Kesabaran Ku Membawa Cinta

Kesabaran Ku Membawa Cinta
Ekstra part 23


__ADS_3

Kesabaranku membawa cinta.


Setelah memastikan kedua anaknya sudah siap, kini giliran Fazar memastikan anak ketiga dan anak keempat nya yang berada di kamar lain.


Fazar sengaja memisahkan kamar anak ketiganya, karena Faeyza tidak suka keributan yang dibuat oleh kedua saudaranya. Sedangkan Falisha, dia seorang anak perempuan, Jadi memerlukan kamar sendiri, agar tidak bergabung dengan kamar ketiga saudara laki-lakinya.


Fazar juga sudah membeli rumah yang cukup besar, tiga tahun yang lalu, dan memutuskan untuk pindah, karena melihat anak-anaknya semakin hari semakin tubuh dewasa. Mungkin saja rumahnya yang lama tidak akan cukup untuk mereka. Apalagi anak-anaknya pasti akan meminta kamar sendiri-sendiri setelah mereka tumbuh remaja nanti.


Untuk rumah yang lama, Fazar sudah memberikannya kepada Haidar. Karena menurut Fazar, rumah itu sangat pas untuk keluarga Haidar, yang selama ini berperan penting untuk istrinya.


Tok


Tok


Fazar mengetuk kamar anak ketiganya sebelum masuk kedalam. Karena Fazar mengajarkan anak-anaknya untuk berlaku sopan, dengan meminta ijin terlebih dahulu sebelum memasuki kamar orang lain.


Tidak berapa lama, pintu dibuka dan menampilkan seorang anak laki-laki yang terlihat rapi dengan kemeja berwarna coklat. Wajah yang sama persis seperti Fauzan dan Fazran itu, terlihat tidak tersenyum sama sekali seperti kedua kakaknya.


"Kakak sudah siap?"


"Sedikit lagi, Abi."


Jawaban yang Faeyza berikan, membuat Fazar tersenyum. Faeyza sangat dingin sepertinya, bahkan anak ketiganya itu jarang sekali tersenyum. Bukan saja tersenyum, tapi membuat ulah seperti kedua saudaranya sangat jarang, atau lebih tepatnya tidak pernah. Faeyza lebih santai dengan sikap tenangnya dan tidak terlalu banyak bicara seperti kedua saudaranya.


Walaupun usianya masih terbilang belia, tapi Faeyza memiliki pemikiran dan perilaku yang dewasa."Apa Abi membutuhkan sesuatu?"


"Tidak, Abi hanya ingin memastikan kalau anak Abi yang satu ini sudah bersiap-siap atau belum. Karena tadi Abang dan kak Fazran belum siap didalam kamarnya." Faeyza hanya menganggukkan kepalanya mengerti dengan jawaban Abi nya itu."Kalau gitu, Abi tinggal dulu. Soalnya Abi ingin mengecek apakah adikmu sudah siap-siap atau belum. Nanti kalau Faeyza sudah selesai, langsung kebawah ya."


"Baik Abi."


Setelah memastikan anak ketiga sudah siap, kini Fazar beralih kearah pintu satunya, yang bersebelahan dengan kamar Faeyza dan juga kamarnya. Fazar menatap pintu berwarna pink itu, lalu mengetuknya sama seperti tadi dia lakukan di kamar Faeyza.


"Macut caja, Abi. Pintu na tidat tunci." Jawab disembarang sana.


Mendengar jawaban dari dalam, perlahan-lahan Fazar membuka pintu kamar itu dan masuk kedalam. Fazar menatap kamar dengan nuansa pink dan juga memiliki banyak boneka. Bukan hanya satu, tapi kamar itu memiliki banyak boneka yang berjejer rapi di dalam lemari kaca, bahkan di setiap sudut, kamar dan kasur terdapat beraneka ragam boneka.




( Kamar Falisha)


Entahlah Fazar harus menyebutnya kamar atau toko boneka, karena lakukan putri nya itu yang suka sekali mengoleksi boneka.

__ADS_1


"Apa Falisha sudah selesai, sayang?" Tanya Fazar mendekati putri kecilnya itu.


"Belum, Abi. Daunna canat culit ade patet." Jawab Falisha dengan wajah cemberutnya, dan juga lupa bibir yang sudah manyung."Ade, tidat bica cepelti Aban, tatat Alan, dan tata FA,yan bica patai cendili petayain na." Keluh Falisha sedih.


"Kenapa sedih?" Ucap Fazar sambil mengendong tubuh kecil putrinya."Dengar Abi. Adek bisa belajar dan berusaha lagi, biar seperti Abang, kakak Aran dan kakak Fa. Biar adek bisa pakai bajunya sendiri." Ucap Fazar menasehati."Bagaimana kalau sekarang, Abi bantu Adek pakai gaunnya? karena Adek belum bisa mengenakan nya sendiri?"


"Baitla Abi. Tapi, Ade mau patet cendili nanti talau Ade tidat bica, balu Abi bantu." Tawar Falisha membuat Fazar menganggukkan kepalanya setuju.


Falisha mulai mengunakan gaun berwarna coklat, walaupun sedikit kesulitan tapi gadis kecil itu tetap berusaha untuk menggunakannya. Sedangkan Fazar hanya menatap kelakuan lucu putrinya itu. Walaupun kesulitan, tapi Falisha tetap berusaha agar dia bisa sendiri mengunakan gaun nya. Padahal Falisha bisa saja meminta bantuannya.


"Uda, teletai." Sorak bahagia Falisha saat dia berhasil mengunakan gaunnya.


"Alhamdulillah, kalau Adek bisa sendiri." Jawab Fazar ikut bahagia."Sekarang biar Abi bantu ikat rambutnya, setelah itu Adek pakai jilbab biar tambah cantik." Bocah perempuan itu menganggukkan kepalanya, dengan senyuman bahagia di wajahnya.


Fazar mengakat gadis kecil itu, lalu mendudukkan tubuh kecil itu di meja rias yang berukuran mini. Dengan telaten Fazar menyisir, dan mengikat rambut itu lalu memakaikan hijab seperti kemauan Falisha.


"Selesai. Masya Allah, anaknya Abi cantik banget."


"Hihihi, telimatacih Abi." Ucap Falisha sambil tertawa kecil, yang membuat Fazar semakin gemas mendengar jawaban lucu sang putri.


Fazar begitu sangat bahagia, karena anak-anaknya begitu sangat mandiri dari usia dini. Padahal ia dan istrinya hanya mengajari beberapa hal kecil, yang bisa anak-anaknya lakukan walaupun mereka masih terlalu dini untuk melakukannya. Tapi entah, kenapa, keempat anaknya malah terlalu mandiri sekarang. Bahkan mereka bisa mengenakan baju sendiri tanpa bantuan Wiyah maupun Fazar, membereskan kamar mereka sendiri tanpa bantuan siapapun, dan banyak hal kecil lainnya yang mereka lakukan.


.


.


Sungguh Fazar sangat kagum dengan istrinya. Walaupun istrinya berkeja sebagai ibu rumah tangga. Tapi istrinya bisa kuliah, bahkan bisa mengelola usaha restoran dan kefe nya yang semakin berkembang pesat. Bukan saja itu, tapi istrinya sekarang sedang membuka usaha untuk membantu para pengangguran yang tidak memiliki perkejaan,


Apakah Fazar merasa risi, karena istrinya akan menyainginya? Jawabannya adalah tidak, karena Fazar begitu sangat bangga dengan istrinya.


"Abi, apakah ummi akan menunggu kita disana?" Tanya Fazran yang berada di bangku belakang, dan duduk disebelah kiri Faeyza.


"Iya kak, ummi akan menunggu disana." Jawab Fazar yang sedang fokus menyetir.


"Tapi kenapa ummi tidak belangkat bersama dengan kita, Abi?"


"Diamlah Aran! Kamu terlalu banyak bertanya!" Geram Fauzan yang kesal dengan saudaranya itu.


"Telselah Alan! Orang Alan yang beltanya!" Jawab Fazran ketus menatap Fauzan yang berada disebelah kanan Faeyza. Karena sekarang, Faeyza berada di tengah-tengah saudara kembarnya itu dan sekarang sedang menjadi pendengar keduanya yang sedang beradu argumen.


"Tapi, pertanyaan mu membuat Abi tidak fokus untuk menyetir Aran!"


"Bial saja!"

__ADS_1


"Diam, Aban dan tata Aan, tenapa cih libut teluc Ade pusin denalna." Sambung Falisha yang terlihat kesal menatap kedua saudaranya dari bangku depan.


"Abang tuh, yang ngajak libut." Jawab Fazran sewot sambil membuang muka kearah jendela sebelahnya.


"Lah, kenapa aku sih yang kena!" Jawab Fauzan yang tidak mau di salahkan."Orang kamu kebanyakan nanya terus!"


"Tapi kalena kamu bang Uzan."


"Anak-anak, hentikan perdebatannya!" Pada akhirnya Fazar membuka suara saat beberapa lama memberikan anak-anaknya ribut didalam mobil. Mungkin ini bukan pertama kalinya, Fazar mendengar keributan yang di buat oleh Fazran dan Fauzan yang sering kali berdebat. Karena mereka akan sering sekali ribut jika disatukan dalam mobil yang sama."Anak-anak, ini jalan bukan rumah yang bisa kalian buat untuk teriak-teriak seperti ini. Jika saja polisi mendengar keributan Abang dan kakak. Mungkin polisi akan menyita mobil ini dan kita tidak akan sampai di kampus nya ummi." Tekan Fazar panjang lebar, karena begitu sangat kesal dengan kedua anaknya itu.


Jika saja didalam mobil itu ada istrinya, pasti anak-anaknya jauh lebih anteng. Karena Fazran dan Fauzan begitu sangat takut dengan ancaman ummi mereka.


"Cepeltina kita haruc tacih tau ummi, talau Aban dan tata Alan tembali libut, Abi." Sambung Falisha.


"Tidak. Jangan adek. Kalau sampai ummi tau, pasti ummi ngga bakalan mau ngomong sama kami selama dua hali, Kan itu ngga enak Adek." Ucap Fazran yang seperti nya takut dengan perkataan adiknya itu.


"Iya dek, jangan kasih tau ummi." Sambung Fauzan dengan wajah memelas nya.


"Baitlah, Ade tidat tacih tau Ummi. Tapi Aban dan tata Alan haluc baitan." Kedua bocah laki-laki itu langsung mengangguk mengiyakan permintaan Falisha.


"Maaf ya bang, tadi aku hanya kesal aja." Ucap Fazran dengan wajah bersalahnya.


"Iya Aran, aku juga minta maaf." Sambung Fauzan.


Melihat kedua anaknya kembali baikan, Fazar tersenyum. Karena Falisha, bisa saja membuat kedua saudaranya itu baikan dengan cepat, seperti sekarang.


"Kalian terlalu banyak ribut." Ucap Faeyza setelah itu, kembali memejamkan matanya.


"Dasar saudara tukang tidur." Cibir Fauzan dan Fazran secara bersamaan, karena ucapan Faeyza barusan.


"Adek, duduknya jangan gitu nanti Adek sakit." Tegur Fazar saat melihat posisi putri nya yang duduk dan akan berpindah posisi.


"Maaf Abi, Ade atan pelbaiti." Jawab Falisha.


.


.




Sih triple yang kini sudah menjadi bocah yang menggemaskan.

__ADS_1



Falisha, yang kini semakin terlihat lucu dan cantik.


__ADS_2