Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Bab 148


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta.


Wiyah menunggu hasil testpack dengan perasaan gelisah, karena takut dengan hasilnya nanti.


Samar-samar terlihat garis satu, setelah itu muncullah garis dua, yang menandakan kalau Wiyah benar-benar sedang mengandung.


Wiyah yang melihat kalau hampir ketiga testpack itu memiliki garis dua, langsung menutup mulutnya, Karena merasa terharu.


Wiyah tidak menyangka kalau filing nya memang benar, karena sekarang ada janin dalam rahimnya yang sedang bertumbuh dan harus dia jaga dengan sepenuh hati, karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu.


" Selamat datang sayang. Ummi senang, karena kamu benar-benar hadir disini dan bukan hanya sekedar filing ummi saja sebagai seorang wanita yang sedang mengandung." Gumam Wiyah terharu saat melihat hasil testpack yang menandakan kalau ia benar-benar positif hamil. Wiyah mengusap lembut perutnya yang masih rata." Maaf ummi, masih ingin menyembunyikan kehadiran mu sayang dari abi, karena ummi ingin memberikan kejutan untuk abimu. Soalnya besok abi akan berulang tahun yang ke dua puluh sembilan tahun. Makanya Ummi ingin memberikannya kejutan di hari lahirnya dengan memberikan kabar bahagia, karena kehadiran mu disini." Ucap Wiyah kembali yang sedang bercerita dengan janin di rahimnya.


Saat sedang merasa bahagia dengan kabar kehamilannya yang baru beberapa menit yang lalu ia ketahui kalau ia benar-benar sedang mengandung. Suara pintu yang di ketok, membuat Wiyah melihat kearah pintu.


" Sayang, apakah kamu didalam." Tanya Fazar panik saat ia menyadari kalau Wiyah sudah tidak di atas kasur. Karena takut terjadi sesuatu pada istrinya, apalagi melihat kamar mandi yang ditutup membuat Fazar semakin bertambah khawatir.


Ia merasa tidak becus sebagai suami, karena tidur sampai tidak menyadari kalau istrinya sudah tidak berada di sampingnya, apalagi Fazar mengingat kondisi Wiyah yang sedang tidak baik-baik saja beberapa hari ini membuat kekhawatiran Fazar semakin bertambah.


Wiyah yang mendengar suara suaminya, dengan cepat menyembunyikan ketiga testpack itu ketempat yang aman, setelah itu ia membuka pintu kamar, dan bisa melihat kalau suaminya berdiri di depan pintu dengan wajah khawatir nya.


" Sayang baik-baik saja." Tanya Fazar khawatir.


" Iya kak, aku baik-baik saja."


" Apakah pagi ini sayang merasakan mual seperti kemarin."


" Alhamdulillah sudah tidak lagi kak." Jawab Wiyah berbohong." Maafkan ummi sayang, karena harus berbohong. Itu semua ummi lakukan untuk memberikan kejutan untuk abimu." Batin Wiyah merasa bersalah karena membohongi suaminya itu.


" Alhamdulillah, kakak senang dengarnya. Tapi hari ini kita akan tetap pergi kerumah sakit untuk mengecek kondisimu yang selama tiga hari ini sering mual-mual dan muntah disaat pagi hari."


" Ngga usah kak, kita ngga usah kerumah sakit. Karena pagi ini Alhamdulillah aku baik-baik saja kak. Mungkin tiga hari ini aku hanya masuk angin, sampai muntah-muntah setiap bagi seperti kemarin." Jelas Wiyah yang tidak ingin kerumah sakit duluan, karena takut kalau rencananya itu akan gagal jika ia pergi kerumah sakit dan dokter akan mengatakan kalau ia ternyata sedang mengandung, dan rencananya Wiyah ingin memberikan kejutan untuk suaminya malah gagal.


" Tapi wajah sayang terlihat pucat sekarang, makanya kakak ingin mengecek kesehatanmu di dokter. Kakak takut kalau ada penyakit yang menggangu kesehatan sayang."


" Ngga apa-apa kak, aku sehat koh, mungkin aku terlalu kecapean sampai membuat wajah ku pucat seperti ini." Jelas Wiyah yang tidak ingin suaminya itu khawatir dengan kondisinya." Insyaallah aku baik-baik aja kak, kakak ngga perlu khawatir."


Mendengar ucapan sang istri membuat Fazar bisa bernafas lega, kalau istrinya itu mulai membaik." Baiklah kakak senang dengarnya kalau sekarang sayang baik-baik saja. Tapi kalau sayang kurang sehat, sayang bisa ngomong sama Kakak. Ngerti."


" Siap kak, insyaallah aku akan dengar pesan kakak." Jawab Wiyah sambil mengangkat tangannya seperti orang yang sedang hormat.


" Pinter, kakak senang dengarnya." Jawab Fazar lalu mengelus kepala Wiyah dengan lembut.

__ADS_1


.


.


Setelah sarapan pagi, Fazar mengantarkan istrinya ke kampus, karena kebetulan pagi ini Wiyah memiliki jadwal masuk pagi.


Wiyah melihat kearah suaminya yang sedang fokus menyetir. Wiyah ingin meminta ijin ke Fazar.


Karena selesai kuliah, Wiyah ingin singgah berbelanja terlebih dahulu


" Hari ini Kakak ngga usah jemput, soalnya aku mau pulang bareng Fina, boleh"


" Boleh sayang. Tapi kalau sudah sampai di rumah langsung kabari kakak."


" Siap kak, nanti aku kabari kalau sudah sampai di rumah. Makasih kak." Wiyah tersenyum mendengar jawaban suaminya itu.


" Tapi ngga geratis sayang." Ucap Fazar.


" Emangnya aku harus bayar pakai apa." Tanya Wiyah yang pura-pura nggak tahu, padahal ia tahu apa bayaran yang harus dia berikan.


Fazar menunjuk bibir nya." Bayaran nya itu adalah ciuman mu, biar kakak semangat buat kerjanya, Karena hampir satu hari kita tidak bertemu."


" Hih, kakak lebay."


Mendengar jawaban dari Fazar membuat Wiyah menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah suaminya itu, karena suaminya itu ternyata memang bucin. Pantas Fazri sering sekali menyebut bucin didepan Fazar.


" Memang benar kata Fazri kalau kakak itu bucin."


" Ngga apa-apa sayang, bucin sama istri sendiri juga, dapat pahala lagi, apalagi selalu membahagiakan nya." Jawab Fazar tersenyum." Tapi kalau istri menolak suaminya..."


" Iya kak, aku tahu, pasti berdosa kan. Nanti kalau sudah didepan kampus, aku kasihkan kis deh." Jawab Wiyah yang tahu apa yang akan suaminya itu katakan.


" Pinter benget, istrinya kakak. Tahu aja apa yang jawabannya."


" Orang udah tiap hari aku dengar ancaman yang sama kak, dan berujung ke hal yang lain." Batin Wiyah.


Tidak berselang lama mobil Fazar terparkir didepan kampus.


" Mana kis nya, sesuai janji tadi." Tagih Fazar menatap istrinya itu sambil tersenyum jahil.


Mendengar tagihan suaminya, membuat Wiyah menghebuskan nafasnya. Wiyah pikir Fazar akan lupa dengan janjinya tadi, tapi sepertinya dugaannya salah. Karena Fazar malah menagihnya.

__ADS_1


Wiyah mendekatkan wajahnya ke pipi Fazar, lalu mencium nya.


" Kenapa di pipi sayang, aku maunya di sini."


" Nanti aja kak, kalau sudah sampai di rumah. Tapi kalau disini takut dilihat orang." Tolak Wiyah.


" Ngga apa-apa sayang, aman aja, Ngga ada yang akan lihat, soalnya kita didalam mobil."


" Tapi kalau ada yang datang terus mengetuk pintu mobil dan mereka bisa saja kan melihat apa yang sedang kita lakukan didalam mobil."


" Tidak akan terlihat sayang, karena mobil ini memiliki kaca yang gelap kalau dilihat dari luar tidak akan terlihat apa yang kita lakukan didalam mobil." Jelas Fazar." Kalaupun kita melakukan lebih, orang-orang tidak akan melihatnya, ataupun mengetahuinya."


" Dasar kakak mesum, pikiran nya pasti selalu kesana."


" Tapi kamu juga suka ya kan"


Mendengar jawaban dari Fazar membuat pipi Wiyah seketika merona." Ngga usah di bahas, aku mau turun aja." Saat Wiyah ingin membuka pintu mobil nya. Fazar menarik tangannya dengan lembut. Lalu.


Suara klakson dari mobil lain, membuat Fazar menghentikan apa yang sedang ia lakukan.


" Kakak Fazar mesum." Pekik Wiyah kesal saat berhasil terlepas dari suaminya itu, karena tiba-tiba saja mencium nya.


Sedangkan Fazar hanya terkekeh, melihat wajah kesal dari istrinya." Sudah lunas sayang, tinggal nanti malam lagi. Tapi kalau mau di lanjutkan lagi ngga apa-apa, biar kakak tambahin."


" Ngga usah, aku mau turun pasti mobil di belakang sudah menunggu dari tadi, tapi mobil kakak ngga bergeser sama sekali." Ucap Wiyah." Aku pergi kuliah kak." Sebelum Wiyah turun dari mobil, Wiyah meraih tangan suaminya terlebih dahulu lalu mencium nya.


" Hati-hati sayang, semangat kuliahnya." Jawab Fazar mencium ubun-ubun istrinya bergantian kening.


" Iya kakak juga, semangat kerjanya."


Setelah itu Wiyah turun dari mobil." Hati-hati dijalan ya." Wiyah melambaikan tangan yang di balas langsung oleh Fazar.


Wiyah melangkah masuk kedalam kampus, dan bisa melihat kalau para mahasiswa sedang menatapnya. Karena mereka melihat Wiyah yang turun dari mobil Fazar.


" Kelihatannya aja alim, tapi pergi nya bareng om-om." Bisik para mahasiswa.


Wiyah yang mendengar bisikan para mahasiswa, hanya bisa mengabaikannya saja. Karena selama Wiyah kembali ke kota S dan masuk kuliah, orang-orang selalu menatap nya seperti ini dan kadang membicarakannya yang tidak benar.


Karena selama dia kembali masuk kuliah, Wiyah selalu di antar bahkan di jemput oleh suaminya. Orang-orang juga belum mengetahui kalau ia sudah menikah, makanya mereka dengan terang-terangan membicarakan nya.


Dan Fazar sendiri belum tahu, karena Wiyah tidak bercerita dan memilih untuk diam. Sebenarnya Wiyah ingin memberitahukan kepada Fazar, tapi dia tidak ingin menyusahkan suaminya itu, dan membuat Wiyah memilih untuk diam.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2