
Kesabaranku membawa cinta.
Setelah menjalankan operasi, kini Fazar sudah dipindahkan ke ruangan VVIP oleh perawat. Windi, Haidar, tuan Aslan, dan juga yang lain sudah pulang kerumahnya Fazar. Karena Rafa, Rafi dan juga Fanesya berada di sana. Mungkin Windi dan Haidar akan menginap di rumah Fazar, mengingat Wiyah tidak pulang kerumah karena akan menemani suaminya di rumah sakit sampai sadar dari obat biusnya, dan malam ini sih kembar akan dia asuh Windi untuk sementara.
Sebenarnya tuan Aslan tidak ingin pulang dan rencananya, akan menunggu sampai Fazar sadar dari tidurnya. Hanya saja bunda Sisi meminta tuan Aslan pulang untuk beristirahat, mengingat tuan Aslan baru saja pulang berkerja, Tapi tuan Aslan langsung singgah ke rumah sakit, saat mendapatkan kabar kalau Fazar masuk kedalam rumah sakit.
Di ruangan VVIP. Fazri, Abidzar dan juga bunda Sisi, menatap Wiyah, yang dari tadi berada didekat ranjang Fazar. Gadis itu, sepertinya enggan untuk berdiri dari duduknya, walaupun Wiyah merasa sangat lelah hari ini, Tapi Wiyah mengabaikan rasa lelahnya itu, karena Wiyah mau saat suaminya bangun, Wiyah berada disampingnya.
"Abi. Kapan Abi bangunnya, ini sudah sangat lama Abi tidur."Ucap Wiyah dengan suara kecil, tapi masih bisa didengar oleh orang-orang yang berada di ruangan itu.
Sedangkan bunda Sisi, Fazri dan Abidzar menatap Wiyah dengan tatapan kasihan, bagaimanapun mereka bisa merasakan kesedihannya. Bunda Sisi berdiri dari duduknya mendekati menantunya itu. Bunda Sisi tau, kalau Wiyah pasti kelelahan sekarang, mengingat satu hari penuh dia mengurus sih kembar tanpa bantuan dari Beby sister.
"Nak. Sebaiknya, kamu istirahat, mengingat ini sudah sangat malam, Apalagi kamu belum ada istirahat dari tadi." Ucap lembut bunda Sisi, mengusap lembut punggung Wiyah.
Wiyah yang merasakan sentuhan lembut dari mertuanya, mengangkat kepalanya menoleh kearah bunda Sisi."Tidak bunda, aku tidak apa-apa. Aku tidak merasa lelah." Jawab Wiyah dengan tatapan sedih.
"Tapi, nak. Kamu butuh istirahat. Ingat, Fazar akan sedih dan merasa bersalah saat melihat kondisi mu seperti ini."
"Tapi Bun, kak Fazar?"
"Kami akan menemani nya disini, dan setelah Fazar sadar, kami akan membangunkan mu. Bagaimana?" Wiyah hanya menganggukkan kepalanya dengan pasrah, tanda kalau dia setuju dengan permintaan mertuanya itu.
Wiyah, akan tidur di ranjang, yang sudah di siapkan oleh rumah sakit, seperti permintaan tuan Aslan. Karena menurut tuan Aslan keluarganya butuh tempat yang nyaman untuk beristirahat, makanya dia memesan ruangan yang besar itu di rumah sakit.
Saat Wiyah akan berdiri dari duduknya. Tangan Fazar bergerak, dan juga menyebut namanya dengan suara yang sangat kecil. Wiyah yang menyadari kalau suaminya akan bangun dari tidurnya, menghentikan langkahnya untuk memastikan dengan jelas, kalau suaminya benar-benar bangun, Karena efek obat bius nya sudah habis.
"Bunda, kak Abidzar, Fazri. Kak Fazar sadar! Tadi tangannya bergerak." Pekik Wiyah, dengan suara yang bergetar karena ingin menangis kembali saat melihat suaminya telah siuman. Abidzar dan Fazri yang tadi hanya diam langsung berdiri dari duduknya, saat mendengar ucapan kakak ipar mereka. Sama halnya dengan bunda Sisi, yang langsung mendekati ranjang anaknya lebih dekat lagi untuk memastikan kalau Fazar benar-benar telah siuman.
"Bang."
Fazar." Ucap kedua pemuda itu, yang kini sudah berdiri disebelah kiri ranjang Fazar.
"Sayang..." Lirih Fazar dengan suara kecilnya, tapi masih bisa didengar oleh bunda Sisi. Mata Fazar juga perlahan-lahan terbuka dan dia bisa melihat orang-orang yang dia sayangi berada disana. Apalagi dua wanita yang paling Fazar sayangi sedang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kamu siuman juga nak." Ucap bunda Sisi sambil menangis memegang tangan putranya itu, dengan perasaan yang begitu sangat bahagia.
"Alhamdulillah Abi sudah bangun. Jangan tinggalkan aku.." Fazar beralih menatap kearah wanita dengan mata yang bengkak, Fazar yakin kalau istrinya itu pasti menangis terus menerus, sampai membuat mata itu bengkak.
"Alhamdulillah bang, akhirnya Abang siuman juga. Jangan tidur seperti tadi lagi, aku khawatir, bang." Lirih Fazri dengan mata yang meneteskan air mata seperti Wiyah dan bunda Sisi. Sedangkan Abidzar, dia hanya diam tanpa mengatakan apapun, tapi dia ikut bahagia, kalau saudara sepupunya itu baik-baik saja.
.
.
Ruangan yang tadi penuh dengan haru, karena tangisan bahagia dari keluarganya setelah Fazar siuman. Kini ruangan itu hanya terdengar suara wanita, yang dari tadi menangis tidak ada hentinya. Sedangkan bunda Sisi, Abidzar dan Fazri memutuskan untuk keluar dari ruangan Fazar, karena mereka ingin memberikan ruang untuk Fazar dan Wiyah berbicara.
"Sutt, kenapa masih nangis sayang. Lihat matamu sampai bengkak." Ucap Fazar mengusap lembut pipi tembem istrinya itu, yang kini basa karena air mata yang terus saja berjatuhan.
"Hiks.... hiks... Aku bahagia Abi, karena bisa melihat Abi bangun lagi." Ucap Wiyah yang terus saja menangis, tanpa hentinya, Yang membuat Fazar merasa bersalah karena membuat sang istri menangis, karena menghawatirkan kondisinya.
"Maaf sayang, sudah membuat mu khawatir tadi." Ucap Fazar, yang benar-benar merasa bersalah. Lalu tangan itu mengegam tangan istrinya dengan lembut. Fazar juga mencium tangan istrinnya dengan lembut.
"Iya sayang, Abi mengerti. Maaf, lain kali Abi tidak akan melakukan hal yang sama seperti hari ini tanpa bantuan orang kepercayaan Abi." Jawab Fazar dengan bersungguh-sungguh, karena Fazar tidak ingin melihat istrinya menangis lagi karena masalah nya."Sekarang, sayang tidur, karena ini sudah sangat malam. Abi tau, kalau Sayang belum ada istirahat habis menjaga anak-anak kita di rumah." Ucap Fazar mengalihkan pembicaraan mereka, agar istrinya itu tidak sedih lagi jika mengingat kejadian tadi.
"Baik Abi. Tapi Abi juga harus istirahat. Karena orang sakit tidak baik, jika tidurnya terlalu malam." Ucap Wiyah, yang membuat Fazar hanya mengangguk mengiyakan mendengar ucapan istrinya itu, yang terlihat menggemaskan sekarang.
Sebelum Wiyah melangkah meninggalkan, tepat tidur suaminya, Wiyah membantu Fazar untuk berbarung dengan nyaman, setelah dia memperbaiki tepat tidur Fazar seperti semula.
"Selamat tidur, Abi. Mimpi indah." Ucap Wiyah sambil mencium kening suaminya itu penuh kasih sayang dan tentunya penuh dengan cinta. Sedangkan Fazar hanya tersenyum, saat istrinya mencium keningnya. Ada rasa bahagia, yang Fazar tidak bisa gambarkan.
"Mau kemana sayang?" Tanya Fazar, saat melihat istrinya yang melangkah meninggalkan tempat tidurnya.
"Aku akan tidur di ranjang itu Abi." Jawab Wiyah sambil menatap ranjang yang berukuran 90 cm dan panjang 200 cm yang tuan Aslan siapkan untuknya dan juga bunda Sisi."Apa Abi, ingin aku menemani Abi disini?" Tanya Wiyah lembut dan kembali mendudukkan tubuhnya di atas kursi.
"Tidak sayang. Abi, hanya ingin kamu tidur bersama dengan Abi."
"Tidur bersama dengan Abi? Apa Abi, ingin aku tidur di ranjang yang sama bersama dengan Abi?" Tanya Wiyah, yang sudah mengerti dengan pertanyaan suaminya barusan.
__ADS_1
"Iya sayang, Abi ingin tidur bersamamu, di ranjang yang sama seperti di rumah."
"Tapi Abi. Abi masih sakit, dan luka Abi juga belum sembuh. Aku takut, kalau aku tidur bersama dengan Abi di ranjang itu, aku bisa membuat luka Abi semakin sakit." Jawab Wiyah.
"Tidak sayang. Abi sudah baik-baik saja sekarang." Jawab Fazar berusaha menyakinkan istrinya.
"Tapi Abi_"
"Sayang, Abi tidak suka bantahan!" Ucap Fazar memotong ucapan istrinya itu dengan suara lembut tapi terdengar tegas di telinga Wiyah.
"Baiklah Abi." Jawab Wiyah dengan pasrah, mengikuti kemauan suaminya. Wiyah dengan perlahan-lahan menaiki ranjang Fazar, karena takut melukai lengan kanan Fazar, yang memang sudah luka.
Wiyah memposisikan tubuhnya menghadap Fazar, yang kini menghadapnya sambil menatapnya dengan lembut. Sedangkan tangannya yang terluka, Fazar menaruhnya di atas kepala istrinya, dan tangan kiri yang kini terpasang selang infus, Fazar taruh di atas pinggang istrinya.
Posisi mereka yang begitu sangat dekat, membuat Wiyah bisa merasakan hembusan nafas suaminya, bahkan Wiyah bisa mendengar suara detak jantung suaminya, yang bagaikan irama ditelinganya.
"Abi, aku takut menyenggol luka di perut Abi nanti." Ucap Wiyah menatap mata suaminya.
"Tidak apa-apa sayang, ini hanya luka kecil."
"Tapi sakit Abi."
"Sttt, sekarang, sayang tidur. Ingat sekarang sudah larut malam. Tidak baik, jika ibu menyusui belum tidur." Ucap Fazar kembali mengalihkan ucapan istrinya, dengan cara menyuruhnya tidur. Karena Fazar sangat tau, kalau istrinya itu sangat kelelahan."Matanya dipejam, jangan dibuka. Kalau dibuka, nanti Abi cium." Wiyah dengan cepat memejamkan matanya saat mendengar ancaman suaminya, walaupun Fazar sering melakukannya. Tapi Wiyah merasa malu jika Fazar menc**mnya disini, apalagi ini rumah sakit dan diluar ada keluarganya, yang bisa saja masuk saat Fazar sedang melakukan itu.
Fazar terus menepuk pinggang istrinya dengan lembut, sampai Fazar mendengar nafas istrinya yang sudah mulai teratur, tanda kalau istrinya sudah benar-benar tidur.
"Selamat tidur istriku, mimpi indah. Maaf sudah membuat mu khawatir, sampai menangis tadi" Ucap Fazar lembut sambil mencium kening istrinya dengan lembut penuh rasa cinta. Fazar kembali mengingat ucapan Kevin, yang ingin merebut istrinya."Aku berjanji sayang, kalau orang sepertinya, tidak akan bisa menyentuh milik Fazar. Karena suamimu ini tidak akan pernah membiarkannya." Ucap Fazar sangat bersungguh-sungguh, takut kalau sampai istrinya direbut oleh orang jahat seperti Kevin, apalagi saat ini, Kevin berhasil melarikan diri dari mereka.
Tidak ingin memikirkan hal itu, Fazar ikut memejamkan matanya. Lalu dia ikut tertidur seperti istrinya.
...----------------...
Tinggal beberapa ekstra part lagi. Novel kesabaranku membawa cinta, benar-benar akan tamat.
__ADS_1