
Setelah dari rumah sakit Fazri dan Abidzar langsung kembali kerumah utama untuk bertemu dengan bunda Sisi dan tuan Aslan
Bunda Sisi yang melihat tangan Fazri yang di perban, langsung panik dan khawatir. Sampai mereka berdua diberondong dengan banyak pertanyaan, kenapa tangan Fazri bisa seperti itu.
Fazri dan Abidzar menjelaskan, kalau Fazri hanya jatuh tadi, yang membuat lengannya keseleo.
mereka berdua sengaja menyembunyikan cerita aslinya, karena tidak ingin bunda Sisi semakin khawatir kepada mereka.
Sedangkan tuan Aslan yang memang tau apa yang terjadi kepada Fazri, hanya diam. Pura-pura tidak tau apa-apa.
Padahal orang suruhannya yang selalu mengawasi anaknya itu. Sudah menceritakan perihal kejadian tadi.
" Kenapa ngga jalan-jalan hati-hati sih Zri, tuh kan sampai keseleo, untungnya ngga patah." Omel bunda Sisi, menatap anaknya itu penuh dengan kekhawatiran
" Iya Bun, Maaf. Nanti Fazri jalannya lebih berhati-hati lagi."
Untung saja Wiyah tidak berada di rumah utama. Karena beberapa hari ini Wiyah nginap di rumah Haidar, karena disana masih ada ayahnya. Jika tidak, mungkin Wiyah akan khawatirnya seperti bunda Sisi.
Setelah mengantarkan Fazri kerumah utama. Abidzar harus kembali keluar lagi untuk mengantarkan pesanan dari Wiyah. Karena Fazri tidak bisa melakukannya, mengingat tangan nya sedang tidak baik-baik saja.
Padahal pemuda berusia enam belas itu merengek untuk ikut. Tapi Abidzar bersih keras agar Fazri tidak ikut. Karena akan menyusahkan nya saja.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Adzan Isah berkumandang, memanggil umatnya untuk melakukan kewajiban mereka.
Satu persatu kaum pria keluar dari rumah mereka untuk pergi ke mesjid, karena mereka akan melakukan sholat berjamaah di mesjid terdekat.
Malam yang gelap di penuhi oleh ribuan bintang tidak membuat mereka malas untuk pergi, karena mereka mengingat kalau ini adalah kewajiban mereka sebagai muslim untuk mengerjakannya.
Sama halnya dengan Haidar dan Jambri. Kedua pria itu sholat berjamaah di mesjid terdekat.
Agar keduanya pria itu ingin lebih dekat lagi seperti dulu, karena selama empat tahun mereka tidak bertemu lagi bahkan putus komunikasi.
.
.
" Paman, apakah paman baik-baik saja." Tanya Haidar disela-sela langkahnya.
" Iya paman baik-baik saja Haidar. Kenapa kamu bertanya seperti itu, kepada paman."
" Tidak apa-apa paman. Aku hanya khawatir saat melihat tubuh paman yang terlihat kurus dari berapa bulan yang lalu, bahkan wajah paman juga terlihat begitu sangat pucat." Jelas Haidar." Apa paman sedang sakit."
Jambri tersenyum menatap keponakannya itu." Paman baik-baik saja Haidar, mungkin hanya perasaan mu saja, yang mengira kalau paman sedang sakit. Paman hanya kelelahan dan beberapa hari lagi tubuh paman akan kembali vit." Jawab Jambri tersenyum.
" Alhamdulillah, aku jadi lega dengarnya paman. Maaf tadi aku menanyakan hal itu kepada paman."
" Tidak apa-apa, paman tau kalau kamu pasti khawatir dengan paman."
Tapi sebelum mereka sampai kerumah, Jambri menghentikan langkahnya. yang membuat Haidar juga melakukan hal yang sama.
" Ada apa paman, kenapa berhenti."
" Paman hanya ingin mengatakan sesuatu sama kamu." Jawab Jambri menatap serius kearah Haidar.
" Paman ingin mengatakan apa."
" Jika terjadi sesuatu kepada paman, paman minta tolong sama kamu untuk mencari keberadaan keempat anak paman yang sampai sekarang tidak ada kabarnya. Paman minta tolong untuk menjaga mereka, seperti kamu menjaga dan menyayangi Wiyah dulu. Paman percaya sama kamu Haidar."
__ADS_1
" Jangan berkata seperti itu paman, karena tidak akan terjadi sesuatu sama paman. insya allah, aku akan mencari keberadaan mereka, menjaga dan menyayangi mereka. Tapi paman tidak boleh berkata seperti itu." Lirih Haidar, yang merasa takut terjadi sesuatu kepada pamannya itu.
" Paman berkata seperti tadi. Karena kita tidak tau kapan ajal kita akan datang Haidar, makanya paman berkata seperti itu."
Sedangkan Haidar hanya membenarkan ucapan paman itu, yang memang benar. Tapi Haidar tidak suka Jambri berkata seperti tadi.
Dalam pikirannya, Haidar berpikir kalau pamannya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Di tempat lain.
Fazar sudah sampai di kota S. bergegas untuk pulang. Tapi bukan di pulang ke rumah utama melainkan kerumah Haidar. Karena istrinya sedang menginap di rumah kakak iparnya selama beberapa hari ini, Karena sedang ada mertuanya disana.
Fazar juga sudah mengabari keluarga nya kalau dia akan singgah di rumah Haidar, agar mereka tidak khawatir dengannya.
" Pak, kita singgah di tokoh emas sebentar. Aku ingin membelikan sesuatu untuk istriku."
" Baik tuan." Supir itu membelokan mobilnya mengarah ke toko emas yang kebetulan berada di jalan yang sama seperti mereka lewati.
Setelah sampai di tempat yang Fazar minta tadi. Fazar turun dari mobilnya bergegas masuk kedalam tokoh emas. Sedangkan Zain menunggu di mobil.
Didalam, Fazar disambut ramah oleh penjual karyawan itu.
" Mau beli apa tuan." Tanya karyawan wanita itu sambil tersenyum malu-malu, karena karyawan wanita itu mengagumi ketampanan pria didepannya sekarang.
" Hmm, saya mau cari kalung yang cantik dan keluaran model terbaru." Jawab Fazar dengan ekspresi datar, karena tidak menyukai tatapan wanita didepannya.
" Tunggu sebentar tuan, biar saya ambilkan dulu." Karyawan itu melangkah meninggalkan Fazar sebentar untuk mengambil barang yang di minta oleh Fazar tadi.
" Silahkan di lihat dulu tuan. Ini kalung model terbaru."
Sampai pandangannya tertuju, pada satu kalung yang terlihat cantik. Kalung yang memiliki liontin bunga sakura, sedangkan rantainya terlihat mungil. Di tengah tengah kalung itu terdapat berlian berwarna merah, yang menambah kesan mewah dalam kalung tersebut.
Fazar tersenyum kecil saat melihat kalung itu, karena Fazar teringat akan kenangan mereka di Jepang.
" Aku ambil yang ini. Dan bungkus secantik mungkin" Ucap Fazar menunjuk kalung yang terdapat liontin bunga sakura.
Karyawan itu mengangguk. Lalu mengambil kalung itu untuk dibungkus sesuai permintaan Fazar. Setelah membungkus nya karyawan itu langsung memberikan paper bag yang berisi kalung.
" Semoga kekasih anda suka dengan kalung nya tuan." Ucap karyawan itu.
Sedangkan Fazar hanya diam tak menanggapi ucapan dari karyawan itu.
Karyawan yang melihat wajah cuek Fazar yang tidak menanggapi ucapannya, membuat dia langsung merasa kecewa.
" Siapa sih, gadis yang berhasil meluluhkan pria dingin dan cuek seperti dia." Batin karyawan itu penasaran.
Setelah melakukan pembayaran, pada kalung yang berharga fantastis. Yang entah harga nya berapa. Fazar langsung keluar dari tokoh itu dan masuk kedalam mobilnya.
" Sudah tuan."
" Sudah Zain."
" Apakah kita langsung pulang atau singgah dulu ke suatu tempat, tuan"
" Kita singgah dulu di toko bunga dulu. Karena Aku ingin membelikannya bunga."
Sedangkan Zain hanya mengangguk mengerti. Lalu supir itu kembali menjalankan mobilnya ke tokoh bunga sesuai permintaan dari Fazar.
__ADS_1
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Fazar tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya, yang paling Fazar rindukan selama beberapa hari. Sampai-sampai dari tadi wajahnya berseri-seri karena tersenyum terus.
Sedangkan Zain, pria itu sudah kembali kerumahnya. Karena Fazar tau Zain pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh.
Dengan perasaan tidak sabaran, Fazar menekan tombol di samping pintu.
Tidak membutuhkan waktu lama, pintu itu terbuka dan seorang wanita, yang tidak lain adalah Windi.
Windi terkejut saat melihat kehadiran Fazar, karena pria itu datang tanpa mengabari mereka dulu.
" Fazar. Kapan kamu datangnya."
" Baru aja kak." Jawab Fazar sambil tersenyum." Maaf aku tidak mengabari kalian kalau aku datang kerumah, soalnya aku mau buat kejutan untuk Wiyah." Jelas Fazar.
Ya, Fazar sengaja tidak mengabari Wiyah, karena dia ingin memberikan istrinya itu kejutan. Kalau dia sudah pulang.
Windi yang mendengar penjelasan dari Fazar hanya tersenyum." Tidak apa-apa, pasti Wiyah senang saat melihat suaminya sudah pulang."
Sedangkan Fazar hanya tersenyum malu-malu.
" Ayo masuk, kebetulan istrimu sedang berada didalam kamar. Karena Wiyah sedang sholat."
" Iya kak, terimakasih."
Fazar masuk kedalam rumah Haidar, sedangkan Windi sedang menutup pintu.
" Kak Haidar dimana kak."
" Tadi dia pergi sholat di mesjid terdekat. Mungkin sebentar lagi dia akan pulang."
Fazar hanya mengangguk-anggukkan kepalanya kecil saat mendengar jawaban dari Windi.
Setelah sampai didepan kamar istrinya. Fazar meminta ijin terlebih dahulu kepada Windi, barulah dia masuk kedalam.
Didalam kamar istrinya, Fazar bisa melihat istrinya yang sedang shalat dengan khusyuk.
Fazar menaruh barang bawaannya tadi di atas kasur. Lalu menatap punggung istrinya itu. Ada rasa nyaman didalam hatinya, saat ia menatap istrinya.
Fazar begitu sangat bersyukur, karena dia memiliki istri seperti istrinya, yang selalu membuat hatinya menghangat saat melihat apa saja yang dia lakukan. Istrinya itu selalu melakukan hal yang positif yang membuat orang-orang menyayanginya.
Fazar merasa bersalah, karena dulu dia pernah mengabaikan istrinya itu.
" Aku begitu sangat bahagia karena kamu adalah istri yang terbaik dalam hidupku. Terimakasih ya Allah, telah mengirimkan nya untukku." Gumam Fazar yang masih menatap istrinya itu.
Sedangkan Wiyah yang sudah selesai shalat. Langsung melipat sajadahnya, Wiyah berdiri dari duduknya untuk membuka mukena nya.
Wiyah belum menyadari kalau suaminya itu sudah pulang, karena Wiyah membelakangi tepatnya tidurnya.
Sebelum Wiyah membuka mukenanya. Wiyah berbalik kebelakang untuk mengambil Al-Qur'an nya. Dan betapa terkejutnya Wiyah saat melihat pria yang begitu sangat dia rindukan beberapa hari ini, sedang duduk di kasur sambil menatap kearahnya. Walaupun mereka sering video call. Tapi rasa rindu nya lebih besar.
" Sayang, apa kalian juga merindukan Abi kalian, sampai-sampai ummi melihat nya didalam kamar dan sekarang sedang duduk di kasur sambil menatap kearah ummi." Ucap Wiyah mengusap perutnya. Karena ia mengira kalau sekarang ia sedang berhalusinasi melihat suaminya.
Padahal tadi dia berdoa, agar perkejaan suaminya cepat selesai dan Fazar bisa pulang. Karena Wiyah begitu sangat merindukan suaminya itu.
Bahkan Wiyah begitu sangat rindu akan sentuhan Fazar.
Karena mengira kalau Fazar yang dia lihat hanyalah halusinasi, Wiyah memejamkan matanya. Agar bayangan pria itu bisa pergi. Karena ia begitu sangat tersiksa menahan rasa rindu ini.
__ADS_1
...----------------...