
Sesampainya di depan rumah sang Kaka ipar, Fazar di buat bingung sendiri karena dirinya harus mengetuk pintu rumah itu atau tidak. Sedangkan sekarang sudah larut malam yang pasti orang rumah sudah pada tidur semuanya. Fazar hanya tidak mau menganggu istirahat orang rumah karena sekarang adalah waktunya istirahat bukannya bertamu. Tapi Fazar juga bukan tamu di rumah itu melainkan menantu di keluarga itu hanya saja Fazar pulang terlalu larut malam di malam pertamanya menjadi suami.
Fazar bisa saja pulang kerumahnya, tapi Fazar masih berfikir kalau dirinya tidak mau membuat harga dirinya jatuh hanya karena meninggalkan istrinya di malam pertama mereka walaupun malam ini Fazar tidak melakukan hal apapun kepada istrinya, tapi Fazar masih berpikir kalau sampai meninggal istrinya di malam pertama mereka.
Fazar hanya takut dengan pemikiran sang Kaka ipar. yang mengatakan kalau dirinya bukanlah pria yang baik, karena menikahi anak orang tapi malah meninggalkan nya begitu saja saat di malam pertama mereka tanpa ada alasan yang tentu.
Fazar bisa saja memberitahukannya kepada keluarga istrinya kalau dia menikahi istrinya itu hanya karena permintaan dari sang adik, tapi itu tidak mungkin karena pasti orang berpikir kalau dirinya sudah berani mempermainkan pernikahan dan juga anak orang, walaupun dalam kenyataannya itu memang benar seperti itu.
Huuu.
Fazar mengembuskan napasnya kasar sebelum Fazar mengambil ponselnya lalu mencari nomor istrinya yang tidak sengaja dia simpan di dalam ponselnya.
" Untung saja aku masih menyimpan nomor wanita itu." Gumam Fazar saat mendapatkan apa yang dia cari di dalam Ponselnya itu. Fazar menelfon nomor yang tadi dia cari, tapi berapa lama nomor itu tidak di angkat sama sekali.
" Kenapa wanita itu tidak mengangkat ponselnya." Gerutu Fazar karena orang yang dia telfon tidak mengangkat sama sekali ponselnya. Sampai panggilan Fazar ditolak oleh istrinya itu." Dasar wanita m**ahan Berani sekali dia mematikan sambungan telepon ku." Geram Fazar kesal saat di seberang sana mematikan sambungan telepon nya." Betul betul wanita m***han itu, butuh aku kasih pelajaran." Geram Fazar kembali yang begitu sangat kesal dengan sang pemilik ponsel karena panggilan di tolak oleh Wiyah sang istri.
Fazar menyimpan ponselnya kembali kedalam saku celananya, lalu melihat ke arah pintu. Fazar berinisiatif untuk mengetuk pintu rumah dari Kaka ipar nya itu, jika tidak ada yang membukakan nya Fazar akan kembali kerumahnya lalu kembali lagi besok." Begitu sangat menyusahkan." Gerutu Fazar kesal.
Tok.
Tok.
Tok.
Fazar mengetuk pintu rumah itu.
Sedangkan di dalam Wiyah begitu sangat ragu saat melangkah ke arah pintu. Wiyah bisa mendengar kalau ada orang yang mengetuk pintu rumahnya itu." Siapakah yang datang di tengah malam kayaknya gini." Batin Wiyah yang merasa takut saat mendengar ketukan pintu itu.
" Apa aku bangunkan kak Idar aja yah." Gumam Wiyah." Tapi kan kak Idar pasti capek." Gumam Wiyah kembali nyang menolak untuk membangunkan kakak nya itu." Tapi kalau ngga di buka jadi penasaran juga siapa yang mengetuk pintu tengah malam kayaknya gini." Gumam Wiyah yang merasa begitu sangat penasaran dengan orang yang sudah berani mengetuk pintunya rumahnya di malam malam seperti ini.
Karena rasa penasaran membuat Wiyah melangkah mendekati pintu tapi karena takut untuk membuka pintu itu membuat Wiyah melangkah ke arah jendela yang dekat dengan pintu. Wiyah mengintip dari cela cela jendela yang tertutup oleh gorden. Wiyah bisa melihat kalau yang mengetuk pintu rumahnya itu adalah seorang pria." Siapa ya, apa mungkin tuan Fazar. Tapi itu tidak mungkin karena tuan Fazar tidak akan kembali kesini setelah meninggalkan ku tadi." Ucap Wiyah yang menolak pikirannya kalau yang datang itu adalah Suaminya. Karena setahu Wiyah suaminya itu tidak akan kembali kerumahnya karena pernikahan mereka hanya untuk mengabulkan permintaan dari Fadil. Setelah Fadil sembuh dan kembali di kota ini mereka juga akan berpisah, itu pikir Wiyah.
Wiyah masih terdiam di depan jendela sambil melihat ke orang yang tadi mengetuk pintu rumahnya.
__ADS_1
Sedangkan di luar rumah Fazar begitu sangat kesal karena tidak ada yang membukakannya pintu, Sampai membuatnya ingin langsung kembali kerumahnya saja." Lebih baik aku kembali ke rumahku saja karena mungkin orang rumah ini tidak ada yang akan membukakan ku pintu." Ucap Fazar." Kalau aku tahu seperti ini mending aku tidak usah datang ke rumah ini. Kalau saja aku tidak ingin menghargai keluarga dari wanita itu." Gumam Fazar yang sudah begitu sangat geram dengan keluarga Wiyah, termasuk dengan istrinya itu.
Sudah mau kembali ke rumah itu hanya untuk menghargai iparnya agar tidak prasangka buruk padanya. Tapi setelah Fazar kembali malahan tidak ada yang menyambutnya atau membukakan nya pintu sama sekali.
Tapi yang Fazar tidak sadari sama sekali kalau sekarang itu sudah jam dua belas malam yang tentunya orang akan tidur bukan menunggu kedatangannya.
Fazar melihat ke arah Beberapa bodyguard yang dari tadi memperhatikan semua apa yang dirinya lakukan tanpa turun tangan sama sekali untuk membantunya karena Fazar sendiri yang memintanya untuk tidak ikut campur dengan apa yang dia lakukan.
" Apakah kita akan kembali tuan." Tanya bodyguard itu menatap tuannya itu
Fazar menjawabnya dengan mengangguk kecil Tanpa menjawab pertanyaan dari Bodyguard itu. Tanda kalau Fazar setuju Untuk pergi.
Tapi sebelum Fazar benar benar melangkah pergi dari teras rumah itu, entah bagaimana Fazar kembali mengambil Ponselnya lalu menekan nomor ponsel yang tadi sempat dia hubungi sampai suara panggilan itu berdering kembali tapi tetap sama yaitu tidak di angkat.
Karena tidak ada yang mengangkat telponnya membuat Fazar benar benar melangkah pergi meninggalkan rumah iparnya itu.
" Tunggu besok wanita m**ahan, aku akan memberikan mu sebuah pelajaran." Geram Fazar yang begitu sangat marah kepada Wiyah, Karena wanita itu membuat Waktu istirahatnya Fazar harus terbuang hanya karena ingin menghargai keluarga dari Wanita yang tidak lain adalah istrinya itu membuatnya harus datang ke rumah Istrinya itu di tengah malam seperti ini, yang membuatnya melupakan istirahatnya hanya karena ingin menghargai Haidar. Tapi sayang mereka tidak ada yang menyadari kedatanganya ataupun mendengar ketukan pintu darinya.
Tapi yang Wiyah tidak tahu kalau yang datang itu benar benar suaminya. Suaminya itu datang kembali hanya karena menghargai keluarganya karena Fazar tidak mau di anggap pria tidak pertanggung jawaban karena meninggalnya istrinya di malam pertama mereka.
Sedangkan Fazar meninggalkan kediaman Keluarga dari Wiyah. Pergi di tengah malam seperti suami yang habis diusir oleh istrinya .
💮💮💮💮💮
Sedangkan di sisi lain, Tempatnya di kota J.
Malam yang sama hanya saja waktu yang berbeda setengah jam dari kota J Dan juga S.
Rumah sakit yang terbesar di kota itu. Tepatnya di rumah sakit xxxx. Seorang wanita paruh baya dan juga pria muda yang dari tadi duduk dengan gelisah nya sambil melihat ke satu ruangan yang terdapat seseorang yang sedang berjuang di sana melawan penyakitnya agar dirinya masih bisa merasakan kehidupan. Walaupun orang itu merasa kalau dirinya tidak akan sanggup lagi, tapi karena kasih sayang dari keluarganya membuat nya harus kuat melawan penyakitnya itu.
" Ya Allah, kuatkan putra hamba untuk melawan penyakitnya. Penyakit yang selalu membuatnya kuat agar Fazar tatap berjuang melawan penyakitnya yang selama ini dia derita, penyakit yang selalu membuat dirinya selalu tahu apa apa itu rasa bersyukur." Batin Wanita paruh baya yang tidak lain yaitu Sisi. Wanita paruh baya itu terus berdoa dalam hatinya agar putranya itu tetap kuat melawan penyakit yang Fadil derita.
Wanita paruh baya itu begitu sangat sedih melihat kondisi putranya yang semakin hari semakin memburuk saja, Apalagi mereka tidak menemukan sumsum tulang yang cocok untuk Fadil, Padahal hampir keseluruhan kota sudah mereka cari, tapi sayang sumsum tulang tidak mereka temukan.
__ADS_1
Sedangkan seorang pria muda yang sama khawatirnya dengan wanita paruh baya itu. Pria yang tidak lain yaitu Rido bukan saja kwartir dengan keadaan Fadil melainkan keadaan Bunda Sisi. Fadil hanya takut kalau bunda Sisi akan kembali ngedrop karena mengetahui bagaimana dengan keadaan dari Putranya itu.
Rido melihat ke arah samping yang terdapat bunda Sisi yang sedang melihat ke arah depan, melihat ke ruangan Fadil yang sekarang sedang di periksa oleh dokter." Bunda, lebih baik bunda istirahat dulu, karena bunda pasti capek habis dari Bandara langsung ke rumah sakit." Ucap Rido menatap ke arah bunda Sisi yang terus menatap ke arah ruangan Fadil yang sekarang masih di periksa oleh dokter.
Sedangkan bunda Sisi yang mendengar ucapan dari Rido mengalihkan pandangannya dari ruangan itu ke arah Rido
" Tidak Rido, bunda tidak capek walaupun bunda baru saja melakukan penerbangan. Karena yang sekarang bunda pikirkan adalah kondisi Fadil yang tiba-tiba saja drop karena melakukan penerbangan." Tolak Bunda Sisi yang menolak ajakan dari Rido.
" Tapi bunda, bunda pasti capek habis melakukan perjalanan jauh setelah itu bunda langsung ke rumah sakit." Ucap Rido kembali yang sedang berusaha untuk membujuk Bunda Sisi agar mau mengikuti ucapan nya, agar bunda Sisi bisa beristirahat.
Mendengar Ucapan dari Rido membuat Bunda Sisi menggeleng." Tidak nak, bunda tidak bisa meninggalkan Fadil sebelum bunda mendengar penjelasan dari dokter." Jelas Bunda Sisi yang masih menolak permintaan dari Rido.
Karena sekarang bunda Sisi begitu sangat menghawatirkan kondisi Fadil, Karena di saat jet pribadi nya sedang mendarat Fadil tiba tiba saja pingsan dan hal itu membuat Bunda Sisi begitu sangat kwartir.
Rido yang mendengar jawaban dari Bunda Sisi hanya bisa menghela nafasnya pasrah." Baiklah bunda, jika itu yang bunda inginkan. Tapi bunda harus ingat dengan kesehatan bunda sendiri." Ucap Rido yang pasrah saja mendengar apa yang Bunda Sisi inginkan.
Mendengar ucapan Dari Rido membuat Bunda Sisi hanya mengangguk mengerti.
" Fadil kamu harus kuat karena disini masih banyak yang menyayangimu dan mereka masih ingin kamu menemani mereka. Apakah kamu tidak sedih melihat bunda yang terus bersedih hanya
karena melihatmu tidak mau berjuang." Batin Rido yang terus menatap bunda Sisi karena merasa begitu sangat kasihan dengan bunda Sisi yang begitu sangat menghawatirkan kondisi dari Fadil.
🌿🌿🌿🌿🌿
Di kota lain.
Fazar yang baru saja sampai di dalam kamarnya langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur karena tubuhnya begitu sangat lelah saat melakukan perjalanan jauh.
Apalagi Saat tadi Fazar membuang waktunya hanya untuk ke rumah sang istri, tapi sayang sang pemilik rumah tidak membukakan nya pintu walaupun Dirinya sudah mengetuk atupun menelfon nomor istrinya itu.
Fazar menatap ke arah Langit langit kamarnya. Fazar begitu sangat geram dengan gadis itu karena gadis itu telah berani mematikan sambungan telepon darinya dan Fazar yakin kalau gadis itu pasti belum tidur karena panggilan telfonnya saja dia matikan.
" Tunggu aku wanita mur**an aku akan membalasnya." Garam Fazar yang terus menatap langit langit kamarnya.
__ADS_1