
Kesabaranku membawa cinta
Tidak berselang lama mobil Fazar dan mobil yang dinaiki oleh Fadil, telah sampai dikediaman Fazar.
" Kak kita sudah sampai ya." Tanya Wiyah dengan suara serak khas bangun tidurnya, matanya juga masih terpejam.
" Iya sayang kita sudah sampai. Rencananya tadi kakak mau gendong, tapi sayang sudah duluan bangun." Wiyah membuka matanya lalu menatap kearah Fazar sambil tersenyum manis.
" Jadi harus tidur dulu gitu, baru kakak bisa gendong gitu."
" Ngga sayang, biar sayang ngga tidur juga kakak akan tetap gendong." Jawab Fazar." Sini biar kakak gendong, kalau sayang maunya di gendong." Ucap Fazar sambil mencari posisi untuk mengendong istrinya itu.
" Jangan kak, aku bisa jalan sendiri." Cegah Wiyah saat melihat suaminya itu benar-benar akan mengendongnya, padahal tadi dia hanya menggoda suaminya itu.
" Bukannya tadi sayang maunya di gendong, lalu kenapa sekarang malah ngga mau." Tanya Fazar bingung.
" Hihihi, tadi aku hanya bercanda kak." Jawab Wiyah sambil tersenyum memperlihatkan dataran giginya yang rapi.
" Ohhh, jadi sayang sedang menggoda kakak nih." Tanya Fazar sambil tersenyum jahil menatap istrinya itu." Tunggu nanti sampai didalam kamar sayang, nanti kakak yang gantian godain sayang." Mendengar ucapan suaminya itu membuat Wiyah menelan silvernya, karena dia tau kalau godaan suaminya itu mengarah kemana.
" Jangan kak, tadi kan aku hanya bercanda." Ucap Wiyah dengan wajah memelasnya.
" Yakin hanya bercanda."
" Iya kak, sungguh."
Fazar hanya terkekeh mendengar jawaban istrinya itu apalagi melihat wajah cantik itu berubah menjadi lucu saat memelas seperti ini.
" Iya kakak percaya sayang." Ucap Fazar lalu mencium kening istrinya itu, turun ke permen yupi kesukaannya sangking gemasnya.
" Kak, malu sama sekertaris Zain" Lirih Wiyah terkejut saat suaminya itu menciumnya tanpa rasa malu sama sekali.
" Hihihi maaf sayang, disini aman sayang, karena tidak ada Zain ataupun supir, Karena mereka sudah keluar dari tadi." jawab Fazar sambil terkekeh, karena melihat wajah kesal istrinya itu." Sebaiknya sekarang kita turun, karena Harum pasti sudah menunggumu di mobil sebelahnya." Ucap Fazar mengalihkan pembicaraan, agar istrinya itu tidak cemberut lagi.
" Astaghfirullah, aku sampai melupakan hal itu kak, Untung saja kakak mengingatkanku. Ayo kita turun, pasti Harum sudah menungguku." Ucap Wiyah yang sampai melupakan Harum, karena ulah suaminya itu, Wiyah baru ingat kalau di mobil satunya terdapat Harum yang sedang menunggunya.
__ADS_1
Sedangkan di luar mobil, sekertaris Zain hanya diam menunggu sampai dia mendapatkan perintah dari tuannya, untuk membukakan pintu mobil itu.
" Memang tuan Fazar, selalu saja membuatku iri karena ulahnya yang selalu menunjukkan kemesraannya." Gumam Zain sambil menghembuskan nafasnya." Sebaiknya aku harus mencari wanita, untuk bisa menjadi istriku nanti, daripada aku menjomblo seperti ini."
Sedangkan di mobil satunya.
Kini Fina sedang berusaha untuk membujuk gadis kecil itu, yang tidak mau turun dari mobil, karena merasa takut saat melihat rumah didepannya.
" Rum, ini rumah kak Wiyah dan juga suaminya, jadi Harum ngga perlu takut kalau masuk kedalam." Ucap Fina lembut untuk membujuk Harum.
" Tapi kak, aku takut kalau didalam rumah itu ada orang-orang yang ingin menangkap Harum" Lirih Harum dengan mata yang sudah berkaca-kaca." Dan mereka pasti akan membawa Harum setelah berhasil menemukan harum kembali."
" Harum, disini Harum akan aman. Karena suaminya kak Wiyah tidak akan membiarkan Harum ditangkap oleh mereka lagi." Ucap Fina." Sekarang Harum tutup mata, nanti kita keluar sama kak Fina."
" Ngga mau kak, Harum ngga mau keluar." Tolak Harum kembali yang kini hampir menangis.
Fina yang melihat kalau Harum terus menolaknya, hanya bisa menghembuskan nafasnya, karena dia sendiri bingung apa yang harus dia lakukan untuk membujuk gadis kecil disampingnya.
" Apa yang harus aku lakukan, agar gadis kecil ini mau keluar dari mobil." Batin Fina yang terus berpikir agar Harum mau menerima bujukannya.
Saat Fina akan membukakan pintu mobil untuk Wiyah, Harum langsung mencegahnya." Jangan kak Fin, itu pasti orang-orang jahat yang mau menangkap Harum." Cegah Harum.
" Harum yang ingin masuk kedalam bukan orang jahat, melainkan kak Wiyah yang ingin menemui Harum disini."
" Benarkah itu kak Wiyah." Tanya Harum memastikan, karena gadis kecil itu belum mempercayai orang-orang sekitarnya.
" Iya Rum itu kak Wiyah, makanya kak Fina mau buka pintu mobil, agar kak Wiyah bisa masuk kedalam." Jawab Fina." Jadi bolehkah kak Fina buka pintu mobil ini Harum, agar kak Wiyah bisa masuk." Terlihat kalau Harum sedang berpikir. Sampai tidak berselang lama Harum mengangguk setuju.
" Iya kak Fina, kak Fina boleh membukakan pintu untuk kak Wiyah bisa masuk." Jawab Harum membuat Fina tersenyum.
" Terimakasih Rum, kalau gitu kak Fina buka pintunya dulu." Fina membuka pintu mobil itu, setelah pintu mobil terbuka Fina dan Harum bisa melihat kalau Wiyah sedang berdiri didepan pintu mobil sambil tersenyum.
" Harum." Harum langsung mendekati Wiyah lalu memeluknya, saat melihat Wiyah disana." Kenapa Harum mau nangis." Tanya Wiyah menatap mata Harum yang sudah menetaskan air matanya.
" Harum kira kak Wiyah akan pergi meninggalkan Harum lagi, dan Harum juga akan kembali di bawah pergi oleh nyonya Nadila."
__ADS_1
Wiyah merasa sedih mendengar jawaban gadis kecil depannya itu." Itu tidak akan terjadi Harum, karena disini ada kak Wiyah, yang akan selalu menemani Harum dan menjaga Harum." Jawab Wiyah." Kak Wiyah tidak akan pernah meninggalkan Harum, karena kak Wiyah sudah berjanji kepada mama."
Ya janji yang tidak akan pernah lupakan, walaupun nanti Harum sudah dewasa dan mungkin sudah memiliki keluarga lainnya.
" Lalu kenapa kita ada disini kak Wiyah. Tadi katanya kak Fina, ini rumahnya suaminya kak Wiyah."
" Iya Rum, ini rumah suaminya kak Wiyah, dan Harum akan tinggal disini bersama dengan kak Wiyah."
" Benarkah itu kak. Apa Harum tidak merepotkan kakak."
" Iya Rum ini rumahnya kak Wiyah, dan Harum tidak akan pernah merepotkan kak Wiyah, karena Harum bagian dari keluarga ini." Jawab Wiyah." Harum mau masuk kedalam ngga, soalnya didalam ada kejutan untuk Harum." Ucap Wiyah mengalihkan pembicaraan agar gadis kecil itu tidak takut dengan rumah didepannya.
" Emangnya ada kejutan apa untuk Harum kak." Tanya gadis kecil itu yang mulai penasaran. Sepertinya ketakutannya tadi mulai menghilang saat mendengar kata kejutan
" Ada, Harum mau nggak."
" Hmm Harum, mau kak."
" Kalau gitu, Harum turun dulu, biar kita bisa masuk kedalam untuk melihat kejutannya. Apa Harum mau." Gadis kecil itu terlihat ragu-ragu, tapi lama terdiam akhirnya dia mengganggukan kepalanya setuju.
" Alhamdulillah." Fina mengucapakan hamdalah saat melihat jawaban dari gadis kecil itu, yang setuju mau masuk kedalam rumah Wiyah.
Padahal tadi Fina sudah mencoba membujuk gadis itu, tapi tidak mau. Tapi anehnya saat bersama dengan Wiyah, Harum malah setuju.
" Sungguh Wiyah, kamu adalah pawangnya anak-anak." Batin Fina sambil tersenyum-senyum sendiri.
.
.
Fina dan Wiyah membantu Harum untuk masuk kedalam rumah Fazar, karena Harum terlihat ketakutan saat menginjak tangga rumah Fazar.
" Assalamualaikum." Salam Wiyah, Fina, dan Harum, sambil masuk kedalam karena pintu itu sudah terbuka.
" Surprise, selamat datang kembali Harum di kota S."
__ADS_1
...----------------...