Zar." Omel bunda Sisi, membuat orang-orang yang berada di sekitar mereka langsung menoleh kearah bunda Sisi saat mendengar omelan bunda Sisi." Tunggu sampai di rumah." Ancam bunda Sisi, karena merasa ngga bagus kalau dia mengomeli Fazar disana.


" Bunda, kak Wiyah. Dimana kak Fina." Tanya Harum.


" Kak Fina belum keluar Rum. Mungkin bentar lagi." Jawab Wiyah.


" Emangnya lama lagi ya kak."


" Ngga lama gadis manis, soalnya acara mau di mulai." Jawab bunda Sisi sambil menatap gadis kecil itu, yang terlihat menggemaskan saat bertanya seperti ini." Harum bosan." Harum hanya mengangguk, karena jelas-jelas dia belum terlalu nyaman berada ditempat orang banyak.


" Bagaimana kalau kita ambil es krim sama kak Fazri aja." Tawar Fazri membuat gadis tadi, yang melihat kearah Wiyah dan bunda Sisi langsung menoleh kearah Fazri saat mendengar ucapan remaja laki-laki itu.


" Emangnya boleh kak." Tanya Harum dengan mata yang berbinar-binar.


" Boleh rum, kan Harum sudah sehat. Tapi ingat jangan lama-lama."


" Wahh, benarkah kak Wiyah." Wiyah hanya mengangguk mengiyakan, dari pertanyaan gadis kecil itu." Wahh, terimakasih kak Wiyah." Harum melangkah mendekati Wiyah, lalu memeluk tubuh itu." Ayo kak Fazri, kita ambil es krim." Tangan kecil itu, langsung menggenggam tangan Fazri, lalu menariknya kearah, tempat es krim berada.


" Zri jaga adikmu." Ucap Fazar, yang hanya mendapatkan ajukan jari jempol dari Fazri.


Sedangkan bunda Sisi dan Wiyah yang melihat kebahagiaan Harum ikut tersenyum senang.

__ADS_1


" Bunda, disini juga." Mereka menoleh kearah belakang saat mendengar suara orang yang begitu sangat kenal." Kenapa bunda ngga ngomong kalau bunda mau keacara pertunangan yang sama dengan Fadil."


" Bunda ngga tau Dil, kalau kamu ketempat acara yang sama dengan bunda." Jawab bunda dengan ekspresi biasa-biasa saja.


Jika bunda Sisi dan Fazar hanya biasa-biasa saja saat kedatangan Fadil. Jau berbeda dengan Wiyah, yang mendadak takut saat melihat Fadil. Bukan takut karena sesuatu.


Wiyah hanya takut, kalau Fadil akan kecewa dengan keluarganya saat mengetahui kalau pertunangan yang dia hadiri adalah pertunangan Fina. Gadis yang sudah sah menjadi istrinya.


" Bagaimana ini, kalau sampai kak Fadil tau kalau acara pertunangan ini, adalah acara pertunangan Fina. Pasti kak Fadil akan kecewa, saat mengetahui, kalau ternyata keluarganya mengetahui pertunangan Fina. Hanya saja mereka tidak memberitahukan itu kepada kak Fadil." Batin Wiyah yang mulai cemas.


Belum selesai kecemasan Wiyah, Kini lampu tiba-tiba saja padam, dan hanya menyisakan sebuah lampu warna warni yang terang.


" Sepertinya acara sudah di mulai Bun." Ucap Fazar, membuat Fadil menoleh kearah Fazar.


" Maksud Abang." Belum selesai dengan kebingungannya Fadil. Kini Fadil semakin dibuat bingung dengan suara dua orang MC yang berada di panggung.


" Selamat malam parah hadirin yang terhormat."


" Terimakasih, sudah menyempatkan waktu untuk datang di pesta pertunangan keluarga kami."


" Abidzar, Rido." Lirih Fadil saat melihat dua orang MC yang ternyata adalah sepupunya dan juga sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Abidzar dan juga Rido.


" Kenapa ada kak Abidzar dan kak Rido disna." Gumam Wiyah, yang sama-sama penasaran seperti Fadil sekarang.


Sedangkan bunda Sisi dan Fazar hanya tersenyum penuh arti. Sepertinya mereka mengetahui sesuatu.


" Malam ini, sangatlah istimewa, karena adik sepupuku akan bertunangan." Ucap Abidzar, di atas panggung sana." Selamat buat adik sepupu ku, karena seorang gadis yang kamu cintai, sebentar lagi akan kamu ikat dalam satu hubungan yang serius." Tiba-tiba saja lampu menyorot kearah Fadil.


" Beberapa hari ini, anda pasti galau tuan Fadil, karena gadis yang kamu cintai tiba-tiba saja dipisahkan darimu." Ucap Abidzar. Terlihat kalau Abidzar seperti tersenyum mengejek kearah Fadil.


" Sial, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa aku belum mengerti." Batin Fadil, yang mendadak otaknya menjadi loading." Sepertinya otakku kehabisan internet." Dihal seperti ini, Fadil masih berpikir lucu.


Oh astaga Fadil


" Aku tau tuan Fadil, anda pasti kebingungan sekarang. Tapi aku ingin mengatakan, kalau gadis yang selama ini kamu cari berada disini." Lampu kedua kembali menyoroti kearah gadis, yang kini sudah duduk di sebuah sofa yang sudah di hias secantik mungkin.


" Fina." Ucap Fadil terkejut, saat melihat gadis yang selama dua minggu ini dia cari, kini berada di sebuah sofa yang sedang duduk sambil menundukkan kepalanya.


" Jangan gugup calon pengantin."


" Belum nikah Do." Orang-orang langsung tertawa, mendengar ucapan Abidzar.


" Jangan gugup nona Fina. Maaf, silahkan angkat kepalamu agar calon suamimu bisa melihat calon istrinya."


Dengan malu-malu Fina mengakat kepalanya, lalu melihat kearah sekitar untuk mencari keberadaan Fadil. Sampai pandangannya tertuju kearah seseorang pria yang sama-sama disoroti oleh lampu.


" Kak Fadil." Lirih Fina saat melihat wajah tampan itu.


" Fina." Walaupun dari jarak sedikit jauh, tapi Fadil bisa melihat wajah cantik itu, semakin terlihat cantik. Saat mengunakan make up natural." Ya Allah, ini bukan mimpi kan."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2